Daniello mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Ayolah, Matteo! Kau tidak mungkin melakukan hal itu. Aku hanya ingin menghibur istrimu yang sedih kau tinggal pergi ke pesta. Aku juga tidak mungkin tidak menyentuhnya. Akan tetapi, aku sama sekali tidak menggodanya untuk hal-hal romantis.”
Matteo menggertakkan gigi, ia menarik turun Daniello dari tempat tidur, hingga jatuh berlutut di lantai. “Seret ia ke penjara bawah tanah! Aku tidak mau ada yang berfikir diriku sudah menjadi lemah dan tidak akan memberikan hukuman kepada yang melanggar perintahku!”
Dua orang pengawal Matteo meyeret paksa Daniello menuju ruang bawah tanah yang lembab dan dingin. Sesampainya di ruang sempit dengan cahaya yang berasal dari lampu pijar yang redup. Daniello didudukkan di sebuah kursi dengan tangan terikat.
“Cambuk ia sampai dirinya menyesal sudah berani membawa istriku ke tempat umum! Dan membuat ia menjadi dipermalukan,” tegas Matteo.
Daniello tertawa mengejek mendengar apa yang dikatakan Matteo. “Kau berkata seperti itu, seakan tidak menyadari. Dirimulah yang sebenarnya mempermalukan Helena. Dengan mengajak secara terang-terangan kekasihmu pergi ke pesta. Tidak cukup hanya di situ kau juga membawa wanita itu tidur di kamarmu di mansion ini!”
Mata Matteo menyorot marah, ia mengepalkan kedua tangan di samping badannya. Ia benci mengakui apa yang dikatakan oleh Daniello memang benar adanya. Akan tetapi, ia memiliki alasannya sendiri.
Matteo melayangkan tangannya menampar pipi Daniello dengan keras. Membuat wajahnya terlempar ke samping. Ia benci melihat tatapan Daniello yang berani melawannya. Juga senyum mengejek di wajah sepupunya itu.
“Kau tahu aku benar, tetapi kau tidak mau mengakuinya. Kau berlebihan dalam memberikan hukuman kepadaku. Seharusnya kau juga menghukum dirimu sendiri karena sudah menyakiti hati sebaik Helena!” tandas Daniello.
“Sepertinya kau sudah terlalu banyak omong, sepupu!” Pengawal tutup mulutnya, biar ia tidak bersuara lagi!” perintah Matteo.
***
“Nyonya! Nyonya! Bangunlah! Tuan Matteo menghukum tuan Daniello. Anda harus menolong tuan Daniello jangan sampai ia terluka.” Seorang pelayan wanita yang masih muda menggoyang-goyang tubuh Helena.
Helena mengucek matanya, sambil menguap. Ia baru saja terlelap dan sekarang dipaksa untuk bangun. “Apa yang kau katakan? Kenapa Matteo menghukum Daniello? Dan apa hubungannya denganku?”
Wajah pelayan itu terlihat gusar, karena Helena terlihat tidak menanggapi apa yang dikatakannya dengan cepat. Suaranya bergetar campuran rasa sedih memohon kepada Helena agar segera menolong Daniello. Ia tidak mau sampai Daniello meninggal di tangan sepupunya sendiri.
Helena memakai jubah tidur yang diberikan pelayan itu. “Tunjukan jalannya kepadaku. Meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya bisa mencegah Matteo menghukum Daniello. Karena diriku bukanlah wanita yang berkuasa.”
Dengan kaki telanjang Helena mengikuti pelayan itu berjalan di sepanjang lorong yang gelap dan dingin. Pada saat keduanya hampir mendekati ruangan yang dimaksud pelayan itu berhenti.
“Nyonya, saya hanya mengantarkan Anda sampai di sini saja. Saya mohon, Anda harus menyelamatkan tuan Daniello. Saya mencintainya,” lirih pelayan itu.
Helena membelalakkan matanya. Ia terkejut mendengar pengakuan pelayan itu. Akan tetapi, hal itu menjelaskan mengapa pelayan itu menjadi begitu panik.
“Aku akan mencobanya.” Helena berjalan menuju pintu yang tertutup rapat.
Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin bercucuran membasahi wajah dan telapak tangannya. Dengan sedikit gemetaran, tangan Helena meraih kenop pintu lalu membukanya.
Helena berseru terkejut baru saja ia membuka pintu. Senjata langsung ditodongkan ke arah kepalanya. Tubuh Helea serasa membeku, lidahnya kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang dilihat oleh matanya membuat ia menjadi terkejut.
Dadanya terasa sakit, selama sesaat yang singkat ia lupa untuk bernafas. Kakinya, hampir tak sanggup menopang tubuhnya lagi. Suaminyalah yang telah menodongkan senjata kepadanya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Helena! Apakah kau datang demi menyelamatkan kekasihmu dari kekejamanku?” ejek Matteo.
Helena menelan ludah dengan sukar. Dipandanginya secara bergantian Matteo dan Daniello. Helena merasa bersalah, karena dirinya menjadi penyebab Daniello dihukum.
Melihat Helena yang hanya diam saja membuat Matteo menjadi marah. Ia tidak tahu mengapa menjadi cemburu. Karena Daniello mendapatkan perhatian dari istrinya. Dalam empat langkah yang panjang ia sudah berada di depan Helena.
“Kenapa hanya diam saja? Apakah kau mengkhawatirkan aku akan membunuh kekasihmu? Tenang saja, ia masih hidup, tetapi akan tetap berada di penjara bawah tanah ini. Apakah kamu mau menemani kekasihmu itu?” Matteo mencekau dagu Helena dengan kasar.
Helena mencoba melepas tangan Matteo, karena merasa sakit. Akan tetapi, tentu saja tenaganya kalah. “Kau salah besar! Daniello bukanlah kekasihku. Ia hanya teman yang baik yang mencoba menghiburku untuk memulihkan rasa harga diriku yang diinjak.”
Helena diam sesaat dengan tatapan lurus menatap Matteo. Kata-kata hinaan dari suaminya itu memberikan kesadaran kepadanya untuk membela dirinya sendiri juga Daniello.
“Aku tidak tau kau mendapatkan bisikan darimana yang mengatakan, kalau Daniello adalah kekasihku. Ya, kau memang benar aku datang ke sini meminta kepadamu untuk tidak menghukum Daniello. Dia tidak bersalah. Dia saudaramu tidak sepantasnya kamu menghukumnya untuk kesalahan yang tidak ia lakukan.” Helena menggunakan kakinya untuk menendang kaki Matteo.
Suara umpatan kasar lolos dari bibir Matteo. Cekauanya terlepas, ia memegangi lututnya yang terasaa sakit. Rasa marah dan cemburu semakin menguasai diri Matteo. Ditariknya Helena kepelukannya yang hangat. Bibir Matteo menyambar bibir Helena dalam ciuman yang kasar, tetapi dalam waktu yang cepat ciuman itu berubah menjadi lembut membuat Helena berhenti melawan.
“Sial!” Matteo mendorong kasar Helena sampai wanita itu jatuh terduduk di lantai.
“b******k, kau Matteo! Kau tidak boleh mengasarinya. Ia istrimu dan ia tidak melakukan kesalahan. Aku dan Helena sama sekali tidak memiliki hubungan. Aku pada awalnya memang jatuh hati kepada Helena, tetapi aku sudah dapat menerima ia istri dari Capoku. Dan aku hanya ingin melindunginya. Wanita yang harus kau hukum itu adalah Susan, kekasihmu! Dialah yang menyakitimu,” geram Daniello.
Matteo menggeram marah, ia mengacungkan kepalan tangannya ke udara. Ia marah kepada dirinya sendiri yang harus membiarkan Helena menderita karena ulah kekasihnya. Ia juga tidak bisa membela Helena secara langsung dan membiarkan wanita yang mulai masuk ke dalam hatinya.
Matteo mengalihkan tatapannya dari Daniello kepada Helena. Dilihatnya istrinya itu balik menatapnya dengan mata yang mengembun. Ia menahan diri untuk meraih tangan Helena membantunya berdiri. Ia harus membiarkan wanita itu mengira ia membencinya.
“Kenapa kau begitu jahat? Apa yang kau inginkan dariku? Apakah kau ingin aku mati?” lirih Helena.
Matteo berjalan mendekati Helena, lalu berjongkok di depan istrinya itu. “Aku ingin kau segera mengandung anakku! Dan aku juga memerintahkan kepadamu untuk tidak mengganggu atau menyakiti kekasihku! Aku akan mengurungmu di sini, kalau kau sampai berani menyakitinya.”
Nadi di leher Helena berdetak cepat. Rasa sakit itu begitu menusuk di hatinya. “Aku berjanji tidak akan menyentuh kekasihmu. Namun, kau juga harus memperingatkan kepadanya untuk tidak menggangguku. Aku hanya membalas saja, karena aku tidak akan hanya diam, jika disakiti.”
Tangan Matteo terulur mengusap lembut pipi Helena yang halus. Dan berlanjut ke bibirnya yang berwarna merah alami. “Beraninya kau memperingatkanku! Kau pikir dirimu siapa, hah? Dan ini membuatku menyadari, kalau kau tidaklah perawan pada saat kita tidur bersama.”
Mata Helena terbelalak, tubuhnya lidahnya terasa kelu. Ia tadinya merasa lega mengira Matteo tidak menyadari dirinya tidak suci lagi pada saar mereka pertama kali bercinta.
“Ke-kenapa kau berkata seperti itu? Aku tau kau sudah menyelidiki kehidupanku. Selama berada di asrama aku tidak pernah bertemu, ataupun bersentuhan dengan lelaki. Kaulah pria pertama yang menciumku.” Helena menundukkan kepala tidak berani menatap mata Matteo.
Matteo merendahkan kepalanya, hingga bibirnya menyentuh telinga Helena. Membuat istrinya itu merinding. Dan ia tidak peduli.
“Mungkin aku memang yang pertama menciummu. Akan tetapi, bukan aku orang pertama yang tidur denganmu! Katakan kepadaku, siapa orang yang sudah menyentuhmu untuk pertama kali? Aku akan membunuh orang itu dengan tanganku sendiri,” desis Matteo dengan gigi digemeretakkan.
Helena meremas jemarinya, ia menggeser badannya mundur, tetapi Matteo menahan pundaknya dengan keras, hingga ia tidak dapat bergerak.
“Ba-bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Aku tidak mengerti sama sekali. Kau hanya mencoba untuk menyalahkan dan merendahkan diriku saja. Itulah sebabnya kau menuduhku dan Daniello berselingkuh, bukan? Karena di sini yang berselingkuh itu adalah dirimu?” Mata Helena menyala marah.
Dalam hatinya Helena merasa ketakutan, karena ia sudah berani melawan Matteo. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Kalaupun dirinya harus mendapatkan hukuman dari Matteo, ia tidak bisa. Dirinya lemah, tetapi setidaknya ia sudah berani melawan, daripada hanya diam saja.
“Kau menyalahkanku untuk hal yang kau lakukan secara terang-terangan, Kau menyembunyikanku dari dunia, karena kau anggap diriku memalukan. Hanya kekasihmu sajalah yang kau anggap berharga. Kau sudah meruntuhkan harga diriku sebagia seorang wanita juga istri, Matteo!” seru Helena dengan suara serak.