HILANG JEJAK

1431 Kata
Gadis itu menatap bola mata Zafran yang tajam. Seperti halnya lelaki itu, kali ini si gadis juga merasakan hal yang sama, tatapan mata Zafran seolah menghipnotisnya, menuntun nalurinya dan mengajak jantungnya untuk bekerja sedikit cepat dari seharusnya. Akan tetapi logika Nayra masih waras untuk tidak sembarangan berinteraksi apalagi terbuka dengan orang lain. Karena jelas itu akan sangat membahayakan dirinya dan juga ayahnya. “Kalau kamu tidak ingin menjawabnya, tidak masalah. Aku juga tidak memaksa. Hanya saja, saranku sebaiknya kamu segera pulang. Dimana orang tuamu?” tanya Zafran. “Orang tuaku? Mereka … mereka di rumah.” Si gadis menjawab dengan canggung dan gugup karena jantungnya menggelepar, membuat tangannya berkeringat. “Di rumah? Jadi kamu ke sini dengan siapa?” tanya Zafran yang entah mengapa tiba-tiba merasa geram mendengar posisi gadis ini yang sepertinya dalam bahaya seperti ini. Rasa posesifnya mendadak mencuat. “Maaf, ponsel saya habis. Saya akan mengisi daya sebentar,” ujar si gadis kemudian berjalan mendekati kasir dan meminta bantuan untuk mengisi daya. Zafran yang seperti orang bodoh itu hanya mengangguk karena dia sibuk meredakan detak jantungnya yang berantakan tak karuan hanya karena menatap sepasang mata bening nan penuh misteri itu. Zafran masih duduk di tempatnya, menatap gadis muda dengan dandanan yang sedikit tertutup itu. Celana panjang warna hitam yang nyaris kebesaran itu membuatnya seperti tenggelam. Terlebih dengan hoodie warna coklat muda yang lembut dan juga kedodoran itu. Ditambah lagi dengan jaket yang Zafran berikan untuk menutupi keberadaan gadis ini dari pengejar tadi. Dia semakin tenggelam. Anehnya, dia selalu menutupi wajahnya yang cantik belia itu dengan rambutnya yang terurai panjang. Topi hitam juga menghias di atas kepalanya yang berambut panjang terurai dan sedikit berantakan itu. Sangat misterius sehingga Zafran tak henti memandangi gadis itu. Bahkan ketika gadis itu terlihat menghidupkan ponselnya, semuanya terasa semakin misterius. Sesekali gadis yang menurut Zafran masih sangat belia itu menoleh dan menatap ke arah Zafran. Dan ketika hal itu terjadi, Zafran buru-buru melempar pandangannya ke arah lain dengan gugup. Beberapa saat kemudian, gadis itu terlihat menghubungi seseorang melalui panggilan telepon. Zafran hanya menatapnya, bahkan ketika gadis itu meminta kertas dan meminjam pena, Zafran masih melihatnya. Dia masih menunggu gadis itu kembali ke mejanya. Entah apa yang Zafran rasakan kali ini, dia benar-benar tak ingin melihat gadis itu sendiri tanpa orang yang mendampinginya sama sekali. “Siapa gadis ini sebenarnya? Mengapa rasanya demikian familiar dan mengikat seperti ini?” gumam Zafran sambil menyedot minuman yang sejak tadi ada di hadapannya. Kali ini tidak hanya untuk menghilangkan rasa hausnya, melainkan juga untuk meredakan jantungnya yang debarannya masih saja menggila. Belum habis air mineral yang diteguknya, tiba-tiba di pintu kafe datang satu orang laki-laki dan perempuan. Mereka terlihat panik dan segera menuju ke arah dimana gadis yang Zafran tolong tadi berada. Zafran sudah hendak berdiri untuk memberikan perlindungan pertolongan apabila dua orang itu sama seperti orang yang dia hindari tadi. Lalu kemudian Zafran mengurungkan niatnya ketika melihat mereka bertiga berkomunikasi dengan baik meski jelas terlihat kepanikan di wajah kedua orang tadi. Mereka terlihat berbincang dengan serius dan ini membuat Zafran menjadi lega. Setidaknya gadis itu sudah bertemu dengan kerabatnya atau siapapun itu, yang dikenal dan bisa melindunginya dengan baik. Zafran lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan kemudian meletakkannya di atas meja dan pergi meninggalkan kafe ini karena dia merasa bahwa posisi gadis itu sudah cukup aman. Zafran tersenyum kecil ketika meninggalkan kafe itu. Tak tahu harus senang atau sedih ketika ternyata, pemilik mata bening dan misterius itu mengabaikan dirinya setelah bertemu dengan kerabatnya. Sementara itu, di depan kasir kafe itu, Nayra, Neta dan Ronald sedang berbincang dengan serius mengenai keberadaan Nayra yang tiba-tiba di kafe ini. “Saya tidak tahu lagi bagaimana nasib nyawa saya kalau sampai kami tidak menemukan Nona Nayra tadi,” ujar Ronald yang terlihat lega luar biasa. Dia kini menyadari, bahwa jika dia lengah sedikit saja maka akan membuat situasi berubah drastis. “Non, besok lagi tolong, ya? Jangan buat nyawa kami berada di ujung senapan. Non Nayra tahu, kan, bagaimana protektifnya Bapak? Nyawa kami taruhannya, Non.” Neta berucap masih dengan suara gemetar menahan takut sekaligus lega karena Nayra akhirnya berhasil mereka temukan setelah kerusuhan di acara jumpa fans tadi. “Mbak Neta, aku nggak berniat menempatkan