Setelah perutnya terganjal roti kering, Saka lantas segera mengganti pakaian rumahnya dengan seragam putih abu yang tiap pagi selalu ia kenakan. Tentu sebelumna Saka sudah membersihkan dirinya terlebih dahulu. Pandangannya tercuri pada meja belajarnya, terdapat secarik kertas yang tergeletak di sana. Lantas dengan rasa penasarannya Saka pun meraih kertas tersebut.
Saka,
Aku berangkat. Seperti yang kau tahu Zade sudah menyiapkan pesawatnya. Tolong, jelasan pada ayah dan ibu tentang kepergianku ini, tapi jangan dulu kau berikan surat yang ku titipkan tempo hari padamu itu, berikan surat itu kalau-kalau tidak ada kabar dariku selama tiga hari.
Aku akan memberimu kabar melalui pesan singkat. Jadi, aktifkan terus ponselmu, biarkan dia berguna kali ini. Juga jelaskan pada mereka bahwa aku pasti akan berhasil dan kembali.
Oke, terima kasih sebelumnya!
Sekala.
Seketika Saka mondar-mandir di kamarnya setelah membaca surat yang sepertinya di tulis Sekala sebelum berangkat. Napasnya naik turun. Tak disangka ini benar-benar terjadi. Sekala betul-betul pergi.
Saka menarik napasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan. Berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Semua akan berjalan dengan semestinya.” Kalimat itulah yang terus ia ulangi sambil mengusap d**a. Akhirnya, dengan memberanikan diri Saka putuskan untuk membicarakan hal ini sekarang juga. Kebetulan, ayahnya yang sudah tidak lagi bekerja dari rumah juga belum berangkat ke kantor. Entahlah, Saka tidak lagi berpikir tentang momen yang pas. Agaknya memang tidak pernah ada kata momen yang sesuai untuk membicarakan hal semacam ini. Semakin cepat orangtuanya tahu, maka semakin baik. Begitu pikir Saka.
“Ayah, Ibu, ada yang ingin aku bicarakan.”
Kedua orangtuanya pun terdiam memandanginya.
“Silakan.” Ucap sang ayah.
“Apa Ayah dan Ibu tahu kemana Kak Sekala pergi?”
Ayah dan ibu Saka saling tatap, kemudian gelengan kepala pun didapatkan Saka dari sang ayah.
“Kak Sekala tidak bilang hendak kemana?”
“Kau tahu dia, bukan? Dia pergi semaunya. Kami paham, dia orang yang sibuk. Banyak yang mesti ia kerjakan. Lagi pula, dia sudah mandiri. Tidak perlu kami kerangkeng lagi.” Jawab sang ibu.
“Tapi….” Saka menghela napasnya, menelan ludah susah payah, pun tenggorokkannya seolah tercekat, begitu sulit untuk membuka suara.
Ayah dan ibu Saka kembali saling tatap. Agaknya mereka sudah mulai menaruh curiga karena melihat gelagat putra bungsunya yang seperti itu.
“Katakan kepada kami apa yang kau tahu, Saka.”
“Kak Sekala… ke Amerika.”
“APA?!” Teriak keduanya bersamaan. Sambil melotot ke arah Saka yang tentu ketakutan. Terlihat sang ayah yang memijat pelipisnya, tak habis pikir kalau pada akhirnya putra sulungnya itu nekat untuk pergi ke Amerika. Padahal ia kira, ide gilanya itu akan diurungkan.
“Kami sering pergi bersama, bukan? Itu adalah untuk menemui seseorang Bernama Zade. Dia dan Kak Sekala memiliki kesepakatan. Zade akan membawa Kak Sekala ke Amerika.” Jelas Saka, sesuai dengan apa yang ia ketahui sejauh ini.
“Kau tahu ini semua, tapi tak memberi tahu kami? Kau tahu, betapa seriusnya masalah ini?!” bentak sang ayah.
“Aku diberitahu untuk tidak mengatakannya sampai Kak Sekala berangkat.”
“Tapi, ini semua benar-benar gila. Oh, Sekala!” sang ibu mulai tersedu.
“Jangan khawatir! Zade akan membawanya lewat jalur perdagangan gelap. Dia akan baik-baik saja dan akan pulang tidak lama lagi.” Saka berusaha untuk menenangkan kedua orangtuanya. Ia paham betul, mereka pasti sangat merasa khawatir sekarang. Bagaimana tidak? Putra sulungnya itu nekat untuk pergi sementara mereka sudah mati-matian melarangnya.
Namun, kedua orangtua Saka tak memberikan tanggapan atas kalimat penenang yang keluar dari mulut Saka. Mereka tahu, semuanya masih gaib. Seberapa keras mereka berpikir untuk tidak khawatir dan Sekala akan selamat, tapi pada kenyataan yang ada, apa yang dilakukan Sekala itu sangat riskan akan maut. Tidak sedikit korban yang ditembak langsung saat berusaha memasuki suatu negara. Pun Saka hanya terdiam, menatap kedua orangtuanya yang diselimuti perasaan watir. Tapi, yah, itulah yang terjadi. Si sulung telah pergi.
Saka tahu, apa yang ia lakukan adalah benar-benar Tindakan yang konyol. Tapi apa daya, sejatinya Saka hanya lah seorang bocah yang tak tahu apa-apa. Ini semua seolah benar-benar menekannya. Semuanya serba salah. Di satu sisi, Saka memang menaruh rasa percayanya pada Sekala, pun ia yakin kalau kakaknya itu bisa mengatasi semua yang telah menjadi keputusannya. Namun di sisi lain, apa yang ayah dan ibunya katakan itu sepenuhnya benar. Pergi ke Amerika seharusnya tidak pernah menjadi pilihan karena memang sebegitu bahayanya di luaran sana.
Begitu ia tiba di kelas, rasanya janggal sekali. Tak ada Akasa yang menyambut kedatangannya. Teman-teman yang lain sama muramnya dengan Saka. Mungkin mereka juga punya segudang masalah. Entah seberat masalah yang menyelimuti Saka atau bahkan lebih. Yang jelas, sekarang bukanlah saatnya untuk berlomba menjadi lebih sedih dari yang lain. Itu sama sekali tidak ada gunanya.
Dari jam pelajaran pertama, sampai bel istirahat berbunyi, Saka sama sekali tak melakukan apa-apa. Hanya duduk termangu, sendirian, dengan buku Fisika yang ia buka tanpa dibacanya. Saking diamnya, Saka sampai tak sadar kalau saat ini Alinea sudah duduk di hadapannya, dengan senyumnya yang terbilang manis.
“Hai!” sapa Alinea.
“Ada apa?” balas Saka.
“Oh, kau tahu ada apa? Kau tidak seharusnya murung seperti ini. Aku tidak tahu apa yang menjadi permasalahanmu tapi satu hal yang ku tahu, ada saatnya, kehidupan itu menjadi manis dan pahit.” Kata Alinea yang berusaha menyimpulkan senyum demi menghibur temannya itu.
“Benarkah?” tanya Saka. “Selama ini, rasanya belum pernah sekali pun kucicipi manisnya hidup.”
Alinea tampak tak dapat membalas perkataan Saka. Dia terdiam cukup lama, sebelum pada akhirnya, ia berkata, “Mungkin tahun depan, kau akan mendapatkan ‘hidup manis’ itu.”
Kuharap begitu. Kata Saka, dalam batinnya.
**
Saka kembali menaiki skydrive bus dengan rute yang akan membawanya menuju kediaman Akasa. Keingintahuan sekaligus perasaan khawatir membawanya kembali menjenguk Akasa. Bukankah terakhir kali Saka menjenguknya Akasa terlihat sudah sembuh? Lantas kenapa dia belum juga masuk sekolah? Dia sakit lagi? Ataukah sebenarnya dia belum betul-betul sembuh?
Skydrive bus berhenti di penghentian biasanya. Saka pun lantas turun. Namun, alih-alih segera menuju kediaman Akasa, ia malah geming di tempatnya berpijak. Matanya membulat, terperangah. Jantungnya berdetak tak keruan. Ada apa ini?
Situasi terlihat kacau.
Jelas betul, dengan mata kepalanya sendiri Saka melihat kalau Akasa sedang dibawa menggunakan Ambulance Strecher atau tandu ambulan. Tangan dan kakinya diikat, ada pun kondisi Akasa yang sangat membuat Saka keheranan adalah, dia berusaha untuk menggigit siapa pun yang ada di sekitarnya. Bahkan mulutnya sudah dipenuhi darah, dan matanya juga sepenuhnya memutih.
Saka melihat sosok yang ia kenal. Ada Dokter Darius di sana. Segeralah Saka memacu kakinya berlari untuk menghampiri Darius yang terlihat begitu sibuk dan kerepotan di sana.
“Dokter Darius!” Pangil Saka. Lelaki berbalut jas putih itu pun kendati kerepotan ia tetap menoleh.
“Oh, Saka!” balasnya.
“Ada apa dengan Akasa? Dia kenapa? Apa yang terjadi dengannya??” Saka memberondongnya dengan beragam pertanyaan.
“Aku tidak bisa jelaskan sekarang. Akan kujelaskan setelah kutangani ini. Oke?” ujar Darius, dan segera memasuki ambulan, sesaat setelah Akasa juga dibawa masuk.
“Tante! Apa yang terjadi? Ada apa dengan Akasa?!” kini giliran ibu Akasa yang Saka lempari pertanyaan. Saka mencegah ibu Akasa yang baru saja hendak menaiki ambulance dengan isak yang tak dapat tertahan. Sedang ayah Akasa, terlihat sudah berada di sebelah putranya, mencoba menenangkannya.
“Saka, aku akan memberitahumu segera setelah semuanya beres. Aku berjanji. Sekarang kami harus membawa Akasa ke rumah sakit secepatnya.” Kata Darius, membuat Saka akhirnya melepas kepergian mereka.