"Gawat, Mas." Eva berlari secepat yang ia bisa untuk menemui Reno di kamar tamu milik bibinya.
Tampak di sana Reno tengah berleha-leha di atas ranjang sambil memainkan benda pipih miliknya.
"Gawat, Mas. Gawat." Napas Eva sedikit terengah-engah. Ia lantas duduk di ranjang tepat di sebelah suaminya.
"Gawat kenapa? Kamu ini ganggu aja. Aku capek mau istirahat sebentar." Sejenak ia melirik istrinya lalu kembali fokus kepada ponsel di tangan.
"Barusan aku denger Yuni ngomong sama Bibi, Mas. Dia bilang kalo Imran itu orang biasa, bukan orang kaya."
"Hah, iya. Kasian, Bi Mar. Pasti dia marah-marah," sahut Reno enteng.
"Bukan itu, Mas masalahnya."
"Terus apa?"
"Mobil yang dibawa ke sini kemarin itu berati benar mobil Mas Gun."
Bola mata Reno membesar sembari menatap sang istri. Sepersekian detik ia tak berkedip. Tak berselang lama, ponsel pun jatuh mengenai dadanya.
"Apa kamu bilang? Mobil yang mewah itu punya Masmu? Gak mungkin, itu gak mungkin."
"Mas, terus mobil itu punya siapa? Udah jelas kan, kalo plat mobilnya inisial nama Gilang."
"Ya, mungkin itu cuma kebetulan aja."
"Mas. Aku mau jual mobil kita."
Reno terkejut. Sekali lagi benda pintar miliknya terjatuh dari genggaman. Respon Reno kini membuat dia bangun dari posisinya.
"Apa kamu bilang? Buat apa dijual? Mobil kita itu belum lama, masih kinclong. Jangan gil.a kamu, Eva."
"Mas. Aku mau beli mobil yang sama kaya punya Mas Gun. Aku gak mau kalah, Mas."
"Kamu pikir, mas mau kalah saing sama Masmu yang sok baik itu. Mas gak mau, mas udah kerja mati-matian buat ngumpulin uang."
"Iya, Mas aku juga kesel banget. Pokoknya kita harus kerja lebih keras lagi buat ngumpulin uang, Mas. Kita kalahin Mas Gun."
Dua jam lamanya Eva dan Reno berbincang di kamar tamu. Setelah meluapkan rasa keterkejutannya, Eva keluar dengan perasaan menggebu. Ia melirik tajam tatkala melihat Riska melintas dihadapannya. Hal yang membuat Riska kebingungan adalah saat Eva membuang wajah tepat saat Riska hendak bertanya.
Eva kemudian pergi meninggalkan Riska yang masih keheranan melihat tingkah adik iparnya.
"Mbak kenapa?" tanya Yuni. Yuni yang tiba-tiba muncul cukup mengejutkan Riska.
"Itu, Eva. Dia kaya marah gitu sama mbak, Yun. Perasaan mbak gak buat salah sama dia."
"Apa mungkin marah gara-gara baju dia kemarin, Mbak?"
"Mbak gak tau, Yun."
*****
Setelah pulang ke rumah mertua Riska pun masih memikirkan Eva. Ia benar-benar tak tenang karena di rumah ibunya pun, Eva masih saja acuh. Riska yang selalu bertanya terlebih dulu, selalu dijawab sekenanya oleh Eva.
"Ibu mana, Va?"
"Mana kutahu? Kan, Mbak yang di rumah bukan aku. Orang aku baru datang kok malah tanya sama aku."
"Iya, tadi mbak lihat Ibu ada di depan. Sekarang kok gak ada, siapa tau kamu lihat dia pergi ke mana."
"Gak tau."
Eva pergi begitu saja. Riska yang berjalan ke depan mencari ibu mertuanya, benar-benar merasa aneh. Kini tingkah Eva seperti anak kecil yang marah kepada ibunya.
Saat Eva berjalan ke arah dapur, dia mendapati Gun tengah duduk santai menghadap tivi. Suasana sepi karena keponakannya juga tak terlihat. Ia dekati sang kakak dan duduk di kursi kayu berwarna coklat tua.
"Mas. Aku boleh nanya gak?"
"Tanya apa?"
"Waktu pesta nikahan Yuni kemaren, si Riana bilang kalo mobil yang dibawa Imran itu mobil Mas, apa iya?"
"Iya, itu mobil mas. Kenapa?" Gun menjawab dengan suara datar dengan pandangan yang tak beralih dari layar tivi.
"Kenapa gak Mas pake ke sini? Ibu bakal seneng Mas kalo tau Mas punya mobil mewah begitu."
"Oh, ya? Kenapa seneng? Bukannya Ibu dari dulu juga gak suka dengan mas dan juga Riska? Apa bisa Ibu berubah pikiran setelah lihat mobil milik mas itu?"
Eva terdiam sejenak. Selama ini, ia yang selalu menghasut ibunya soal Riska. Ia menjelek-jelekkan kakak iparnya itu di mata ibunya agar tak mendapat perhatian dari ibunya.
"Bisa Mas. Buktinya aku aja seneng lihat mobil Mas itu. Berati Mas udah sukses, ya, di kota. Mobil gitu pasti harganya mahal."
Sebuah bunyi ponsel terdengar oleh Eva dan Gun. Tanpa menjawab perkataan Eva, Gunawan merogoh kantung celana miliknya dan mengambil ponsel yang berbunyi.
Semula Eva biasa saja, sampai ia melihat gambar apel di belakang ponsel milik kakaknya. Selama ia duduk di depan tivi bersama Gun, ia mendengar pembicaraan mengenai tanah yang akan di bangun apartemen di kota. Ia kembali terbelalak saat mendengar keuntungan yang didapat dari apartemen itu.
"Iya. Saya sudah serahkan semua kepada manager saya di kantor pusat untuk mengurus semua proyek. Sementara, saya ingin berlibur karena sudah cukup lama saya tidak bertemu keluarga di kampung."
Telepon di tutup. Eva yang mendengar semua isi pembicaraan kakaknya itu merasa gelisah. Ia meremas kedua tangannya yang mulai berkeringat.
"Wahh, proyek baru, ya, Mas. Lumayan tuh uangnya." Eva tersenyum pasi.
"Iya, lumayan." Gun masih menjawab sekenanya.
"Ehm, uang Mas banyak, dong. Di ke manain Mas uang sebanyak itu?"
Kali ini Gunawan menatap sang adik yang mulai bertanya hal konyol. Menurut Gunawan, persoalan keuangan keluarganya tak perlu diketahui siapa pun termasuk Eva. Bukan tanpa alasan, ia tahu betul kalau adiknya yang selama ini ia sayangi itu telah menganggap sang kakak adalah saingannya.
"Kamu mau tahu uang itu ke mana? Panti asuhan, panti jompo, masjid, dan sisanya ada di rekening Ibu."
Jantung Eva berdetak kencang saat mendengar kata "Rekening ibu." Jadi, selama ini kakaknya itu sudah memberi uang kepada ibunya tanpa ia ketahui.
"Jadi, selama ini Mas udah kasih uang ke Ibu?"
"Iya."
"Kok aku gak tau, ya?"
"Kamu gak perlu tau. Untuk apa juga kamu tau."
Eva menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangan dari sang kakak.
Bersambung......