Penjelasan

1455 Kata
Helena langsung saja menjadi diam membeku. Ia tahu dengan pasti apa yang dimaksud oleh Matteo. Dan ia sama sekali tidak mengharapkan hal itu terjadi. “Kau sudah kehilangan fikiranmu, Matteo! Jangan katakan, kalau kau mulai menyukaiku? Itukah alasannya kau bersikap sedikit aneh dengan dalih demi keselamatan nyawaku.” Matteo memeluk erat perut Helena dengan bibirnya bermain-main di leher Helena. Dinaikkannya kaca pembatas, hingga yang duduk di bagian depan mobil tidak dapat melihat apa yang ia lakukan kepada Helena. “Terlambat untuk memintaku berhenti, Sayang! Kau sudah membangkitkan apa yang sedari tadi malam kutahan. Menyentuhmu!” Matteo membalik badan Helena, hingga ia duduk berhadapan dengannya. “Astaga, Matteo! Ini siang hari dan di dalam mobil. Apa kau tidak merasa malu diketahui oleh anak buahmu,” ucap Helena dengan suara sedikit terengah, karena Matteo mencumbu lehernya bagian yang paling sensitif bagi Helena. “Ma-mattei!” desah Helena. “Ya! Sebutlah namaku. Lupakan yang lain.” Matteo menyatukan tubuh mereka berdua. Beberapa menit, kemudian mereka selesai juga bercinta. Peluh membasahi tubuh keduanya. Matteo membantu Hellena memasang kembali gaunnya. Setelahnya Helena duduk di jok mobil di sebelah Matteo. Dirinya merasa kelelahan dan mengantuk. Tanpa ia sadari dirinya tertidur. Matteo melirik Helena, ia meraih kepala istrinya itu untuk ia sandarkan di pundaknya. Diusapnya rambut Helena yang tergerai panjang dengan lembut. Merasa terusik dari tidurnya Helena membuka mata sedikit. “Apa yang kamu lakukan, Matteo?” Matteo melirik Helena sekilas. “Hanya membuatmu merasa nyaman tidur.” Helena kembali memejamkan mata. Tidak peduli kemana Matteo akan membawanya. Entah kenapa sekarang hatinya percaya, kalau suaminya itu tidak akan pernah menyakitinya. Jauh di lubuk hatinya ia yakin sebenarnya Matteo mencintainya. Hanya saja suaminya itu menunjukkan dengan cara berbeda. Mobil berhenti, sementara Helena masih tertidur dengan lelap. Matteo membopong istrinnya itu keluar dari mobil. Ia memasuki gedung dan disambut ramah pegawainya. Mereka terlihat terkejut Bos mereka datang, sambil membopong seorang wanita dan itu bukanlah kekasihnya. “Astaga! Apakah itu kekasih baru Bos? Apakah ia sudah putus dengan nona Susan?” bisik salah seorang pegawai wanita Matteo. Matteo memberikan tatapan tajam kepada pegawainya yang bergosip. Cukup dengan satu tatapan tajam darinya tanpa mengucapkan kata sudah membuat mereka menjadi ketakutan. Matteo terus berjalan memasuki ruang kerjanya. Ia membaringkan Helena di tempat tidur yang terdapat di dalam ruang kerjanya. Setelah memberikan ciuman singkat di pipi Helena. Ia berjalan keluar dari sana dan duduk di balik meja kerjanya. “Wow! Aku tidak mengira kamu akan melakukannya, Bos. Bukankah kamu mau Susan mengira kau membenci Helena? Akan tetapi, hari ini kau justru membuat pengumuman tanpa kata yang bisa memicu kemarahannya.” Daniello menatap Matteo dengan heran. Matteo menuang anggur ke gelas yang di atas mejanya, lalu meminumnya sampai tandas. Ia berdiri di depan kaca jendela ruang kerja tersebut. “Aku sedang mencari tahu siapa yang akan melaporkan kejadian ini kepada Susan. Bisa jadi orang yang memberitahukannya adalah mata-mata Susan.” Daniello menatap punggung Matteo. Ia mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan oleh bosnya itu. “Akan tetapi, hal itu justru membahayakan nyawa Helena. Kita belum mendapatkan bukti, siapa orang yang menyuruh meracuni istrimu.” Matteo membalikkan badan dengan wajah terlihat marah. “Apakah kau dan anak buahmu masih belum juga mendapatkan informasi? Apakah aku perlu menggantimu, Daniello? Karena kau sepertinya sudah tidak kompeten lagi sebagai tangan kananku.” Daniello terlihat santai saja. Ia tidak merasa takut dengan ancaman Matteo. “Aku hanya memerlukan sedikit waktu. Karena pelayan yang coba meracuni Helena sudah pergi ke luar negeri. Seseorang yang memiliki kekuasaan sudah membantunya membuat identitas palsu. Untuk memudahkannya kabur.” Matteo membalikkan badan, ia berjalan menuju meja kerjanya. Digebraknya meja tersebut, hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. “Tidak peduli seberapa berkuasa orang itu, kau harus menemukannya! Aku akan memberikan hukuman kepada mereka yang sudah berani menyakiti milikku!” Melihat kemarahan Matteo, Daniello tetap bersikap tenang. “Jadi sekarang kau sudah jatuh cinta kepada istrimu? Kau tidak bisa menyangkalnya sebagai lelaki aku dapat melihat hal itu.” Matteo menyipitkan mata, satu senyum tipis terbit di bibirnya. Ia terlihat tampan dengan senyumnya itu, tetapi juga terlihat berbahaya. Dan Daniello mengetahui hal itu dengan jelas. “Kau sudah menjadi peramal rupanya. Apa aku perlu membelikan bola kaca? Agar kau bisa menerawang apa yang akan terjadi kepadaku dan juga Helena.” Matteo duduk di kursi kerjanya. Suara tawa terbahak terlontar dari bibir Daniello. Ia merasa apa yang dikatakan oleh Matteo sangatlah lucu. Dan ia tidak bisa menyembunyikannya. Helena terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara-suara. Ia menjadi kebingungan karena tidak tahu di mana dirinya berada, Ia hanya mengingat jika dirinya tidur di mobil Matteo. ‘Ah, Matteo! Pasti ia yang memindahkanku tidur di sini,’ gumam Helena. Diturunkannya kaki dari atas tempat tidur tersebut. Dengan perlahan ia berjalan menuju ruangan di mana didengarnya suara-suara. Dilihatnya ada Matteo dan Daniello sedang duduk berhadapan. Mereka terlihat berbincang dengan santai. Sepertinya yang mereka bicarakan adalah dirinya. “Oh, Helena! Akhirnya kau bangun juga. Aku hampir saja mengira, bahwa kau memerlukan ciuman dariku terlebih dahulu untuk membuatmu terbangun.” Matteo bangkit dari duduknya berjalan ke tempat Helena. Helena membuka mulut, ia tidak percaya suaminya yang dingin tiba-tiba saja mengajak bercanda dengannya. ‘Apa yang sebenarnya terjadi dengan Matteo? Dan tempat apakah ini? Ah, sulit untuk meminta jawaban dari suaminya yang dingin itu.’ Matteo meraih jemari Helena mengecup di bibirnya dengan lembut. “Selamat datang di kantorku. Hari ini aku memperkenalkanmu kepada para pekerjaku.” Mata Helena berseri bahagia. Hal yang sama sekali tidak ia duga akan terjadi. Matteo memperkenalkan dirinya kepada orang lain. “Ah, suamiku! Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kepalamu, tetapi apapun itu aku menyukainya.” Daniello tertawa dari tempatnya duduk. Sebenarnya ia menyukai melihat kedua pasangan itu berbicara. Akan tetapi, ia tahu Caponya perlu berdua saja bicara dengan istrinya. Mereka akan baik-baik saja dan aman berada di kantornya. “Baiklah! Akua akan meninggalkan kalian berdua. Aku akan menunggu di luar dan memastikan semuanya baik-baik saja.” Daniello berjalan melewati Matteo dan menepuk pundaknya. “Tolong, kau katakan kepada semua pegawai penting. Untuk berkumpul di ruang meeting pada saat jam makan siang. Ada hal penting yang akan kusampaikan,” perintah Matteo. “Baiklah, Bos! Aku akann menyiapkan semuanya. Aku tidak sabar menunggu untuk mengetahui apa yang akan kau katakan.” Daniello membuka pintu, kemudian keluar dari ruang kerja tersebut. “Aku tidak terbentur apapun. Aku berjanji tidak akan menyakitimu atau membuatmu terluka.” Matteo meraih tangan Helena mengajaknya duduk di sofa yang ada di ruang kerja tersebut. “Apakah sekarang kau akan mengatakan kepadaku siapa dirimu dan alasan di balik sikap dinginmu?” tanya Helena dengan ekspresi serius. “Apakah kau akan percaya kalau kukatakan aku adalah seorang mafia?” Matteo balik bertanya kepada Helena. Helena mengamati wajah Matteo mencoba mencari tahu. Apakah pria itu serius dengan apa yang dikatakannya atau hanya becada saja. “Astaga! Tidak mungkin kau seorang mafia. Aku tidak dapat mempercayainya sama sekali. Kau hanya mencoba untuk menakutiku saja, bukan?” tanya Helena dengan suara yang sedikit bergetar. Matteo mengeluarkan senjata dari balik jasnya. Ia menodongkan senjata itu ke kepala Helena. Membuat istrinya tersebut menjadi pucat ketakutan. Dan terdiam di tempatnya duduk. Helena membelalakkan mata, ia tidak dapat percaya Matteo menodongkan senjata kepadanya. Ia hanya bisa terdiam tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin dirinya hanya bisa pasrah saja apa yang akan dilakukan oleh Matteo. “Kau tidak bisa menebaknya? Mengapa di mansionku ada penjara bawah tanah? Dan mengapa ada banyak pegawai bersenjata di sana dengan pakaian serba hitam. Ayolah, Helena! Meskipun, kau hampir sepanjang hidup berada di asrama. Tentunya kau pernah mendengar tentang mafia, bukan?” ujar Matteo. Helena menelan ludah dengan sukar. Ia merasa tenggorokannya kering, tetapi tangannya tidak berani. Ia takut melakukan gerakan salah yang bisa membuat Matteo menarik pelatuk dari pistolnya. “Kau terlihat ketakutan, Sayang! Tidakkah kau mendengar apa yang kukatakan? Aku akan menepati janjiku. Aku hanya meminta kepadamu untuk bersikap waspada. Sebagai istri dari seorang mafia, musuhku juga akan menjadi musuhmu. Aku ingin kau waspada tidak hanya terhadap orang-orang yang kau temui. Akan tetapi, juga makanan dan minuman. Ingat itu!” Matteo menurunkan pistolnya. Tangan Matteo terulur mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air putih. “Minumlah! Aku sudah membuatmu menjadi ketakutan, bukan? Itu adalah bagian yang harus kau Jalani sebagai istriku. Rasa takut dan kesenangan dapat terjadi dalam satu hari.” Helena menerima gelas yang diberikan Matteo. Ia meminum air itu sampai isinya tersisa separuh. Diletakannya gelas itu di atas meja. “Apa yang kau katakan dan pelajaran yang kau berikan kepadaku dalam satu hari ini sangat mengejutkan.” “Akan tetapi, kau tidak pingsan, bukan? Kau cukup baik dalam menerimanya. Sekarang, kau sudah sadar bukan siapa suamimu ini? Dan betapa berbahayanya diriku. Aku tidak segan untuk membunuh siapa saja yang berkhianat kepadaku. Itu tidak termasuk istriku sendiri, ataupun saudaraku!” Matteo melayangkan tatapan tajam kepada Helena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN