PERMINTAAN NAYRA

1027 Kata
Dan kini, dua belas tahun itu terasa begitu cepat berlalu. Zafran yang kini menjadi pria tampan dan menawan karena kesannya tidak banyak bicara, membuat Lita semakin tergila-gila. Namun, ia tidak berani mengatakannya secara terus terang karena Lita merasa Zafran juga mencintainya. Tentu saja, Lita tidak salah jika sampai pada kesimpulan tersebut karena Lita adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Zafran selama ini. Hal ini membuat Lita berkesimpulan bahwa Zafran juga menyukainya. Bukan sebagai seorang kakak kepada adiknya, seperti yang selalu diingatkan Ruiz, tapi sebagai laki-laki kepada perempuan. "Kita mau ke mall mana?" tanya Zaf ketika mereka sampai di tengah perjalanan. Zaf tahu bahwa Lita sedang merajuk, jadi dia memilih untuk lebih banyak diam untuk memberikan waktu bagi Lita untuk meredam amarahnya. "Mega Mall," jawab Lita singkat sambil melihat ke arah jalan. Zaf hanya mengangguk dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Padahal di hari-hari biasa, saat Lita tidak merajuk seperti ini, ia akan sangat manja dengan Zafran. Tidak sekali dua kali ia menempel padanya dengan genit, entah di depan Ruiz atau tidak. Ketika Lita sedang tidak enak hati dengan teman-temannya, ia tidak segan-segan pergi ke kamar Zaf untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Zaf mendengarkan, dan itu cukup melegakan bagi Lita. "Kamu memang adikku yang paling kusayangi." Itu selalu menjadi pujian yang selalu diutarakan Lita saat ia merasa lega setelah mengungkapkan perasaannya. Zaf hanya bisa tersenyum ketika Lita seperti itu. Itu berarti suasana hati Lita sudah membaik. Namun, Lita menjadi manja dengan meminta tidur di kamar Zaf setiap kali setelah menceritakan keluh kesahnya. Pada awalnya, Zaf menolak permintaan tersebut karena bagaimanapun juga, mereka adalah pria dan wanita yang sudah dewasa. Zaf mungkin sudah bisa menahan semua keinginan yang mungkin muncul saat mereka bersama, mengingat kedekatan mereka sejak kecil. Tapi bagaimana jika Lita menggodanya? Karena bukan sekali dua kali Lita mencoba mendekatinya secara fisik. Sejauh ini, Zafran masih bisa menghindar dan menolaknya secara halus. "Kita sudah sampai, Nona Cantik," ujar Zaf ketika ia sudah mematikan mesin mobilnya di parkiran Mega Mall sementara Lita belum juga berniat untuk turun. Entah apa yang dilakukan Lita, sehingga ia tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di Mega Mall. Lita tergagap ketika melihat tangan Zafran terulur untuk mengajaknya turun. "Kita mau beli baju, kan?" Zaf bertanya dengan wajah ramah. Lita mengangguk dengan wajah cemberut tapi tidak menolak uluran tangan Zafran. Lalu, seperti biasa, ketika Zafran mengajak Lita ke mall atau tempat lain yang diinginkannya, pria itu dengan percaya diri menggandeng tangan Lita agar gadis itu merasa nyaman bersama Zafran. Dan dengan begitu, kemarahan dan rengekan Lita pun lenyap. Ia kemudian menggandeng tangan Zafran dan membawanya masuk ke dalam mall, menuju ke sebuah butik yang menyediakan pakaian kerja berkualitas dan model-model edisi terbatas. Berkelas, seperti kehidupan Lita yang selalu penuh dengan hal-hal yang mengagumkan dan berkelas. "Kamu pilih dulu. Abang akan menunggu di sini." Zafran melepaskan tangannya, memberi Lita waktu untuk memanjakan selera makannya. Lita yang sudah kehilangan amarahnya tersenyum manis dan mengangguk. "Abang tidak ikut aku ke dalam?" tanya Lita manja. Zafran tersenyum. Bukannya tidak mau, tapi mengikuti makhluk betina dalam memilih pakaian adalah hal yang paling sia-sia, menurut Zafran. Dan Zafran lebih memilih duduk sambil memegang ponselnya daripada harus mengikuti langkah Lita membeli baju. Zafran menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak, tunggu di sini, ya?" Lita hanya bisa mengangguk. Lalu dengan berat hati melepaskan tangan Zafran yang sedari tadi menggenggamnya erat penuh perlindungan. Ketika Lita memasuki butik, Zafran memilih untuk duduk di bangku yang sengaja disediakan pihak butik sebagai tempat beristirahat atau menunggu, seperti yang dilakukan Zafran saat ini. *** Beberapa jam sebelumnya, di tempat yang berbeda dengan posisi Zafran, seorang anak perempuan cantik dengan tahi lalat di ekor matanya terlihat mengajak ayahnya untuk berjalan-jalan. Selama ini, ia memang jarang sekali diizinkan keluar rumah demi keamanan dan keselamatannya sebagai anak dari seorang pengusaha dan pejabat pemerintah, Surya Atma Wijaya. Untuk memberikan perlindungan maksimal bagi putrinya, Surya meminta pihak sekolah agar Nayra mengikuti program homeschooling. Surya rela mengeluarkan biaya berapapun agar putri semata wayangnya tetap bisa bersekolah setara dengan sekolah negeri dan dalam kondisi yang aman. "Bisa kan, Yah?" Nayra bertanya dengan wajah persuasif yang membuat Surya tidak tahu harus berkata apa lagi. Surya menatap Neta, pengasuh Nayra, yang telah bekerja untuk Surya sejak ia masih lajang. Hingga saat ini, Neta memilih melajang agar bisa mengasuh Nayra, meski usianya sudah cukup untuk menikah. Namun, setiap kali Surya mencoba mencarikan jodoh untuk Neta, ia selalu menolak dengan halus karena sudah cukup bahagia melayani keluarga ini. Kalau sudah begini, Surya menyerah untuk mencarikan jodoh bagi Neta. "Nay, kamu bukan orang biasa seperti orang lain, Nay. Kamu adalah anak ayah. Bahaya ayah juga sama dengan posisi kamu nanti. Ayah tidak mau terjadi sesuatu yang membahayakan kamu," kata Surya dengan wajah memelas agar Nayra tidak pergi ke mall. "Tapi, Yah, di mall katanya akan ada artis-artis dari Korea," pinta Nayra tak menyerah. Surya menggeleng dan menatap Neta yang berdiri tak jauh dari Nayra. "Neta, kenapa dia tiba-tiba ingin pergi ke mall?" Surya menatap Neta tajam seolah menyalahkan pengasuhnya. "Maaf, Pak. Saya juga sudahbberusaha melarang Nayra," jawab Neta. "Nay, coba kamu dengarkan Ayah, ya. Mall ini akan sangat ramai. Akan ada banyak orang yang tidak kita kenal kalau-kalau ada di antara mereka yang tidak suka dengan Ayah, tidak suka dengan keluarga kita, dan berniat mencelakakan kamu. Ayah akan sangat menyesal jika terjadi apa-apa denganmu, mengerti?" Surya mencoba bersikap tegas Mendapat peringatan yang sedikit keras seperti itu, Nayra tiba-tiba merasa sedih. Matanya yang bulat dan lebar tiba-tiba berkaca-kaca, dan ia hampir menangis. "Ayah yang jahat! Ayah tidak sayang sama Nayra! Nayra benci ayah!" Seru Nayra sebelum akhirnya berlari pergi, meninggalkan Surya yang pusing dan bingung harus berbuat apa. Neta yang kebingungan segera berlari mengejar anak perempuan yang diasuhnya itu. Sementara itu, Surya memijit-mijit batang hidungnya, cemas, antara marah dan tidak bisa mengendalikan Nayra. Mungkin selama ini Surya terlalu memanjakan Nayra, mengingat Nayra adalah anak satu-satunya. Namun, membiarkan Nayra pergi ke mall juga berbahaya. "Ronald!" Surya memanggil ajudan dan pengawalnya untuk masuk ke ruang kerjanya. Seorang pemuda bertubuh tegap masuk dengan sigap, "Siap, Pak." "Siapkan mobilnya. Mungkin kamu harus mengantar Nayra ke mall." "Baik, Pak," jawab Ronald sigap. Surya mengangguk dan memberi isyarat pada Ronald untuk mempersiapkan diri sambil mengikuti Nayra ke kamarnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN