“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kalimat itu terus bergumuh dalam kepala Saka selama pelajaran berlangsung, sehingga dirinya tak dapat berkonsentrasi. Ia hanya melempar pandangannya ke luar jendela. Kepalanya riuh sementara dirinya diselimuti keheningan. Pun ia hanya menggambar-gambar tak jelas ketika gurunya menyuruh mencatat, dan hanya termenung di saat semuanya berusaha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang guru di depan.
Pak Hadi, begitulah para siswa memanggilnya, adalah satu-satunya guru yang akhirnya menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam diri Saka hari ini.
“Saka, kemari.” Panggilnya, ketika bel istirahat baru saja berbunyi.
“Ada apa, Pak?” Tanya Saka, sembari memaksakan senyum.
“Ayo, ke kantin! Kita makan siang, memangnya kau tidak lapar?” Kata Pak Hadi seraya membetulkan kerah kemeja batiknya.
Saka sama sekali tak menimpali, ia hanya lantas mengekor. Terbesit dalam pikiran Saka akan kejadian pagi tadi di lapangan, pun ia menyadari kalau Pak Hadi sejatinya ialah seorang guru, agaknya sedikit tidak mungkin kalau Pak Hadi tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
“Siswa yang pagi tadi….”
“Dehidrasi,” sela Pak Hadi, yang sudah tahu kelanjutan kalimat Saka sebelum bocah itu menyelesaikannya. “Kelihatannya, sudah empat hari dia tidak minum. Entah apa yang terjadi sekarang. Rumah sakit pun hanya sedikit memiliki persediaan air. Tak mudah mencari air saat ini.” Tambahnya, sambil duduk di salah satu kursi yang ada di kantin setelah sebelumnya memesan dua porsi mi.
“Ya, begitulah.” Kata Saka.
Tak perlu menunggu lama, dua mangkuk berisi mi pesanan Pak Hadi pun telah tersaji di meja mereka.
“Bapak lihat, kau tidak dapat belajar dengan baik, Saka,” kata Pak Hadi, yang kemudian menyantap hidangannya. “Apa ada yang hendak kau sampaikan? Mungkin, Bapak bisa bantu, atau paling tidak, Bapak bisa menampungnya.”
Sungguh, rasanya Saka betul-betul ingin meluapkan semuanya. Tentang dirinya yang tidak tahan lagi hidup di dunia rasa neraka ini. Tentang dirinya yang amat sangat butuh air, udara, dan kehidupan yang normal. Juga tentang segala kepahitan lainnya yang selama ini ia telan sendiri. Namun, jika ia melakukan itu, apa akan ada yang berubah? Apakah Pak Hadi bisa tiba-tiba menjadi dewa penolong bagi dirinya? Saka sadar, itu tidak mungkin terjadi. Pak Hadi hanyalah seorang guru, bukan dewa. Dan lagi, sepertinya apa yang tengah Saka rasakan saat ini juga dirasakan oleh Pak Hadi dan segelintir manusia lainnya yang masih tersisa hingga saat ini.
Alhasil, Saka hanya menyimpulkan senyum kecut, “Tidak, Pak. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit merasa lelah.” Dan hanya sebaris kalimat itu lah yang mampu keluar dari mulutnya.
Mendengar jawaban dari sang murid, Pak Hadi lantas melemparkan senyumnya. Ia tahu betul, kalau muridnya yang sedang duduk di hadapannya ini sedang tidak baik-baik saja. “Kalau kau bersedia, kau bisa mengatakan apa pun dan kapan pun kepada Bapak. Bapak akan menjadi wadah segala masalah untukmu.”
Saka kembali menyimpulkan senyum, tapi kali ini bukanlah hanya senyuman kecut atau senyum yang dipaksakan. “Terima kasih banyak, Pak.” Ucapnya sembari mengangguk. Saka sangat menghargai maksud baik dari sang guru. Namun, tetap saja, Saka merasa tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia jelas tahu akan itu.
“Bagaimana kabar Sekala?” Tanya Pak Hadi, mengalihkan topik obrolan. Ah, Sekala memang lulus dari sekolah yang sama dengan yang Saka tempati sekarang. Pun semasa sekolah, Sekala menjadi siswa yang cukup popular di kalangan guru karena ke-aktifan-nya dalam kegiatan lingkungan.
“Baik. Kebetulan kak Sekala juga sekarang sedang ada di rumah.”
“Benarkah? Kalau begitu, Bapak harus bertemu dengannya. Ada yang ingin Bapak tanyakan seputar pil yang katanya bisa mengatasi rasa haus tanpa harus meminum air.”
Pil yang bisa mengatasi rasa haus tanpa minum air?
Saka mengerutkan keningnya kebingungan. “Pil apa itu, Pak?”
“Entah, Bapak juga kurang tahu. Dengar-dengar, perusahaan pesaing kakakmu berhasil menemukan pil yang digadang-gadang bisa mengatasi rasa haus tanpa harus minum air, sebagai upaya meminimalisir penggunaan air. Mengingat kondisi kita yang semakin kekuarangan air bersih. Maka dari itu, Bapak ingin bertemu Sekala untuk menanyakan hal ini lebih jelas lagi, barangkali ia tahu tentang ini.”
“Ah, begitu. Aku belum dengar apa pun tentang itu.” Jawab Saka. Sementara pikirannya, kembali dipenuhi tanda tanya. Pil apa itu? Kakaknya tidak membicarakan apa pun tentang pil itu. Apa sekarang perusahaan tempat kakaknya bekerja sedang terancam bangkrut sebab kalah saing? Memang, perusahaan kakaknya lebih terfokus dengan bagaimana cara menetralisir air dan mengembalikan lingkungan dari pencemaran, ketimbang mencari penemuan lain yang sekiranya dapat menjadi alternatif dari permasalahan saat ini. Lantas kenapa, kenapa kakaknya harus rela merencanakan ide gila untuk berangkat ke Amerika demi mencuri ilmu menetralisir air kalau di negara kita saja sudah menemukan solusi alternatifnya?
***
Seorang perempuan dengan rambut sebahu, berdiri kikuk di sebelah Sekala. Ia hanya mampu mengenggam erat tali tas yang dikaitkan ke bahunya, ketika dirinya harus berhadapan dengan ibu dari sang kekasih.
“Ya ampun, cantik sekali! Siapa namamu?” Sapa ibu Sekala ramah.
“Niar, Tante.” Jawab perempuan pemilik nama Niar itu dengan malu-malu.
“Mari duduk, Niar. Jangan sungkan-sungkan.” Kata ibu Sekala lagi dengan ramah dan juga hangat, agar kekasih putra sulungnya itu tidak lagi merasa canggung.
“Sekala, ibu tinggal dulu, ya.” Ucap sang ibu, yang segera bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman dan beberapa camilan, meninggalkan putranya berdua dengan sang kekasih di ruang tamu.
“Kau masih gugup?” Sembari mengenggam tangan sang kekasih, Sekala melempar tanya dengan tatapannya yang teduh.
Kekasihnya lantas mengulas sebaris senyum, “sedikit.” Jawabnya.
Keduanya saling bertemu tatap selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya, dering ponsel dari saku Sekala mesti memutus rantai tatap mereka.
“Halo?”
…
“Ah, iya. Aku sudah bertemu dengannya tadi. Kita bertemu besok malam, nanti kukirimkan alamatnya.”
Setelah sambungan telepon terputus, Sekala mengembalikan atensinya pada sang kekasih yang duduk di sebelahnya. Namun, ia menyadari ada perubahan dari raut wajah kekasihnya itu. Lantas, tangannya segera bergerak untuk kembali menggamit jemari sang kekasih, sayangnya, sang pemilik jemari dengan cepat langsung menepisnya.
“Niar…” Panggilnya dengan amat lembut.
“Apa kau betul-betul harus pergi?”
“Ini demi kebaikan kita semua, masa depan kita.” Jelas Sekala. Sekarang ia paham betul kemana arah pembicaraan ini.
“Tapi itu sangat beresiko, Sekala.” Ujar Niar.
“Bukankah setiap harinya bagi kita juga selalu beresiko? Hidup di masa seperti ini memang lah penuh resiko.”
Jawaban Sekala sempat membuat Niar bungkam. Ia menghela napasnya berat. Perasaannya betul-betul tak keruan sekarang. Perempuan mana yang mampu untuk tetap tenang ketika harus menempatkan seorang yang terkasih di dalam bahaya? Rasanya tidak mungkin ada. Begitu juga dengan Niar, ia tidak bisa menutup matanya begitu saja ketika sang kekasih mengutarakan ide gilanya beberapa waktu lalu. Tentu ia ingin Sekala tetap di sini, mengurungkan rencana gilanya untuk pergi ke Amerika.
“Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kesekian kalinya, Sekala. Kau tahu, bukan? Sekarang ini aku tidak punya siapa-siapa lagi.” Lirih Niar, tatapannya begitu sendu. Bahkan air matanya sudah memenuhi pelupuk siap untuk ditumpahkan. Dirinya memang sebegitu takut akan kehilang Sekala. Pasalnya, setelah kematian kedua orangtuanya, hanya Sekala lah yang ia miliki dalam hidupnya. Hanya Sekala lah satu-satunya yang ia miliki sekarang. Sebab itu ia begitu menentang rencana Sekala yang terbilang sangat nekat.
“Tapi Niar….”
“Tak bisakah kau mendengarkanku sekali saja? Kenapa kau harus pergi di saat perusahaan lain sudah berhasil menemukan pil pengatas rasa haus yang setidaknya dapat sedikit membantu permasalahan ini? Tidakkah cukup dengan itu?” Nada bicara Niar terdengar naik satu oktaf. Sementara Sekala hanya bungkam dan tertunduk. Bukan, bukan tidak ada lagi kata yang mampu keluar dari mulutnya, hanya saja Sekala menghindari perdebatan dengan sang kekasih terlebih tentang pil itu. Ia sangat tidak ingin membahasnya.
“Karena yang menemukan pil itu pesaingmu? Iya?! Karena itu kau tidak mau kalah dan rela pergi ke Amerika membahayakan diri sendiri hanya demi terlihat lebih hebat dari mereka? Iya?! Yang kau bilang demi kebaikan semuanya dan demi masa depan kita, itu sebenarnya hanya agar kau tidak mau kalah, benar begitu, bukan?”