Tubuh Helena membeku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa goyah mendengar nada suara Matteo yang penuh ancaman. Tiba-tiba saja ia teringat dengan ruang gelap yang tanpa sengaja ia masuki, karena ia merasakan Matteo, seperti pria itu.
Susan yang juga melihat kehadiran Helena dan Daniello langsung menjadi geram. Dengan langkah bergegas ia menyusul Matteo. Berada dekat kekasihnya itu Susan merangkul mesra lengan Matteo.
“Halo, Daniel! Kau datang membawa teman kencan. Apakah kau tidak mau memperkenalkan kepada kami siapa kekasihmu ini?” tanya Susan dengan lirikan mata mengejek kepada Helena.
Daniello meraih jemari Helena mencium ke bibirnya dengan tatapan tertuju lekat kepada Helena. Punggungnya bagai terkena laser karena tatapan tajam Matteo. Ia tahu nanti dirinya pasti akan mendapatkan hukuman dari Caponya itu.
“Maafkan aku yang sudah tidak sopan. Dengan tidak memperkenalkan teman kencanku yang cantik ini. Namanya Helena dan ia wanita spesial bagiku. Aku memiliki tugas untuk menjaganya dari pria yang tidak bisa melakukannya sendiri,” sarkas Daniello.
Matteo menggertakkan giginya. Ia meraih kerah kemeja Daniello sampai saudara sepupunya itu terasa tercekik. “Kau bermain-main denganku, Daniello! Apakah kau lupa siapa aku? Aku bisa saja membunuhmu di sini sekarang juga.”
Wajah Helena menjadi pucat mendengar ancaman Matteo kepada Daniello. Dengan tangan yang bergetar, walau sadar dirinya tidak memiliki kuasa atau pengaruh yang dapat mencegah Matteo menyakiti Daniello.
“Matteo, tolong jangan berkelahi karena diriku. Kalau kau tidak suka melihatku berada di sini aku akan pulang.” Helena membalikkan badan berjalan menuju pintu keluar.
Di saat yang bersamaan Daniello dan Matteo meraih lengan Helena mencegahnya pergi. Langkah Helena terhenti ia memunggungi keduanya dengan rasa takut.
“Kami tidak akan berkelahi, benarkan Capo? Kau dan aku tetap berada di pesta ini. Kau adalah pasanganku.” Tegas Daniello.
Matteo menatap tajam Daniello, melalui tatapannya itu ia memberikan peringatan kepada Daniello untuk tidak bermain-main dengan istrinya.
“Matteo Sayang! Kenapa kita tidak berdansa saja? Kau sudah membuat tamu-tamu menjadi tegang. Mereka mengira kau dan Daniello akan berkelahi demi seorang wanita rendahan itu,” sindir Susan.
Tatapan datar Matteo berikan kepada Susan. Ia menggenggam erat jemari wanita itu mengajaknya menuju lantai dansa. Tanpa sedikitpun menolehkan kepala untuk melihat ke arah Helena.
Dalam hatinya Helena mengutuk dirinya yang sempat berfikir, kalau Matteo memiliki sedikit kepedulian kepadanya. Pria itu tentu saja lebih mementingkan kekasihnya. Bahkan tidak sepatahkata pun terucap dari bibir Matteo atas penghinaan yang dilontarkan Susan kepada dirinya.
Daniello melirik Helena yang tidak dapat menyembunyikan raut wajah sedih. Ia merasa kasian kepada Helena yang begitu lugu. Tidak pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Ia bagaikan buku yang terbuka dan itu jelas merupakan kelemahannya bagi musuh-musuhnya.
“Ayo, kita juga berdansa! Malam ini aku akan membuatmu tersenyum bahagia dan melupakan semua kekacauan yang ditimbulkan kekasih Matteo.” Daniello membimbing Helena menuju lantai dansa.
Irama musik yang diputar bernada lambat. Dan itu membuat Daniello memeluk erat pinggang Helena dalam dansa mereka.
