Pelik

1284 Kata
Saka mengeluarkan sepedanya dari garasi. Rasanya hampir setengah tahun sudah Saka tak menggunakan sepeda miliknya itu. Sore ini, ia sudah ada janji dengan sahabat karibnya, Akasa untuk sekadar berjalan-jalan guna membuang rasa penat sejenak. Keduanya bersepeda ke arah paling utara Bandung. Yang mana terdapat sebuah air terjun, Curug Dago namanya. Kakek Saka yang kini sudah meninggal pernah bercerita, katanya, air di curug itu dulu jernih sekali. Namun sekarang, mereka hanya dapat melihat air terjun yang berwarna hitam kemerahan akibat tercemar.   Akasa yang baru saja turun dari sepedanya dan berjalan ketepian air terjun pun menghela napasnya, “ini dunia kita sekarang, Saka.” Ujarnya, memandangi Curug Dago yang mengalir mengerikan. “Apakah kiamat memang sudah menghampiri kita?”   “Entahlah. Semua menjadi gila sekarang.” Jawab Saka.   Dan entah di mana letak kelucuan dari kalimat yang Saka lontarkan barusan, Akasa malah tertawa. Meski bingung, karena suara tawa Akasa yang terdengar aneh, Saka pun ikut tertawa dibuatnya. Ya, memang selama ini Akasa lah satu-satunya orang yang bisa membuat Saka tertawa di saat dirinya terjebak dan tenggelam dalam gemelut pikiran dan kehidupannya yang dirasa pelik. Wajah Akasa selalu menyorotkan kebahagiaan, bahkan di saat-saat seperti ini. Dia tidak pernah menceritakan masalahnya, atau mungkin dia memang tidak punya masalah. Entahlah, Saka pun tidak tahu. Terkadang memang seseorang yang menjaga orang lain untuk tetap waras, belum tentu dirinya sendiri masih waras. Namun, Akasa yang ia kenal adalah seorang anak yang memiliki kebahagiaan dalam hidupnya. Seorang anak yang dapat menemukan cahaya meski di tengah kegelapan sekalipun.   “Akasa, kau tahu? Soal anak yang pingsan tadi, kata Pak Hadi dia dehidrasi. Kemungkinan empat hari belum minum air.” Ujar Saka.   “Aku tahu itu.” Balas Akasa.   “Kau sudah mengetahuinya?” Saka menjeda pembicaraannya selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya helaan napas berat terdengar darinya. “Bagaimana kalau air bersih di muka bumi ini betul-betul habis dan air yang tercemar tak lagi bisa dinetralisir?”   Akasa tidak menimpali. Pandangannya hanya lurus ke depan, atensinya terpaku pada air terjun yang mengerikan itu. Entah apa yang membuatnya memandangi air terjun itu sampai sebegitunya. Padahal sama sekali tidak indah untuk dipandang.   “Ah, iya. Apa kau juga sudah dengar mengenai pil yang katanya bisa mengatasi rasa haus? Katanya, itu merupakan temuan dari perusahaan pesaing kak Sekala, tapi aku belum mendengarnya sekali pun dari kakakku itu. Apa mungkin dia tidak tahu tentang itu? Tapi mungkinkah begitu?” ujar Saka lagi, Panjang lebar.   “Saka, kau tahu tidak. Kenapa tadi kau selalu diam di kelas?” alih-alih memberi tanggapan atas barisan kalimat Saka sebelumnya, Akasa malah melempar pertanyaan yang Saka pikir tak ada korelasinya sama sekali.   Pun Saka hanya memberi gelengan kepala.   “Itu karena kau terlalu banyak berpikir,” ucap Akasa, seraya melemparkan batu sejauh mungkin ke cakrawala. “janganlah kau terlalu banyak berpikir, Saka! Nanti kepalamu botak seperti kepala professor Ed!” celetuk Akasa, diiringi tawa renyah.   “Kau bisa saja! Bicara tentang professor Ed, ingatkah kau ketika ia masih mengajar dulu? Saat sedang menuliskan materi di papan tulis, tiba-tiba saja tulisannya menjadi tak keruan dan ia langsung lari begitu saja meninggalkan kelas, tingkahnya betul-betul aneh!” timbal Saka.   “Sepertinya orang jenius memang suka bertingkah aneh!”   “Lalu apa kau bisa disebut jenius?”   “Maksudmu tingkahku aneh?”   “Ah, tapi ku rasa jenius dan tidak berakal itu beda tipis!”   “Ah kau ini, Saka!”   Keduanya lantas tertawa terbahak. Mungkin bagi orang lain, tak ada yang menggelitik dari percakapan barusan. Namun, lain halnya bagi dua anak yang sudah bersahabat lama ini. Satu frekuensi, begitu biasanya disebut.   Hari sudah mulai gelap, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, dengan sebuah senyum yang terlukiskan. Setidaknya, untuk beberapa saat, Saka berhasil mengembalikan senyumnya lagi. Ah, ralat. Maksudku, Akasa berhasil membuat sahabatnya itu kembali tersenyum dan tertawa seperti sebelumnya.   ***   Saka melepas earphone yang menyumbat telinganya. Dirinya yang tengah bersantai di atas ranjang ternyaman baginya itu, mesti bangkit dan membawa kakinya melangkah menuju ruang keluarga. Ayahnya memanggilnya tadi. Kakaknya pun sudah berada di sana ternyata. Ada apa ini? Rapat keluarga kah?   “Saka,” sang ayah membuka pembicaraan. “Ayah dan ibu sudah berdiskusi. Ini masalah pelik yang harus diselesaikan secara matang. Karenanya diskusi kami tidak membuahkan hasil, kami ingin kau juga ikut andil dalam masalah ini, mengingat kau juga sudah cukup dewasa.”   “Aku tahu, aku tahu apa yang sedang terjadi. Ini semua benar-benar gila!” ujar Saka.   “Tidak perlu menyalahkan keadaan, masalah itu ada untuk diselesaikan, bukan untuk dimaki-maki.” Tutur Sekala.   “Sebenarnya… ayah dan ibu ada tabungan,” kata sang ayah. “tapi, hanya cukup untuk hidup kita selama empat bulan.”   “Bukankah itu baik? Apa lagi yang harus dipermasalahkan?” tanya Saka tanpa dosa.   “Setelah empat bulan kita tidak akan punya tabungan lagi. Mungkin, kita tidak bisa membeli air minum, tak bisa membayar tagihan oksigen, dan kau… mungkin akan putus sekolah.” Jelas sang ayah, dengan nada yang lirih di akhir kalimatnya.   “Sudah ku bilang kalau itu tidak akan terjadi. Saka akan tetap sekolah!” tukas Sekala.   “Tapi,”   “Aku akan mengusahakannya, Ayah! Aku akan melakukan apa pun demi kebaikan kita semua!” Sekala memotong kalimat sang ayah yang berlum terselesaikan.   “Sudahlah… yang penting kita masih bisa hidup empat bulan lagi. Selanjutnya, kita pikirkan nanti.” Ucap sang ibu melerai sebelum argument antara ayah dan putra sulungnya itu semakin memanas. Sementara Saka hanya mampu mengerutkan dahi, tampak kebingungan. Dan ternyata, hadirnya di sini pun tak jua dapat membantu apa-apa, solusi masih belum ditemukan dan masalah masih belum terpecahkan.   Hening.   Kesunyian pun mulai ambil peran. Tak ada satu pun dari mereka yang buka suara. Saka merasa atmosfer di sini kurang menyenangkan dan ada kecanggungan yang menelusup. Sesekali ia melirik wajah sang kakak, kemudia wajah kedua orangtuanya. Begitu terus secara bergantian. Mereka tampak tengah tenggelam dalam pikirannya masing-masing, sampai pada akhirnya, Saka memberanikan diri untuk membuka mulut dan melontarkan sebuah kalimat…   “Kekasihmu jadi berkunjung siang tadi?”   Atensi berhasil ia dapatkan. Entah, agaknya memang tanya yang berhasil ia luncurkan itu kurang tepat. Namun setidaknya keheningan berhasil dipecahkannya.   “Eum… ya, dia ke sini siang tadi.” Jawab Sekala. Gelagatnya sedikit aneh, pun satu detik setelahnya, Sekala saling melempar tatap dengan sang ibu. Keduanya saling bertemu tatap, menyiratkan sesuatu yang melahirkan tanda tanya besar bagi Saka. Ada apa ini? Apa lagi yang tidak Saka ketahui?   ***   Evi, baru saja selesai membuat hidangan untuk tamunya. Tamu yang berbeda dari biasanya. Seorang gadis yang untuk kali pertama putra sulungnya bawa ke rumah. Secangkir teh dan biscuit sintetis yang ia buat sendiri dengan sepenuh hati pun telah ditatanya dengan rapi di atas nampan.   Namun, belum jauh kakinya melangkah. Pendengarannya tanpa sengaja menangkap sebuah suara yang terdengar seperti cekcok. “Tak bisakah kau mendengarkanku sekali saja? Kenapa kau harus pergi di saat perusahaan lain sudah berhasil menemukan pil pengatas rasa haus yang setidaknya dapat sedikit membantu permasalahan ini? Tidakkah cukup dengan itu?” Nada bicara Niar terdengar naik satu oktaf. Sementara Sekala hanya bungkam dan tertunduk, tak ada lagi yang bisa ia katakan.   “Karena yang menemukan pil itu pesaingmu? Iya?! Karena itu kau tidak mau kalah dan rela pergi ke Amerika membahayakan diri sendiri hanya demi terlihat lebih hebat dari mereka? Iya?! Yang kau bilang demi kebaikan semuanya dan demi masa depan kita, itu sebenarnya hanya agar kau tidak mau kalah, benar begitu, bukan?”   “Pil?” bisik Evi. Benaknya dipenuhi tanya akan apa yang dituturkan oleh gadis yang menjadi tamunya itu.   “Kenapa Sekala tak pernah berkata apa-apa tentang pil itu kepada ku?” bisik Evi lagi.   “Niar, dengar….”   Mendengar putra sulungnya mulai buka suara. Evi pun berusaha untuk menajamkan pendengarannya.   “Sebetulnya pil itu….   ….   … Ibu, sedang apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN