Tempat Pelarian

1137 Kata
Sepulang sekolah, semuanya menjadi lebih aneh lagi bagi Saka, pun membuat jantungnya benar-benar berdetak kencang sekali. Beragam tanya bergelayut dalam benaknya. Tentang Akasa. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu? Pun juga tentang Sekala. Apa dia akan selamat?   Ah, benar. Bicara tentang Sekala, Saka jadi teringat akan isi surat dari Sekala pagi tadi. Yang mengatakan kalau ia akan memberi kabar dengan mengiriminya pesan singkat. Buru-buru Saka meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja belajar. Ponsel yang belum diisi daya selama dua hari ke belakang tapi tetap menyala. Ya, maklum. Saka sangat jarang sekali menyentuh ponselnya. Ia seakan hidup sebagai bocah yang tak memiliki ponsel. Tak heran kalau dalam sehari bahkan dirinya tidak menyentuh ponselnya sekali pun.   Nihil.   Ponselnya bersih dari notifikasi seperti biasanya.   Merasa begitu sesak dengan semuanya, Saka pun membawa kakinya keluar rumah. Menyusuri jalanan gersang yang penuh debu. Hendak mencari udara segar, katanya. Padahal sejak kapan di sini ada udara segar? Oksigen saja bertarif. Pun terbesit dalam benaknya suatu tempat yang agaknya bisa ia jadikan sebuah tujuan dalam pelariannya kali ini.   “Halo?” ucap Saka setelah mengetuk pintu sebuah rumah dengan tiga ketukan kecil.   “Ya, siapa?” suara sang empunya terdengar dari dalam, sesaat sebelum membukakan pintu dan mempersilakan Saka yang menjadi tamunya di siang itu untuk masuk.   “Ku harap kau sedang tidak sibuk, Prof.” kata Saka sambil duduk perlahan di sofa. Ya, benar. Yang menjadi tempat pelariannya adalah tentu kediaman profesor Ed. Entah kenapa, tempat ini lah yang selalu menjadi tujuan akhir bagi Saka ketika pikirannya sudah terlalu berisik.   “Tentu tidak.” Itulah jawaban yang selalu Profesor Ed berikan. Padahal, Saka tahu, sebetulnya tidak pernah ada hari yang tidak sibuk bagi Profesor itu. Namun, ia selalu memberikan waktunya kepada Saka di saat Saka memang sedang membutuhkannya.   “Kau mau teh?” tawar profesor Ed, sambil menempatkan dirinya duduk bersebelahan dengan Saka.   Saka menggeleng. “Tidak. Terima kasih, Prof.”   “Kau yakin?”   Kini Saka mengangguk.   Helaan napas Panjang terdengar dari Profesor Ed. Ia tahu jelas kalau bocah yang kerap mengunjunginya itu pasti sedang dirundung masalah. Maka dari itu ia menatapnya dalam dan melayangkan sebaris kalimat singkat, “Ceritalah!”   “Maaf Prof,” ujar Saka. “Sebenarnya aku datang hanya untuk melupakandunia luar sejenak.”   “Aku mengerti,” kata Profesor Ed. “Ada masalah apa sebenarnya?”   “Kurasa tanpa bertanya pun, Profesor sudah paham.”   “Tapi, bukankah kau datang ke sini untuk bercerita? Kalau kau tidak mau, ya, hendak apa lagi di sini?”   Saka terkekeh. Ya, memang benar juga. Untuk apa lagi Saka datang ke sini kalau bukan untuk bercerita? Untuk membantu Profesor Ed kan tentu sangat tidak mungkin. Bisa apa dia.   “Kakakku pergi.”   “Sekala?” Profesor Ed mengangkat alisnya.   “Ya.” Balas Saka singkat.   “Lalu, apa masalahnya? Toh, dia akan pulang.”   “Kuharap dia memang pulang, tapi….”   “Kau pikir, dia tidak akan pulang?”   Saka mengangguk. “Dia pergi ke Amerika, Prof. Profesor tahu, kan, soal penembakan langsung jika ada yang berusaha masuk ke negara lain tanpa izin?” Kalimat Saka terjeda. Bocah itu membenarkan posisi duduknya terlebih dahulu. “Aku sudah mengetahui rencana keberangkatannya sejak awal, bahkan aku mengikuti diskusinya dengan temannya yang akan membawanya pergi ke Amerika tapi aku tidak berusaha mencegahnya! Dia memintaku untuk diam dan hanya berkata kepada ayah dan ibu setelah dia pergi.” Papar Saka Panjang lebar.   Profesor Ed terdiam sejenak. Ia memandangi Saka dengan senyumnya sebelum pada akhirnya berkata, “Kau tahu apa yang kau lakukan?”   “Ya, aku memang tidak mencegahnya….”   “Bukan itu!” Potong Profesor Ed. “Kau baru saja menyesali perbuatanmu. Oke, menurutmu, perbuatanmu salah. Tapi menurut Sekala, kau telah berbuat sesuatu yang benar. Kau tidak selalu salah seperti itu, kau tahu?”   “Tapi, jika dia tidak kembali, akulah yang salah.”   “Tapi jika dia kembali, kaulah pahlawannya. Saka, jika kau memang memandang perbuatanmu salah, tidak ada gunanya mencerca dirimu dan berandai-andai, coba saja dulu aku begini, coba saja dulu aku begitu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah sentuh dadamu, dan rasakan detak jantungmu. Kau masih hidup, bukan?”   “Ya.” Saka mengangguk, sambil merasakan jantungnya yang masih belum berhenti berdetak.   “Kau masih hidup. Itu artinya, kau masih punya harapan. Berharaplah meski harapan kadang hanya membutakan. Namun, siapa yang tahu, suatu saat harapanmu akan menjadi kenyataan. Tanpa adanya harapan, maka tidak akan ada pula kenyataan.”   Benar juga. Pikir Saka.   “Tapi Prof, Kak Sekala berjanji akan segera memberiku kabar ketika ia sudah tiba. Nyatanya sampai saat ini belum sekalipun aku menerima kabarnya.”   “Sekala pergi ke Amerika, bukan ke kota sebelah. Untuk menuju ke sana tentu butuh waktu yang tidak sebentar, Saka.”   Saka terdiam, napasnya terhela. Tak tahu lagi harus berkata apa. Mungkin benar, Sekala hanya belum sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Nanti begitu ia sampai, pasti ia akan langsung memberi Saka kabar.   “Bagaimana kabar Akasa? Sudah lama bocah itu tidak kemari.” Tanya Profesor Ed.   Mendengar nama Akasa, Saka seketika teringat dengan kondisi sahabatnya itu. Ia juga baru ingat kalau Profesor Ed pasti belum dengar apa-apa tentang Akasa.   “Ah, benar. Aku belum menceritakan tentang dia. Beberapa hari lalu Akasa sempat kritis, dia keracunan, karena meminum air yang berhasil dijernihkan tapi racunya tidak dinetralisir.” Ujar Saka.   Kepala Profesor Ed menggeleng setelah mendengar pernyataan Saka barusan. “Manusia semakin mementingkan kepentingan pribadi, sampai-sampai tega menjual air beracun.”   “Beberapa hari lalu dia sudah sembuh, tapi….”   Kalimat Saka tergantung. Perasaannya berkecamuk untuk menjelaskan apa yang di lihatnya sepulang sekolah tadi. Profesor Ed menatap bingung raut Saka, "bukankah itu bagus?"   “Saat aku kembali berkunjung ke rumahnya untuk menjenguk, aku mendapati Akasa sudah dibawa oleh tim medis. Di depan rumahnya ada ambulance. Namun yang membuatku bingung adalah perilaku Akasa. Dia seperti orang kesetanan sampai-sampai tim medis harus mengikat tangan dan kakinya. Dia juga terlihat mencoba untuk menggigit siapa pun yang ada di sekitarnya. Tapi aku tidak tahu kenapa, karena saat aku tanyakan pada dokter Darius, dia bilang dia akan menjelaskannya nanti.” Pemaparan Saka membuat raut Profesor Ed berubah drastic. Dahinya yang sudah keriput pun terlihat semakin keriput ketika ia mengerutkannya.   “Darius…” Gumam Profesor Ed.   “Kau mengenalnya? Bagaimana kau bisa mengenal dokter Darius?” tanya Saka, yang mulai diselimuti rasa penasaran dan bingung. Apakah ada sesuatu? Bagaimana Profesor Ed mengenal dokter Darius? Adakah semua yang terjadi ini berkolerasi?   Alih-alih menjawab rasa penasaran Saka, Profesor Ed malah menambah tingkatan rasa penasaran bocah itu dengan dirinya yang tiba-tiba bangkit dari duduk dan bergegas mengenakan blazernya yang terlihat sudah lusuh.   “Darius, bocah itu kenapa tidak memberitahu aku?” Profesor menggerutu sendiri. Sementara Saka semakin penasaran sekaligus bingung dibuatnya.   “Ada apa Prof? Kau mau kemana?”   “Saka. Ini gawat. Maaf sekali, tapi, sepertinya kau harus kembali ke rumahmu, sekarang!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN