“Aku tidak peduli berapa banyak orang yang berteriak di belakangmu. Yang terpenting, akulah yang berdiri di sampingmu.” ---- Ini bukan kali pertama Vanila menonton pertandingan basket yang diadakan di sekolahnya. Namun, kini posisinya berbeda. Dulu, ia hanya menyemangati seluruh pemain SMA Nusa Bangsa. Kini, ia hanya diperbolehkan mendukung kekasihnya yang posesif itu. Pertandingan kali ini hanya pertandingan persahabatan dengan SMA Pancasila. Hitung-hitung mematangkan persiapan turnamen di Malang nanti. Gadis itu duduk di jajaran paling depan bersama Bima yang harus puas duduk menonton karena kondisi kakinya yang belum pulih. Raut terpaksa tak bisa disembunyikan dari wajah lelaki itu. Biasanya, ia akan berada di tengah lapangan bersama yang lain dengan teriakan siswi-siswi yang mengelu

