Tanda Tanya Baru

1129 Kata
1 Pesan Masuk.   Aku sudah sampai di Kanada. Nanti sore, aku akan naik kapal ke Amerika dan akan sampai mungkin sekitar malam. Doakan.   Saka benar-benar gembira detik itu. Sesaat segala hal yang mengusik pikirannya sirna. Kakaknya selamat! Dia akan segera pergi ke Amerika. Ya, dia akan selamat. Saka tahu itu. Saka yakin itu. Buru-buru ia berlari menuju dapur, menemui sang ibu yang tengah berkecimpung di sana, membuatkan makanan untuk makan siang seperti biasa.   “Ibu! Kak Sekala selamat, Bu! Kak Sekala selamat!” teriak Saka kegirangan.   “Apa? Ada apa Saka?” tanya sang ibu bingung.   “Ini, Bu,” kata Saka, menunjukkan layar ponsel yang berisi pesan yang didapatnya dari Sekala. “Kakak mengabariku, dia sudah tiba di Kanada!”   “Syukurlah!” seru sang ibu. “Sekala… semoga segala usahamu ini tidak sia-sia, Nak.” Lirihnya, matanya mulai kembali berkaca-kaca.   Malamnya, berita menggemberikan ini pun tentu langsung disampaikan kepada sang ayah yang baru saja kembali dari kantor. Bahkan Saka langsung berlari menghampiri ayahnya yang masih di ambang pintu.   “Ayah, Kak Sekala sudah sampai di Kanada siang tadi! Katanya sore tadi dia akan naik kapal dan berangkat ke Amerika. Perikaraannya malam ini ia akan tiba di sana!”   Dari raut lelahnya, pun tereselip sebaris sumringah. “Benarkah? Jadi Sekala selamat?” Tanya sang ayah.   Saka membalasnya dengan anggukan antusias.   “Ahh… syukurlah! Sepertinya memang tak perlu ada yang ku khawatirkan.” Ujar sang ayah, menghela napas lega. ***   Setelah dirasa makan malam yang disantapnya dua puluh menit lalu berhasil tercerna dengan baik, Saka pun memilih untuk berbaring di sofa. Sembari tak henti-hentinya memeriksa ponsel. Padahal, kalau ada pesan masuk juga pasti akan ada notifikasinya. Kendati begitu, Saka malah terus-menerus memandangi layar ponselnya. Bahkan layarnya itu tak dibiarkannya mati barang sedetik.   20% sudah sisa daya ponselnya. Sebentar lagi ia harus mengisi daya, karena kalau tidak, ponselnya itu akan mati total. Menit di layar ponselnya terus bertambah. Pun angka depannya sudah berganti, menandakan kalau satu jam sudah Saka memandangi ponselnya. Daya baterainya pun semakin berkurang. Tak ingin ponselnya mati total, maka Saka segera beringsut, membawa kakinya untuk pindah ke kamar. Karena di sana lah pengisi daya ponselnya berada.   “Belum ada kabar dari Sekala?” tanya sang ayah, ketika baru saja Saka hendak masuk ke kamarnya.   “Belum. Daya ponselku hampir habis, aku mau mengisinya dulu.” Jawab Saka.   “Jangan lupa beritahu Ayah dan Ibu kalau sudah ada kabar dari Sekala, ya!”   Saka mengangguk, “Pasti.” Dan segera berlalu, menghilang di balik pintu kamarnya.   Setelah menghubungkan pengisi daya dengan ponselnya, Saka pun kembali melanjutkan aktifitas rebahnya. Namun kali ini tidak di sofa lagi, melainkan di ranjang tidurnya. Sedang ponselnya yang sedang diisi daya ia biarkan saja tergeletak di atas meja belajar. Saka memang begitu. Tidak biasa bermain ponsel. Jadilah tidak pernah ponselnya dioperasikan selagi pengisian daya berlangsung.   Saka termenung. Tak ada yang dilakukannya selain memandangi langit-langit kamar. Membiarkan pikirannya mengawang jauh entah kemana. Helaan napas berat pun berhasil diembuskannya. Atas segala tanya yang bergumuh dalam kepalanya dan senantiasa membikin berisik, sebaris tanya yang agaknya cukup mewakili pun berhasil terloloskan.   “Sampai kapan?”   Sampai kapan semua ini berlangsung? Bagaimana ujungnya? Saka mengedipkan matanya dengan cukup cepat. Matanya mulai terasa perih. Karenanya kantuk yang menyerang tanpa kata permisi pun berhasil membuat mata Saka perlahan terpejam. Bersamaan dengan ponselnya yang berdenting.   1 Pesan Masuk.   Yang tak sempat terbaca oleh Saka. Keduluan oleh alam mimpi, yang lebih cepat sepersekian detik mengajak Saka berkelanam ini.   ***   Pagi menyapa dengan sedikit tidak ramah. Saka terlambat. Entah apa yang membuat dirinya sampai tak mendengar dering alarm jam digital di sebelah ranjangnya yang senantiasa berdering tiap pagi membangunkannya. Atau memang tubuhnya yang ingin mengistirahatkan sedikit lebih lama dari biasanya.   Saking buru-burunya, Saka berangkat sekolah tanpa sarapan. Bahkan ia juga tidak mandi. Tidak sempat. Tidak ada lagi waktu. Sambil berlarian, Saka menutup resleting ranselnya yang terbuka. Ia baru saja memasukkan wadah air kecil yang memang selalu dibawanya. Beruntung, skydrive bus belum melanjutkan perjalanannya ketika Saka tiba di halte. Karena kalau tidak, sudah pasti Saka harus menunggu skydrive bus berikutnya yang biasanya akan datang setengah jam mendatang. Bukan saja terlambat tapi mungkin Saka akan tiba di sekolah saat jam istirahat kalau sampai menunggu skydrive bus berikutnya.   Saka duduk dengan gusar. Kakinya bergerak tak keruan. Ia tak bisa menikmati perjalanan seperti biasanya. Tak ada lagi mendengarkan music sembari memandangi jalan. Saka tidak punya waktu untuk itu. Pemberhentian yang menjadi tujuannya sudah terlihat. Saka langsung saja berdiri, bangkit dari duduknya. Tak peduli skydrive yang belum berhenti melaju. Ia melangkah menuju pintu keluar, hingga ketika pintu berhasil terbuka dan skydrive berhenti sepenuhnya, Saka bisa langsung turun.   Kakinya dipaksa dipacu. Seolah berlomba untuk lebih cepat dengan waktu yang bahkan sudah mengalahkannya sejak awal. Saka tetap terlambat. Namun ia tidak sendiri. Ada beberapa murid yang berbaris di luar gerbang, mereka bernasib sama seperti Saka. Kalau di zaman sebelumnya mungkin murid yang terlambat akan dikenakan hukuman seperti berlari keliling lapangan, menyiram tanaman atau sejenisnya, berbeda dengan sekarang. Murid yang terlambat tidak akan dikenakan hukuman semacam itu. Melainkan pengurangan point pada portal belajar mereka masing-masing. Yang akan mempersulit mereka dalam urusan penilaian. Kendati rajin mengerjakan tugas dan nilai-nilai selalu bagus, kalau sering terlambat, maka portalmu akan tetap merah. Sulit sekali untuk memperbaikinya. Karenanya Saka begitu frustasi sekarang.   Setelah mendapat pendisiplinan berupa ocehan dari guru kesiswaan, para murid yang terlambat pun akhirnya diperbolehkan untuk memasuki kelasnya masing-masing, dan mengikuti pembelajaran seperti biasanya. Tak terkecuali Saka. Bocah itu tak berekspetasi apapun, karena ia pikir sekolah akan berjalan seperti biasanya. Namun, betapa terkejutnya Saka ketika baru saja dirinya mendaratkan tubuh di kursi yang biasa ia tempati. Matanya menyapu ke seluruh penjuru, pun kursi pojok paling depan terlihat kosong tak berpenghuni. Kemana Alinea? Tidak biasanya gadis itu tidak masuk sekolah. Apa terjadi sesuatu? Setelah Akasa yang sudah hampir dua pekan ini tidak masuk sekolah, kini giliran Alinea. Sekolah rasanya semakin membosankan bagi Saka.   Kelas yang semula cukup riuh, berubah menjadi hening seketika, tatkala Pak Hadi memasuki ruang kelas ini. Rautnya kelihatan muram. Pun ia berdiri sembari tertunduk dengan cukup lama di depan kelas.   “Anak-anak,” katanya mengawali kalimatnya. “Hari ini, teman kita, Alinea, tidak bisa mengikuti pembelajaran dikelas seperti biasanya. Karena… ayahnya baru saja meninggal dunia.”   Apa?   Kening Saka mengernyit.   Ayah Alinea meninggal?   Dan, lagi. Beragam tanda tanya yang baru seketika bertambah memadati relungnya. Rasanya hampir-hampir saja mau meledak. Yah, Saka tahu, Ayah Alinea memang sakit-sakitan. Tapi ia tidak tahu kalau kondisinya ternyata lebih buruk dari yang ia pikirkan. Terlebih, terakhir kali dirinya bertemu dengan Ayah Alinea adalah beberapa bulan lalu. Ketika sepulangnya Saka dari alun-alun demi mendengarkan pengumuman pasal tagihan oksigen dari wali kota. Setelahnya, ia belum berkunjung lagi ke sana. Dan hari ini, Saka akan kembali menginjakkan kaki di sana, untuk mengirimkan barisan doa, juga mengantar Ayah Alinea ke peristirahatan terakhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN