Keesokan paginya, Jevan terbangun dengan rasa pusing yang mendera kepalanya. Tangannya terangkat memijit dahinya yang terasa berdenyut-denyut. Merasa ada yang aneh, ia mengangkat sedikit kepala lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafas saat menyadari dirinya sedang dijadikan guling oleh kedua temannya. Siapa lagi mereka jika bukan Gilang dan Tedy yang tertidur di sisi kanan dan kirinya. Tadi malam, Jevan memang memutuskan untuk menginap di apartemen Tedy karena kondisinya yang mabuk berat. Tak mungkin juga ia pulang menyetir mobil seorang diri dengan kondisinya yang mabuk seperti semalam. Jevan mengubah posisinya menjadi duduk lalu menyingkirkan kaki Gilang dan Tedy yang memeluk kedua kaki Jevan. Ia beranjak dari karpet yang menjadi alas tidu

