Dua belas tahun lalu ….
Sebuah jeritan terdengar dari halaman rumah besar itu ketika sebuah tembakan terdengar memecah keheningan siang yang mendadak menjadi gaduh itu. Seorang pria segera melempar senjata api yang dipegangnya demi menolong istrinya yang terkapar bersimbah darah.
“Dewiiiii!!” terdengar teriakan pria itu yang meraup tubuh istrinya. Tubuh perempuan itu sudah bersimbah darah karena tembakan tak sengaja itu tepat mengenai dadanya.
Sementara si penembak perempuan itu tertegun ketika mendapat kenyataan bahwa dialah yang telah membunuh perempuan itu. Dewi, adik tiri kesayangannya sejak kecil itu kini tewas bersimbah darah karena perbuatannya yang menembak dengan membabi buta. Padahal tujuannya tidak untuk menembak Dewi, melainkan Surya, suami Dewi.
Karena tidak kuat menahan emosi dan rasa bersalahnya yang cukup besar, si penembak itu malah mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah kepalanya sendiri. Tak sempat dicegah, pria itu menembak kepalanya sendiri hingga kemudian dia pun tewas bersimbah darah.
“Ayah!!” teriakan seorang anak lelaki ABG yang hendak mendekati si pria bunuh diri itu dicegah oleh laki-laki lain yang juga berada di tempat itu.
“Jangan mendekat! Kita pulang! Om akan mengurus semuanya!” cegah si pria kemudian memaksa anak lelaki itu untuk menjauh.
Si anak lelaki itu meraung hendak membangkang dan ingin mendekati ayahnya yang tewas, tetapi si pria lebih kuat memegang dan menghelanya untuk meninggalkan tempat ini sebelum polisi datang dan mengusut semuanya. Pria itu segera mengajak anak tadi masuk ke mobilnya dan segera meminta sopir untuk melarikan mobilnya meninggalkan tempat ini.
“Diamlah! Kamu harus tenang. Percayalah, kita akan membalas kematian ayahmu bersama-sama!” Si pria membujuk si anak kecil yang dijawab dengan anggukan.
Wajah tampannya yang bersimbah air mata terlihat menyorotkan kebencian dan dendam yang tajam. Si pria dewasa tersenyum. Sebuah api dendam telah terpantik di pikiran si anak lelaki, tinggal bagaimana mengolahnya menjadi bara dendam yang terus berkobar dan membakar keluarga Wijaya hingga hangus dan lenyap dari kota ini.
Untuk selanjutnya, semua bisnis properti kota ini akan dikuasainya dengan mudah karena Surya dan seluruh anak buahnya akan disingkirkannya segera. Senyum si pria tersungging manis sekaligus sinis. Dia kemudian menoleh ke arah anak lelaki yang duduk di sebelahnya itu.
Mobil melaju cepat meninggalkan lokasi penembakan itu. Di tengah jalan mereka bahkan berpapasan dengan mobil polisi yang bergerak cepat menuju ke tempat kejadian perkara, namun si pria mengabaikannya dan menyuruh supir untuk segera mempercepat laju kendaraannya.
Sementara itu, di tempat kejadian perkara penembakan itu, semua orang terlihat kalang kabut dan panik. Apalagi setelah polisi datang mengurus semuanya. Rumah itu akhirnya disegel polisi untuk upaya pengusutan. Si lelaki yang masih meraung menangisi istrinya yang tewas tertembak, kelihatan masih kalut saat polisi menginterogasinya. Bahkan, seluruh pekerja di rumah ini semuanya dimintai keterangan terkait kasus ini.
Namun, di sisi tersembunyi rumah ini, seorang perempuan muda mendekap erat seorang anak kecil yang seperti shock sehingga hanya terbengong karena dia menjadi saksi penembakan itu. Dia, gadis kecil ini, menjerit kencang saat melihat ibunya tertembak. Namun, pengasuh yang menemaninya setiap hari itu menarik si gadis kecil agar tidak mendekat agar tidak jadi sasaran keributan itu.
Neta, si pengasuh itu, segera memeluk dan mendekap Naira, si gadis kecil ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat, meredakan jeritannya dan tangisnya agar tidak terlihat oleh lalu lalang polisi dan pihak berwenang dalam kasus ini.
Neta ingat dengan pesan Pak Surya, ayah Naira, agar jika terjadi keributan, maka Neta harus menyelamatkan Naira secepatnya. Menjauhkan Naira dari hal apapun yang bisa membahayakan gadis kecil berusia lima tahun itu.
“Naira … kamu diam ya, Sayang. Kita … kita akan pergi meninggalkan rumah ini ke tempat yang aman. Nanti kalau situasi sudah membaik, kita akan menghubungi ayahmu. Oke?” pinta Neta.
Naira yang masih shock itu bahkan hanya terdiam, tidak menangis pun juga tidak menjawab. Dia hanya terdiam, pikiran gadis kecil ini seolah kosong. Maka dengan cepat, Neta menggendong Naira meninggalkan tempat ini dan pergi melalui pintu belakang yang tersembunyi di balik pohon perdu yang sengaja dibuat untuk menutup pintu gerbang kecil di belakang bangunan besar ini.
***
Suasana di rumah Ruiz terlihat lengang sebagaimana biasanya. Namun, beberapa orang penjaga selalu siap siaga di beberapa titik vital di rumah berpagar tinggi ini ketika Ruiz datang. Dua orang penjaga datang menyambut Ruiz dengan sikapnya yang tegas dan terlatih. Mereka membuka pintu mobil Ruiz dan memberi kesempatan pada majikannya itu untuk keluar dengan nyaman. Ruiz lantas memerintahkan pada penjaganya agar membuka pintu juga untuk anak lelaki yang dibawanya itu.
“Kita turun! Rumahmu sekarang di sini!” ajar Ruiz pada anak lelaki berusia lima belas tahun itu dan mengajaknya turun.
Anak lelaki itu hanya ikut dengan apa kata pria yang sudah menyelamatkannya dari suasana mencekam beberapa saat tadi. Masih terbayang di kepalanya bagaimana peristiwa mencekam tadi begitu menakutkan. Namun, anak lelaki itu menyesal karena laki-laki yang mengajaknya ke sini ini tidak bisa menyelamatkan ayahnya. Si anak lelaki terlihat masih linglung karena masih shock ketika ingat ayahnya yang terkapar bersimbah darah tadi.
Kemudian dengan tenang, Ruiz menggiring si anak lelaki itu memasuki rumahnya. Seorang anak perempuan cantik berlari menyambutnya dengan ceria, diikuti oleh Tina, pengasuhnya.
“Ayah! Ayah sudah pulang?” tanya Lita, gadis kecil cantik nan ceria itu.
Ruiz tersenyum dan jongkok untuk menyambut gadis kecilnya.
“Ya, Ayah sudah pulang. Lihat siapa yang Ayah bawa pulang ini,” ujar Ruiz sambil menunjuk ke arah si anak lelaki yang masih saja berwajah muram.
Lita menoleh ke arah si anak lelaki yang menunduk itu dan mengamatinya dengan teliti.
“Siapa dia, Ayah? Dan mengapa dia menangis?” tanya Lita sambil masih tetap memeluk Ruiz.
Ruis tersenyum manis pada anak gadisnya. Namun, wajahnya kemudian terlihat tegas ketika dia mengalihkan tatapan matanya pada si anak lelaki.
“Biarlah hari ini dia memuaskan tangisnya. Karena mulai besok, dia akan menjadi laki-laki yang tegas, yang tidak mengenal belas kasihan dan air mata!” jawab Ruiz dengan ketegasan yang menakutkan.
“Apakah aku boleh berkenalan dan berteman dengannya, Ayah?” tanya Lita lagi. Dia mendongak, menatap mata Ruiz yang tinggi menjulang di sebelahnya.
Ruiz tersenyum kemudian mengangguk. Kemudian tanpa disuruh, anak gadis itu turun dari pelukannya dan berjalan pelan mendekati si anak lelaki. Kemudian dengan manisnya mengulurkan tangannya kepada si anak lelaki.
“Namaku Lita. Bolehkah kita berkenalan?” tanya Lita ketika dia mengulurkan tangannya pada anak laki-laki itu.
Anak itu mengangguk canggung.
“Siapa namamu?” tanya Lita.
Anak lelaki itu seperti orang linglung yang tak punya simpanan kalimat apapun untuk menjawab pertanyaan Lita. Dia malah mendongak, menatap Ruiz yang juga menatapnya.
“Zafran. Mulai hari ini, namanya adalah Zafran!” Ruiz menjawab tegas dengan mata menatap tegas ke arah anak kecil yang diberinya nama Zafran itu.
Lita dengan cepat meraih tangan Zafran dan menjabatnya penuh senyum persahabatan.
“Mulai hari ini, kita adalah teman,” ujar Lita dengan senyum polosnya, memamerkan gigi-giginya yang rapi.
Sementara Zafran masih saja seperti patung.
***