PERTEMUAN

1544 Kata
Dan selalu berakhir seperti ini, dimana Surya selalu luluh dengan air mata Nayra. Ini memang kelemahan Surya. Meski awalnya bersikeras untuk melarang Nayra pergi ke mall hanya untuk melihat artis kesayangannya, tetapi pada akhirnya Sura mengizinkan Nayra pergi dengan syarat harus dikawal oleh Ronald. “Yah, kalau dikawal nanti orang malah curiga.” Nayra mencoba menolak syarat ayahnya itu. Surya menggeleng. “Tidak! Kali ini tidak boleh menawar atau kamu tidak Ayah izinkan untuk pergi ke mall itu!” Kali ini Sura mengambil sikap tegas. “Yah. Kan nggak bebas, Yah. Anak buah akan selalu mengawasi Nayra, Yah.” Nayra masih saja menawar, tetapi sekali lagi Surya menggeleng. “Kali ini Ayah tak mau dibantah.” Surya bergegas meninggalkan kamar Nayra yang masih cemberut bersama Neta di kamar itu. Neta hanya diam, sama sekali tak berani memberikan saran dan usulan apapun bentuknya. “Mbak Neta, bagaimana ini?” tanya Nayra menatap pengasuh yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu. Neta hanya angkat bahu, tak mengerti harus bagaimana. Nayra kesal dan menghentakkan kakinya di atas lantai, seperti biasanya ketika dia merajuk. “Bagaimana kalau kita lihat siaran langsungnya saja dari televisi? Selain tidak membantah Ayah, kita tetap dalam kondisi aman dan tidak berdesak-desakan. Bagaimana?” Neta memberikan usulan dengan wajah yang berbinar cerah. “Apa? Dari televisi? Ada nggak saran yang lebih konyol?” Nayra benar-benar kesal membuat Neta kembali menarik senyumnya. Ayahnya memberinya pilihan tak enak, ini lagi pengasuhnya malah memberikan usulan tak masuk akal. Apa enaknya nonton di televisi? “Sudahlah, yuk, siap-siap sebelum Ayah berubah pikiran,” ajak Nayra pada Neta. Neta menatap Nayra dengan senyum lembut. “Kamu yakin setuju dengan syarat ayahmu?” tanya neta memastikan. Nayra mengangguk. “Daripada tidak melihat artis kesukaanku, Mbak Neta.” Neta hanya angkat bahu dan bersiap untuk kembali mendampingi Nayra menuju ke mall yang katanya ada jumpa fans dengan artis Korea. Ronald tentu saja sudah siap sedia dengan apa yang biasanya dia lakukan ketika harus menjadi pengawal Nayra. “Jangan sampai maskernya kamu lepas, Nay,” pesan Surya ketika melepas Nayra dan Neta diantar oleh Ronald. Nayra mengangguk dengan senyum manis. “Pasti, Yah. Terima kasih sudah mengizinkan Nayra pergi, ya, Yah?” pamit Nayra sambil melambaikan tangannya sebelum mobil itu melaju, meninggalkan teras rumah dimana Surya masih berdiri menatap mobil itu keluar melewati gerbang. Sementara itu, di mall dimana Zafran masih setia menunggu Lita yang mencari pakaian untuk kerja, terlihat sedikit bosan karena sekian waktu menunggu. Akhirnya dia mencari ke dalam butik untuk mencari Lita. Dan benar saja, ketika akhirnya Zafran menemukan gadis itu, dia sedang memilih pakaian entah untuk yang keberapa yang dicobanya kali ini. ‘Dasar perempuan,’ batin Zafran menggerutu dalam hati. “Hei, Bang? Kenapa masuk? Biasanya nggak suka masuk, kan?” Lita menyapa. Didengar dari nada bicaranya, sepertinya dia sudah tidak merajuk lagi. “Kamu masih lama?” tanya Zafran dengan sabar. Lita tersenyum kocak karena sudah memilih selama lebih dari setengah jam, tapi rupanya dia belum menemukan sesuatu yang cocok dengan seleranya. “Masih lama sepertinya. Abang bosan? Atau kita pulang saja?” tanya Lita. ‘Pulang dan berakhir dia akan merajuk lagi? Tidak … tidak! Lebih baik aku menunggu sambil melihat-lihat biar nggak bosan.’ Zafran membatin. “Bosan, sih tidak. Kan, banyak pemandangan indah di luar. Hanya saja sepertinya aku tadi lupa makan. Jadi, bisakah aku menunggumu di kafe yang ada di sisi sebelah sana?” tanya Zafran berharap Lita akan menyetujuinya. “Oh, Abang lapar? Boleh, boleh. Abang makan saja di sana, nanti kalau aku selesai, aku akan hubungi Abang.” Zafran sungguh bersyukur karena akhirnya Lita setuju. “Oke. Nanti kalau kamu selesai, aku akan datang ke sini lagi.” Zafran lantas keluar dari butik itu. Namun, jalanan di dalam mall semakin lama semakin padat oleh pengunjung. Padahal tadi tidak sepadat ini. Lalu dari beberapa pengunjung, Zafran mendengar kasak kusuk bahwa di mall ini akan diadakan jumpa fans dengan artis Korea. Tangan lelaki itu mengambil masker yang sering dibawanya jika bepergian. Mungkin orang mengira bahwa Zafran mengenakan masker karena flu, namun jelas Zafran memiliki tujuannya sendiri. Dia sedang dalam proses mencari tahu seseorang yang akan diculiknya demi memuluskan usaha Ruiz mencapai tujuannya menjadi walikota. ‘Pantas saja pengunjungnya sebagian besar gadis-gadis muda,’ batin Zafran meneruskan langkahnya menuju ke kafe sekedar untuk minum kopi agar tidak bosan. Lapar hanya alasan yang digunakan untuk pergi dari menunggu Lita yang entah kapan akan selesai dengan pilihannya. Ruang luas dan terbuka yang ada di lantai satu mall ini semakin padat pengunjung yang nyaris semuanya perempuan. Ekor mata Zafran hanya mengamati gempitanya para penggemar oppa-oppa Korea itu dari kafe tempatnya menyingkir. Seperti halnya acara lainnya yang mengusung artis, acara itu dimulai dan berlangsung dengan meriah. Namun, di tengah meriahnya acara tiba-tiba terjadi sedikit kericuhan yang membuat acara dihentikan dengan paksa oleh pihak pelaksana karena adanya penggemar yang demikian fanatik dan nekat melakukan ancaman sambil menodongkan pistol. Semua panik dan hampir menyerah. Pihak keamanan bergerak sigap, namun pengunjung dan penggemar terlanjur bubar mencari aman masing-masing. Hiruk pikuk pengunjung membuat suasana semakin kacau di mall ini. Zafran berniat segera mendatangi Lita untuk mengajaknya pulang karena gedung mall sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, setelah dia keluar dari kafe itu, tiba-tiba seorang gadis berlari ke arahnya dan dengan gemetar meminta perlindungannya. Gadis berambut panjang yang terurai itu mengenakan hoodie kedodoran dan topi yang membuatnya terlihat tertutup. Namun, sorot mata gadis itu jelas membutuhkan pertolongan. Zafram melihat wajah gadis itu yang memucat dan bibirnya yang gemetar ketakutan. “Om, tolong, Om. Saya dikejar orang tidak dikenal,” ujar gadis itu menatap Zaf dengan penuh permohonan. Tangan gadis itu bahkan dengan berani memegang lengan Zafran, membuat Zafran merasakan getaran tak jelas yang membuatnya tertegun sesaat. Suaranya gemetar gadis itu bahkan membuat hati Zafran tiba-tiba merasa iba. Terlebih ketika dia melihat ada tahi lalat kecil di ekor mata gadis itu yang membuat Zaf terpesona, bagai terseret arus aneh yang tak bisa dilawan. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Zaf menarik tangan gadis belia itu untuk masuk kembali ke dalam kafe. Zafran mengajak gadis itu duduk di kursi paling sudut. Dia melepas jaket yang tadi dikenakannya kemudian menutupkannya pada tubuh kecil gadis itu yang masih terasa gemetar ketika tadi Zafran membawanya memasuki kafe. Sebisa mungkin, Zafran menutupi gadis itu dengan tubuhnya yang besar. “Pakai dan diamlah agar mereka tidak curiga bahwa kamu masih berada di sini!” perintah Zafran yang dijawab hanya dengan anggukan itu. Benar saja, tak lama setelahnya lewat beberapa orang bertubuh kekar yang berpakaian seragam kelihatan sedang mencari-cari sesuatu. Gadis di depan Zafran itu menunduk dengan gemetar dan keringat yang membasahi kening dan anak-anak rambutnya. Zafran benar-benar terkesima. Baru setelah para pengejar itu bergegas semakin jauh, gadis itu bisa mendongakkan wajahnya menatap Zafran. “Apakah mereka sudah pergi, Om?” tanya gadis itu dengan ketakutan yang sama. Dia mendongak, menatap mata Zafran yang elok. Tajam namun terdapat kelembutan yang menyejukkan hati gadis belia itu. Zafran menoleh ke arah orang-orang yang mencari-cari sesuatu tadi, kemudian menatap kembali gadis di depannya itu dan mengangguk. “Ya. Mereka sudah pergi. Kamu bisa tenang.” Si gadis belia menghela napas lega meskipun belum sepenuhnya masalahnya selesai karena dia terpisah dari orang yang tadi bersamanya ke mall ini. “Terima kasih sudah menolong saya, Om.” Gadis itu mengangguk sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah ditolong oleh Zafran. Zafran mengangguk kemudian membuka sebuah botol berisi air mineral dan menyerahkannya ke hadapan si gadis. “Minumlah. Mungkin bisa membuatmu sedikit tenang,” perintah Zafran saat memberikan minuman mineral itu pada si gadis. Gadis itu tidak langsung menerima air mineral itu, bahkan hanya menatapnya dengan penuh keraguan. “Kamu ragu kalau-kalau aku berniat jahat sama kamu?” tanya Zafran yang seolah mengerti keraguan si gadis. Gadis itu tersenyum canggung dan mengangguk. “Kalau aku punya niat jahat, aku bisa saja melarikanmu dari sini sekarang juga, kan? Minumlah. Toh kamu tahu bahwa ini hanya air mineral biasa. Aku tidak mencampurkan apapun ke dalamnya, kan?” Entah mengapa Zafran harus susah payah memberi penjelasan. Padahal, biasanya dia tak ambil pusing dengan orang lain. Apalagi dengan posisinya sekarang ini. Seharusnya Zafran juga tak ambil peduli. Tetapi sekali lagi Zafran tidak bisa melakukannya, Entah apa yang membuat Zafran bersikap demikian. Mendapat penjelasan seperti ityu, dengan malu-malu si gadis menerima air mineral itu dan meminumnya dengan cepat untuk meredakan ketakutannya. “Siapa mereka yang mengejarmu?” Zafran bertanya dengan pelan. Gadis itu menggeleng sambil menunduk. “Saya tidak tahu.” Si gadis menjawab tak jujur. “Bagaimana mungkin dia mengejarmu kalau mereka tidak mengenalmu?” Zafran tak percaya dengan jawaban gadis itu. “Mereka … mereka mengejarku karena ….” Gadis itu menghentikan kalimatnya, ragu untuk mengatakan dia yang sebenarnya. Tak mungkin dia mengatakan bahwa dirinya adalah anak Surya Atma Wijaya. Bagaimana jika orang di depannya ini lebih berbahaya? Atau setidaknya, bagaimana jika muncul niat jahat setelah tahu siapa dia yang sebenarnya? Berbagai pikiran buruk mendera kepala gadis itu. “Karena apa?” Zafran kembali bertanya meski dengan sabar. Gadis itu mendongak, menatap manik Zafran. Lelaki itu terkejut saat merasakan dunianya terhenti beberapa saat. Mata bulat dan bening itu seperti danau yang tak terukur kedalamannya. Ada kesunyian, ada riak yang tak bisa digambarkan, ada ketenangan yang menggetarkan dan membuat jantung Zafran tiba-tiba menggelepar dengan hebat. ‘Ada apa ini?’ “Bolehkah saya tidak menjawabnya?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN