Agneta merasa terganggu tidurnya, karena di sebelahnya tampak bergerak gelisah. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menoleh ke sampingnya. Ternyata Dave tertidur dengan gelisah, peluh tampak membanjiri pelipisnya. Agneta segera bangun dan menyalakan lampu tidur. Ia menepuk pelan kedua pipi Dave. “Dave bangun Dave!” Hanya suara erangan menyakitkan yang keluar dari bibirnya. Keringat sebesar biji jagung tampak sudah memenuhi pelipisnya. “Dave, bangun Dave!” Dave menangkap pergelangan tangan Agneta yang hendak menyentuh keningnya, dan mata abu gelap itu sudah terbuka kini beradu dengan mata hitam milik Agneta. Dave menjauhkan tangan Agneta dan ia beranjak dari rebahannya. Ia duduk memunggungi Agneta yang tampak kebingungan

