Saka baru saja keluar dari kamar mandi. Membersihkan dirinya dengan cairan vilidis yang sama sekali tidak membuat tubuh menjadi segar selayaknya air. Tapi, ya, setidaknya benda itu cukup berguna selama ini di masa yang pelik begini.
“Kau mau kemana, Kak?” tanya Saka, sembari meletakkan kembali handuknya di tempat semula.
“Jalan-jalan, mau ikut?” Sekala menawarkan.
Setelah berpikir selama beberapa detik, Saka pun akhirnya memberi anggukan kepala. Sebetulnya dirinya malas sekali menghabiskan satu hari yang berharga dalam hidupnya untuk keluar rumah. Namun, mau bagaimana lagi, kakaknya itu hanya pulang satu minggu dalam setahun. Karena itu, Saka menyetujui ajakkan sang kakak. Yah, memang kalau diingat-ingat, entah kapan terakhir kali dirinya pergi berdua bersama sang kakak hanya untuk sekadar jalan-jalan begini.
Mesin skydrive dinyalakan. Sekala mulai memainkan kemudi, membawa skydrivenya melaju meninggalkan beranda rumah di bawah teriknya matahari, membelah jalanan. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi cuaca sudah sebegitu teriknya. Tak ada lagi kata teduh di masa sekarang ini. Fenomena hujan pun agaknya begitu langka. Bahkan mungkin sebagian dari manusia yang hidup di zaman ini tidak mengenal kata hujan.
“Mayat-mayat di jalanan makin banyak saja.” Ujar Sekala sembari membelokkan kemudinya ke arah kanan.
“Begitulah,” sahut Saka. “apalagi dengan adanya tagihan oksigen itu. Aku yakin, akan makin banyak orang yang mati. Pemerintah hanya ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin agar dapat bertahan hidup tanpa memikirkan keadaan rakyat.”
Sekala tersenyum tipis. “Itulah sifat asli manusia.” Katanya.
Skydrive pun terhenti di parkiran sebuah rumah sakit. Sekala memang tak mengatakan kemana tujuannya, tapi, mengapa rumah sakit?
“Mau turun atau menunggu?” tanya Sekala, sembari melepaskan diri dari seatbelt.
“Aku turun saja,” jawab Saka. Ia enggan menunggu di skydrive yang meski sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan tetap saja terasa panas. “Memangnya, Kakak hendak melakukan apa? Kenapa ke rumah sakit?” sambungnya, dan segera keluar skydrive, menutur Sekala yang berjalan satu langkah lebih dulu.
“Aku punya teman di sini,” kata Sekala. Mereka baru saja melewati pintu masuk, disambut oleh udara yang lebih sejuk menyapa dengan begitu ramahnya. “Dia seorang dokter. Sudah lama aku tidak menyapanya, sekaligus ingin menanyakan kabar tentang kota ini.”
“Sekala!” panggil seorang lelaki yang mengenakan jas putih dari ujung lorong. Tubuhnya tak lebih tinggi dari Sekala, hidungnya mancung, dan kulitnya sawo matang. “Bagaimana kabarmu? Ku pikir kau sudah tidak ingat lagi kata pulang. Haha!” ucapnya.
“Kau ini!” balas Sekala, seraya menonjok pelan bahu rekannya itu.
Pun lelaki itu mengalihkan tatapannya ke arah Saka, yang berdiri di sebelah Sekala. “Ini….”
“Ah, ini adikku. Saka.” Ucap Sekala memperkenalkan.
“Astaga! Saka? Yang benar? Kenapa dia sudah sebesar ini?” kata lelaki itu tidak percaya, sementara Saka hanya mampu mengernyitkan dahi sembari tertawa renyah.
Memangnya dia mengenalku? Batin saka.
“Adikku manusia. Dia bertumbuh!” Celetuk Sekala. Keduanya pun saling melempar tawa.
“Saka, dia ini Darius. Teman semasa sekolahku dulu, sering berkunjung ke rumah. Mungkin kau tidak ingat karena dulu kau masih kecil.” Jelas Sekala. Menjawab kebingungan Saka yang sedari tadi menyelimutinya.
“Ah, begitu.” Hanya kata itu yang mampu terlontar dari mulut Saka.
“Bagaima kondisi di sini?”
Sesaat setelah Sekala melemparkan tanyanya. Ekspresi Darius seketika berubah. Yang semula matanya tampak berbinar karena baru saja berjumpa kembali dengan sang rekan yang sudah lama tak dijumpainya itu, kini menjadi sendu. Napasnya terhela, senyumnya pun sirna.
“Di sini, sudah jarang ada pasien.” Jawabnya.
Bukankah itu bagus? Batin Saka. Bocah itu lagi-lagi dihampiri kebingungan, melihat Darius yang justru tampak menyirarkan kesedihan pada rautnya karena di rumah sakit tempatnya bekerja ini jarang ada pasien. Bukankah kalau sudah jarang ada yang ke rumah sakit, itu artinya warga di kota ini sehat dan baik-baik saja? Alih-alih bersedih harusnya Darius senang, bukan?
“Benarkah? Bagaimana bisa? Apa tingkat dehidrasi dan orang yang keracunan limbah berkuarang drastis?” tanya Sekala lagi. Tampaknya lelaki itu sepemikiran dengan sang adik. Meskipun sang adik hanya mengutarakan tanyanya di dalam kepala.
“Bukan begitu, Sekala. Justru kebalikannya. Banyak orang dehidrasi yang tewas dan sisanya yang saking tidak tahan kehausan dan tak memiliki uang memilih untuk meminum air sungai yang tercemar berat. Sekarang, banyak perusahaan air minum yang berhasil menjernihkan air tanpa menghilangkan racunnya. Itu jauh lebih menguntungkan bagi mereka. Dan lagi, semenjak munculnya kabar tagihan oksigen, orang-orang berpikir daripada harus menghabiskan uang untuk ke rumah sakit, lebih baik untuk kebutuhan lainnya.” Papar Darius.
Astaga, ternyata ini lebih buruk.
“Apa rumah sakit ini tidak bisa digratiskan saja?” tanya Sekala dengan dahi yang mengernyit.
Darius terkekeh mendengarnya. “kalau rumah sakit ini milikku juga sudah pasti aku akan menerapkan itu. Tapi, ya, karena ini bukan milikku melainkan milik negara, jadi semua itu tergantung pemerintah. Kau, tahu, kan, wajah pemerintah saat ini? Memang ada beberapa rumah sakit swasta yang gratis. Namun, nyatanya itu tetap saja tidak membantu. Mereka pun kekurangan alat karena tidak ada lagi biaya.”
“Astaga…” Lirih Sekala, sambil memijat keningnya sendiri.
“Dokter Darius!” panggil seorang perempuan yang dilihat dari seragamnya bisa ditebak sudah pasti ia perawat. Perempuan itu berlari ke arah Darius dengan wajah yang menyiratkan bahwa ada sesuatu yang genting.
“Ada pasien yang mengalami keracunan. Kondisinya cukup parah, tapi tidak bisa ke rumah sakit karena mereka tidak memiliki kendaraan. Ini alamatnya.” Tutur perawat tersebut seraya memberikan secarik kertas kepada Darius.
“Terima kasih, aku segera kesana!” ujar Darius.
“Aku ikut!” Seru Sekala, menawarkan diri. Darius tentu menyetujui. Lantas tanpa buang waktu lagi, mereka segera bergegas menuju ke lokasi.
Skydrive milik Sekala berada tepat di belakan skydribe ambulance yang ditumpangi Darius. Mereka melaju dengan kecepatan penuh. Saka yang duduk di kursi penumpang sebelah Sekala, tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya memandangi sekelilingnya.
“Kak,” panggil Sekala. Namun, kakaknya itu hanya menanggapinya dengan deheman. Fokusnya tak teralihkan dari jalanan. “Sepertinya aku tahu daerah ini. Ini daerah rumah temanku, Akasa.” Ujar Saka.
“Benarkah?”
“Eum. Nanti ketika Kakak dan Kak Darius memerika pasien, bolehkah aku mengunjungi temanku saja?” ucap Saka. Yah, alih-alih melihat orang sekarat, pikirnya lebih baik ia mengunjungi Akasa.
“Tentu.” Balas Sekala singkat.
Rumah demi rumah terlewati. Saka dan Sekala tidak sempat membaca kertas berisikan alamat tersebut. Mereka hanya mengikuti laju skydrive yang ada di depannya itu. Setelah menempuh 15 menit perjalanan, skydrive pun terhenti.
Namun,
Betapa terkejutnya Saka. Jantungnya seakan mencelos. Kakinya tiba-tiba saja terasa lemas. Ia tak mampu berkata-kata lagi ketika skydrive mereka terhenti tepat di depan rumah bercat merah.
“Kau ingin menunggu di sini?” tanya Sekala, kepada sang adik yang hanya mematung di tempatnya, sesaat sebelum ia turun dari skydrive.
“Kak… ini rumah Akasa.”