Badan Helena membeku dipelukan pria asing itu. Lidahnya menjadi kelu, ia terlalu takut untuk mengeluarkan suara. Namun, ia juga takut kalau tidak bersuara seseorang yang berada di luar sana akan masuk.
Pria misterius itu tersenyum di leher Helena. Ia tidak merasa takut sama sekali dengan seseorang yang berada di balik pintu kamar Helena. Dan sayangnya ia tidak dapat mengatakan hal itu kepada Helena, ia tidak mau mengeluarkan suaranya yang dapat membua ia dikenali.
“Helena! Tolong bersuaralah atau aku akan membuka paksa pintu ini!” tegas suara di balik pintu.
“Oh! Maaaf, Daniello aku baru saja terbangun. Terima kasih, atas perhatianmu. A-aku hanya sedang bermimpi buruk itu saja.” Helena menepis tangan pria mistterius yang menyentuhnya dengan lembut dan intim.
“Baiklah, hanya kau boleh berteriak jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu. Aku akan berada di seberang kamarmu.” Daniello berjalan menjauh dari depan pintu kamar Helena.
Helena menggigit tangan pria misterius yang menelusuri bibirnya. Sampai ia mendengar suara pria itu mengumpat dengan kasar.
“Ya, Tuhan! Kamu adalah Matteo, suamiku sendiri. Mengapa kamu melakukan hal ini kepadaku? Kau membuatku berfiikir diriku selingkuh dari suamku,” tuduh Helena dengan suara bergetar karena emosi.
Helena dapat merasakan tubuh pria yang ia duga sebagai suamnya menjadi kaku. Akan tetapi, itu hanya sepersekian detik yang ia singkat. Pria itu kembali terlihat santai.
“Kau hanya berkhayal, kalau mengira aku adalah suaminya. Sekarang berhentilah berbicara waktunya kita bercinta, sebelum suamimu yang b******k itu datang.” Pria itu dengan perlahan naik ke atas tubuh Helena untuk menyatukan tubuh mereka.
Segala pikiran yang bermain di kepala Helena menjadi hilang. Begitu juga dengan penolakannya. Ia terlalu menyukai sentuhan pria misterius itu, serta bagaimana dirinya merasa dimanjakan dan dipuja, melalui sentuhan.
“Ah! Suara lenguhan terlontar dari bibir Helena. Ia menjadi malu, karena tidak dapat menahan dirinya dari rasa puas pada saat mencapai puncak percintaan mereka.
Pria itu megecup kening Helena mendekapnya erat, hingga nafas wanita menjadi teratur dan ia tidur dengan lelap. Barulah pria misterius itu bangkit daari tempat tidur dan kerjalan keluar kamar Helena.
***
Helena menggeliatkan badannya, sambil membuka mata. Badannya serasa sakit, setelah bercinta dengan pria misteriusnya. Tidak seperti percintaan pertama mereka tadi malam, pria itu mengajaknya bercinta dua kali. Dan ia memperlakukannya dengan lembut.
‘Ya, Tuhan! Kenapa aku kembali membiarkan pria itu menyentuhku? Mengapa ia tidak mengaku, jika diriya adalah Matteo? Apakah itu hanya harapanku saja pria itu adalah suamiku? Karena sesungguhnya pria itu memang bukanlah Matteo. Mengapa aku berfikir pria kasar, serta dingin seperti suamiku akan memperlakukanku dengan lembut, seperti pria itu tadi malam?’ batin Helena.
Disibaknya selimut yang menutupi tubuh. Ia membungkukan badan untuk memungut jubah mandinya yang tergeletak di lantai, lalu pakai.
Berdiri di depan cermin wastafel Helena melihat pantulan wajahnya yang terlihat berseri. Diambilnya rambutnya yang panjang tergerai untuk ia gelung. Mata Helena membelalak lebar melihat leharnya.
‘Astaga! Bagaimana caranya aku menutupi tanda merah yang sudah dibuat pria misterius itu? Sudah cukup aku mendapatkan masalah, karena kekasih Matteo dan juga Daniello. Aku tidak mungkin membiarkan Matteo melihat cupang ini,’ gumam Helena.
Ditempelkannya wajah pada cermin wastafel yang dingin, sambil memejamkan mata. Ia tidak mungkin memakai pakaian hangat untuk menutupi lehernya. Pada saat musim panas, seperti sekarang ini. Hal itu hanya akan membuatnya dicurigai saja.
Ditegakkannya badan ia berjalan menuju bathub. Ia masuk ke dalam bathub yang sudah diisinya dengan air hangat dan busa sabun memenuhi bathub tersebut.
‘Aku harus menghilangkan tanda merah ini! Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja,’ tandas Helena.
Diambilnya spon ia gunakan untuk menggosok cupang itu berulangkali. Ia menahan rasa sakit di kulitnya, agar bisa menghilangkan bekas gigitan pria misterius itu di lehernya.
Suara pelayan wanita di dalam kamarnya membuat Helena tersentak kaget. Dengan rasa takut, serta was-was ia melirik pintu kamar mandi yang tertutup.
“Nyonya, Helena! Apakah Anda sedang mandi? Saya meletakan gaun yang harus Anda pakai di atas tempat tidur. Tuan dan Nona Susan menunggu Anda untuk sarapan di dekat kolam renang,” seru pelayan itu.
“Terima kasih! Aku akan segera keluar,” sahut Helena.
Helena menarik nafas dalam-dalam, keinginannya untuk tidak bertemu dengan Matteo, serta kekasihnya pada hari ini sudah gagal. Ia harus bisa menutupi bekas merah itu dari orang lain.
Beberapa menit kemudian, Helena berjalan menuruni tangga menuju tempat di mana Matteo beserta kekasihnya sedang menunggu. Ia membiarkan rambutnya yang panjang tergerai menutupi leher.
“Apakah kau mengira dirimu itu seorang tuan puteri? Kau sudah membuat kami menunggumu untuk sarapan!” tegur Susan emosi.
Helena berhenti melangkah, ia mengerutkan kening melihat Susan dengan rasa heran. “Aku tidak tahu, kalau kalian akan mengajakku sarapan bersama. Tadinya aku mengira hanya akan makan seorang diri saja.”
Susan menatap galak Helena. “Matteo Sayang! Mengapa tidak kau suruh wanita itu sarapan bersama pelayan saja? Ia tidak pantas makan bersama dengan kita.”
Matteo menatap wajah Helena dengan dingin, kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Susan. “Lakukanlah apa yang kamu mau!”
“Kami berubah fikiran mengajakmu sarapan bersama. Pergilah ke dapur sarapan bersama dengan pelayan tempat yang memang pantas untukmu.” Helena melambaikan tangan mengusir Helena.
Helena tersenyum tipis dengan tatapan mata yang terlihat kosong. “Tentu saja, Nona! Karena saya memang tidak pantas makan bersama dengan Anda. Bersama para pelayan bagi saya jauh lebih baik dibandingkan harus bersama dengan wanita simpanan sepertimu.”
Susan membelalakkan mata, ia membuka mulut lalu menutupnya kembali. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya berjalan ke tempat di mana Helena berdiri. Dilayangkannya pukulan dengan keras ke wajah Helena.
Helena mengusap pipinya yang berdenyut sakit. Ini adalah tamparan yang kedua kalinya ia terima di wajah. Ia tidak bisa membiarkan dirinya ditampar lagi untuk yang ketiga kali.
Susan kembali mengangkat tangannya hendak menampar Helena. Namun, kali ini Helena dapat dengan cepat menangkap tangan wanita itu. Mencegahnya menampar wajahnya lagi.
“Aku tidak akan membiarkanmu terus menamparku! Kenapa kau menjadi marah hanya karena aku mengatakan kebenarannya? Kau harus meminta kepada kekasihmu untuk menceraikanku, agar kau tidak menjadi simpananmu!” tandas Helena.
Jantung Helena berdebar kencang. Kakinya terpaku di tempat, walau rasanya ia hendak berlari menghilang dari tempat tersebut.
Matteo bangkit dari duduknya berjalan dengan langkah tegap. Dan tatapan tajamnya yang hanya tertuju kepada Helena. Ia berhenti tepat di depan Helena, dengan wajah mereka begitu dekat sampai-sampai hembusan nafas mereka terasa.
Matteo mengangkat tangannya memegang mulut Helena dengan kasar. Kuku-kuku jarinya menancap di daging kulit Helena membuat istrinya itu meringis kesakitan.
“Kembali kau melupakan peringatanku! Tidak hanya kau menyakiti kekasihku, tetapi kau juga sudah berani mengucapkan kata cerai. Ingat ini! Kita tidak akan pernah bercerai dan kau tidak akan pernah menyakiti kekasihku lagi. Kau miliki sampai kau meninggal!” desis Matteo.
Helena menatap Matteo dengan mata yang berkabut, karena air matanya siap keluar. “Kau begitu melindungi kekasihmu. Dibandingkan diriku yang merupakan istri sahmu. Kau mungkin akan menahanku untuk tetap berada di sini, tetapi aku tidak akan membiarkan diriku terkurung dan meninggal di sini! Dengan banyak cara aku akan pergi darimu!”
Matteo terdiam, ia menatap dingin Helena. Hanya dengan tatapannya saja ia bisa membuat musuhnya menjadi ketakutan. Dan Matteo dapat melihat itu di mata Helena. Akan tetapi, istrinya itu tetap bertahan dengan mata tidak berkedip. Meskipun, ia dapat melihat bulir-bulir air matanya siap tumpah.
“Jadi kau pikir kau bisa kabur dariku? Buang jauh pikiranmu itu. Kau akan dan akan selalu berada di bawah kendali, serta pengawasanku istriku!” bisik Matteo.
Entah mendapatkan kekuatan darimana, Helena mengangkat tangannya ia menampar wajah dingin Matteo dengan keras. Hingga menimbulkan bunyi nyaring. Yang tidak hanya membuat Helena sendiri terkejut atas keberaniannya.
Akan tetapi, juga Matteo sendiri yang tidak mengira Helena berani melayangkan tamparan kepadanya. Ia menyipitkan mata tangannya terangkat menyentuh pipinya. Dalam hatinya ia harus mengakui tamparan Helena sakit juga.
Matteo menegakkan badannya dengan suara dingin ia berkata, “Daniello! Bawa Helena ke penjara bawah tanah. Sepertinya ia menyukai untuk berada di sana. Jangan berikan ia makanan, sebelum mendapat ijin dariku. Ikat kedua tangannya dan pastikan ia menyadari kesalahannya.”