Daniello menjadi terkejut mendengarnya. Dibalikkannya badan dengan perlahan. “Aku tidak akan pernah mencelakai istri dari Capoku. Ia yang telah memberikan perintah untuk menjaga wanitanya.”
Pria itu tertawa mendengarnya. “Kau sungguh menggelikan Daniello! Wanita Capo kita adalah Susan. Wanita yang di dalam sana tidak berharga sama sekali. Dan kau mengetahuinya.”
“Kau tidak akan berani mencoba menyakitinya. Aku akan menghubungi Bos dan kita dengar apa yang akan dikatakannya.” Dengan perlahan Daniello memasukan tangan ke balik jas untuk mengambil ponselnya.
Ditekannya nomor kontak Matteo, tetapi pria itu tidak juga mengangkat telponnya. Membuat Daniello menggerutu kesal. “Ayolah, Matteo! Angkat teleponmu. Kau tidak ingin melihat istrimu menjadi mayat, bukan?”
***
Matteo dan Susan baru saja sampai di villa. Dan kekasihnya itu sedang tertidur kelelahan, setelah mereka bercinta.
Suara ponselnya yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Matteo membalikkan badannya kembali mengabaikan panggilan pada ponselnya, Namun, kembali ponselnya bergetar dan itu membuat Matteo mengerutkan kening.
‘Sepertinya itu panggilan yang penting,’ gumam Matteo.
Tidak mau membuat kekasihnya yang sedang tidur menjadi terbangun. Matteo mengambil ponselnya, kemudian berjalan keluar kamar menuju balkon kamar.
“Halo! Ada apa Daniello? Sebaiknya hal penting saja yang akan kau sampaikan kepadaku,” tegas Matteo.
“Aku sedang berada di depan pintu penjara bawah tanah, tempat Helena berada. Apakah kau memberikan perintah kepada pengawalmu untuk membunuhnya? Karena mereka mengatakannya seperti itu. Dan aku baru saja memberikan makanan kepada istrimu, karena ia kelaparan, serta kedinginan,” sahut Daniello.
Matteo menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. “Aku akan membunuh siapapun yang melakukannya! Pastikan kau menjaga Helena dan tidak ada yang menyakitinya, selain aku.”
Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Ternyata sudah 10 jam sejak ia meninggalkan mansionnya. Ia merasa sudah cukup hukuman yang diberikannya kepada Helena.
“Keluarkan ia dari sana!” perintah Matteo.
Daniello mengiyakan perintah dari Matteo. Ia melihat kepada penjaga yang tadinya bersikeras hendak meyakiti Helena. “Kalian semua sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Capo kita, bukan? Sekarang juga aku akan mengeluarkannya dari sana. Dan kalian tidak boleh menyentuhnya.”
Penjaga itu mengangkat kedua tangannya. “Baiklah! Silakan kau keluarkan ia dari sana. Wanita itu hanya mengacau saja.”
Daniello memasuki kembali ruang penjara tempat Helena ditahan. Dilihatnya mata wanita itu langsung terbuka begitu mendengar suara. Matanya terlihat bertanya-tanya. Ada rasa cemas di sana.
“Jangan takut! Aku tidak akan dihukum Matteo. Suamimu itu kesadarannya sudah kembali. Ia memberikan perintah kepadaku untuk membebaskanmu. Aku akan menjagamu dan tidak akan kubiarkan Susan membuatmu menjadi susah lagi. Kau harus menjauhi wanita itu. Ia cemburu kepadamu.” Daniello melepaskan penutup mulut Helena.
“Wow! Aku tidak mengira diriku akan cepat dibebaskan. Kau memang benar Susan hanya menyusahkanku saja. Kau hanya membuat lelucon saja, kalau ia cemburu kepadaku. Semua perhatian Matteo hanya untuk Susan. Untuk apa ia cemburu kepadaku,” sahut Helena.
Senyuman tipis terbit di bibir Daniello. “Percayalah kepadaku! Aku sebagai seorang pria tahu bagaimana tatapan kami kepada wanita yang dicintai.”
Helena mendengus kasar. Ia mengusap lengannya yang sudah terlepas dari ikatan. Ia mengatakan kepada Daniello, kalau itu hanyalah ilusi saja. Bagi Matteo, Susanlah cinta sejatinya dan ia sudah mengatakan hal itu dengan jelas.
Berada dalam kamarnya kembali seorang diri. Helena merenungkan apa yang dikatakan Daniello. Tentang rasa cemburu Susan. ‘Bagaimana caranya aku menghindari wanita itu? Kalau ia dengan sengaja mencariku hanya untuk melihatku berada dalam masalah saja.’
Suara ketukan di pintu membuyarkan Helena dari lamunannya. Ia mempersilakan kepada pelayan yang mengetuk pintunya untuk masuk.
“Nyonya, saya datang membawakan Anda makanan. Anda harus menghabiskannya untuk memulihkan fisik Anda, setelah berada di penjara selama beberapa jam.” Pelayan itu meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas.
“Terima kasih, saya akan memakannya.” Helena meraba perutnya yang kembali terasa lapar. Dan itu membuat Helena tersadar sudah beberapa jam lamanya sejak ia makan yang diberikan Daniello kepadanya.
Diambilnya piring yang berisi steak, aromanya terasa menggoda. Membuat Helena segera menyantapnya. Setelah beberapa suapan Helena merasakan sakit pada perutnya, kepalanya pun juga menjadi pusing.
‘Ya, Tuhan! Apakah makanan ini mengandung racun?’ batin Helena.
Di saat kesadarannya yang sudah hampir hilang. Helena mengambil ponselnya dipencetnya nomor Daniello. Yang beruntungnya langsung diangkat oleh pria itu.
“Da-daniello! To-tolong aku mau pi… “ Helena tidak dapat melanjutkan ucapannya. Ia jatuh pingsan.
Daniello yang sedang berbaring di kamarnya. Ia bergegas mengambil celana panjang miliknya lalu memakai. Dengan bertelanjang d**a ia berlari ke kamar Helena.
“Helena! Bangunlah!” Daniello menyentuh pergelangann tangan wanita itu. Dan dirasakannya nadi wanita itu masih ada membuat ia sedikit lega.
Ia menekan nomor dokter pribadi Matteo, melalui ponselnya. “Dokter! Kau harus segera ke sini. Istri Don Matteo, sepertinya mengalami keracunan.”
Setelah menutup sambungan telepon dengan dokter. Daniello menelepon Matteo dan kali ini panggilan telepon darinya dengan cepat.
“Matteo, aku ingin kamu tahu. Kalau istrimu baru saja mengalami keracunan. Ia sedang tidak sadar diri dan aku sudah memanggil dokter untuk memeriksanya,” lapor Daniello.
Matteo yang baru saja terlelap dan terbangun, karena telepon dari Daniello menjadi segar matanya. Dengan suara serak, karena baru bangun tidur Matteo menyahut, “Aku akan segera kembali. Periksa siapa yang memasuki kamar Helena dan periksa siapa yang mencoba meracuni istriku.”
“Matteo! Kenapa kamu berpakaian, seperti akan pergi?” tanya Susan.
Wanita itu bangun dari tidurnya tanpa memakai pakaian selembar pun. Ia memeluk perut Matteo dari belakang. Tangannya bermain-main di restleting celana pria itu. Ia sedang mencoba untuk membujuk kekasihnya tersebut kembali ke tempat tidur.
Matteo menangkap tangan Susan menepis dari perutnya. “Aku harus pergi! Ada kerjaan yang harus kuselesaikan. Kau boleh tetap berada di sini berlibur. Kalau sudah beres pekerjaanku aku akan datang kembali untuk berlibur bersama denganmu.”
Matteo berjalan keluar dari kamar tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya menghubungi sopir pribadinya untuk segera menyiapkan mobil.
Sementara itu, Susan menghentakkan kaki dengan kesal. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang di ujung sana.
“Kau harus segera pergi dari sana. Jangan sampai ketahuan, kalau kau yang sudah memberikan racun untuk wanita itu. Paspormu untuk pergi ke luar negeri juga sudah disiapkan.” Susan langsung menutup sambungan telepon tidak menunggu jawaban dari lawan bicaranya.
Ia juga menghapus riwayat panggilan dan pesannya kepada seseorang yang sudah ia perintahkan untuk meracuni Helena. Ia masih kesal, karena orang suruhannya sepertinya tidak berhasil membunuh Helena.
‘Sial! Kenapa Matteo harus tahu. Aku harus mencari cara lain untuk bisa melenyapkan wanita itu. Ia tidak boleh tetap hidup,’ gerutu Susan.
***
Duduk dalam mobilnya, Matteo mengeluarkan ponsel menghubungi dokter pribadinya. “Halo, dokter! Bagaimana kabar istriku? Apakah ia sudah sadar?”
Dokter pribadi Matteo yang sedang memeriksa Helena mengerutkan kening. Ia terkejut mendengar wanita yang tengah ia periksa adalah istri dari Caponya.
“Dia masih belum sadar, tetapi ia sudah melewati masa krisisnya. Ia akan baik-baik saja. Istri Anda akan segera sadar, Capo,” sahut dokter itu.
Matteo mematikan sambungan telepon memasukannya kembali ke saku jas. Ia melihat jam tangannya tidak sabar untuk segera sampai di mansionnya.
Begitu mobilnya berhenti di depan pintu mansionnya. Matteo bergegas turun dari mobil memasuki mansionnya. Sesampainya di kamar Helena, ia melihat istrinya itu sudah sadar.
“Kau sudah sadar! Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri? Apa kau ingin menarik perhatian dariku? Kau pikir aku akan peduli, kalau kau meninggal dunia? Kau hanya membuat dirimu sendiri terlihat menyedihkan,” tegur Matteo dingin.