Helena yang baru saja sadar, ia baru saja sadar dari pingsannya akibat keracunan. Diraihnya bantal yang ada di sampingnya. Walaupun ia masih merasa lemah menggunakan sisa tenaganya. Ia melempar bantal tersebut ke arah Matteo.
“Kau pasti merasa kecewa, karena orang suruhanmu gagal membuatku meninggal, bukan? Sayang sekali aku memiliki tujuh nyawa, sehingga kau tidak dapat dengan mudah membunuhku,” seru Helena.
Matteo menatap Helena dengan dingin, ia dalam hati mengagumi keberanian Helena. Dan semangatnya yang tidak padam, walaupun ia baru saja mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.
Diambaikannya tangan kepada dokter, juga Daniello yang berada di kamar Helena untuk keluar. Ia akan berbicara berdua saja dengan istrinya.
“Kau marah kepadaku karena sudah menghukummu, ataukah kau cemburu karena mengetahui aku pergi berlibur bersama kekasihku?” Matteo duduk di pinggir ranjang Helena.
Helena memandang Matteo dengan tajam. “Mengapa aku harus merasa cemburu? Kepada pria, yang sama sekali aku tidak memiliki perasaan kepadamu.”
Matteo mencondongkan badannya ke arah Helena. “Silakan menyangkalnya, istriku! Aku tau kau merasa cemburu, karena bukan dirimu yang pergi berlibur denganku. Aku jadi berfikir apakah ini salah satu trik kotor darimu? Berpura-pura keracunan dan menyalahkan orang lain demi mendapatkan perhatian dariku?”
Tangan Helena secara otomatis terangkat untuk melayangkan tamparan ke wajah tampan Matteo. Namun, pria itu memiliki reflek yang bagus. Ia dapat menangkap tangan Helena dan menggenggamnya dengan erat.
Mata Matteo menyorot marah, bibirnya menipis. Ia harus membuat Helena membenci dirinya, agar wanita itu tidak menunjukkan rasa suka, serta cinta kepadanya. Karena hal itu hanya akan membahayakan diri Helena sendiri. Dengan Susan yang dapat mencari celah untuk menyakiti Helena.
“Tidak ada satu wanita pun yang boleh melayangkan tangannya ke wajahku. Kau harus ingin berada di bawah kekuasaan dan belas kasihanku, sehingga kau harus bersikap hormat, serta patuh kepadaku!” tandas Matteo.
Dada Helena naik turun dengan cepat, karena emosi. Matanya menyala-nyala dengan deru nafas yang memburu. “Aku tidak akan pernah patuh kepadamu! Kau bukanlah tuanku!”
Secara mendadak Matteo menekan tengkuk Helena mendekat. Ia membungkam mulut Helena dengan ciuman yang ditujukan untuk memberikan hukuman kepada istrinya itu.
“Kau sangat pemarah istriku, tetapi percayalah aku akan menaklukanmu. Cepat atau lambat kau akan berlutut di hadapanku dan mematuhi semua yang kukatakan kepadamu.” Matteo menggigit lembut cuping telinga Helena.
Helena berusaha menjauhkan badan Matteo dari dirinya, tetapi tentu saja hal itu tidak mudah. Dengan badan Matteo yang kokoh, seperti buldoser. “Kau menjijikkan, Matteo! Mungkin baru beberapa jam yang lalu kau bercinta dengan kekasihmu, bahkan ia meninggalkan jejak di lehermu.”
Satu tangan Matteo terulur untuk menyentuh lehernya yang dimaksud oleh Helena. “Kau cemburu! Akui saja hal itu. Aku membolehkan kau untuk membuat tanda juga di badaku.”
Helena yang merasa kesal karena Matteo menganggap perasaannya hanyalah mainan. Menggigit pundak pria itu yang membuat Matteo sedikit meringis.
“Astaga, Helena! Kau benar-benar melakukannya. Seandainya tidak meningat kau yang sedang dalam kondisi lemah. Aku akan mengajakmu bercinta sekarang juga,” bisik Matteo.
Menggunakan sekuat tenaganya Helena berhasil mendorong Matteo menjauh. Ia dengan tegas mengatakan dirinya memerlukan istirahat. Matteo dapat mengganggu kekasihnya untuk bersenang-senang.
Matteo hanya diam selama beberapa menit, sambil memandangi wajah Helena. “Baiklah! Aku akan membiarkanmu beristirahat. Jangan sakiti dirimu sendiri, karena yang boleh melakukannya hanyalah diriku.”
Hati Helena terasa sakit, karena Matteo tidak mempercayai ada orang yang mencoba menyakiti dirinya. Suaminya itu lebih memilih untuk percaya ia menyakiti dirinya sendiri. Betapa beruntungnya Susan mendapatkan pria seperti Matteo sebagai kekasih.
Begitu sudah keluar dari kamar Helena, Matteo melihat Daniello berdiri tidak jauh dari pintu kamar tersebut. Melalui matanya ia memberikan kode kepada Daniello untuk mengikutinya ke ruang kerja.
Setelah berada di ruang kerja Matteo, mereka duduk berhadapan di depan meja kerja Matteo. Daniello mengeluarkan cerutu, lalu memberikannya kepada Matteo. Ia juga menyalakan cerutu tersebut untuk Caponya itu.
“Apakah kau sudah mempunyai informasi siapa yang coba membunuh Helena?” tanya Matteo dengan tatapan tajam.
Daniello menghembuskan asap cerutu yang sedang dihisapnya. “Pelakunya seorang pelayan. Dan kami tidak mengetahui siapa pelayan itu. Karena ia baru saja bekerja dua hari yang lalu dan pelayan itu sudah menghilang. Sebelum aku dapat menginterogasinya.”
Matteo memukulkan kepalan tangannya ke atas meja dengan keras. Membuat meja tersebut bergetar. “Cari tahu siapa wanita itu dan siapa yang sudah menerimanya bekerja di mansionku ini! Aku tidak pernah mendengar atau menginginkan adanya tambahan pelayan.”
Daniello menganggukkan kepalanya. “Ada hal buruk yang harus kusampaikan kepadamu juga Capo. Kami baru menyadari ternyata kamera pengawas kita sudah beberapa hari rusak. Sehingga kita tidak memiliki rekaman wajah dari pelayan itu.”
Suara umpatan kasar langsung saja terlontar dari bibir Matteo. Ia tahu, kalau ada orang dalam yang berusahan menjatuhkannya. Akan tetapi, ia tidak mengharapkan ada orang yang akan menyerang istrinya itu. Di saat ia berusaha membuat semua orang percaya ia membenci Helena.
“Apakah kau mempunyai dugaan siapa yang melakukannya? Selain tentu saja kita tidak bisa mengabaikan pamanku. Ia sangat berambisi menjadi seorang Capo. Sayangnya ia tidak dapat membujuk almarhum kakekku untuk menjadikannya seorang Capo.
“Kau tidak akan menduga siapa yang menurutku bertanggung jawab. Aku memiliki dugaan kuatyang melakukannya adalah Susan. Pelayan itu bekerja di mansion ini bersamaan dengan pindahnya kekasihmu itu. Kaulah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Helena.” Daniello menatap Matteo dari balik asap cerutunya.
Matteo mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Ia memejamkan mata mencoba memikirkan apa yang dikatakan oleh Daniello. “Aku rasa bisa jadi Susan yang melakukannya. Akan tetapi, itu mustachil bagiku. Karena ia tahu Helena bukanlah saingannya. Aku selalu membela apa yang dilakukan Susan.”
Daniello mendengus kasar. Ia benci mendengar Matteo masih saja membela kekasihnya. Kenapa ia tidak bisa terima, kalau Susan bisa saja memang pelakunya.
“Aku akan mengajari Helena cara menggunakan senjata. Akan tetapi, aku tidak mau ia mengetahuinya. Kau harus membantuku mewujudkan rencanaku ini,” ucap Matteo.
Daniello mengangguk. Ia merasa ide yang bagus untuk mengajari Helena menggunakan senjata. Karena sekarang tidak dapat dipungkiri nyawa Helena berada dalam bahaya. Suka tidak suka ia harus mampu membela dirinya sendiri.
“Aku akan mengajarinya menggunakan pistol, juga pedang. Kurasa ia murid yang bagus. Ia akan cepat menerima apa yang dipelajarinya,” sahut Daniello.
Matteo menggebrak meja dengan keras matanya menyorot marah. “Apakah kau tidak mendengar apa yang kukatakan! Akullah yang akan mengajarinya dan kau membantuku untuk melakukan hal itu!”
“Mengapa kau membutuhkan bantuanku? Apakah kau sudah tidak sanggup lagi memegang senjata?” tanya Daniello dengan nada suara mengejek.
Matteo tersenyum tipis, ia mengatakan jika dirinya masih sanggup dan tidak takut menggunakan senjata. Ia bahkan, bisa saja mencabut pistolnya sekarang ini untuk melenyapkan Daniello.
Daniello mengangkat tangan, tanda menyerah. Ia mengatakan janjinya untuk membantu Matteo, meski ia masih sedikit bingung bantuan apa yang dapat diberikannya.
Matteo bangkit dari duduknya. Ia terus berjalan ke kamar Helena. Begitu dibukanya pintu kamar tersebut. Dilihatnya, kalau Helena sudah tidur dengan lelap.
DIlepasnya sepatu yang ia pakai, ia pun bergabung berbaring dengan Helena, Diraihnya kepala wanita itu untuk berbaring di pundaknya. Dengan satu tangannya memeluk erat pinggang Helena.
“Apa yang kau lakukan di sini, Matteo? Apakah kau tidur sambil berjalan dan mengira aku adalah kekasihmu?” tanya Helena dengan suara serak.