Kebingungan Helena

1241 Kata
Helena menatap Matteo dengan mata besarnya yang membelalak. Mulutnya terbuka, kemudian ia tutup kembali dengan cepat. “Kenapa istriku? Kau tidak jadi bersuara?” bisik Matteo. Pria itu menyibak rambut yang menutupi bagian sebelah leher Helena. Dan apa yang dilihatnya membuat ia tersenyum kecil dalam hatinya. “Tanda apa ini Helena? Jangan katakan kepadaku kalau tidak mengetahuinya? Siapa pria yang sudah menyentuhmu? Apakah kau lupa dengan peringatanku untuk tidak berhubungan dengan pria lain, selain diriku?” desis Matteo dengan suara bernada penuh amarah yang tertahan. Lidah Helena terasa kelu, ia tidak menduga jika pria tak dikenal yang tidur dengannya meninggalkan tanda. Kenapa ia tadi tidak melihat seluruh tubuhnya dahulu di depan cermin. “K-kau pasti salah! Itu bukanlah cupang, tetapi tanda yang memang akan muncul kalau aku merasa tertekan. Dan jelas kehadiranmu di kamar mandi ini pada saat diriku dalam keadaan tanpa busana, jelas membuatku merasa tertekan,” ucap Helena terbata. Matteo menekankan jarinya pada tanda memar berwarna merah. Yang terlihat di leher Helena. “Tadinya aku fikir kau akan lebih kreatif dengan mengatakan itu adalah tanda yang dibuat oleh serangga. Karena itu jelas akan menghina kebersihan mansionku yang terjaga. Aku akan memeriksa rekama kamera pengaman untuk mengetahui siapa pria yang sudah berani menyentuhmu.” “Matteo, maukah kau menolongku mengambilkan handuk. Aku merasa kedinginan berada di sini terlalu lama.” Helena menggertakkan giginya. Matteo memang merasakan badan Helena yang terasa dingin di bawah sentuhannya. Ia mengatakan, kalau Helena tidak perlu berpura-pura merasa malu. Tanpa menunggu jawaban dari Helena, Matteo mengangkat dengan mudahnya tubuh Helena keluar dari bathub. Ia mengabaikan protes yang dilayangkan oleh istrinya itu, Diturunkannya Helena ke atas tempat tidur dengan pelan. Dan ia pun mengiikuti dengan merendahkan badan, sambil membuka kancing kemeja yang dipakainya. “Ma-matteo apa yang kau fikir sedang kau lakukan?” gagap Helena. Matanya terpaku pada d**a Matteo yang ditumbuhi rambut. Dan bagaimana perut itu terlihat rata tanpa ada lemak berlebihan. Ia benar-benar tidak dapat mengalihkan mata dari rasa terpukaunya. Hingga ketika Matteo telah menjadi sama seperti dirinya barulah Helena menyadari apa yang akan terjadi. “Matteo! Kau tidak boleh melakukan ini kepadaku. Kau sudah berjanji tidak akan memaksakan dirimu kepadaku,” tegur Helena dengan suara lirih. “Aku akan menghapus jejak pria yang sudah berani menyentuhmu. Yang akan dilihat semua orang jika kau adalah milikku. Aku juga akan mengawasimu untuk mencari tau apa yang terjadi. Kau beruntung aku tidak menghukummu dengan memasukan kau ke penjra bawah tanahku. Sekarang senangkan diriku atau aku akan melakukannya!” desis Matteo. Dicekaunya dengan kasar dagu Helena sampai istrinya itu meringis kesakitan, tetapi ia tidak peduli sama sekali. Tangannya beralih untuk mengusap leher Helena yang ada tanda merah. Direndahkannya wajah dan ia memberikan gigitan berulang pada tanda merah yang sebelumnya ada. Setelahnya Matteo tersenyum, sambil melihat bekas merah yang baru saja ia buat. “Sekarang kau hanya akan mengingat diriku dan bukan pria lain!” tegas Matteo. Belum lagi Helena menjawab apa yang dikatakan oleh Matteo. Ia merasa kedua kakinya di buka dan hanya suara desahan nyaring akhirnya terlontar dari bibirnya. Saat Matteo menyatukan tubuh mereka dengan lembut. Satu hal yang sama sekali tidak Helena duga. ‘Kenapa bau parfum yang dipakai Matteo sama persis dengan pria misterius itu? Mengapa juga aku baru menyadari sentuhan mereka pun sama? Ya, Tuhan! Seandainya saja aku bisa melihat wajah atau mendengar suara dari pria misterius itu,” batin Helena. Suara lenguhan tanda kepuasan yang terlontar dari bibir Matteo menyadarkan Helena. Mata keduanya bertemu dengan tatapan Matteo yang terlihat berbeda bagi Helena. ‘Kenapa Matteo tidak terlihat marah? Apakah ia tidak menyadari jika diriku sudah tidak perawan lagi?’ batin Helena. Rasa lelah, setelah bercinta membuat Helena berhenti memikirkan reaksi Matteo. Ia pun jatuh tertidur dengan pulas. Matteo menggulingkan badan dari atas tubuh Helena. Senyum kepuasan bermain di wajah tampannya. Diliriknya Helena yang telah terlelap. Istrinya itu kali ini tidak menolak sentuhannya. Dan ia akan memastikan hal itu tidak akan pernah dilakukan oleh Helena. Matteo bangun dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi. Dinyalakannya pancuran dengan air dingin. Ia membiarkan air itu membasahi tubuhnya untuk membuat badannya menjadi lebih segar. Beberapa menit berselang Matteo keluar dari kamar Helena. Di bawah sudah menunggunya dengan senyum lebar begitu melihat kedatangan Matteo. “Sudah dapat kutebak kau baru saja bercinta dengan istrimu. Wajahmu yang terlihat bahagia sudah mengatakan hal itu. Hal yang belum pernah kulihat selama ini,” sindir Daniello. Matteo duduk di sofa di samping Daniello. Ia menerima rokok yang ditawarkan sepupunya. Lalu membakarnya dan menghisap rokok itu. “Aku akan pergi selama beberapa hari kuharap kau bisa menjaga Helena untukku. Aku tidak mau ia terluka, bahkan sedikit saja,” tegas Matteo. Daniello mengerutkan kening. Ia menatap tajam Matteo. “Kau sepertinya sudah jatuh cinta dengan wanita itu. Apakah kau sudah melupakan kekasihmu, Susan?” Matteo memberikan tatapan dingin kepada Daniello. “Aku tidak jatuh cinta kepada Helena. Dan ia mempunyai nama ‘Helena’ Aku tidak mau ia sakit, karena bisa saja sekarang ia tengah mengandung calon anakku.” Daniello bersiul pelan. Ia pun berjanji akan menjaga Helena untuk Caponya itu. Ia akan mengorbankan nyawanya demi menjaga keselamatan Helena. Matteo memiliki satu permintaan khusus kepada Daniello yang membuat pria itu tersedak. Dari anggur yang tengah diminumnya. “Mengapa harus seperti itu, Matteo? Ia tidak akan mengetahui, kalau kau mempedulikannya? Sudah cukup buruk kau tidak mau memperkenalkannya di muka umum. Kau sudah merendahkan istrimu sendiri dengan menjak kekasihmu ke acara formal,” tegas Daniello. “Apakah kau percaya kepada Capomu ini? Kau lakukan saja apa yang kuperintahkan. Kau harus bersuara untukku di saat aku tidak harus menutup mulutku,” perintah Matteo. Daniello mengangguk, ia mengerti. Dan dirinya tidak berani mempertanyakan keputusan yang diambil Caponya. Ia akan melakukan semua perintah dari Matteo dengan baik. Suara langkah kaki yang menuruni tangga membuat Matteo dan Daniello untuk melihat siapa yang datang. Begitu mengetahui Helena lah orang itu. Matteo mengacungkan gelas anggur yang dipegangnya. “Bergabunglah dengan kami, Helena!” ajak Daniello. Helena terus melangkah, kemudian ia duduk di samping Matteo. Mengikuti perintah tanpa kata yang diberikan oleh Matteo. “Kenapa kau bangun?” tegur Matteo. Helena melirik Matteo sekilas, dengan suara bernada rendah ia berkata, “Perutku terasa lapar. Ada seseorang yang mengajakku untuk makan, tetapi ia tidak menepati janjinya dan meninggalkan diriku kelaparan.” Matteo tertawa mendengarnya. Satu hal yang membuat Daniello menjadi semakin heran. Karena belum pernah ia melihat Caponya itu tertawa dan tersenyum. Yang sering ia lihat hanyalah wajah dingin dari Caponya itu. “Kau dengar apa yang dikatakan istriku, Daniello? Aku sudah membuatnya kelaparan. Aku hanya memikirkan rasa lapar diriku sendiri saja untuk bercinta dengannya,” ucap Matteo. Helena menjadi batuk kecil dengan wajah merah merona mendengar apa yang dikatakan oleh Matteo. Ia mencubit lengan pria itu. “Tidak bisakah kau memperhalus ucapanmu?” desis Helena. “Aku tidak dapat menahan diriku untuk menggodamu, istriku! Sekarang, aku akan benar-benar memberikanmu makanan yang sehat. Aku tidak mau kau menjadi sakit, bisa jadi saat ini kau sudah mengandung anakku.” Matteo mengangkat Helena dari duduknya. Helena menyembunyikan wajah di lekuk leher Matteo. Ia merasa malu kepada Daniello dan beberapa pelayan yang melihat mereka. “Kau tidak perlu menggendongku. Aku bisa berjalan sendiri, Matteo!” Helena menggoyang lengan Matteo untuk menurunkan dirinya. “Matteo Sayang! Kenapa kau melupakan janjimu untuk mengajakku pergi ke pesta amal? Aku terpaksa harus menyusulmu datang ke sini. Apakah wanita udik itu yang sudah menahanmu? Kau sudah berjanji kepadaku tidak akan berlama-lama dengannya, bukan?” seru Susan yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN