Helena menggeliat dari tidurnya, ia mencoba untuk meregangkan badan. Namun, ia merasa berat, seperti ada yang menahan tubuhnya. Helena membalikkan badan barulah ia dapat melihat orang yang memeluk erat perutnya adalah Matteo.
‘Kenapa ia bisa berada di tempat tidur yang sama denganku? Bukankah seharusnya ia bersama dengan kekasihnya,’ batin Helena.
Perlahan ia memindahkan tangan Matteo yang membelit perutnya. Begitu pula dengan kaki pria itu yang ditumpangkan di atas kakinya.
Secara mengejutkan Matteo membuka mata, lalu menarik tangan Helena hingga ia terjatuh ke atas d**a Matteo.
“Selamat pagi, istriku! Apakah kau tidak akan memberikan ciuman selamat pagi untuk suamimu?” ejek Matteo.
Helena meletakkan tangan di d**a Matteo. Mencegah dadanya bersentuhan langsung dengan d**a Matteo. “Mengapa kau ada di sini? Apakah kekasihmu tidak marah kau tinggalkan?”
Senyum mengejek terbit di bibir Matteo. “Apakah kau cemburu? Percayakah kau, jika kukatakan aku tidak menemui kekasihku?”
Helena menatap Matteo mencoba untuk mencari tau apakah suaminya itu berbohong, ataukah berkata jujur. Namun, ia tidak dapat membacanya.
Matteo menjentikan jari tepat di depan wajah Helena. “Aku tau diriku ini memang tampan dan mempesona, karena banyak yang mengatakan seperti itu. Aku melarangmu untuk jatuh cinta kepadaku selama pernikahan kita. Pernikahan kita tidak boleh melibatkan perasaan dan kau sudah tau pasti alasan di balik pernikahan ini.”
Dengan kasarnya Matteo mendorong Helena menjauh dari atas tubuhnya. Hingga ia terbaring di kasur. Seolah pria itu tersadar, kalau ia sangat membenci Helena dan Helena bukanlah kekasihnya.
“Cepatlah mandi dan berpakaian aku mau kau menemaniku untuk sarapan. Tidak ada alasan untuk menolak sarapan itu!” ucap Matteo.
Helena bangkit dari atas ranjang. Dengan malas-malasan ia berjalan menuju kamar mandi. Dinyalakannya bathub dengan air hangat. Setelah dirasanya cukup ia pun menceburkan diri ke dalamnya untuk mandi berendam.
Beberapa menit berselang dengan diantarkan seorang pelayan Helena dibawa menuju ruang makan. Sesampai di sana tubuh Helena terasa membeku. Ia berdiri diam terpaku melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
Begitu rasa terkejutnya hilang, amarahlah yang menguasai diri Helena. “Suamiku, aku tidak tau kalau mengundang selingkuhanmu untuk sarapan bersama. Apakah kau sudah mengatakan kepadanyam, kalau kau tidur bersama denganku? Ataukah ia tidak merasa malu dan tau diri menggoda pria yang telah beristri?”
Dalam hatinya Helena gemetaran. Ia merasa takut karena sudah menghina wanita yang dicintai Matteo. Statusnya memanglah sebagai istri dari pria itu. Akan tetapi, wanita itulah yang akan didengar Matteo ucapan dan tindakannya.
Tangan Susan terkepal rapat di samping tubuh. Ia merasa sangat marah dan terhina. Bangikit dari duduknya di atas pangkuan Matteo. Dengan anggun dan penuh tekad Susan berjalan mendekati Helena.
Sebelum Helena sempat mencegahnya, Susan sudah melayangkan pukulan ke wajah Helena dengan kerasnya.
Helena meraba pipinya yang terasa sakit, tetapi ia tau itu adalah kesalahannya karena sudah memancing amarah dari kekasih Matteo.
“Kalau kalian berdua hendak berkelahi, aku memiliki ring tinju di ruang bawah tanahku. Jadi makanlah, atau aku mengirim kalian berdua ke sana!” tandas Matteo dengan suara dingin.
Susan membalikkan badan berjalan menuju kursi yang terletak di samping Helena. Sementara Helena sendiri merasa bimbang. Sarapan bersam dengan Matteo dan kekasihnya ataukah ia sarapan sendiri saja di tempat lain.
“Cepat duduklah Helena!” tegur Mattep dengan suara dingin.
Langkah kaki Helena terasa berat. Pada sat ia berjalan menuju kursi kosong yang berhadapan dengan tempat duduk Matteo.
Helena memaksakan diri menelan makanan yang disajikan pelayan kepadanya. Merasa diamati Helena mendongak dan tatapannya saja bertemu dengan tatapan dingin, serta tajam Matteo.
Perhatian Matteo dari Helena teralihkan dengan suara manja dari wanita itu. “Sayang! Apakah kamu lupa, kalau hari ini kita berdua harus pergi untuk menghadiri Lelang.”
Matteo menoleh ke arah Susan dengan tenang ia menyahut, “Tentu saja aku tidak lupa. Ayo, kita harus berangkat. Dan di sana nanti pilhlah perhiasan mana yang kau inginkan.”
Bangkit dari duduknya Matteo mengulurkan tangan kepada Susan. Membantu kekasihnya itu untuk bangkit dari duduknya. Keduannya berlalu pergi begitu saja tanpa mengabaikan Helena.
‘Setidaknya Matteo jujur kepadaku, kalau ia tidak mencintaiku dan telah memiliki kekasih. Apa yang kuharapkan dari pernikahan tanpa cinta ini? Siapa diriku yang mengharapkan perhatian darinya,’ batin Helena dengan perasaan sedih.
Helena bangkit juga dari duduknya. Ia tidak memiliki selera sama sekali untuk menyantap makanan yang ada di piringnya. Ia berjalan keluar dari ruang makan tanpa tau kemana harus pergi.
Mansion itu begitu luas dengan banyaknya kamar. Dan sepanjang lorong yang dilaluinya terasa begitu dingin, serta menakutkan.
‘Kenapa di mansion ini terlihat beberapa orang dengan pakaian hitam yang menatapku dingin? Sebenarnya siapa Matteo? Apa pekerjaannya?’ batin Helena.
Dirinya sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya pria yang telah ia nikahi. Dan kesadaran akan hal itu membuat Helena yang diabaikan menjadi penasaran untuk mencari tau.
Berjalan menuju ujung lorong sayap barat Helena melihat ada sebuah pintu berwarna hitam. Pintu itu terlihat begitu kokoh dan kuat. Tangan Helena terulur menyentuh kenop pintu yang tadinya ia fikir terkunci. Namun, ternyata pintu itu dengan begitu mudahnya dapat ia buka.
‘Astaga pintu ini dapat di buka?’ gumam Helena.
Jantungnya berdebar kencang memasuki ruangan yang terlihat gelap dan dingin tersebut. ‘Apakah ini ruang kerja Matteo? Kenapa di sini terdapat ada beberapa senjata yang terletak di dalam lemari?’
Helena mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut dengan rasa penasaran, sekaligus takut. Dia terus berjalan menuju sebuah lukisan yang terlihat seorang pria yang terlihat dingin, serta kejam.
‘wajah dalam lukisan ini begitu mirip dengan Matteo. Apakah ia almarhum kakek Matteo yang telah memaksakan pernikahan bagi kami berdua?’ batin Helena.
Tangannya terulur menyentuh lukisan tersebut. Tatapan mata yang begitu tajam pada lukisan itu seakan menghipnotis Helena. Membuat ia tidak menyadari, kalau pintu ruang kerja tersebut terbuka. Dan suara langkah kaki yang teredam oleh karpet tebal yang menutupi lantai membuat Helena tidak mendengarnya.
Sentuhan tangan di pundaknya membuat Helena terlonjak terkejut. Jantungnya serasa melompat keluar. Kakinya diam terpaku di tempatnya berdiri. Ia terdiam membeku seakan menanti hukuman yang akan diberikan kepadanya.
‘Jadi sekarang kau mencoba menyelidiki sesuatu, Nyonya? Apakah apa yang kau temukan membuatmu merasa senang? Apakah kau tau hukuman yang diberikan untuk seseorang yang memasuki ruangan yang tidak untuk ia lihat?’ bisik suara tersebut.
Tapak tangan Helena terasa dingin. Suara yang didengarnya sangat mirip suara dari suaminya, tetapi hal itu terasa tidak mungkin, karena suaminya tadi telah pergi dengan kekasihnya.
‘Ma-matteo! Apakah ini kamu? Ma-maaf aku tidak bermaksud lancang hanya saja mansion itu begitu besar dan tadinya aku mengira tempat ini adalah perpustakaan. A-aku hanya ingin membaca saja,” gagap Helena.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Helena. Ia juga mencegah Helena membalikan badan untuk melihat pria itu.
Helena merasakan sebuah penutup diikatkan untuk menutup penglihatannya. Membuat tubuh Helena bergetar hebat karena rasa takut.
“A-apa yang akan kau lakukan? Tolong lepaskan aku, aku berjanji tidak akan memasuki ruangan ini. Matteo, pemilik mansion ini suamiku dan ia tidak akan senang mengetahui ada yang menyentuh istrinya,” ucap Helena terbata.
Pria itu meletakan kepalanya di pundak Helena yang terbuka. Lidahnya bermain di leher Helena yang terasa sensitif membuat Helena merasakan gairah yang tidak seharusnya ia rasakan.
Helena mencoba untuk menggigit lengan pria yang memeluk perutnya dengan erat. Usahanya berhasil lepasan pria itu terlepas. Helena pun dengan cepat mencoba untuk menjauh keluar dari ruangan tersebut.
“Mau kemana kau? Kau harus menjalani hukumanmu dahulu!” bisik pria itu yang dengan mudahnya dapat menangkap Helena, lalu menarik ke arah dirinya.