Tatapan mata Helena bertemu dengan dengan Matteo. Semua yang ada di ruangan tersebut seakan hilang. Hanya ada dirinya dan Matteo saja. Ia bahkan kehilangan konsenterasi, hingga kakinya tanpa sengaja menginjak kaki Daniello.
Suara pura-pura kesakitan Daniellolah yang membuat Helena menjadi tersadar. Rasa panik melanda Helena, karena merasa sudah membuat Daniello menjadi sakit terinjak heels yang ia pakai.
“Maaf, aku tidak sengaja. Apakah sebaiknya kita berhenti saja berdansa? Aku tidak mau menginjak kakimu lagi.” Helena mendongak melihat Daniello.
Daniello tersenyum lebar. “Aku hanya becanda saja. Kau sama sekali tidak menginjak kakiku. Aku merasa cemburu, kau berdansa denganku dan berada dalam pelukanku, tetapi matamu menatap dengan penuh kerinduan kepada sepupuku.”
Wajah Helena menjadi merah, ia merasa malu. “Apakah sejelas itu? Aku tidak mau ada yang salah paham. Terutama kekasih Matteo, aku tidak mau membuatnya marah.”
Tangan Daniello mengangkat dagu Helena yang tertunduk lesu. “Jangan tundukkan kepalamu. Kau sekarang seorang Salvatore. Sekalipun keberadaanmu sebagai istri dari Capoku tidak diketahui orang lain. Akan tetapi, bagiku kau tetaplah istri Capoku. Aku akan mengajarimu cara menyembunyikan perasaanmu. Agar tidak ada yang dapat mempermainkanmu.”
Wajah Helena yang tadinya sedih berubah menjadi cerah. Ia merasa senang dan berterima kasih, kepada Daniello yang sudah begitu baik kepadanya.
Musik berhenti bermain keduanya pun kembali ke pinggir lantai dansa. Helena berpamitan kepada Daniello dirinya akan pergi ke toilet untuk memperbaiki riasannya.
Memasuki toilet yang bersih dan harum pewangi ruangan. Helena berdiri di depan cermin besar. Dibasuhnya wajah dengan air untuk mengusir bayangan wajah Matteo.
‘Kenapa aku terus terbayang wajah Matteo yang terlihat kecewa? Kenapa ia kecewa kepadaku? Apa yang salah dengan pria itu mengapa ia membuatku menjadi bingung? Apakah ia sebenarnya pria misterius itu?’ batin Helena.
Dipejamkannya mata, sambil mengingat bayangan sentuhan pria misterius dan Matteo. Begitu terhanyutnya Helena dalam lamunannya ia tidak mendengar suara pintu toilet yang di buka, kemudian di tutup.
Hembusan nafas hangat di lehernya membuat Helena tersadar dari lamunannya. Di bukannya mata, tetapi ia baru menyadari matanya telah di tutup dengan kain berwarna hitam.
Tak ada suara hanya sentuhan dari pria itu saja yang menyadarkan Helena. Kalau dirinya tidaklah sendiri. Itu membuat Helena merasa senang, sekaligus takut. Karena tubuhnya menyukai sentuhan dari pria asing itu.
“A-apakah kau mengikutiku? To-tolong jangan ganggu aku lagi. Aku sudah menikah dan aku tidak mau mengkhianati suamiku. Ia tidak akan pernah memaafkanku, seandainya ia mengetahui diriku sudah berselingkuh darinya. Dan ia juga akan mengejarmu untuk menuntut balas,” ucap Helena dengan suara serak.
Pria itu tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya bibir dan lidahnya saja yang bermain di leher Helena. Sebelum akhirnya mencumbu bibir Helena dengan mahirnya.
“Ah!” Suara lenguhan lolos dari bibir Helena.
Kakinya terasa lemas, seolah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dan pria misterius itu pun, sepertinya menyadari hal tersebut
Diangkatnya tubuh Helena, lalu ia dudukkan di pinggir wastafel. Dalam posisi berhadapan, seperti itu pria misterius tersebut menjadi semakin mudah dan liar mencumbu Helena.
Tangan pria itu dengan mahirnya membuka tali gaun Helena, hingga jatuh di pinggangnya. Secara otomtis kedua tangan Helena mencoba menutupi bagian dadanya yang terbuka, tetapi pria itu meletakan tangan Helena ke dadanya.
Helena menjadi terkejut, karena pria itu bertelanjang d**a. Dan tangannya dapat menelusuri d**a berotot yang ditumbuhi rambut.
“Matteo! A-apakah ini kau?” lirih Helena dengan suara sarat gairah.
Gerakan tangan pria itu yang sedang mengelus kaki Helena menjadi terhenti. Akan tetapi, hanya sejenak saja. Ia kembali melanjutkan gerakannya.
“To-tolong, berhenti! Aku tidak mau kembali mengkhianati suamiku, karenamu!” desis Helena dengan mulut tertutup untuk mencegah dirinya menjerit nikmat.
Walaupun matanya tertutup Helena dapat merasakan pria misterius itu tersenyum senang. Ia tidak mengetahui, apa sebabnya.
“Ah! To-tolong jangan berhenti!” jerit tertahan Helena.
Ia menyerah menolak. Tubuhnya terlalu menyukai dengan apa yang dilakukan pria itu. Kedua tangannya mengacak rambut pria itu. Kuku-kuku jarinya menancap di punggung pria itu saat puncak gairah menguasainya.
“Matteo!” jerit Helena.
Alam bawah sadarnya mengatakan, kalau pria yang tengah bercinta dengannya saat ini adalah suaminya. Ia mencoba membuka penutup matanya, tetapi kembali ia kalah cepat dengan pria itu.
Didengarnya suara gemerisik kain. Dan ia juga menyadari, jika gaunnya kembali dipasangkan pria itu. Dirasakannya keningnya dicium lama oleh pria itu, sebelum ia mendengar suara langkah kakinya berjalan menuju pintu toilet.
Tangan Helena terulur untuk membuka kain penutup matanya. “Mengapa aku merasa pria itu adalah Matteo? Akan tetapi, kenapa ia tidak mau aku melihat wajahnya?’
Dilihatnya pantulan wajah di cermin wastafel, bagaimana matanya terlihat berseri dengan wajah bersemu merah.
‘Ya, Tuhan! Aku sangat menyukai sentuhan pria itu. Aku sudah berdosa berselingkuh dari suamiku. Bagaimana caranya agar pria itu tidak menyentuhku lagi? Aku tidak mau jatuh cinta kepadanya. Cinta dan tubuhku seharusnya hanyalah menjadi milik suamiku seorang.” Helena menggosok wajahnya dengan kasar.
Tiba-tiba saja pintu kamar toilet kembali di buka, tetapi kali ini dengan kasar. Melalui cermin wastafel Helena dapat melihat Susanlah orangnya yang berjalan mendekat ke arahnya. Dengan wajah menyala penuh amarah, serta sikap yang seakan hendak mengajaknya berkelahi.
Plak! Suara tamparan di pipi Helena terdengar nyaring.
Helena yang tidak menduga akan mendapatkan tamparan. Hanya bisa mengusap pipinya yang berdenyut nyeri dan wajah bingung mengapa wanita itu begitu marah kepadanya.
“Aku tidak mengerti mengapa kau menamparku. Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan,” seru Helena balas menatap tajam Susan.
Apa yang dikatakan Helena ternyata justru menambah amarah wanita itu saja. Ia merasakan tubuhnya diguncang dengan kasar. Dan ia ikatan rambut yang ia pakai dilepas, lalu dibuang begitu saja. Hingga penampilan Helena menjadi berantakan dengan rambut acak-acakan.
“Aku peringatkan kepadamu untuk tidak menggoda Matteo! Kalau tidak aku melenyapkanmu. Sepertinya aku harus memberitahu kepadamu, bahwa diriku ini putri dari seorang mafa yang ditakuti. Jadi berhentilah menggoda Matteo, atau aku akan membuat wajah cantikmu tidak dikenali!” ancam Susan.