Eva berdiri di pojok dapur sembari melihat bajunya yang kotor akibat terkena siraman kopi. Ia merasa kesal karena baru saja berganti pakaian. Terlebih baju yang ia pakai harganya cukup mahal.
"Sial banget, sih."
"Kenapa bisa jatuh, sih kamu? Kenapa gak hati-hati?" Reno suami Eva datang dengan wajah gusar.
"Iya, Mas. Aku kepleset. Kaki aku juga agak lebam."
"Aku gak peduli sama kaki kamu. Baju kamu ini harganya mahal. Awas, ya, kalau kamu minta aku gantiin."
"Lho, kok, awas? Emang kenapa kalo aku minta beliin lagi? Salah?"
"Gak masalah kalo baju yang harganya normal. Baju kamu yang ini harganya mahal. Mana mampu aku. Bisa-bisa kita gak makan satu bulan. Mau kamu?"
Riska yang semula hendak ke dapur mengurungkan niatnya. Kakinya reflek berhenti saat mendengar suara suami istri itu di dapur. Ada rasa bersalah terbesit di hatinya. Meski ia tak sengaja mendengar, Riska tak berniat sedikit pun ingin menguping.
Riska berinisiatif memberikan baju yang ia bawa kepada Eva. Diambilnya gamis berwarna coklat di tas yang ada di kamar Yuni. Sejenak ia memandangi gamis itu. Gamis yang dibelikan Gunawan di butik ternama bahkan belum sempat ia pakai. Sedikit ragu karena itu pemberian suaminya, tapi Riska kembali meyakinkan dirinya. Pun Eva adalah adik Gunawan. Tak apa-apa bila ia memberikan gamis itu.
"Ini. Pakai baju aku aja. Baju kamu kan, kotor."
Eva melirik tajam sembari mencoba membersihkan noda di bajunya. Ia juga mengambil kasar gamis yang ditawarkan oleh Kakak iparnya itu. Beberapa detik kemudian Eva menjatuhkan gamis milik Riska.
"Eh, jatuh. Maaf, ya, Mbak. Aku gak biasa tuh pake gamis murahan. Nanti yang ada kulit aku bisa gatel-gatel. Lebih baik aku pulang dulu aja, daripada harus pinjem baju Mbak. Masa iya, karyawan sukses kaya aku baju aja pinjem."
Riska mengambil gamis miliknya. Ia tak menyangka Eva akan berbuat dan berkata demikian. Meski sang adik ipar adalah wanita karir, nyatanya, untuk membeli baju bermerek saja cukup sulit.
Riska sempat heran karena dari gaya bicara Eva dan Reno yang cukup besar itu, mereka bukan orang yang kekurangan.
*****
Acara ijab kabul antara Yuni dan calon suaminya pun tiba. Yuni yang meminta bantuan kepada kakak sepupu iparnya, sempat dibuat terkejut. Mobil mewah seharga setengah miliar itu tertata rapi di halaman rumahnya. Dengan berhiaskan bunga serta pita di sekeliling mobil merupakan tanda bahwa sang calon pengantin pria menaiki mobil itu.
Eva yang memakai kebaya model terbaru serta Reno yang memakai setelan jas tampak serasi. Lain betul dengan Gunawan dan Riska yang hanya memakai baju Koko dan gamis dengan warna senada. Juga dengan kedua anak mereka.
"Mbak, Mbak tu gak ada baju lain apa selain gamis? Kebaya kaya aku misalnya. Mana modelnya itu-itu aja. Emang gak bosen apa?" Eva berbisik pada Riska yang tengah duduk di sampingnya.
"Baju aku kaya gini semua, Va."
"Mas Gun gak mampu, ya, beliin Mbak baju mahal. Emang berapa gajinya? Kasian banget, sih, Mbak. Beda, sih sama aku." Eva membuka kipas tangan dan mengibaskan ke arah wajahnya.
"Berapa pun gaji Mas Gun, mbak pasti terima kok, Va. Itu semua kan, rejeki. Harus tetap disyukuri." Eva melirik dengan bibir sebelah yang tertekuk ke bawah. Dengan mudah ia menyepelekan soal gaji kakaknya, padahal, gaji Gunawan jauh lebih besar dari gaji Eva bahkan jika digabungkan dengan gaji Reno sekali pun.
"Eh, Riana kamu mau ke mana?" Riana berlari disusul Gilang di belakangnya. Eva yang tadinya sedang mengobrol reflek memanggil kedua keponakannya yang berlari keluar.
"Mau naik mobil, Tante."
"Mobil siapa? Ayah kamu kan, ke sini gak bawa mobil. Ikut sama tante."
"Itu mobil Gilang, Tante." Dengan polosnya anak itu menunjuk mobil berwarna abu tua yang dipinjam suami Yuni.
"Bukan, itu mobil Om Imran. Sini, sini. Jangan buat malu. Banyak tamu itu."
"Bukan, Tante. Itu mobil Gilang. Itu tulisan di belakangnya G 1 LG. Itu mobil Gilang."
Eva melihat plat mobil itu saksama. Ia sempat berpikir perkataan keponakannya itu benar karena plat nomer itu seperti inisial nama Gilang.
"Gilang, Riana sini, Nak. Kita mau foto dulu, Sayang." Riska datang dan mengajak Gilang dan Riana masuk untuk berfoto dengan pengantin. Sementara Eva masih terpaku dengan plat nomer mobil mewah itu.
Tak berapa lama, Eva kembali ke dalam dan berbisik kepada suaminya.
"Mas, plat nomer mobil di depan itu kok, hampir sama kaya nama Gilang, ya? Apa iya itu mobil Mas Gun? Tapi, masa iya? Terus apa hubungannya Mas Gun sama Imran?"
"Gak mungkinlah, Va. Masmu itu mana mampu beli mobil mewah kaya gitu. Kalau itu benar punya Masmu, kenapa gak dia pakai sendiri? Pulang kampung malah bawa mobil butut."
"Iya, juga, ya. Ah, tenang aku jadinya, tapi kenapa plat nomer itu bisa gitu, ya, Mas? Kaya nama Gilang."
"Bisa aja dibuat gitu yang penting ada uang."
Eva kini merasa lega. Mungkin hanya kebetulan plat nomer mobil itu seperti inisial nama keponakannya. Dengan santainya ia kemudian maju ke pelaminan dan bergaya saat difoto dengan kedua mempelai. Ia bahkan tak segan memainkan gelang emas di lengan kanannya berulang kali saat ada yang mengajaknya mengobrol.
"Mbak, Mbak tu gak kepengen apa beli perhiasan? Perempuan itu kan, identik sama perhiasan Mbak. Selain bisa untuk tabungan juga." Tangan ia mainkan dengan lentik bak penari.
"Enggak, Va. Mbak kan, tinggal di kota. Perhiasan seperti yang kamu pakai ini cuma bisa mengundang orang berbuat kriminal. Ini mbak cuma pakai anting sama kalung aja kok."
"Mana Mbak aku lihat."
Riska sebenarnya agak risih karena Eva ingin melihat perhiasan di tengah keramaian tamu undangan. Tak enak rasanya bila ia membuka hijabnya di sana.
"Nanti, ya. Gak enak dilihat orang."
"Alah, bilang aja kalung sama anting Mbak itu emas putih yang murahan itu, kan. Jadi, Mbak malu dilihat orang banyak."
Riska membuang pandangan. Tak dijawabnya perkataan Eva. Meski Riska tak suka barang mewah, tapi pemberian suaminya sangat ia hargai. Termasuk perhiasan mahal, tas, dan juga sepatu. Namun, hanya perhiasan saja yang setia ia kenakan.
*****
Keesokan harinya, Riska dan Gunawan serta Eva dan suaminya sudah terlebih dulu datang ke rumah bibi Maryam untuk membersihkan rumah. Sejak pagi, Riska menunggu Yuni untuk berbicara terus terang kepada ibunya.
"Sekarang kamu udah resmi jadi istri Imran, gak ada yang kamu khawatirin lagi, kan?"
"Iya, Mbak. Aku udah siap."
Yuni mengajak ibunya duduk di ruang tamu beserta Riska dan Imran.
"Kenapa, Yun? Ibu banyak kerjaan, apa gak bisa nunggu nanti?"
"Gak bisa, Bu. Yuni gak bisa bohong lama-lama."
"Bohong apa? kamu bohongi siapa?"
"Maaf, Bu. Sebenarnya saya bukan pemilik swalayan yang tempo hari saya ceritakan. Saya cuma pegawai biasa di sana." Imran memberanikan diri berbicara kepada ibu mertuanya. Ia tak ingin bila istrinya yang bercerita.
"Maksud kamu apa, Imran?"
"Iya, Bu. Saya juga bukan yatim piatu, orang tua saya ada di kampung. Bapak dan ibu saya petani biasa."
"Jadi, maksud kamu, kamu udah bohongi ibu dan keluarga ini, begitu? Dasar gak tau malu. Kamu nikahi anakku dengan berbohong seperti itu? Kamu bangga dengan kelakuanmu itu?"
"Bu, Mas Imran ngelakuin ini karena Ibu nuntut menantu kaya. Yuni cinta sama Mas Imran, Bu. Yuni gak mau siapa-siapa kecuali Mas Imran." Tangis Yuni pecah. Sementara dari arah dapur Eva berjalan setengah berlari ke arah sumber bicara. Ia berdiri di ambang pintu yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga.
"Ya, memang ibu mau kamu nikah sama orang kaya, Yuni. Itu untuk masa depan kamu sendiri. Cinta, cinta, apa bisa makan sama cinta? Apa bisa kamu beli beras dengan cinta?"
"Maaf, Bi. Saya ikut campur sama masalah keluarga Bibi, tapi sedikit banyak saya memang sudah mendukung Yuni dan Imran agar pernikahan mereka lancar tanpa halangan. Imran memang bukan orang yang kaya harta, tapi sedikit banyak saya lihat dia orang yang penyayang, terlebih dengan Yuni. Jadi, apa tidak bisa Bibi memaafkan anak dan menantu Bibi?"
"Riska, kamu udah mendukung mereka buat bohongi bibi. Bibi bener-bener kecewa sama kamu."
"Saya dukung mereka bukan tanpa alasan, Bi. Saya takut apabila Yuni dan Imran berbuat nekad. Bisa-bisa mereka justru bisa membuat malu keluarga Bibi sendiri."
Bibi Maryam diam. Wajah yang semula sedikit memerah akibat marah, kini terlihat kembali seperti semula. Mata yang tadinya tampak berapi-api kini padam kembali.
"Terus mau kamu apa, Yun. Ibu gak mau kamu sama suami kamu menetap di sini. Gak Sudi ibu lihat muka orang yang udah tega bohongi ibunya sendiri."
"Imran sama Yuni akan ikut saya, Bi. Bibi tenang saja."
Yuni masih menangis sampai ia kembali ke kamar ditemani Imran dan juga Riska. Meski ibunya sudah memaafkannya, perkataan yang tak ingin dia ada di rumah itu membuat hatinya terluka.
Sementara Eva terkejut mendengar penuturan Imran. Ia langsung fokus dengan mobil mewah yang katanya milik Imran itu. Barulah kini ia tahu bahwa sebenarnya mobil itu benarlah milik Gunawan, kakaknya.
Bersambung....