Adventurer Part 3 Persiapan

1309 Kata
Siang ini, Daffa menjemput Ghea di Hotel, mereka harus belanja beberapa kebutuhan yang belum sempat mereka beli di Solo. Kedatangan Daffa dan Ghea membuat beberapa orang keheranan, lebih tepatnya orang yang mengenal Daffa, pasalnya selama ini, jarang bahkan hampir tidak pernah ada yang melihat Daffa jalan bersama cewek. “Kok,, gue ngerasa ada yang aneh sejak masuk ke tempat ini,” Bisik Ghea di telinga Daffa, saat mereka sedang memilih roti tawar. “Hah? Biasa aja sih, gak usah di tanggepin,” Ucap Daffa santai. “Ishhhh, suka banget kepo sama hidup orang, mungkin hidupnya enggak menarik kali, makanya orang orang itu melihat kita berdua,” Ghea bukan orang yang suka menjadi pusat perhatian, dan Ghea sangat risih dengan keadaan saat ini, mau tidak mau Ghea harus bertindak seorang diri, mengandalkan Daffa yang bodo amat pada lingkungan sekitar tidak akan mendapatkan apa apa, yang ada Ghea semakin tertekan. “Ghe,,, gak usah ribut, mending kamu pilih ice cream, tadi pengen makan ice cream,.” Ghea mengangguk, tanpa di suruh dua kali, Ghea langsung pergi meninggalkan Daffa. Daffa mengambil beberapa sandwich siap makan, air mineral, minuman kopi botol mengingat Saka dan Bayu suka minum kopi. Menunggu Ghea tidak kunjung kembali akhirnya, Daffa pergi ke tempat lain, Daffa butuh minyak kayu putih, tolak angin, dan obat anti mual muntah, , perjalanan mereka naik kapal, siapa tau ada yang mabuk laut dan butuh obat obatan, tidak lupa membeli masker untuk jaga jaga karena polusi udara saat ini cukup banyak dan Daffa paling tidak suka dengan bau bau yang menyengat, makanya kudu sedia masker tiap waktu. “Daffa, gue cariin juga,,” Ghea meletakkan ice cream dan beberapa camilan di troli belanjaan mereka. “Lama nungguin kamu,” Balas Daffa. “Ada yang mau di beli lagi engggak?.” Tanya Daffa. Langsung di hadiahi gelengan kepala Ghea. “Yaudah, kita langsung bayar.” Daffa mendorong troli berisi belanjaan mereka, di ikuti Ghea di belakang Daffa karena cukup ramai orang berbelanja di tambah ini hari jumat, menjelang akhir pekan banyak orang yang berbelanja mengisi persediaan akhir pekan mereka. Ghea menenteng satu plastik berisi ice creamnya, sementara Daffa mendorong troli, ternyata belanjaan mereka cukup banyak dan Daffa malas menenteng belanjaannya makanya Daffa membawa troli hingga ke parkiran. ***** Saka dan Bayu baru saja selesai berkemas, satu ransel cukup besar berisi beberapa potong baju, keperluan mandi, sendal jepit, mie instan, dan air mineral di kantong samping, masih ada sisa untuk menaruh barang barang yang di beli Daffa karena makanan yang di beli Bayu dan Saka semalam hampir habis di makan mareka bertiga saat main psp. “Bay, kereta berangkat jam berapa?.” Tanya Saka. “Gue pindah jadwal, jam setengah delapan malam, biar sampe sana malam, kapal berangkat sabtu sore jadi kita masih ada waktu buat plesiran di Surabaya. “Gue kira jadi berangkat sore.” Ucap Saka. “Ada Ghea, dan jam keberangkatakan setengah tiga kalo gak salah kemarin udah penuh, makanya gue ganti jam setengah delapan malam.” Bayu menjelaskan perihal pergantian jam keberangkatan kereta ke Surabaya. “Syukur deh masih ada waktu, gue mau tidur dulu,” Tadi setelah mereka bertiga selesai Sholat Jumat, Daffa menjemput Ghea dan pergi belanja sementara Saka dan Bayu sibuk packing barang-barang mereka, jangan tanya Daffa udah packing apa belum, jawabannya tentu aja sudah sejak tadi pagi, bangun tidur Daffa langsung menata mana saja pakaian dan barang barang yang akan di bawanya ke Papua. Saka langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur, meninggalkan Bayu yang terjaga seorang diri sembari menunggu Daffa dan Ghea datang, tapi kok mereka lama datangnya. Bayu ikutan ngantuk karena enggak ada teman ngobrol pada akhirnya Bayu menarik kasur yang berada di bawah, merebahkan tubuhnya di kasur, dan langsung terlelap. Daffa dan Ghea tiba di kossan, keadaan kossan cukup sepi, apa lagi siang hari gini, tambah sepi penghuninya memang banyak yang pulang ke rumah masing-masing karena libur semester. Ghea mengikuti Langkah Daffa masuk kedalam kos-kosan Daffa. “Ghe, kamu di kamar aku dulu, aku ambil barang barang di mobil.” Ghea hanya mengangguk,. Ghea terkesima dengan kamar Daffa yang sangat rapi, bahkan kamarnya di Solo saja kalah jauh. Daffa memang benar benar pencinta kerapian. Merebahkan tubuhnya di tempat tidur karena Ghea malas untuk membantu Daffa mengambil barang barang belanjaan mereka. Daffa membawa belanjaannya seorang diri, melihat motor Bayu dan mobil Saka, sepertinya mereka ada di kos tapi kemana mereka?, apa mereka tidur siang? Tapi tumben, biasanya jarang banget mereka tidur siang, Daffa menerka-nerka kemana perginya dua orang itu. Dari pada penasaran, Daffa langsung membuka kamar Bayu namun kamar Bayu tidak ada siapa siapa, hanya ada tas ransel yang mungkin baru selesai di beresi. Satu satunya tempat yang belum Daffa lihat yakni kamar Saka, yang berada di depan kamar Bayu. Membuka pintu kamar Saka pelan pelan, Daffa melihat Bayu dan Saka tertidur. Daffa kembali menutup pintu kamar Saka, Daffa yang juga lelah memutuskan untuk tidur di kamar Bayu karena kamarnya ada Ghea. **** Saka bangun ketika mendengar suara azan ashar, melirik jam yang menempel di dinding, ternyata sudah jam tiga sore. Saka duduk, sembari mengusap usap wajahnya, siapa tau ada iler yang nempel di wajah tampannya bisa turun pamor. Ponsel Saka tiba tiba berdering saat Saka ingin berdiri. Mama. Menghela nafasnya sebentar, Saka mengambil ponselnya. Saka tidak mau mengganggu tidur Bayu memilih untuk menerima panggilan dari Mamanya di luar. “Assalamualaikum Ma, ada apa? tumben Mama telfon Saka?.” Tanya Saka langsung. “Waalaikumsalam Nak, Mama hanya kangen denganmu, kapan kamu kembali ke Salatiga?, Mama gak sabar pengen masakin kamu makanan kesukaanmu,” Tanya Mamanya Saka, Anisa Hartina. “Ma, Saka masih ada kerjaan, jadi Saka belum bisa pulang, Mama jangan lupa jaga Kesehatan, Saka enggak mau Mama sakit lagi,” Ucap Saka,. “Kenapa Nak? Kamu belum bisa menerima ini semua? Disini Mama juga terluka, bukan hanya kamu. Mama ingin kamu berdamai dengan semuanya, jangan seperti ini, Mama tidak mau kau hidup penuh dengan dendam dan kebencian,” Anisa memberi nasihat pada Saka. “Ma, Saka enggak bisa, maafin Saka buat Mama kecewa,.” Tanpa bicara lagi, Saka langsung mematikan sambungan telfonnya. Bangkit dari duduknya, Saka memilih untuk mandi dan bersiap siap untuk berangkat ke Surabaya nanti malam. Saka membangunkan Bayu dan Daffa bergantian, karena mereka harus mandi dan juga Sholat Ashar sebelum waktunya habis namun Bayu yang paling susah di bangunkan berbeda dengan Daffa yang langsung bangun ketika di bangunkan, Saka harus menyalakan musik cukup kencang untuk membangunkan Bayu, beruntung kamar Saka dan Bayu di buat kedap suara jadi tidak menganggu anak kos yang lainnya jika Saka membangunkan Bayu dengan menyalakan musik. Saka kembali menata tasnya, mengisi barang barang yang di beli Daffa tadi siang di kamar Bayu, kuping Saka bisa pengang mendengar suara musik kencang lama lama jika di berada di kamarnya. “Bayu belum bangun?.” Tanya Daffa, Daffa baru saja selesai mandi di kamar mandi milik Bayu, tadi hanya masuk ke kamarnya untuk mengambil baju sekalian membangunkan Ghea yang juga kebo, sebelas dua belas lah sama Bayu. “Belum, musiknya masih nyala gitu,” Balas Saka sambil memasukan roti dan minuman kopi di tasnya. “Kita jadi berangkat jam berapa? Katanya di undur sama Bayu?.” Tanya Daffa lagi, “Jam setengah delapan keretanya berangkat, seharusnya kita berangkat sore tadi, tapi tiketnya udah habis, untungnya malam ini masih ada kursi untuk kita berempat,” Jelas Saka. “Syukurlah, Sorry gara gara aku ngajak Ghea jadi merepotkan kalian berdua,” Daffa meminta maaf pada Saka. “Tidak perlu minta maaf Daff, bukannya semakin banyak orang yang ikut, akan semakin seru,” Saka menepuk Pundak Daffa. Menenangkan Daffa. “Thanks, Saka,” Ucap Daffa penuh arti. “Udahh,, udahhh,,, mending selesaikan mengemasi barang barangmu, lalu kita cari makan, jangan sampai mepet beli makan karena diantara kita tidak ada yang suka makan terburu buru,” Daffa mengangguk, benar juga ini sudah jam empat, Ghea mungkin baru mandi dan Bayu, entah, dia sudah bangun atau belum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN