Rumah Sakit Universitas Pitie Salpetriere (Paris)
Hari kedua Jasmine di rawat inap, Dariel sampai tidak kerja. Dengan setianya, Dariel menemani sang – istri di rumah sakit. Tak peduli dengan keadaan Jasmine yang sudah tidak bisa memberikan dia pewaris, cintanya kepada Jasmine sangat tulus.
“Sayang ... kamu janji ya! Kamu jangan pernah meninggalkan aku, meskipun aku sudah tidak bisa memberikan kamu keturunan,” ucap Jasmine lirih.
Jasmine memegang kedua tangan Dariel, dia sangat takut Dariel berpaling darinya. Mencari wanita lain agar bisa memiliki pewaris, sebab Dariel adalah putra tunggal.
“Aku janji, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu,” ucap Dariel tulus seraya mencium tangan Jasmine.
“Aku takut .... “ Kedua mata Jasmine sudah berkaca-kaca, Jasmine semakin erat saja memegang tangan suaminya.
“Jangan takut, Sayang. Percayalah ... selamanya, aku akan selalu bersamamu. Soal anak, kita bisa adopsi,” ucap Dariel.
Jasmine melihat ketulusan dimata Dariel. Senyuman terukir disudut bibir wanita yang baru saja kehilangan janin serta kehilangan rahimnya.
“Dariel. Ikut Mommy sebentar,” ucap Nyonya Retha yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.
Tentu saja, Nyonya Retha mendengar jelas percakapan Dariel dengan Jasmine. Sungguh sangat menyebalkan.
“Iya, Mom,” sahut Dariel.
Jasmine melepaskan genggaman tangannya yang memegang tangan suaminya.
“Aku keluar dulu, ya. Nanti, aku kesini lagi,” ucap Dariel seraya mencium kening Jasmine.
“Oke, Sayang.”
Lekas, Dariel segera keluar dari ruangan tersebut. Dia menyusul Mommy-nya ke ruang tunggu, sang – Mommy sudah duduk di sana.
“Ada apa, Mom?” tanga Dariel.
“Duduklah ..., “ titah Nyonya Retha.
Dariel menurut. Lekas, dia duduk di sebelah Mommy-nya.
“Dariel ... malam ini, kau herus menikah lagi. Mommy sudah memilih wanitanya, jadi malam ini kau datang ke tempat yang sudah Mommy siapkan.”
“Hah? Menikah lagi? Mom ... sorry, Dariel tidak mungkin menikah lagi. Cinta Dariel hanya untuk Jasmine,” ucap Dariel tegas, dia menolak langsung permintaan Mommy-nya.
“Cih! Cinta? Makan tuh cinta, Dariel. Kau hanya menikah kontrak dengan wanita yang Mommy pilih. Mommy ingin punya cucu, Dariel. Kau lupa, hah? Kau ini anak tunggal, jadi kau harus memberikan Mommy dan Daddy pewaris. Jadi ... Mommy tidak mau tahu, malam ini kau harus menikah dengan wanita itu. Lagipula, kau tidak perlu meninggalkan Jasmine.”
Dariel terdiam. Sepertinya dia tengah mempertimbangkan permintaan Mommy-nya.
“Siapa wanita itu?” tanya Dariel, “apakah dia mau dijadikan istri kedua?”
“Nanti kau juga akan tahu. Hmmm ... tentu saja dia mau. Siapa yang tidak mau menikah denganmu, Dariel? Apalagi ... Mommy sudah membayar dia mahal.”
Dariel tersenyum tipis, dalam hatinya berkata, ‘Dasar wanita mura – han.’
“Tapi ... maaf, Dariel tetap tidak mau!” tolak Dariel.
Lekas, Dariel beranjak berdiri. Ia meninggalkan Nyonya Retha, Dariel kembali masuk ke ruang rawat istrinya.
“Anak itu!” Nyonya Retha menghela napas pelan, hembusan napasnya terdengar kasar.
Terus, Nyonya Retha akan diam saja? Tentu saja tidak!
Mension Ethelwyn
"Dariel. Cepat kamu pulang!" titah Nyonya Retha Ethelwyn kepada Dariel — putranya lewat telepon, "Daddy kamu jatuh di kamar mandi."
"Hah?"
Dariel langsung mematikan teleponnya, tanpa permisi kepada Jasmine, buru-buru Dariel ke luar dari ruang rawat.
'Ada apa dengan Dariel? Kok dia panik kayak gitu?' gumam Jasmine.
Tak butuh waktu lama, Dariel sampai juga di Mension. Dengan langkah tergesa-gesa, Dariel langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar orangtuanya.
Terlihat, Tuan Dave Ethelwyn terbaring lemah di atas ranjang. Namun, ada seorang Dokter yang tengah memberikannya.
“Mom, kenapa Daddy bisa jatuh di kamar mandi?” tanya Dariel, duduk di ujung kasur. Dia menatap nanar wajah Daddy-nya yang masih belum sadarkan diri.
“Tensi darahnya naik, Tuan Muda Dariel, kolesterolnya juga sama lagi naik,” ujar sang – Dokter.
“Ya Tuhan .... “
Dariel memegang sebelah tangan Tuan Dave, baru kali ini dirinya melihat Daddy-nya selemah ini.
“Saya sudah buatkan resep obatnya Nyonya. Semoga Tuan Dave lekas sembuh,” ujar Dokter Lutfhy.
“Iya, Dok. Terima kasih,” kata Nyonya Retha.
Dokter Lutfhy ke luar. Tuan Dave perlahan membuka matanya.
“Dariel ..., “ panggil Tuan Dave, nada suaranya terdengar berat.
“Iya, Dad,” sahut Dariel.
“Waktu Daddy sudah tidak lama lagi. Maka Daddy sangat mohon, berikan Daddy cucu,” pinta Tuan Dave, suaranya masih terdengar parau.
“Dad .... “ Dariel memegang kedua tangan Tuan Dave. “Maaf, Dariel tidak bisa memenuhi permintaan Daddy. Jasmine – dia sudah tidak punya rahim,” ucap Dariel lirih.
“Jangan bodoh kamu, Putraku. Kau masih normal, kau bisa mencari wanita lain untuk menaruhkan benihmu,” ujar Tuan Dave.
Nyonya Retha hanya diam, namun sesekali senyuman kecil terukir di sudut bibirnya.
“Tidak bisa, Dad!” Dariel tetap menolak.
“Why? Kau hanya menikahi wanita itu sampai dia memberikan keturunan.” Tuan Dave akan terus menekan Dariel, “waktu Daddy sudah tidak banyak, Dariel. Kau mau menyesal seumur hidupmu karena kau tidak bisa memberikan Daddy cucu sedarah?”
“Dad, ta-tapi?”
“Dariel. Apa yang tadi Mommy katakan sama kamu. Kau tidak harus meninggalkan Si Jasmine, Kau tidak kasihan sama Daddy-mu?” kata Nyonya Retha seraya melipatkan kedua tangannya di atas d**a.
Dariel terdiam, hembusan napasnya terdengar kasar.
Dariel kembali menatap nanar Tuan Dave. “Baik, tapi ada satu syarat.”
“Apa syaratnya?” tanya Nyonya Retha.
“Jangan sampai Jasmine tahu jika Dariel menikah lagi,” pinta Dariel.
“Mana bisa begitu, Putraku!” sahut Tuan Dave, “disaat istri rahasiamu hamil, disaat itu pula Jasmine harus pura-pura hamil. Tidak ada yang tahu’ kan tentang rahim Jasmine yang diangkat?” lanjutnya.
Dariel terdiam. Dia memikirkan perasaan Jasmine kelak tahu tentang dirinya yang akan menikah lagi hanya demi untuk mendapatkan keturunan.
“Sudahlah ... kau jangan terlalu memikirkan perasaan Jasmine. Malam ini, kau harus menikah dengan wanita yang sudah Mommy bayar,” ucap Nyonya Retha.
Lagi, Dariel menghembuskan napas kasar. “Siapa wanita itu?”
Dariel sangat penasaran sekali, siapa gerangan wanita yang sudah Mommy-nya bayar untuk menjadi istri rahasianya.
“Yang pasti, kau sudah mengenalnya.”
Bahkan, Tuan Dave sendiri tidak tahu tentang wanita yang sudah dibayar istrinya.
“Bukan wanita nakal’ kan, Mom? Atau night Butterfly Woman?” tanya Tuan Dave.
“Bukan! Dia gadis baik-baik sepertinya,” jawab Nyonya Retha.
‘Cih! Wanita baik-baik? Kalau dia memang wanita baik-baik, mana mau dia menukar harga dirinya dengan uang,’ batin Dariel.