kalian berdua di dalam bahaya. Aku hanya ingin melihat dari dekat. Tapi kericuhan itu terlalu cepat terjadi,” elak Nayra dengan menunduk tanda menyesal. “Tapi hasilnya tetap sama, kan, Non?” Neta benar-benar ingin menangis. Menangisi nyawanya yang selamat dari tembakan peluru Pak Surya jika mereka tak bisa menemukan keberadaan Nayra sore ini. “Mungkin saya memang harus mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Saya tak sanggup lagi selalu dalam bahaya,” ujar Neta dengan serius. Tentu saja Neta serius karena ini bukan pertama kalinya Nayra menghilang ketika sedang keluar seperti kali ini. “Apa? Mengundurkan diri? Tidak! Aku tidak akan mengizinkan mbak Neta keluar. Aku tidak mau!” tolak Nayra dengan tegas dan penuh rasa bersalah. Ronald yang melihat mereka berdua hanya mengangguk kecil. “Tapi saya juga tak sanggup setiap saat ketakutan karena ulah Non Nayra,” jawab Neta dengan pasrah. Sebenarnya niat Neta hanya memberikan sedikit ancaman agar Nayra jera dan tidak mengulangi lagi. “Maafkan aku, Mbak Neta, Om Ronald. Aku tidak akan datang ke tempat seperti ini lagi asalkan kalian masih tetap bekerja di rumah ayahku.” Nayra memasang wajah sedih untuk mengundang belas kasihan. Neta menatap Ronald sendu. Isyarat Ronald dengan anggukan kecil sudah cukup baginya untuk memberikan sedikit ancaman kepada Nayra. “Baiklah, sebaiknya kita pulang agar saya bisa memikirkannya dan mengambil keputusan dengan kepala dingin.” Neta mengajak Nayra dan Ronald untuk kembali ke kontrakan “Tunggu dulu, Mbak Neta. Aku harus berterima kasih dengan seseorang yang tadi menolongku,” kata Nayra yang bergegas menuju ke meja dimana dia tadi meninggalkan Zafran saat akan mengisi daya ponselnya. Namun, Nayra menjadi kecewa karena tidak mendapati sosok yang dicarinya itu. Lelaki penolongnya itu sudah tak ada di kursinya. Gadis itu bergegas mendekat ke kursi tadi dan bertanya pada seorang pelayan yang sedang membereskan mejanya. “Maaf, Bang. Apakah Anda melihat lelaki yang tadi duduk di sini?” tanya Nayra tergesa. Pelayan itu menggeleng dan menjawab, “Sudah pergi beberapa menit yang lalu, Non. Ini, bayarnya saja cuman ninggalin uang,” jawab di pelayan sambil menunjukkan uang yang ditinggalkan oleh Zafran. “Ke arah mana dia perginya, Bang?” tanya Nayra panik. “Ke arah sana, Non.” Pelayan menunjuk ke arah Zafran tadi pergi. “Oke, terima kasih, Bang.” Tanpa menunggu lama, Nayra bergegas ke arah yang ditunjukkan oleh pelayan tadi untuk mencari keberadaan Zafran. Nayra ingin mengucapkan terima kasih, karena siapa nama lelaki penolongnya itu saja dia tidak tahu. Melihat Nayra bergegas meninggalkan tempat itu, Ronald dan Neta bergegas mengejar. Mereka tak mau kejadian tadi terulang kembali. Apalagi suasana mall masih sangat hiruk pikuk karena kejadian tadi. “Non Nayra! Tunggu!” panggil Neta dan Ronald yang bergegas mengejarnya. Nayra menghentikan langkahnya, tetapi matanya celingukan mencari laki-laki yang tadi menolongnya. Neta dan Ronald yang sampai dengan kepanikan dan napas ngos-ngosan segera menangkap tangan Nayra agar gadis itu tidak lari lagi. “Aduh, Non. Mau kemana lagi? Sebaiknya kita segera pulang. Banyak polisi dan juga orang yang tidak kita ketahui jahat apa baik. Ayo, kita pulang!” paksa Neta. “Sebentar, Mbak Neta. Aku sedang mencari dia!” tolak Nayra. “Neta benar, Non. Sebaiknya kita segera pulang. Situasi sedang tidak baik-baik saja.” Ronald menambahkan. “Sebentar, Om! Saya sedang mencari seseorang!” Nayra masih saja ngotot dengan mata celingukan kesana kemari. “Non Nayra mencari siapa?” Neta ikutan celingukan. “Laki-laki yang menolong aku, Mbak Neta. Aku harus bilang terima kasih. Sekalian mau mengembalikan jaket punya dia ini,” ujar Nayra sambil menunjukkan jaket besar yang dikenakannya itu. “Laki-laki siapa? Yang mana? Kami tidak melihatnya.” Neta menoleh ke beberapa arah. Meski memang tadi dia curiga, dari mana Nayra mendapatkan jaket sebesar ini. Nayra berdecak. “Dia tadi masih ada di bangku kafe, tapi pergi tiba-tiba. Aku ada hutang jasa sama dia,” ujar Nayra. “Sudahlah, kapan-kapan kita cari lagi. Sekarang sebaiknya kita pulang karena Tuan Surya sudah menghubungi saya,” ajak Neta sambil menghela asuhannya itu. “Tapi, Mbak Neta? Bagaimana kita akan mencarinya kalau aku tidak tahu siapa namanya? Dan jaket ini? Bagaimana aku mengembalikannya?” keluh Nayra. “Kita pikirkan nanti!” Neta lantas memaksa Nayra meninggalkan tempat ini yang diikuti Ronald dengan penuh proteksi. Mereka bertiga bergegas meninggalkan mall yang ramai hiruk pikuk karena keributan tadi. Mereka tak menyadari, dari arah yang berseberangan dengan mereka, seorang lelaki menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa diungkapkan. Dia …. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN