Hari pun berlalu, Eva yang masih saja teringat akan rekening ibunya langsung datang ketika pagi menjelang. Selepas memastikan keadaan aman, ia masuk ke kamar ibunya saat yang lain tengah sibuk di dapur.
Satu persatu laci dibuka. Tas dan dompet ibunya juga tak luput dari pencarian. Hingga tas usang berwarna coklat yang tergantung dibalik pintu menarik perhatian Eva. Tas itu sering digunakan ibunya. Pastilah beberapa kartu penting ada di sana.
Ia tersenyum saat buku kecil berwarna biru tua ditemukan. Buru-buru ia membuka isinya. Tak lupa Eva juga membaca kapan terakhir uang masuk rekening ibunya.
"Lima juta? Huh. Cuma segini? Mas Gun itu sombong minta ampun. Baru kasih ibu lima juta aja gayanya udah selangit. Aku juga bisa kasih ibu dua kali lipat."
"Kenapa kamu di kamar ibu, Va?" Suara lelaki mengejutkan Eva.
Kelopak mata itu melebar dan buru-buru ia menyembunyikan buku rekening dari balik tubuhnya.
"Gak kenapa-kenapa. A-a-ku cuma nyari ibu aja. Mas tau ibu di mana?"
"Mas juga lagi nyari ibu. Mungkin ada di dapur, soalnya kata Riska tadi, ibu keluar sebentar."
Gunawan berlalu diikuti Eva di belakangnya. Ia menaruh kembali buku itu dan berjalan cepat karena takut sang kakak merasa curiga.
"Ibu, Ibu di mana?"
"Ada di kamar mandi, Yah. Duduk dulu sarapan. Eh, Eva. Kapan dateng? Kok mbak gak denger suara mobilnya?" Dengan ramah, Riska bertanya kepada Eva.
"Aku pake motor, Mbak. Cuma mampir sebentar kok, kan, mau ke kantor lagi."
"Nih, sarapan, yuk. Mbak bikin dendeng daging kesukaan ibu." Riska kemudian duduk dan mengambil nasi.
"Iya, Mbak." Tanpa ragu, Eva duduk di sebelah Riska dan melihat hidangan di atas meja. Dengan begitu bersemangat, wanita yang mengenakan setelan pakaian resmi berwarna abu tua itu menyiduk nasi dan lauk tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.
"Ibu, Gun mau kasih Ibu sesuatu." Gunawan merogoh kantung celananya. Ia sengaja menunggu ibunya di depan toilet.
"Mas, aku udah lihat rekening Ibu." Ia berbicara sambil makan masakan kakak iparnya. Sementara Gunawan dan Ibunya melihat Eva bersamaan.
"Waktu itu Mas bilang kan, ke aku kalo Mas kerja uangnya untuk Ibu juga. Maksud Mas lima juta yang ada di rekening Ibu?" Ia merasa lucu hingga tertawa sebentar.
"Kalo cuma lima juta, aku bisa kasih Ibu dua kali lipat, Mas."
Gunawan tampak membuang napas, dan mengeluarkan benda yang ada di kantung celananya.
"Udah lama Gun mau kasih ini ke Ibu. Tolong Ibu terima."
Rekening yang masih tampak mulus itu, Gun berikan kepada Ibunya. Sedikit ragu, namun tetap diambil oleh wanita lima puluh tahun tersebut.
Dilihatnya dengan saksama nominal yang tertera di sana. Sementara Eva sedikit heran kenapa rekening ibunya ada bersama Gunawan.
"Lima puluh juta? Uang siapa sebanyak ini, Gun?"
"Ini uang Ibu. Gunawan sengaja sisihkan uang untuk Ibu setiap bulan. Ya, walaupun awal-awal nabung cuma sedikit, alhamdulillah Gun bisa kumpulin sampai segini, Bu."
"Nggak, ibu nggak bisa nerima uang ini." Sang ibu mengembalikan rekening itu kepada Gunawan.
Sementara Eva dengan gesitnya bangkit dan setengah berlari ke arah Gunawan.
"Hah? I-ini uang yang Mas kasih buat Ibu? Ini uang nggak sedikit, Mas. Mas punya usaha apa, sih di kota? Jangan-jangan, Mas jual barang haram, ya?"
"Jaga ucapan kamu, Va. Mas nggak pernah jual barang haram! Sekalipun Mas nggak pernah punya pikiran untuk mencari yang haram. Apa kamu selalu berpikiran buruk sama mas?"
"Aku itu cuma tanya, Mas. Ya, kalo enggak kenapa Mas marah."
"Oh, ya. Kamu bilang bisa kasih ibu uang dua kali lipat uang yang mas kasih. Ini, kamu pasti bisa kan, kasih seratus juga setiap bulan ke Ibu?"
Mata Eva memerah. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan kakaknya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, wanita itu bergegas keluar dari rumah itu.
"Maksudnya apa bilang begitu sama adik kamu? Dia itu udah cukup buat ibu seneng, Gun. Lihat, adik kamu jadi marah. Kamu seneng udah bikin dia malu?"
"Gun cuma kasih tau dia hal yang benar, Bu, dengan tidak menuduh sembarangan tanpa ada bukti."
"Cukup. Ibu nggak mau dengar alasan kamu. Ibu juga nggak mau terima uang kamu. Uang itu, ibu nggak tau kamu dapat dengan cara bagaimana." Wanita paruh baya itu berlalu dan masuk ke dalam kamar. Ia lalu mengunci diri hingga menjelang siang.
Riska merasa risau dengan keadaan ini. Ia bingung hendak berbuat apa. Apalagi, sejak kejadian itu, Eva tak kunjung datang walau dua hari sudah berlalu. Apalagi, ibu mertuanya masih saja diam kepada sang suami meski Gun sudah melupakan apa yang sudah terjadi.
***
"Bu, boleh, Riska masuk?" Riska mengetuk pintu perlahan." Malam itu, Riska memberanikan diri untuk menemui ibu mertuanya.
"Hemb, kenapa?"
"Ini, Riska ada minyak urut baru, Ibu mau coba?" Secercah harapan muncul saat ibu mertua sedikit tersenyum.
"Boleh, deh. Lama ibu gak urut. Pada kaku nih ototnya."
Hati Riska berbunga-bunga. Sampai detik ini, ia masih berharap ibu mertuanya masih mau bersikap baik kepada Gunawan.
"Tas ibu udah pudar warnanya. Gak mau ganti yang baru, Bu?" Riska memulai memancing sambil menuangkan minyak urut ke punggung sang ibu.
"Gak ah. Tas itu kenang-kenangan dari Tio. Adik ibu paling bungsu. Walaupun udah usang, import itu, mahal."
Riska sedikit mendengus kesal. "Sendal Ibu udah jelek juga. Gak ada niat buat ganti, Bu? Model sekarang bagus-bagus lho."
Tanpa diduga, ibu mertuanya itu bangkit dari tidur dan memakai kembali bajunya.
"Sebenarnya kamu ke sini mau apa? Pamer karena udah kaya? Mau pamer kalo kamu punya barang mewah, mau kasih ibu barang bekas kamu, iya?"
"Ampun, Bu. Bukan itu maksud Riska. Riska cuma ... "
"Cuma apa? Eva diam dan udah beberapa hari gak ke sini, kamu senang? Kamu senang sudah jadi jurang pemisah antara ibu dengan anak ibu sendiri? Eva itu anak baik, Riska. Dari kecil dia selalu mengalah sama kakaknya. Jadi, kalo sekarang dia mau menang sendiri, ya , udah biarin aja."
"Riska sama sekali gak niat buat pamer, Bu."
"Kamu sekarang keluar. Ibu gak mau lagi lihat kamu. Ibu kira kamu ikhlas ternyata."
"Ampun, Bu. Jangan benci Riska. Riska ikhlas, Bu sama semua ini. Ikhlas lahir batin. Riska cuma mau Ibu terima rekening dari Mas Gun, Bu. Riska mohon." Riska bahkan duduk dan memegang satu kaki ibu mertuanya. Sempat terkejut juga karena baru kali ini ia melakukan hal itu.
"Bangun, Bunda." Suara bergetar mengejutkan Riska hingga ia dengan cepat mengalihkan pandangan matanya.
Bersambung........