TELEPATI

1380 Kata
Zafran masih berada di persembunyiannya, di antara hiruk pikuknya mall yang ramai karena kerusuhan kecil tadi. Matanya mengawasi dengan tajam ke arah gadis dengan hoodie yang kini seperti dikawal paksa untuk meninggalkan tempat itu. Masih terlihat oleh Zafran bahwa gadis itu sepertinya keberatan karena berulang kali mengedarkan pandangannya ke segala arah, seolah sedang mencari sesuatu. Mungkinkah gadis itu sedang mencari dirinya? Zafran tersenyum miris ketika pertanyaan itu melintas di kepalanya. Tak mungkin gadis itu mencari dirinya. Dalam rangka apa? Tidak ada yang istimewa dalam pertemuan singkat mereka selain Zafran yang menolong dan melindungi gadis itu dari orang yang memburunya, sebagaimana yang diungkapkan gadis itu meski tidak secara gamblang. Namun, seketika Zafran menyembunyikan dirinya dengan cepat ketika tatapan gadis itu menyapu ke arahnya berdiri. Sungguh, Zafran berharap gadis itu tidak melihat sosoknya di antara hiruk pikuknya suasana. Lelaki itu merasakan dadanya berdetak dengan lebih kencang. Zafran merasakan getaran di ponsel yang ada di saku celananya karena jaket yang dia kenakan sudah diberikannya pada gadis kecil tadi. Senyum Zafran kembali tersungging ketika ingat bahwa gadis tadi terlihat tenggelam diantara jaket yang diberikannya tadi. “Halo, Lita?” Zafran buru-buru mengangkat ponsel itu setelah tahu siapa yang menghubunginya. Seperti dugaannya, dia adalah Lita. Saudara angkatnya yang memang manjanya setinggi langit meskipun sudah dewasa dan bekerja, bahkan memegang anak perusahaan milik ayahnya. “Abang dimana?” tanya Lita di seberang telepon. “Aku? Aku … aku masih di kafe dekat kerusuhan. Tapi aku sudah selesai. Kamu sudah selesai?” tanya Zafran berusaha senatural mungkin. “Sudah dari tadi. Nungguin Abang nggak datang-datang.” Nada suara Lita terdengar sedang merajuk, membuat Zafran mengetatkan gerahamnya. “Oke, Abang akan ke situ.” “Aku tunggu. Jangan lama-lama.” “Oke, Tuan Putri,” sahut Zafran sengaja menggoda Lita agar gadis itu tidak semakin merajuk. Tak ada yang bisa Zafran lakukan kali ini selain mengikuti apapun yang Lita inginkan, sesuai dengan perintah Ruiz. Maka tak menunggu lama, Zafran keluar dari persembunyiannya untuk menemui Lita. Namun, hal tak terduga yang dilakukannya adalah menoleh kembali ke arah dimana gadis kecil tadi terakhir kali dilihatnya. Namun, entah mengapa Zafran merasa hatinya kosong saat dia tak mendapati siapapun di tempat yang sama tadi. Gadis kecil itu benar-benar sudah pergi. Entah kapan Zafran akan melihat dan bertemu dengan gadis bermata bening itu lagi. Atau mungkin mereka tidak akan bertemu lagi, mengingat kota ini demikian padat penduduk? Zafran tersenyum masam, kemudian bergegas menemui Lita. *** Selama perjalanan pulang, Nayra terlihat murung. Tatapannya terus mengarah ke luar, ke jalanan yang selalu padat merayap. Ronald dan Neta yang melihat hal ini saling pandang dengan penuh tanya. Berkali-kali Nayra merapatkan jaket besar yang masih dipakainya itu. Entah mengapa hatinya berdesir halus saat ingat bahwa lelaki itu memberinya jaket dengan sigap, melindungi dirinya yang bahkan tak dia kenal dengan baik. Nayra merasakan sebuah ketulusan. Terlebih jika dia ingat bahwa lelaki yang menolongnya tadi memang sangat menawan, meskipun memang bukan lelaki muda sebagaimana layaknya idola para muda mudi sekarang ini. Laki-laki itu sepertinya sudah berusia cukup dewasa. Terlihat dari wajah dan pembawaannya yang cukup tenang meski suasana begitu panik tadi. Dan mata itu? Entah mengapa mata cekung itu seperti memiliki hipnotis yang membuat Nayra kehilangan kata-kata, bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Nayra mencium aroma maskulin yang tertinggal di jaket lelaki itu. Nayra begitu yakin dan berharap, suatu saat akan bertemu kembali dengan lelaki itu, untuk mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah menolongnya. “Mbak Neta sama Om Ronald jangan bilang kalau di mall ada kerusuhan, ya? Biar Ayah nggak semakin khawatir.” Nayra menatap kedua pengasuh dan pengawalnya itu. Mereka saling pandang, heran. “Meskipun kami tidak melaporkan apapun, kurasa Tuan Surya sudah tahu beritanya dari media, Non.” Kali ini Ronal yang menjawab. “Ya, kalau Ayah bertanya soal kerusuhan tadi, Om sama Kak Neta bilang saja tidak tahu karena kita sudah keluar dari mall. Gampang, kan?” “Lalu bagaimana dengan orang yang mengejar Non tadi?” Kali ini Neta yang bertanya. “Mbak? Kalau Mbak Neta nggak bilang sama Ayah kalau ada yang mengejarku, tentu Ayah tidak akan tahu, kan?” Nayra menatap Neta dengan kesal. Bagaimana mungkin ini semua menjadi masalah, sementara seharusnya ini dibuat mudah? “Oke … oke.” Neta dan Ronald memilih diam. Mereka berdua sesungguhnya mengerti bagaimana sulitnya menjadi Nayra yang sejak peristiwa penembakan itu tidak pernah lagi mendapatkan kebebasannya sebagai seorang individu. Musuh-musuh usaha dan juga politik Surya sudah membuat kebebasan Nayra lenyap begitu saja. Sebenarnya tujuan Surya jelas benar, membatasi gerak Nayra demi keselamatan anak semata wayangnya itu. Karena begitu banyak orang yang tidak menyukainya yang menyerang posisinya dan juga Nayra adalah putri satu-satunya yang dia miliki. Bahkan, demi menjaga keselamatan gadis itu, Surya terpaksa menyekolahkan Nayra dengan sistem home schooling. “Bagaimana dengan interaksi sosialnya, Tuan?” tanya Neta ketika Surya memutuskan untuk meminta pihak sekolah agar mengizinkan Nayra sekolah di rumah. Berapapun biaya yang harus dikeluarkannya, Surya sungguh tak peduli. Kepedulian Neta tentu saja beralasan karena sejak kecil dan ibunya tewas tertembak, Neta adalah satu-satunya orang yang dekat dengan Nayra, mengasuh dan merawatnya seperti dia mengasuh dan merawat anaknya sendiri. “Keselamatannya jauh lebih penting, Neta,” jawab Surya ketika itu. Dan Neta merasa cukup dengan jawaban itu. Tak ingin memberikan argumen apapun karena dia tak berhak untuk itu. “Baik, Tuan.” Neta mengangguk patuh, mencoba memahami keputusan Surya dari sudut pandang seorang ayah. Keputusan itu diambil ketika Nayra mulai memasuki sekolah menengah pertama karena ketika duduk di sekolah dasar, Surya membiarkan Nayra sekolah biasa dengan penjagaan yang super ketat. Awalnya dia belum bisa protes. Tetapi, semakin besar Nayra mulai mengerti bahwa dia berbeda dari temannya. Apalagi ketika sebagian mereka mengolok-oloknya sebagai seorang anak emas, Nayra semakin tak percaya diri. “Non, sudah sampai,” ujar Neta mengingatkan Nayra ketika mereka sudah sampai di rumah. Nayra yang sejak tadi melamunkan lelaki yang menolongnya itu tergagap dan segera menyadarkan dirinya sendiri dan berusaha bersikap wajar agar siapapun tak menyadari bahwa dia sedang memikirkan lelaki itu. Nayra mengangguk kemudian turun dari mobil dalam diam. Dia menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas. Jaket milik lelaki tak dikenal itu, yang hingga saat ini masih dipakainya, dirapatkannya dengan erat ke tubuhnya. Keharuman yang tertinggal di jaket itu memberinya sebuah ketenangan. Neta dan Ronald saling pandang dengan keanehan Nayra kali ini. “Apa kamu tidak merasakan sebuah kejanggalan, Ronald?” tanya Neta, menatap Ronald. Ronald terdiam kemudian mengangguk. “Aku merasakannya, tetapi aku tidak tahu apa yang menjadi penyebab kejanggalan ini.” “Apakah karena lelaki yang dikatakannya tadi?” tanya Neta, seolah hendak mempercayai apa yang dikatakan Nayra tadi. Ronald menatap Neta. “Jika memang benar, apakah kita harus melaporkannya pada Tuan Surya?” Neta menggeleng dan menjawab, “Selama ini tidak berpengaruh pada Nona Nayra, kurasa kita tidak perlu menambah beban pikiran Tuan Surya.” Ronald mengangguk dan Neta terdiam. Sementara di kamarnya, Nayra menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang lembut dan luas. Dia memejamkan mata, mencari bayangan lelaki yang tadi menolongnya. “Om?” gumamnya lirih. *** “Om?” Zafran yang sedang menjemput Lita, tiba-tiba dia menoleh ke belakang, karena telinganya mendengar seseorang memanggilnya. Lita yang melihatnya seperti sedang mencari sesuatu menatap Zafran dengan heran. “Bang? Abang mencari siapa?” “Aku? Aku … aku mencari seseorang yang memanggilku,” jawab Zafran yang kebingungan sendiri. Jelas saja dia tidak menemukan siapapun yang memanggilnya karena dia tak mengenal siapapun di mall ini selain Lita. Dan dia jelas mendengar panggilan itu. Tapi tak mungkin kalau Lita yang memanggilnya dengan sebutan om, kan? Lita ikut mencari-cari. “Seseorang yang memanggil Abang? Tidak ada yang memanggil Abang. Dari tadi juga cuman aku yang sama, kan?” tanya Lita heran. Zafran masih bingung. Dia meneruskan langkahnya, namun sesekali Zafran menoleh ke belakang. Dia menajamkan telinganya, mungkin saja suara itu benar-benar ada. Karena Zafran yakin, dia mendengar suara yang memanggilnya itu adalah suara gadis itu. Ya, meski hanya sekali bertemu dan berinteraksi dengan canggung, tapi Zafran yakin bahwa yang memanggilnya itu ada gadis yang tadi ditolongnya. Namanya …. Zafran mengumpat dengan kesal karena dia tidak menanyakan siapa nama gadis itu. “Sial! Mengapa aku tidak menanyakan namanya?” gumam Zafran yang meskipun pelan tapi terdengar oleh Lita. “Nama siapa, Bang?” tanya Lita, menoleh untuk menatap Zafran intens. Zafran menoleh, menatap Lita dengan ambigu, kemudian menggeleng. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN