Mata Helena membelalak di balik penutup mata yang dipakainya. Ia benci diingatkan apa yang berusaha ia sembunyikan dari pikirannya. Ia memang terbersit akan hal itu, tetapi dirinya sama sekali tidak mennduga pria misterius ini akan mengatakan secara langsung kepadanya. Ditelannya ludah dengan sukar. Ia tidak bisa menatap mata pria misterius yang berdiri tepat di hadapannya, tetapi ia bisa merasakan tatapan tajam pria itu. Bagaikan menghunusnya dengan sebilah pisau. “Kau hanya berasumsi saja, aku masih mendapatkan tamu bulananku, kalaupun diriku hamil itu adalah anak dari suamiku!” tandas Helena. Pria misterius itu tertawa kecil. “Aku ingin bertemu dengan suamimu dan meminta kepadanya untuk melepaskanmu. Aku bisa membahagiakanmu.” Helena tercenung hatinya terbelah, satu sisi ia ingin le

