“Ketika aku dan kamu, maka kisah ini dinamakan kita.” ---- Tidak berlebihan rasanya jika menyebut jika hari ini Aly berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Wajahnya tampak sumringah dengan senyum yang tercetak di bibirnya sejak ia keluar dari kendaraan mewah miliknya yang sengaja di parkir di tempat parkir khusus staf. Namun, kali ini, senyumnya tak digunakan untuk menarik perhatian siswi-siswi Pertiwi. Melainkan, hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang bahagia. “Seneng banget, Babang Aly ini,” tegur Bima yang sudah standby di kelasnya. Untuk apa lagi jika bukan menyontek tugas yang belum dikerjakannya? Sahabat Aly itu memang selalu datang pagi jika ada tugas dan belum dikerjakannya. Sisanya, anak lelaki itu datang paling siang atau bahkan membolos. “Tumben, Bimbim dateng

