“Yang terjadi biarlah berlalu. Kini, kita hanya harus berjalan ke depan meninggalkan segala kenangan yang menyakitkan.” ---- Mungkin terdengar berlebihan jika Aly mengibaratkan hujan yang kini turun merupakan pengiring perasaannya yang tengah terluka. Ia juga tak mungkin meneteskan air matanya ketika masih berhadapan dengan Vanila. Ia harus menjaga ekspresinya sekuat mungkin meski rasanya sulit sekali. Dirinya tak punya kekuatan untuk menjawab apa yang Vanila katakan. Demi apapun, ia tak sanggup sama sekali. “Kita udahin semua ego kita di belakang terus kita melangkah lebih baik. Kamu mau, kan?” Aly hampir melonjak dari duduknya ketika mendengar kelanjutan pembicaraan Vanila. Meski dirinya tak terlalu fokus lagi, tapi ia bisa mendengar jelas apa yang Vanila katakan. Jadi, ini bukan sep

