Adveturer Part 4 Perjalanan

1577 Kata
Membuka matanya perlahan, di ikuti tangan Bayu yang sibuk mencari dimana letak musik box milik Saka yang di nyalakan sekencang ini, apa lagi musiknya hip-hop, membuat telinga Bayu pengang, Beruntungnya Saka sangat baik padanya dengan meletakkan musik box di atas tempat tidur, jadi Bayu tidak perlu kebingungan mencarinya. Melirik jam di dinding setelah berhasil mematikan musik box milik Saka. Bayu langsung terperanjat melihat jam dinding, s**l pukul empat sore, dan dia baru bangun tidur, buru buru Bayu bangkit dari duduknya, pertama-tama dia harus mandi, menata barang barangnya, lalu makan dan pergi ke stasiun. Saka berdiri di depan pintu kamarnya ketika Bayu membuka pintu kamar Saka. “Syukurlah lo udah bangun, baru aja gue mau bangunin lo,” Saka kembali masuk ke kamar Bayu, di ikuti Bayu dengan muka bantalnya. “Gue mandi dulu,” Bayu mausk ke kamar mandinya tidak lupa mengambil baju di lemari kamarnya. Bayu keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar, ahhh rasanya memang sangat segar bangun tidur langsung mandi, rasa kantuk yang semula mendera kini hilang seketika. “Bay, lo mau makan apa?.” Tanya Saka, sepertinya Saka sedang memesan makan untuk mereka. “Pesen dimana?. MCD apa KFC?.” Tanya Bayu. “KCF yang deket,” Balas Saka. “Samain aja, gue mau beres beres dulu,” Bayu mengambil tasnya, namun ternyata sudah tertata rapi. “Kok udah rapi tas gue?.” Tanya Bayu pada Saka dan Daffa. “Saka yang beresin sekaligus masukin camilan di tas lo,” Bayu mengangguk paham. “Thanks Ka,” Ucap Bayu, “Halah,, santai aja kali,” Ucap Saka santai. “Ehhh, si Ghea lo pesenin makan juga kan? Jangan sampe anak orang mati kelaparan di kossan,” Bayu baru ingat jika ada Ghea disini. “Udah,, gue pesen lebih malahan,.” Bayu mengangguk mendengar ucapan Saka barusan. “Kita berangkat jam berapa ke Stasiun?.” Tanya Daffa. “Jam setengah tujuh gimana?, ini malam sabtu jalanan ramai, buat jaga jaga aja,” Saka memberi Saran pada Bayu dan Daffa. “Boleh deh, ngomong ngomong mobil sama motor tetep di taruh di kos atau di titipin?.” Tanya Daffa lagi, pasalnya selama ini mereka tidak pernah pergi lama jadi tidak memusingkan kendaraan mereka, dan ini mungkin menghabiskan waktu hampir sebulan untuk liburan. “Kan disini ada penjaga, dua puluh empat jam, gak sembarangan orang bisa masuk kesini, kalau enggak kasih uang rokok aja buat Pak Hasan, seratus apa dua ratus gitu, udah aman.” Saran Bayu. “Iya,, bener apa kata bayu,” Imbuh Saka. Mereka makan berempat di meja makan depan. Kos kosan tempat tinggal Daffa, Saka, dan Bayu cukup lengkap fasilitasnya, dan memang biasanya mereka bertiga suka makan di meja makan ini karena Daffa bilang kalau makan di kamar bau makanannya masih ada padahal makannya udah habis dan itu memang memang benar, jadi hanya makanan ringan aja yang di makan di kamar. “Ghe,, nihh tambah lagi jangan sungkan.” Saka menawari Ghea makan lagi. Tadi Daffa sempat bilang jadi porsi makan Ghea cukup banyak, makanya Saka agak heran saat melihat Ghea hanya makan sedikit. “Makan seperti biasanya, jangan gengsi,” Tegur Daffa. Daffa tau, Ghea masih sungkan pada Saka dan Bayu. Walau gaya Ghea urakan kaya laki laki, tapi Ghea masih ada rasa sungkan pada orang yang baru di temuinya. Walau ini bukan pertemuan pertama mereka namun Ghea masih memberi jarak pada Saka dan Bayu,. “Thanks,,” Balas Ghea. Ghea langsung mengambil makanan lagi, nasi, ayam, dan nuget. Saka, Bayu, dan Daffa kembali melanjutkan makan mereka. “Ahhhh,, kenyang gue,,” Bayu benar-benar kekeyangan, bukan karena Bayu banyak makan, Cuma Bayu memang suka makan rame rame gini, jadi tanpa sadar Bayu banyak menghabiskan makanan. “Gue juga,,” Sambung Ghea, gimana enggak kenyang coba, dua porsi nasi ayam di tambah nuget, belum lagi air mineral yang Ghea minum cukup banyak. “Huhhhhh,,, duduk dulu ghe, jangan langsung ke kamar yang ujung ujungnya kau rebahan, perutmu perlu mencerna makananmu dengan baik,” Ucapan Daffa barusan menghentikan niat Ghea yang ingin pergi ke kamar Daffa untuk rebahan, lagian enggak ada yang perlu Ghea kerjakan, dan Ghea bosen hanya duduk-duduk enggak ada kerjaan. “Lo suka main psp gak?.” Tanya Bayu pada Ghea langsung saja Ghea mengangguk. “Dari pada lo bosen di kamar, mending lo main psp bareng gue,” Ghea langsung mengangguk dengan semangat. Setengah tujuh taxi yang di pesan Bayu datang, mereka berempat telah siap di depan gerbang, Saka dan Bayu memasukan tas ransel mereka, di bagasi taxi, Ghea dan Daffa masuk terlebih dulu ke dalam mobil juga membawa tas tangan berisi makanan yang di bawa Daffa dari Solo, Daffa sengaja memisahkan makanan yang di buatkan Ibunya, karena Daffa tidak ingin mengambil resiko jika makanan kering itu tumpah di bajunya atau di kameranya itu tambah bahaya. Saka duduk di depan, samping supir, Ghea, Daffa, dan Bayu duduk di belakang. “Wahhh ini pada mau liburan yaa?.” Tanya Supir taxi pada mereka berempat. “Iya Pak, kami mau plesiran mumpung libur kuliah,” Balas Saka. “Maaf nih, kalau boleh tau, memangnya mau liburan kemana?.” Tanya Supir Taxi lagi. “Kita mau ke Papua Barat Pak, mau ke Manokwari, lalu ke Kab. Teluk Bintuni, katanya di sana ada hutan Bakau yang perlu di eksplore, kan sayang ada tempat bagus kalau enggak di kenalkan pada dunia, orang orang harus tau bagaimana bagusnya Papua,.” Kali ini Bayu yang bicara. “Wahhhh,, memang ya, anak muda jaman sekarang, Sukanya liburan, tapi emang ke Papua enggak mahal ya?,” Tanya Supir taxi lagi. “Enggak Pak,, kita naik kapal laut, jadi agak murah dikit Pak,” Balas Saka. “Ohhhh,,” Supir taxi hanya berohhh ria. Lalu keadaan hening seketika, tidak tau apa yang akan mereka bicarakan lagi. Stasiun Lempuyangan cukup ramai, banyak anak anak muda sepertinya ingin pergi liburan atau mungkin mendaki melihat pakaian dan tas ransel yang mereka bawa atau mereka letakkan di samping tempat duduk mereka. “Gue sama Saka cetak tiket dulu. Kalian berdua cari tempat duduk.” Daffa dan Ghea mengangguk. Mendengar perintah dari Bayu. Bayu berjalan di ikuti Saka di belakangnya, saat ini stasuin Lempuyangan cukup ramai, untuk cetak tiket keberangkatan aja harus antre cukup lama, padahal biasanya jarang sekali antre se panjang ini. “Ka, lo cari sebelah sana deh, gue disini, kalau duluan lo, lo panggil gue,” Saka mengangguk mendengar saran dari Bayu. Saka mencari beberapa mesin cetak tiket yang sekiranya agak lenggang. Setelah menunggu sepuluh menitan, Saka berhasil mencetak tiketnya, sebelumnya Saka menghubungi Bayu untuk datang ke antrean yang di tempati Saka karena tidak banyak yang mencetak tiket jadi cukup cepat antreannya. “Udah jam tujuh kurang, kit acari Ghea dan Daffa,.” Ajak Saka pada bayu. Mereka berdua mencari Daffa dan Ghea namun mereka berdua tidak terlihat batang hidungnya, kemana perginya Ghea dan Daffa coba. “Telfon aja deh mereka dimana.” Saran Bayu pada Saka. “Gue telfon mereka,” Saka, mencoba menelfon Daffa namun tidak di angkat, s**l,, sebenarnya kemana Daffa dan Ghea. “Telfon Ghea coba,” Perintah Bayu. “Gue, enggak ada nomernya Ghea.” Balas Saka. “Gue telfon Ghea,” Bayu menelfon Ghea, namun hanya berdering. Sebenarnya kemana mereka berdua, bikin panik aja,. “Ehhhh,, tunggu, itu Daffa bukan sih, di minimarket?.” Saka menunjuk seorang laki laki dengan beanie putih,. “kayaknya iya,, samperin dulu aja,” Ajak Bayu. Bayu berjalan terlebih dulu di ikuti Saka di belakang Bayu. Bayu tidak jadi masuk ke minimarket karena Daffa dan Ghea telah selesai membayar belanjaan mereka. “Bayu, Saka, udah lama kalian disini?.” Tanya Daffa ketika melihat kedua temannya di depan minimarket. “Gue nyariin lo dari tadi, hp lo dimana sih, di telfon enggak di jawab, lo, bikin panik aja,” Bayu mengomeli Daffa,. “Sorry, tadi Ghea minta di temenin beli keperluan perempuan, dia lupa beli tadi siang.” Ucap Daffa, Saka dan Bayu yang paham apa maksud Daffa hanya mengangguk. “Ehmm,,, Ghe, lo enggak mau ganti dulu?.” Tanya Saka, sedikit enggak enak dengan Ghea. “Hah,, ohhh itu,, gak kok,, ini buat jaga jaga aja.” Saka mengangguk paham dengan ucapan Ghea barusan. “Kita Check in aja, tinggal lima belas menit lagi, takutnya kita gak bisa check in saking banyaknya orang masuk,” Ajak Saka. “Ayooo,,” Sambung Daffa,. Mereka berempat langsung berjalan menuju tempat pengecekan tiket kereta api. Benar apa kata Saka, antreannya cukup banyak, telat sedikit mungkin akan bertambah panjang ini antreannya. Menunggu di tempat duduk, Ghea bersender di bahu Daffa, perutnya tiba tiba sakit, ahhhh,, datang bulan memang cukup menganggungnya, kalau begini terus gimana mau menikmati liburannya coba. “Ghe, lo baik baik aja??.” Tanya Bayu yang menyadari jika Ghea dalam keadaan tidak baik baik saja. “Gue gak papa, santai aja.” Balas Ghea pelan. “Nihh,, minyak kayu putih, walau enggak bantu banyak setidaknya ini bisa mengurangi rasa sakitmu.” Saka menyerahkan minyak kayu putih yang ada di tasnya pada Ghea. “Thanks,” Ucap Ghea pelan yang hanya di balas anggukan Saka. Beberapa orang melirik Saka, Bayu dan Daffa, juga perempuan yang duduk di samping Daffa. Saking banyaknya mahasiswa UGM di Jogja, kemana pergi sering berpapasan atau terkadang memiliki tujuan yang sama dengan mahasiswa yang lain, di tambah wajah tampan Daffa, Saka dan Bayu membuat mereka terkenal di kalangan mahasiswi, apa lagi Bayu yang suka jalan sana sini sama cewek tapi tidak ada yang nyantol, atau Daffa si cowok goodboy yang banyak di incar cewek cewek matre saking polosnya Daffa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN