Rayuan Susan

1427 Kata
Helena terduduk di lantai yang dingin. Ia tidak mungkin keluar dari toilet tersebut dengan gaun yang robek dan memperlihatkan hampir seluruh bagian tubuhnya. Ditekuknya lutut ia tumpukan kepala di sana. Air mata mulai jatuh membasahi wajahnya, Ia sudah mulai merasakan kedinginan, tetapi tidak ada hal yang dapat dilakukannya untuk mencegah hal itu. Diayun-ayunkannya badan, sambil memeluk perutnya. Ia merasa lemah, serta kesepian. Sementara itu di tempatnya berdiri Daniello merasa tidak tenang. Ia tadi diajak salah seorang temannya untuk keluar sebentar, hingga tidak dapat mengawasii koridor menuju toilet. ‘Sial! Kenapa Helena lama sekali belum keluar juga dari toilet itu!” umpat Daniello. Dilihatnya jam tangan mahal yang melingkar di lengannya. Rasa khwatir Daniello semakin menjadi. “Sial … Sial! Sudah satu jam Helena berada di toilet itu dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Ia tidak hanya memikirkan keselamatan Helena, tetapi juga Caponya. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk ia akan merasa bersalah kepada Matteo, karena sudah gagal menjalankan tugasnya untuk melindungi Helena. Dengan langkah tergesa ia berjalan, melalui koridor yang sepi dan remang-remang menuju toilet. Di mana ia duga Helena masih berada. “Helena! Apakah kau baik-baik saja? Bolehkah aku masuk untuk melihat keadaanmu?” seru Daniello dari balik pintu toilet yang tertutup rapat. Dari dalam toilet Helena langsung menegakkan tubuhnya. Ia merasa senang bercampur lega mengetahui Daniello datang mencarinya. Akan tetapi, terselip rasa kecewa. Karena bukan Matteo yang datang. Dan hatinya begitu bodoh menginginkan suaminya itu yang datang. “Da-daniello! Tolong aku,” lirih Helena. “Aku akan segera masuk dan membawamu keluar dari sana, oke!” Daniello memutar kenop pintu, tetapi tidak bisa. “b******k! Ada yang mengunci pintu toilet ini,” umpat Daniello. Matteo yang berdiri tidak jauh dari Daniello mengawasi apa yang dilakukan oleh sepupunya itu. Ia merasa ada sesuatu yang salah dan itu berhubungan dengan istrinya. Diletakannya gelas anggur yang ada di tangannya ke atas buffet. Ia berjalan menuju koridor yang tadi dilalui Daniello. Namun, baru beberapa langkah suara Susan yang bernada peringatan menghentikan langkahnya. “Matteo, mau kemana kau? Apakah kau akan pergi mencari wanita rendahan dan lemah itu? Kau tidak mau melihat ayahku menjadi marah, bukan? Kau tidak tau apa yang akan sanggup dilakukannya kepada wanita itu! Wanita itu hanya masalah yang bisa memicu perang antara keluarga mafia terbesar di kota ini!”desis Susan. Matteo mengepalkan kedua tangannya. Ia menahan umpatan kasar yang hendak terlontar dari bibirnya. Ia bisa saja menghancurkan keluarga Susan. Namun, tidak sekarang dan saat ini. Sebelum ia memiliki bukti pengkhianatan yang dilakukan anggota keluarganya dengan keluarga Susan. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan kasar. “Kau benar sekali! Tentu saja kita tidak boleh membuat ayahmu menjadi marah.” Digandengnya lengan Susan mesra kembali ke tempat di mana tamu undangan berada. Akan tetapi, melalui tatapan matanya ia memberikan kode kepada beberapa pengawalnya untuk mencari tahu apa yang terjadi antara istrinya dan Daniello. *** Daniello terpaksa mendobrak paksa pintu toilet tersebut. Begitu pintu itu terbuka bersamaan dengan anak buah Matteo yang juga telah berada di sana. “Kalian awasi di sini! Dan amankan jalan kita akan keluar, melaluii jalan samping!” perintah Daniello kepada pengawal Matteo. Masuk ke dalam toilet tersebut Daniello dapat melihat Helena yang terduduk di lantai dengan wajah sembab. Dan ada memar di bibir, serta pipinya bekas tamparan. Dilepasnya jas yang ia pakai untuk di tutupkannya ke badan Helena. “Katakan kepada Capo aku membawa istrinya pulang,” perintah Daniello kepada pengawal Matteo. “Daniello, aku bisa berjalan sendiri. Kau tidak perlu menggendongku. Aku tidak mau kau berada dalam masalah hanya karena menolongku.” Helena mengguncang pelan lengan Daniello. Danielllo bergeming ia tetap membopong Helena. Keluar dari gedung tersebut melalui pintu samping. Karena dirinya tidak mau Helena kesakitan. Begitu berada di luar mereka disambut udara dingin, tetapi terasa menyejukkan, Barulah Daniello menurunkan Helena dan menggandeng tangannya menuju mobilnya yang telah siap dengan pintu terbuka. Duduk di dalam mobil itu Helena menyenderkan punggung pada sandaran jok mobil, sambil memejamkan kedua matanya. “Mengapa kekasih Matteo sangat membenciku? Mengapa diriku dipandang rendah dan hina oleh Matteo, hingga ia tidak sudi mengakuiku sebagai istrinya di depan umum?” Daniello mengeluarkan rokok dari saku kemejanya. Kemudian ia teringat untuk meminta ijin kepada Helena, Begitu dilihatnya wanita itu mengangguk menyatakan persetujuan barulah ia menyalakan rokok tersebut. “Kurasa sebaiknya kau tidak mengetahui lebih banyak dari apa yang kau tahu saat ini. Aku bisa mengatakan Matteo peduli dengan keselamatanmu. Ia tidak akan membiarkan dirimu celaka. Matteo mempedulikanmu ia hanya tidak dapat memperlihatkannya secara langsung kepadamu. Aku janji kepadamu akan menjaga, agar Susan tidak mendekatimu lagi.” Daniello meraih jemari Helena. Helena melirik Daniello. Ia merasa lelah secara fisik dan mentalnya. Ia tidak mendapatkan bayangan siapa sebenarnya Matteo. Dan apa alasan Matteo merahasiakan pernikahan mereka. Mobil berhenti di depan pintu mansion Matteo. Daniello melirik Helena yang terlelap. Dipandanginya wajah cantik yang terlihat pucat. ‘Jiwamu dan hatimu terlalu baik dan suci untuk seorang Matteo. Kuharap kau mampu bertahan di sampingnya. Meskipun, kau harus menghadapi banyak ujian dengan menjadi istri Matteo,’ batin Daniello. Pintu mobil dbukakan oleh sopir, hingga Daniello dapat keluar, sambil membopong tubuh Helena memasuki kamarnya. Dibaringkannya tubuh Helena perlahan, kemudian ia keluar dari kamar tersebut. Ia tidak mau berlama-lama di sana. Karena tidak ingin membuat Caponya menjadi salah paham. “Jaga pintu ini! Jangan biarkan Susan atau pelayan masuk tanpa seijin dari Capo atau dariku!” Perintah Daniello kepada pengawal yang ia tugaskan. *** Matteo terlihat dingin selama sisa acara amal tersebut. Ia harus berpura-pura menjadi peneman yang baik dan menyenangkan bagi Susan. Padahal dirinya ingin pulang melihat keadaan Helena. Pengawalnya sudah mengirimkan video bagaimana kondisi istrinya itu. Susan terlihat gusar, ia menyadari Matteo terlihat seakan tidak ingin berada di tempat yang sama dengannya. “Sebaiknya kita pulang saja! Kau terlihat tidak nyaman berada di sini. Dan itu karena kau mengkhawatirkan wanita itu, bukan?” gusar Susan. Matteo melirik tajam Susan. Dengan suara mendesis ia berkata, “Kenapa aku mempedulikan wanita yang bahkan, kehadirannya kurahasiakan? Apakah kau melihat aku membela dirinya? Jangan bertingkah keterlaluan, Susan! Aku sudah menuruti semua yang kau katakan jangan buat kesabaranku habis.” Selama sesaat yang singkat Susan terdiam. Tentu saja ia tidak mau membuat Matteo marah. Ia akan bermain cantik untuk menyingkirkan Helena. “Maafkan, aku Sayang! Tentu saja aku tidak mau membuatmu menjadi marah. Maukah kau membelikanku kalung berlian biru yang sedang ditawarkan pada lelang amal ini?” bujuk Susan manja. Matteo memberikan senyuman dingin. Ditepuknya lembut tapak tangan Susan. “Tentu saja, kau bebas menginginkan perhiasan mana saja yang kau inginkan.” Susan langsung saja merangkul Matteo karena rasa bahagia. Diciumnya sekilas bibir pria itu. “Terima kasih, Matteo. Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku.” Di sudut ruang pesta tersebut berdiri dua orang pria yang tidak melepaskan pandangan mereka dari mengawasi Matteo. “Kau katakan kepadaku sudah memiliki informasi kelemahan Matteo. Kuharap itu bukanlah omong kosong semata, Kita sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menyingkirkan dirinya. Ia sudah mulai menaruh curiga,” ucap salah seorang pria dengan cerutu di tangannya. Pria yang diajak bicara mendengus kasar, “Kau tidak percaya kepadaku? Sudah kukatakan tidak dapat tergesa-gesa dalam melenyapkan Matteo. Ia memiliki mata-mata yang masih belum dapat kuketahui. Ya, aku sudah mengetahui siapa yang menjadi kelemahan Matteo.” Kedua pria itu bersulang merayakan kerjasama mereka dan keyakinan, kalau dalam waktu dekat Matteo akan dapat mereka lenyapkan. Hingga jalan bisnis mereka dapat berjalan lancar, serta lebih luas lagi. Yang tidak disadari keduanya adalah, kalalu Matteo dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan. Dan itu membuatnya harus semakin waspada. Beberapa jam kemudian, Matteo dan Susan pulang ke mansionnya. Memasuki kamar utama yang seharusnya ia tempati bersama dengan Helena. Matteo mengajak Susan untuk minum terlebih dahulu, sebelum mereka tidur. ‘Aku tidak sabar untuk melihat bagaimana wajah wanita jelek itu. Saat ia mengetahui, kita tidur bersama di kamar ini. Ia pasti akan menangis dan kuharap ia sadar diri, lalu pergi dari sini,’ batin Susan. “Kenapa aku merasa lelah dan mengantuk sekali?” Susan beberapa kali menguap. “Tidurlah! Jangan paksakan dirimu. Aku akan menyusulmu sebentar lagi. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.” Matteo mengecup kening Susan. Ia tetap duduk di kamarnya, sampai dirasanya Susan benar-benar tidur barulah ia keluar kamar. Tanpa keraguan sedikit pun Matteo berjalan menuju kamar Daniello yang terletak di sayap timur. Ditendangnya dengan kasar pintu kamar pria itu sampai terbuka. Daniello yang sedang tidur sontak saja menjadi terkejut. Belum sempat ia bangun dari berbaringnya. Ia merasakan lehernya dicekik. “Kau sudah kelewatan, Daniello! Kau tidak mematuhi perintah Capomu. Aku harus menghukummu, agar kau tidak semakin berani kepadaku. Aku akan memasukanmu ke penjara bawah tanah!” desis Matteo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN