Helena benci perasaan lemah dan tidak berdaya yang ditimbulkan oleh pria itu. “Kenapa kau hanya diam saja? Apakah kau bisu? Ah! Tidak mungkin, karena tadi kau dapat berbicara.”
Pria itu kembali menutup penutup mata Helena yang terlepas. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Begitu penutup mata itu kembali terpasang bibir pria itu memberikan ciuman di bibir Helena. Ciuman yang pada awalnya kasar, tetapi berubah menjadi lembut begitu dirasanya Helena membalas ciumannya.
Indera Helena terasa menjadi lebih sensitif saat matanya dalam keadaan tertutup begini. Indera penciumannya dapat mencium aroma parfum pria itu yang anehnya bagi Helena sama persis, seperti yang dipakai Matteo.
“Ah!” Suara lenguhan tanpa sadar keluar dari bibir Helena. Saat ia merasakan tangan pria itu menelusup ke balik gaunnya.
‘Sial! Wanita ini sangat menggodaku. Aku harus memberikan hukuman kepadanya, karena sudah membuatku sangat menginginkannya,’ batin pria itu.
Helena dapat merasakan dirinya diangkat. Dan ia kemudian dibaringkan di atas sebuah kasur yang terasa empuk. Selama itu pula bibir pria itu tidak pernah lepas mencumbu bibir, serta leher Helena.
Bunyi gemerisik kain yang di buka menyadarkan Helena dari kabut gairah. Yang ditimbulkan oleh pria itu. Tangan Helena mencegah pria itu melepaskan kaitan bra yang ia pakai.
Dengan suara serak karena gairah Helena mencoba melakukan usaha terakhir melawan pria itu. “To-tolong lepaskan aku. Aku sudah menikah dan suamiku pasti akan membalasmu karena sudah berani menyentuhku.”
Pria itu tersenyum di leher Helena. Dengan suara yang juga berat akibat hasrat yang sudah menguasainya. Pria itu tidak mengeluarkan suara ia meraih jemari Helena menuntun ke bagian bawah tubuhnya. Yang sudah menjadi begitu keras, serta panas.
Pria itu mengutuk Helena dalam hati karena menggeliat-geliat di bawah tubuhnya. Yang justru menambah hasrat yang ditimbulkan wanita itu kepadanya.
Tangan Helena menyentuh jemari pria itu. Ia merasa mengenali cincin yang dipakai oleh pria itu. “Kenapa aku merasa cincin yang kau pakai, seperti milik suamiku? A-apakah kau Matteo? Mengapa kau melakukan ini kepada istrimu sendiri?”
Akhirnya pria itu mengeluarkan juga suara. Akan tetapi, berupa suara menggeram yang membuat Helena diam tak bergerak di bawah tubuh pria itu. Tubuhnya mengkhianati keinginannya untuk menolak sentuhan pria itu.
Tanpa sadar ia sendiri ikut membantu melepaskan pakaian yang dipakai pria tersebut. Hasrat yang sebelumnya belum pernah Helena rasakan membuat ia menjadi terlena dan terbuai. Hingga rasa sakit itu melanda dirinya. Pada saat pria itu berhasil sepenuhnya menyatukan tubuh mereka.
Senyum mengembang di bibir pria itu. Ia jatuh lemas di atas tubuh Helena dengan wajahnya melekat di leher Helena.
‘Akh! Akulah yang pertama dan aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya, selain diriku.’ Pria itu menggulingkan badan berbaring di samping Helena.
Tangan pria itu membelit erat perut Helena, seakan ia takut wanita itu akan pergi darinya. Kelelahan, setelah aktivitas bercinta membuat pria itu jatuh tertidur. Bersama-sama dengan Helena yang sama lelah seperti dirinya.
Pria itulah yang lebih dahulu terbangun dari tidurnya. Ia memandangi wajah cantik Helena yang terlelap. Diberikannya kecupan pada kening wanita itu dengan janji dalam hati. Dirinya akan menjaga dan mencintai wanita itu dalam diam demi keselamatannya.
Turun dari tempat tidur pria itu langsung memungut pakaiannya yang tergeletak secara sembarang di lantai. Selesai berpakaian, pria itu mengambil pakaian milik Helena, lalu meletakkannya di atas ranjang. Dipandanginya sejenak wajah Helena yang terlihat damai dalam tidurnya.
Pria itu berjalan keluar dari kamar tersebut, ia berjalan dengan gagah tanpa menoleh ke belakang. Di depan pintu sudah menunggu seorang pria dengan senyum mengejek di sudut bibirnya.
“Hapus senyum itu dari wajah jelekmu! Jaga dirinya dan pastikan tidak ada yang menyentuh atau menyakitinya. Aku percayakan keselamatannya di tanganmu,” tegas pria itu.
“Tenanglah, aku akan menjaga wanitamu dengan nyawaku!” sahut pria itu dengan senyum yang semakin lebar.
***
Helena terbangun dari tidurnya yang lelap. Dan ia merasakan bagian-bagian tubuhnya pegal-pegal. Terutama bagian bawah tubuhnya yang terasa sakit. Dan hal itu sontak saja menyadarkan Helena dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
‘Ya, Tuhan! Apa yang telah kulakukan? Aku tidur dengan pria yang bukan suamiku. Aku telah berselingkuh dan mengkhianati janji pernikahan kami,’ batin Helena.
Duduk dengan menekuk lutut dengan selimut menutupi tubuhnya. Helena menangis terisak, sambil menumpukan kepalanya di lutut. Ia merasa sudah kotor berhubungan dengan pria asing yang bahkan wajah, serta nama pria itu tidak diketahuinya.
Diusapnya dengan kasar air mata yang membasahi wajahnya. Kaki telanjang Helena menapak lantai yang dingin. Helena baru menyadari, kalau dirinya tidak tertidur di ruangan yang seharusnya tidak ia masuki. Akan tetapi, ia terbangun di kamarnya sendiri.
Tubuh Helena terasa membeku, ketika ia melihat pintu kamarnya yang di buka. Ia takut, kalau yang datang adalah suaminya. Dan pria itu melihat dirinya dalam keadaan yang berantakan.
“Selamat pagi, Nyonya! Saya diperintahkan untuk membawakan makan malam anda di kamar. Saya juga akan menyiapkan air untuk Anda mandi. Tunggu sebentar,” ucap pelayan itu.
Pelayan yang baru masuk tersebut menaruh nampan makanan dan minuman yang dibawanya ke atas meja. Ia kemudian berjalan memasuki kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi Helena.
Mengetahui yang datang bukanlah suaminya. Rasa takut Helena berubah menjadi lega. Kakinya yang mendadak lemas memaksa Helena duduk kembali di ranjang.
Tak lama berselang didengarnya suara langkah kaki pelayan tadi keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum kepada Helena yang menatapnya dengan fikiran kosong.
“Nyonya air mandi Anda sudah siap. Saya juga akan menyiapkan gaun yang telah dipilihkan Anda oleh tuan Matteo. Ia memberikan pesan dalam dua jam lagi dirinya akan datang menemui, Anda.” Pelayan itu pun berjalan keluar dari kamar Helena.
Helena melihat goodie bag yang terletak di atas sofa. Ia menduga isinya gaun malam yang dikatakan pelayan tadi.
Digelengkannya kepala mengusir bayangan Matteo yang akan datang menemuinya. Dan bagaimana reaksi pria itu, kalau mengetahui istrinya sudah tidak suci lagi.
Dilangkahkannya kaki memasuki kamar mandi yang luas dan mewah. Dilihatnya bathub untuk mandi sudah dipenuhi buih sabun dengan aroma terapi yang menenangkan.
Diceburkannya diri ke dalam bathub tersebut, sambil memejamkan mata. Begitu matanya terpejam hal yang diingatnya justru pada saat pria asing yang telah berhasil mengambil keperawanannya.
Helena semakin merendahkan badan, hingga air sampai ke lehernya. Ia berharap bayangan sentuhan dari asing itu bisa hilang. Tanpa disadari Helena dirinya tertidur dalam mandi berendamnya.
***
Matteo memasuki kamar Helena dengan langkah pelan. Ia tau dirinya telah berpesan kepada pelayan untuk menyampaikan kepada istrinya itu, kalau dirinya akan menemuinya beberapa jam lagi.
Begitu dilihatnya kamar itu kosong, ia berjalan menuju kamar mandi. Dan benar saja di sana dilihatnya Helena yang tengah mandi berendam.
“Astaga, Helena! Apakah kau bermaksud untuk menenggelamkan dirimu?” tegur Matteo galak.
Helena terbangun dari tertidurnya, sambil mandi berendam. Dilihatnya Matteo yang memasang wajah galak. “Mengapa kau berada di sini? Bukankah seharusnya kau sedang bersama dengan kekasihmu?”
Matteo merendahkan badannya membuat Helena semakin merosotkan tubuhnya. Karena takut Matteo dapat melihat dirinya yang dalam keadaan tanpa busana.
“Kenapa kau terlihat takut melihatku, istriku? Apakah ada yang kau sembunyikan? Kau tidak berselingkuh dariku, bukan?” bisik Matteo tepat di telinga Helena.