Matteo membuka sedikit matanya, ia masih merasa mengantuk. Namun, ia tidak melepaskan pelukannya di perut Helena. Ia kembali memejamkan matanya. Perjalanan yang dari vilanya ke mansion membuat ia kelelahan.
“Bangunlah, Matteo! Kau harus keluar dari kamarku. Aku tidak mau mendapat masalah dari kekasihmu!” Helena mengguncang pelan badan Matteo.
“Diamlah, Helena! Kau hanya membuat kepalaku menjadi sakit? Tidak tahukah kau berapa lama perjalanan yang harus kutempuh hanya untuk melihat kalau kau baik-baik saja!” tegur Matteo.
Helena menjadi diam, ia kembali memejamkan mata dengan membelakangi Matteo. ‘Dia belum sepenuhnya sadar. Tidak mungkin, ia mengkhawatirkan diriku. Aku tidak boleh percaya dengan apa yang dikatakannya. Ia hanya akan menyakiti hatiku saja.’
Matteo bangun dari tidurnya dengan perasaan segar dan bersemangat. Hal yang tidak dirasakannya saat ia bersama dengan Susan. Namun, terbangun di samping istrinya begitu berbeda.
Diciumnya kening Helena dengan rasa sayang. Dilihatnya Helena membuka mata, sambil menguap. “Kau ingin nasihat dariku, istriku? Cara tercepat menjatuhkan lawanmu adalah dengan menjatuhkan mentalnya! Jangan perlihatkan emosimu kepada musuhmu, agar mereka tidak mudah menjatuhkanmu.”
Bangkit dari tempat tidur tersebut, Matteo berdiri di samping ranjang. “Mandilah! Dalam waktu satu jam kita akan makan bersama di bawah. Dan kali ini kau tidak perlu takut akan ada Susan yang mengganggu kita.”
Helena mendongak menatap Matteo dengan ekspresi bingung. Yang langsung ditegur oleh pria itu. Ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan olehnya. Hal itu membuat Helena langsung merubah ekspresi wajahnya.
“Kau tahu bukan, aku tidaklah seperti dirimu yang pandai menyimpan perasaan, juga bersandiwara. Aku hanya akan melakukan seperti apa adanya.” Helena menyibak sellimut yang menutupi tubuhnya.
Ia berjalan melewati Matteo menuju kamar mandi. Sesampainya di sana ia langsung saja mengunci pintunya. Berdiri di depan cermin wastafel Helena melihat wajahnya yang sudah tidak pucat lagi.
‘Mengapa Mattei memperingatkanku? Apakah nyawaku berada dalam bahaya? Apakah orang suruhan Susan yang mencoba untuk membunuhku? Mengapa hidup bersama dengan Matteo, seperti bermain rollercoaster?’ Helena memejamkan matanya.
Beberapa menit berselang Helena sudah berdiri di depan cermin besar. Ia melihat pantulan dirinya yang terlihat memukau dalam balutan gaun berwarna hijau emerald. Ia hanya memakai makeup tipis saja.
Suara ketukan di pintu diikuti dengan bunyi pintu yang diputar membuat Helena memalingkan wajah. Tatapannya terpaku pada wajah tampan dan dingin Matteo. Matanya terkunci dengan mata Matteo, ia tidak sanggup mengalihkan pandangannya.
“Kau terlihat mengagumkan, istriku! Apakah kau sedang mencoba untuk menggodaku? Kurasa aku dengan senang hati akan menerima godaan darimu sesekali. Terutama di saat kekasihku sedang tidak ada.” Matteo berjalan mendekati Helena.
Ia memutar badan Helena, hingga dirinya berdiri di belakang punggung wanita itu. Disingkirkannya ke samping rambut Helena. Tangan Mattteo yang besar mengusap lembut leher wanita itu. hingga menjadi terbuka.
Matteo menurunkan kepalanya ke leher Helena. Menggunakan lidahnya untuk menelusuri tulang selangka istrinya. “Kau membuatku menginginkanmu di tempat tidur. Akan tetapi, sayangnya kau masih lemah.”
Satu tangan Matteo mengeluarkan kotak beludru dari balik saku jasnya. Dibukanya kotak tersebut yang berisikan kalung bertaburkan berlian yang banyak. Dipasangkannya kalung tersebut di leher Helena.
“Aku sudah membelikan hadiah untukmu. Tidakkah kau ingin mengucapkan terima kasih, kepadaku?” Tanya Matteo, dengan tatapan tak terbaca
“Aku tidak meminta hadiah darimu, tetapi baiklah aku akan mengatakannya. Terima kasih, Matteo untuk kalungnya. Kau tidak seharusnya memberikan kepadaku. Karena hanya akan membuat kekasi…” Helena tidak dapat menyelesaikan ucapannya.
Matteo membungkam mulut Helena dengan ciuman. “Kamu terlalu berisik, istriku.”
Helena membalas ciuman Matteo. Hingga membuat ciuman yang tadinya hanya singkat berubah menjadi panas. Beruntungnya suara ketukan di pintu menyadarkan keduanya.
“Maaf, tuan Matteo! Makanan sudah siap,” seru Daniello dari balik pintu.
Matteo melepaskan ciumannya, ia sedikit menjauhkan dari badannya. Dipegangnya pinggang Helena selama beberapa saat ia hanya memandangi istrinya itu. Deru napasnya terdengar memburu.
“Kau membuatku kehilangan kendali diri dan itu sama sekali tidak bagus untukku. Ingat! Apa yang kukatakan dan itu semua demi keselamatan dirimu. Karena, sepertinya aku sudah tidak bisa menyembunyikanmu lebih lama lagi sebagai istriku.” Matteo meraih tangan Helena mengajaknya keluar dari kamar.
Dalam hatinya Helena merasa bingung apa maksud dari perkataan Matteo. Ah! Seandainya saja ia bisa bertanya banyak hal kepada suaminya itu, karena terlalu banyak misteri yang tidak mampu ia pecahkan.
“Maukah kau memberikan penjelasan kepadaku? Siapa dirimu sebenarnya? Mengapa kau merahasiakan pernikahan kita? Dan kenapa selalu ada beberapa orang bersenjata di mansionmu ini?” Tanya Helena, sambil berjalan.
Matteo hanya melirik Helena sekilas, ia terus saja berjalan tidak menjawab pertanyaan dari Helena. Sikapnya itu ia tahu hanya membuat Helena menjadi kesal, tetapi ia memang tidak mau memberikan penjelasan apapun kepada istrinya.
Helena menyentak lepas genggaman jemari Matteo di tangannya. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan wajah galak. “Kenapa sedikit saja kau tidak mau memberikan jawaban kepadaku? Tidakkah kau sadar, kau yang sudah membawaku ke duniamu yang jahat ini!”
Daniello yang tepat berada di belakang keduanya mengangkat tangan. Dengan senyum di wajah, ia merasa senang melihat Caponya yang tampak tidak terlalu yakin apa yang harus dikatakannya. Biarkan Ia berjalan melewati Matteo dan Helena. Akan diberikannya waktu bagi mereka untuk bicara tanpa ada yang ikut mendengarkan.
Matteo memandangi Helena dengan ekspresi kesal. Kali ini ia tidak bisa begitu saja menyembunyikan perasaannya itu. “Kau merusak rencana yang sudah kususun. Kenapa kau tidak bisa menutup mulutmu dan berhenti bertanya? Kau hanya akan membuat dirimu berada dalam masalah, kalau tahu banyak hal. Semakin sedikit yang kau tau, maka semakin baik untukmu!”
Tidak menunggu Helena, Matteo kembali berjalan menuruni tangga dengan percaya diri. Ia tahu, Helena pasti akan mengikutinya.
Benar saja, seperti perkiraan Matteo, Helena memang berjalan mengikutinya. Walaupun dengan wajah cemberut. Dan itu bukanlah masalah besar bagi Matteo.
Sesampainya di ruang makan, Helena menatap tidak percaya. Di atas meja sudah tersaji beraneka macam makanan, serta minuman. Ruangan itu juga dipenuhi bunga mawar merah setiap sudutnya. Membuat ruang makan itu menjadi harum mawar.
‘Kenapa membuat sarapan romantis untukku? Apa karena sekarang tidak ada kekasihnya? Aku hanyalah cadangan saja baginya. Sungguh miris sekali diriku ini, hanya pengganti di saat kekasih suaminya tidak ada. Dan ia memerlukan penghiburan di tempat tidurnya.’ Helena tersenyum kecut.
“Makanlah! Semua makanan ini aman tidak ada yang mengandung racun. Kau harus memulihkan kesehatanmu secepatnya. Kau tidak pernah tahu kapan musuhmu akan menyerang, bukan?” Matteo menyendok makanannya.
Helena memotong steak yang ada di piringnya. “Aku tidak tahu siapa musuhku yang kamu maksud, kecuali kekasihmu. Kalau menurutmu ia berbahaya bagiku kenapa kau membiarkannya berada di sini? Apakah kau memang dengan sengaja membiarkan ia menyakitiku, karena tidak mau mengotori tanganmu sendiri?”
Tatapan tajam Matteo layangkan kepada Helena. Akan tetapi, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya terus menikmati sarapannya saja. Ketika dilihatnya Helena yang hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Membuat ia menjadi marah karenanya.
Helena menggembungkan pipi, lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia menyuap makanannya juga. Dan itu karena dirinya memang merasa lapar.
Melihat Helena yang menyantap makanannya Matteo menjadi tersenyum. Wanita itu tidak bisa berlama-lama menahan lapar.
“Hari ini aku sudah mengosongkan semua jadwalku. Aku akan bersama denganmu untuk sepanjang hari ini,” ucap Matteo.
Helena tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Matanya menjadi berair dan ia batuk-batuk kecil. “Astaga! Kau mengejutkanku, Matteo. Apakah kepalamu terbentur sesuatu? Kenapa kau menjadi perhatian kepadaku?”
Matteo melap bibirnya dengan kain. Diminumnya air putih sampai isinya sisa separuh. “Aku hanya perlu tahu kebiasaanmu, agar aku bisa memastikan apa yang membuatmu lemah. Jangan berfikir hal yang romantis, karena aku melakukannya demi keuntunganku sendiri.”
Wajah Helena yang tadinya cerah berubah menjadi cemberut. “Ah! Itu hal yang seharusya kuingat.”
Selesai makan, Matteo menggandeng tangan Helena keluar dari ruang makan tersebut. “Aku akan membawamu ke tempat di mana kau bisa mengenal siapa diriku.”
Helena mengangkat alisnya, ia menjadi tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Matteo. Apakah ini cara Matteo untuk menjelaskan siapa dirinya tanpa perlu mengatakannya.
“Apakah kau benar-benar akan membawa ia ke sana?” Tanya Daniello.
Matteo mengangguk. “Kurasa ia perlu tahu sedikit banyak siapa diriku. Biar ia tidak bertanya-tanya terus-menerus membuatku jengkel.”
“Hei! Aku berada di sini. Tidak bisakah kalian berbicara secara langung kepadaku!” tegur Helena.
Matteo menarik tangan Helena masuk mobil. Membuat istrinya itu tersandung hingga kepalanya terjatuh ke pangkuan Matteo.
“Ma-maaf, Matteo! Aku tidak bermaksud seperti ini?” Helena tergagap dan wajahnya bersemu merah.
“Hmm, tidak perlu meminta maaf. Aku tidak masalah kau tidur di pangkuanku.” Matteo mengangkat Helena duduk di atas pangkuannya.
Helena bergerak-gerak gelisah di atas pangkuan Matteo. Membuat pria itu menahan paha Helena dengan tangannya.
“Berhentilah bergerak-gerak di atas pahaku! Apa kau memberikan isyarat kepadaku untuk segera bercinta? Tenang saja aku akan mengabulkan keinginanmu,” bisik Matteo tepat di telinga Helena.