Hukuman

1397 Kata
PLak! Sebuah tamparan yang keras Matteo layangkan ke pipi Helena. Matteo memandangi wajah Helena yang terlihat terkejut dan air mata menetes dengan derasnya. “Aku tidak akan meminta maaf, untuk apa yang sudah kulakukan. Kau berhak mendapatkannya. Karena sudah berani menentangku.” Di tempatnya duduk Daniello berteriak emosi, “Kenapa kamu melakukan hal itu? Kalau kau ingin menampar, tampar saja aku!” Matteo mengalihkan perhatiannya kepada Daniello. Dengan langkah pelan dan pasti ia berjalan mendekati pria itu. Seakan bersiap untuk mengeksekusi mangsanya. “Jadi kau tidak terima aku memukul Helena? Kau mau melawanku demi dirinya?” tanya Matteo dengan nada suara dingin dan tajam, Helena menyentuh pipinya yang terasa sakit. Begitu pula dengan bibirnya yang terasa perih dan berdarah. Ia baru sekali ini merasakan tampara, Sekarang tidak hanya batinnya saja yang terluka, tetapi fisiknya juga, “Akulah yang bersalah! Kau ingin menghukumku Matteo, lakukan saja. Bebaskan Daniello.” Helena bangkit dari duduknya berjalan ke arah Matteo. “Mengapa tidak kau bunuh aku saja, Matteo? Kau tidak menginginkan diriku sebagai istrimu, bukan?” Secara mendadak Helena mengambil pistol Matteo yang terselip di pinggangnya. Ditodongkannya pistol iu ke kepalanya sendiri, sambil menatap lekat Matteo dengan mata tak berkedip. Ia tahu tangannya bergetar dan kakinya goyah. Ia hanya tidak ingin seseorang terluka karena dirinya. Matteo terkejut, ia sama sekali tidak mengira Helena akan bertindak nekat. “Turunkan senjata itu! Aku tidak akan melanjutkan hukuman untukmu dan Daniello. Ini hanya peringatan untuk kalian berdua.” Suara Helena bergetar dan terbata, “Aku tidak percaya kepadamu! Sedari awal kau memang tidak menginginkanku dan aku juga tidak! Mari kita akhiri saja pernikahan ini atau biarkan aku mengakhirinya sekarang dan untuk selamanya!” Entah mengapa Matteo merasakan sakit mendengar Helena tidak menginginkan dirinya. Belum pernah dirinya merasakan kepedulian kepada seseorang, kecuali ibunya yang telah lama meninggal dunia. “Helena, tolong turunkan senjata itu. Nyawamu begitu berharga tidak seharusnya kau mengakhiri hidup secara sia-sia!” peringat Daniello dengan nada suara tegas. Helena melirik Daniello dan hal itu membuat ia kehilangan kewaspadaannya terhadap Matteo. Yang langsung saja dimanfaatkan oleh pria itu. Dalam satu gerakan mendadak yang cepat Matteo berhasil merebut pistol dari tangan Helena, kemudian ia kembali menyimpan pistolnya di balik jas yang ia pakai. Dibopongnya Helena keluar dari ruang penjara bawah tanah tersebut. “Apa yang kau pikir kau lakukan? Turunkan aku sekarang juga!” tandas Helena. Matteo bergeming, ia terus saja berjalan menaiki tangga menuju kamar Helena. Namun, sebelum pergi ia memberikan perintah kepada pengawalnya untuk membebaskan Daniello. Sesampai di kamar Helena, Matteo membaringkan istrinya itu diranjang dengan perlahan. Matteo membungkukkan badan, hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Helena. Satu tangannya terulur ke wajah Helena membuat wanita itu berkedip mengira Matteo akan memukulnya kembali. “Jangan pernah bertindak bodoh dan membuatku marah lagi, Helena!” Matteo mengusap lembut pipi dan bibir Helena yang terluka. Helena membuka matanya yang terpejam. Ia tidak peduli Matteo dapat melihat emosinya. Rasa sakit, sedih dan patah. Ya, Matteo sudah berhasil mematahkan hatinya. Tidak ada suara yang keluar dari Helena. Ia terlalu lelah secara fisik dan mental. Matteo mengumpat melihatnya. Ia merasa bersalah, tetapi ia tidak dapat memperlihatkan hal itu kepada Helena. Sebelum semua kekacauan di organisasinya. “berhenti memasang sikap memelas seperti itu. Kau pikir aku akan peduli dengan kesedihanmu? Kau tidak penting bagiku jadi rasa sedihmu sama sekali tidak berpengaruh untukku,” tegas Matteo. Helena menjadi murka dilemparkannya bantal yang ada di dekatnya tepat ke wajah Matteo. Yang dengan mudahnya berhasil ditangkap pria itu. “Keluar dari sini! Aku membencimu dan tidak ingin melihat wajahmu lagi!” Matteo memandangi bantal yang ada di tangannya. Ia lebih suka melihat Helena yang emosi daripada tadi di mana ia melihat keputusasaan di wajahnya. “Kau tidak bisa mengusirku di mansionku sendiri. Namun, karena aku merasa kasian kepada wanita malang sepertimu. Aku akan meninggalkanmu sendiran, agar kau bisa menangis,” ejek Matteo. Helena mengacungkan kepalan tangannya ke arah Matteo. Ia sangat membenci suaminya iitu. Semua rasa suka yang sempat ia kira miliki untuk Matteo kini sudah hilang. Mendengarnya Matteo mengerutkan kening. Ekspresi wajahnya tidak terbaca. Ia menatap dingin Helena, kemudian berlalu pergi dari kamar itu. Helena memandangi pintu kamarnya yang sudah di tutup Matteo dengan kasar. Air matanya yang sudah kering kembali turun dengan derasnya. Ia duduk di atas ranjang dengan kaki ditekuk. Pandagan Helena kosong. Ia merasa sendirian dan kesepian. Ia juga tidak mungkin bertemu dengan Daniello satu-satunya teman yang ia miliki. “Aku tidak mungkin melibatkan Daniello dalam kesedihanku. Aku tidak bisa membiarkannya kembali dihukum Matteo. Kenapa Matteo begitu kejam? Siapa dirinya sebenarnya?” Helena bangkit dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi. Helena berdiri di bawah pancuran dengan air dingin membasahi tubuhnya. Ia berharap air yang dingin itu dapat mendinginkan hati dan fikirannya yang merasa marah kepada Matteo. Seandainya saja ia bisa kabur dari mansion ini. Akan tetapi, sepertinya itu hal yang mustahil. Ia tidak mengetahui mansion milik Matteo ini terletak di daerah mana. Karena selama hidupnya hanya berada di asrama. Dunia luar masih terasa asing baginya. Ia tejebak di tempat ini bersama dengan suami, serta kekasih suaminya yang membenci dirinya. Dimatikannya air pancuran, lalu diambilnya jubah mandi. Helena berjalan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan kaki telanjang. Namun, ia tidak memperdulikan itu semua. Ia terus berjalan, hingga menuju balkon. Diabaikannya udara malam yang dingin, karena hatinya juga serasa sedingin es. Berdiri di depan pagar balkon Helena menghirup udara malam yang terasa segar. Dipejamkannya mata berharap bayangan apa yang dilakukan Matteo kepadanya hilang. ‘Apakah aku sudah jatuh cinta kepada suamiku yang dingin dan jahat itu? Aku tidak boleh memiliki perasaan kepadanya. Pria jahat itu tidak berhak untuk dicintai,’ gumam Helena. Ia meraasa ada seseorang yang mengawasinya. DIedarkannya pandangan sampai matanya bersirobok dengan tatapan Matteo. Selama sekian menit yang singkat dunia serasa berhenti berputar bagi Helena. Tak ada kata yang terucap hanya tatapan mata mereka yang terkunci satu sama lain. Di tempatnya berdiri di balkon kamarnya, Matteo terpukau melihat kecantikan, serta kemurnian Helena. Ia sudah membawa istrinya ke dalam dunianya yang kejam. Diangkatnya gelas anggur yang ada di tangannya ke udara, seraya melayangkan senyum mengejek kepada Helena. Tadinya ia mengira akan mendapatkan balasan emosi amarah dari Helena. Di luar dugaannya Helena justru melenggang masuk ke kamarnya. ‘b******k! Helena berani mengabaikanku. Aku sudah bersikap lemah kepadanya. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mengingatkan kepada Helena bagaimana ia harus bersikap kepadaku,’ umpat Matteo. *** Masuk kamarnya, ia Helena menghempaskan diri di atas ranjang. Tatapannya tertuju ke langit-langit kamar. Ia membalikan badan dan menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Rasa lelah membuat Helena tertidur dengan lelap. Dalam tidurnya ia bisa menemukan kedamaian dengan tidak memimpilkan Matteo. Ia tidak mendengar saat pintu kamarnya di buka secara perlahan. Dan langkah kaki yang terendam karpet tebal di kamarnya. Sebuah tangan melingkar di pinggang Helena. Memeluknya dengan erat, begitupula kaki pria itu membelit kaki Helena membuatnya tidak bisa bergerak bebas dalam tidur. ‘Kau begitu nyenyak tidur, sampai tidak menyadari kehadiranku.’ gumam pria misterius itu. Helena merasa terusik dari tidurnya membuka mata perlahan. Akan tetapi, ia tidak dapat melihat apa-apa karena matanya telah di tutup dengan kain. “To …” teriak Helena. Akan tetapi, suara Helena tidak dapat keluar, karena mulutnya di tutup tangan besar. Rasa panik dan Helena berubah menjadi rasa yang tidak bisa ia gambarkan. Ia tahu pria yang memeluknya dengan erat adalah pria misteriusnya. Begitu merasa Helena sudah tenang dan tidak akan berteriak pria misterius itu melepaskan tangannya dari mulut Helena. Jarinya ia tautkan dengan jemari Helena memberikan kehangatan, serta rasa aman. “Tolong pergilah! Aku tidak mau suamiku melihatku dan kita berdua berada dalam masalah. Ia akan membunuhmu dan diriku, kalau sampai mengetahui ada pria asing di tempat tidurku.” Helena mencoba melepaskann jari mereka yang saling bertautan. Bukannya menuruti permintaan Helena, pria itu justru menurunkan wajahnya. Bibirnya menelusuri leher Helena yang terbuka dan bermain-main di sana. Satu tangannya yang bebas melepaskan ikatan jubah mandi yang dipakai Helena. “Mengapa aroma parfummu sama seperti suamiku? Tolong jawab aku, kalau kau memang Matteo?” seru Helena. Pria itu tidak menjawab pertanyaan Helena. ia membungkam mulut wanita itu dalam ciuman yang lama dan dalam, seakan untuk memberikan isyarat kepada Helena berhenti bicara. Tiba-tiba saja dari luar pintu kamar Helena terdengar suara ketukan di pintunya. Diikuti suara yang membuat tubuh Helena menjadi kaku dan jantungnya seakan berhenti berdetak. “Helena, apakah ada orang di kamarmu? Aku mendengar ada suara-suara?” tanya suara bernada bariton dari balik pintu kamar Helena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN