Good Morning, for myself
Aku cuma bisa meringis, lihat-lihat feed i********:.
Sungguh rutinitas pagi yang nggak berfaedah. Ditambah menunggu roti yang sedang aku masukan ke dalam toaster matang, aku semakin larut ke dunia maya.
Aulia, salah satu teman kuliahku baru aja mengunggah foto cincin berlian Tifanny & Co, satu kotak hermes dan satu buah jam rolex dengan caption,
'Terima kasih suamiku tersayang untuk kado satu tahun pernikahannya."
Rasanya aku gatal pengen ngasih tahu dia kalau kemarin aku melihat suami tersayangnya dinner romantis dengan perempuan lain di Pasola The Ritz Carlton Pacific Place berdua, yang kebetulan sedang aku datangi dengan Bryan karena ada acara keluarga. Padahal aku nggak kenal dengan suami Aulia, cuma karena Aulia sering voluntarily publish foto suaminya- I can't help but notice her husband on the spot.
Ada banyak spekulasi sih, kayak misal mungkin perempuan itu cuma rekan kerja. Tapi ya masa rekan kerja sampai pegangan tangan, tatap-tatapan napsu (Iya, aku pantau terus pergerakan mereka) Spekulasi kedua, mungkin Aulia tahu perilaku suaminya cuma ya dia simply deny, or didn't care.
Yang penting publik tahunya Aulia dan suami adalah pasangan paling romantis sedunia, his husband is a guy that too good to be true. I mean, Aku juga begitu sih. "Aku berangkat." suara Bryan mengagetkan lamunanku.
Aku berjalan kearah sumber suara, yang ternyata sudah jauh. Bryan sudah menyalakan mobilnya dan bersiap pergi. Aku kembali ke dapur, melihat dua buah telor mata sapi setengah matang, dua gelas kosong dan satu teko keramik berisi teh melati hangat yang sudah aku siapkan.
Aku menghela nafas bersamaan dengan rotiku yang muncul dari toaster. Sejak kami menikah dua bulan lalu aku selalu menyiapkan sarapan untuk aku dan Bryan. Tapi selama itu juga kami nggak pernah sarapan berdua, makan siang berdua dan makan malam berdua.
Bukan kok, bukan karena Bryan sesibuk itu, memang aku nggak penting aja buat Bryan. Because I believe no one is ever so busy. It's all about priorities. Aku emang bukan prioritasnya. Dan dia juga bukan prioritasku. Hanya, aku memang terbiasa selalu nyiapin sarapan aja tiap pagi. Aku menarik kursi bar dekat dapur, lalu menuang teko berisi teh ke gelas kosong.
Aku menghirup aroma teh melati yang menenangkan sambil mengecek jadwalku pagi ini.
09.45 - 10.30 : Berkunjung ke Intercont School Yayasan Widjaya untuk speech pembukaan auditorium baru.
13.30 - 15.00 : Cek toko bunga Interflora Flower Elea buat cek wallpaper yang mau di pasang.
16.00 sd selesai : visit Elea Bridal Boutique, meeting with client. Aku sudah mengetik pesan untuk Bryan, berisi informasi mungkin aku bisa pulang larut malam karena meeting dengan client biasanya memakan waktu yang lama. Aku harus menunjukan koleksi gaun-gaun rancanganku yang sudah jadi, kemudian mendengarkan keinginan calon pengantin, dari modelnya, bahannya, membuat jadwal pertemuan berikutnya, dan banyak printilan lain. Tapi aku menghapus pesan itu sebelum sempat aku kirim. Sejak kapan kami bertukar kabar? Kita kan hanya dua orang manusia nggak mau saling mengenal yang kebetulan suami istri.