Pesta Amal

1412 Kata
Hati Helena bagai tertusuk duri. Ia kembali disadarkan kenyataan pahit, kalau dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Matteo. Hanya wanita yang tubuhnya digunakan untuk menghasilkan keturunan. Mengapa ia sampai bisa melupakan hal itu hanya karena sudah bercinta dengan Matteo. Secara perlahan Matteo menurunkan Helena. Hingga kakinya menjejak lantai yang dingin. Matteo dapat merasakan tubuh istrinya itu menjadi kaku. “Ah! Kekasihku tercinta Susan. Tentu saja aku tidak akan lupa dengan janjiku kepadamu. Kita akan pergi ke pesta malam itu.” Matteo melepaskan pegangannya di pinggang istrinya itu. Helena hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Matanya mengembun rasa sakit itu begitu menyesakkan. Setelah bercinta dengan begitu indahnya dan sekarang Matteo berlalu begitu saja begitu kekasihnya datang. Mengapa begitu sakit harus melihat kenyataan yang sudah dan terus diingatkan oleh Matteo. Dirinya yang terlalu bodoh dengan mudahnya menjatuhkan hati pada suaminya. Hanya dengan sentuhan pria itu ia sudah terbuai. Tak pernah sekalipun ia mendengar kata cinta atau sayang dari suaminya. Seolah hendak menunjukkan siapa yang dipilih Matteo. Susan mencium bibir pria itu dengan begitu mesra. Memperlihatkan kepada Helena betapa keduanya merupakan pasangan yang serasi. “Kau memang sangat mencintaiku, Matteo. Aku harap kau menepati janjimu kepadamu untuk memberikan kamar utama untuk kutempati bersamamu di mansion ini,” suara Susan terdengar lembut membujuk menggoda Matteo. Matteo melirik dingin Helena. Bibirnya membentuk garis tipis dengan raut wajah tak terbaca. Ia memalingkan wajahnya menatap Susan dengan wajah tersenyum. “Tentu saja aku akan tidur denganmu di kamar utama. Kamu adalah kekasihku, wanita yang kucintai dan kuinginkan untuk menghabiskan hariku bersama.” Matteo mengecup sekilas bibir Susan. Ditempatnya berdiri Helena tidak dapat lagi membendung air mata. Dengan mata yang kabur ditatapnya punggung Matteo bersama kekasihnya. Keduanya bergandengan tangan dan terlihat begitu serasi. ‘Oh, Sial! Matteo kau sudah membuat istrimu menangis. Dan kau memberikan tugas yang berat kepadaku untuk menghiburnya tanpa menyentuh. Sementara aku ingin sekali memeluk wanitamu, serta menenangkannya,’ rutuk Daniello. Ia berjalan mendekati Helena disodorkannya sapu tangan bersih kepada wanita itu. “Hapuslah air matamu! Aku tau kau merasa sedih dan marah, tetapi jangan biarkan mereka membuatmu terpukul.” Helena menerima sapu tangan tersebut. Dengan suara lemah ia berkata, “Terima kasih!” “Tidak perlu terima kasih, aku hanya merasa kasihan kepadamu. Harus masuk ke dalam pernikahan bersama dengan pria yang tidak mencintaimu. Namun, kau tidak perlu bersedih aku akan berada di sampingmu untuk melalui semua itu. Aku akan menjadi pengawal, sekaligus sahabat bagimu.” Daniello memberikan senyum hangat kepada Helena. Helena mengusap air matanya menggunakan sapu tangan Daniello. Dengan suara bergetar ia mengatakan, “Aku tidak memerlukan belas kasihan darimu. Mungkin kau bisa melindungi fisikku, tetapi kau tidak dapat melindungi hatiku.” Daniello menarik nafas dalam-dalam, ia berada dalam dilema mematuhi perintah Matteo atau melanggarnya. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Helena. Diraihnya Helena kepelukannya yang hangat. Satu tangan Daniello mengusap lembut punggung wanita itu. Sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menggengam erat jemari Helena. ‘Maafkan aku, Capo. Kau yang membuatku harus menyentuh istrimu,’ batin Daniello. “Ayo, kita makan. Bukankah kau tadi mengatakan lapar.” Daniello membimbing Helena menuju ruang makan. “Aku sudah tidak berselera untuk makan. Rasa laparku sudah hilang aku hanya ingin beristirahat saja.” Helena melepaskan pegangan tangan Daniello. “Kau harus makan, walau hanya sedikit. Jangan biarkan dirimu menjadi sakit dan membuat Susan tersenyum senang,” tegas Daniello. Helena mengangguk lemah. Ia mengikuti Daniello dengan fikiran yang berada jauh. Ia membayangkan dirinya bisa keluar dari mansion ini. Kembali ke asrama dan mengajar murid-muridnya. Di mana dunianya terlihat sederhana, serta tenang. Dengan menjentikkan jarinya Daniello memanggil pelayan untuk membawakan makan malam bagi mereka berdua. Keduanya duduk berseberangan dengan saling bertatapan. Helena menundukkan kepala, ia merasa harga dirinya begitu rendah. Dirinya lemah dan tak berdaya karena ulah Matteo dan kekasihnya. “Hei! Angkat kepalamu jangan biarkan kau merasa rendah diri. Ingat kau adalah istri sah Matteo, sementara Susan hanyalah kekasihnya saja. Kau jauh lebih berkuasa dibandingkan wanita itu. Aku akan selalu mendukungmu tidak akan kubiarkan ia membuatmu terluka!” tegas Daniello. Helena mengangkat kepala, ia memberikan senyuman tipis kepada Daniello. “Mengapa harus kau yang peduli dan perhatian kepadaku? Sementara suamiku sendiri hanya menganggap diriku ini bagai barang.” “Tersenyumlah! Jangan perlihatkan wajah sedih. Selesai makan malam aku akan mengajakmu pergi jalan-jalan. Jadi tidak ada alasan bagimu untuk murung.” Daniello mengambil gelas anggurnya mengajak Helena bersulang, Dalam hatinya Helena membatin, ‘Kenapa harus kau yang peduli akan perasaanku dan mengajakku untuk pergi? Sementara suamiku pergi bersenang-senang bersama dengan kekasihnya.’ “Aku tidak mau membuatmu berada dalam masalah. Apakah Matteo mengijinkanmu untuk membawaku keluar dari mansion ini?” tanya Helena dengan suara yang terdengar ragu. “Kau bukanlah seorang tawanan. Kau bebas pergi kemanapun juga selama bersama denganku. Akan tetapi, kau tidak boleh memperkenalkan dirimu sebagai istri Matteo,” sahut Daniello. Mata Helena yang tadinya redup karena rasa sedih menjadi bercahaya. Wajahnya terlihat berseri. Rasa bahagia tidak dapat disembunyikan wanita itu. Membuat wajahnya menjadi semakin cantik. “Aku tau kita akan pergi kemana. Kita juga akan datang ke pesta amal, seperti Matteo dan Susan. Kau akan menjadi pasanganku dan kita akan membiarkan orang-orang mengira kau adalah kekasihku. Kita lihat bagaimana reaksi dari suamimu itu.” Senyum menghiasi bibir Daniello. Ia akan memancing reaksi marah dari sepupunya. Dan ia tahu hal itu pasti akan terjadi. Hanya saja ia akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Matteo saat melihat ia dan Helena berada di tempat yang sama dengannya. Selesai menikmati makan malam. Daniello menunggu di ruang tengah Helena yang sedang berganti pakaian. Dinyalakannya cerutu selagi menunggu Helena. Mendengar suara langkah kaki Daniello mendongak. Tatapan kagum bermain di mata Daniello. Ia bersiul memuji penampilan, serta kecantikan Helena. “Wow! Kau sangat mengagumkan. Mari kita guncang dunia suami dinginmu itu. Kita lihat apakah ia dapat mengalihkan pandangan darimu!” seru Daniello. Helena tersenyum kecut. Ia merasa untuk apa mendapatkan pujian dari pria lain. Sementara suaminya justru memuji wanita lain. Bagaimana mengagumkan penampilannya ia tetaplah tidak akan mendapatkan perhatian dari suaminya. Daniello mengangkat dagu Helena. “Aku berani bertaruh denganmu. Suamimu pasti akan marah besar karena rasa cemburu kepadaku. Akan tetapi, kau tidak perlu khawatir Matteo tidak akan menyakitiku. Ia tahu diriku hanya akan menjadi temanmu saja, meski aku berharap di antara kita terjalin hubungan lebih dari sekedar teman.” Dengan jemarinya berada digenggaman Daniello. Mereka berjalan keluar mansion menuju mobil mewah milik pria itu. Seorang pria dengan seragam sigap membukakan pintu penumpang untuk keduanya. Dalam hatinya Helena merasa heran, karena ada mobil lain yang mengikuti di belakang mobil mereka. Daniello yang mengetahui rasa penasarannya. Mengatakan, kalau pria-pria yang berada dalam mobil itu adalah pengawal Helena. Sama seperti dirinya mereka bertugas untuk menjaga keselamatan Helena. ‘Mengapa Matteo peduli akan keselamatanku? Bukankah, kalau aku celaka atau meninggal ia akan terbebas dari pernikahan paksaan ini? Akh! Aku melupakan satu hal, tentu saja ia menjaga keselamatanku demi calon pewaris yang harus kulahirkan,’ batin Helena. Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gedung yang terlihat mewah. Tangan Helena berkeringat dengan jantung yang berdebar kencang. Ia merasa takut bertemu dengan Matteo dan Susan. Dirinya takut, akan direndahkan dihadapan orang banyak. “Tenanglah, Helena! Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu di tempat ini. Aku tidak akan melepaskanmu dari genggamanku.” Janji Daniello. Hati Helena terasa hangat mengetahui sikap Daniello yang begitu protektif kepadanya. Seandainya saja ia menikah dengan Daniello tentulah ia akan merasa bahagia dan dicintai. Setelah memperlihatkan kartu undangannya. Daniello dan Helena dipersilakan memasuki gedung tempat diselenggarakannya pesta amal. Helena mempererat genggaman jemarinya dengan Daniello. Dirinya dilanda rasa takut dan tidak percaya diri berada di tengah-tengah orang kaya yang asing baginya. *** Matteo yang sedang duduk berdampingan dengan Susan melayangkan tatapan ke arah pintu. Saat didengarnya orang-orang yang berdiri didekatnya memuji dan merasa kagum kepada wanita yang datang bersama dengan Daniello. Mata Matteo menyorot dingin, tangannya mengepal di samping badan. Rahangnya mengetat dengan ekspresi wajah yang seakan hendak menelan Helena, saat tatapan keduanya bertemu. “Daniello, aku takut! Matteo terlihat marah sekali. Ia akan menghukumku dan mengurungku di penjara bawah tanahnya,” ucap Helena dengan suara gugup. “Percayalah kepadaku! Ia tidak akan menghukummu. Ia cemburu kepadaku, karena tidak bisa menggenggam jemarimu dan mengenalkanmu sebagai istrinya,” sahut Daniello. Bangkit dari duduknya Matteo berjalan dengan langkah pasti ke arah di mana Helena berada. Ia berdiri tepat di samping Helena. “Kau terlihat mengagumkan istriku! Apakah kau sedang berusaha memikat hati pria lain? Apa kau fikir dengan berpakaian menggoda seperti ini akan ada lelaki yang jatuh hati kepadamu?” bisik Matteo dengan suara tertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN