PANGGILAN MISTERIUS

1589 Kata
Sejak peristiwa di mall waktu itu, Nayra lebih banyak melamun di kamarnya. Jika biasanya dia senang bermain di luar, di halaman belakang yang terdapat sebuah gazebo elegan, kini memilih diam di kamar untuk bermain ponselnya. Padahal sudah sebulan peristiwa itu berlalu. Tapi mata tajam yang menatapnya dengan teduh dan menenangkan itu sungguh mengganggu pikiran Nayra. Mungkin akan konyol kedengarannya, tetapi Nayra tak bisa mengontrol dirinya untuk segera menghilangkan bayangan lelaki itu dari pikirannya. Bahkan, hal yang paling konyol adalah Nayra masih saja menyimpan jaket besar lelaki itu yang terbawa olehnya. Bahkan, Nayra wanti-wanti pada pembantu lainnya untuk tidak mencucinya. Nayra tak ingin kehilangan aroma lelaki itu yang masih melekat dan tersimpan di jaket besar itu. Neta yang merasakan perubahan ini sedikit canggung ketika hendak bertanya. Namun, gadis yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu jelas tidak bisa dibiarkan begitu saja larut dalam suasana yang gamang seperti saat ini. “Tidak melukis lagi, Nay?” tanya Neta siang ini ketika mengikuti langkah Nayra usai pelajaran sekolahnya berakhir. Guru privat Nayra segera menuju ke ruang makan setelah pelajaran selesai. Surya mungkin menakutkan bagi sebagian orang yang tak mengenalnya dengan baik. Tetapi dia akan sangat manusiawi ketika memperlakukan orang lain, terlebih orang yang menjadi guru atau teman Nayra. Memang Surya sengaja mengajukan home schooling untuk Nayra, dengan pertimbangan demi keamanannya mengingat Surya sendiri memiliki banyak musuh. Musuh Surya tentu banyak, baik dari dunia usaha yang dikelolanya maupun dari dunia politik yang belakangan juga dimasukinya. “Sedang malas, Mbak Neta. Nggak ada ide,” jawab Nayra malas. Gadis itu kemudian melepas seragam sekolah yang dikenakannya, dan menggantinya dengan pakaian rumah yang lebih santai. Meskipun mengikuti program homeschooling, namun Nayra tetap diharuskan mengenakan pakaian seragam sebagaimana layaknya murid reguler. Neta tersenyum. “Tumben? Biasanya kamu selalu banyak ide, kan?” Neta mengambil pakaian seragam Nayra dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. “Sedang malas, Mbak.” Nayra kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Neta mendekat dan duduk di pinggir ranjang. “Aku perhatikan, sejak dari mall waktu itu kamu lebih banyak diam. Lebih banyak melamun, dan tidak berniat melukis lagi. Bahkan, selama sebulan ini kamu tidak menghasilkan karya sama sekali. Padahal biasanya sebulan selalu menghasilkan satu karya, kan?” Neta mencoba mengajak Nayra bicara sebagai teman, bukan antara pengasuh dan majikan yang harus diasuh dan dilayaninya. Nayra terdiam sejenak, mencerna kalimat penuh kecurigaan yang dilontarkan oleh Neta. Nayra yakin bahwa Neta pasti merasakan perubahan pada dirinya. Bahkan, Nayra juga menyadari perubahan pada dirinya sendiri itu. Kepalanya dipenuhi oleh tampilan mata tajam seorang laki-laki yang menolongnya di mall tempo hari. “Kamu masih memikirkan orang yang kamu bilang sudah menolongmu di mall itu?” tanya Neta dengan hati-hati. Spontan Nayra menatap Neta dengan wajah memerah malu. “Eh? Mana ada?” Nayra kemudian memalingkan tubuhnya, memunggungi Neta. Neta tersenyum kemudian duduk di sisi ranjang kamar Nayra yang luas dan bernuansa lembut itu. Tangan Neta terulur untuk mengusap bahu Nayra. “Aku tahu apa yang kamu rasakan, Nay. Kamu memikirkan orang yang sudah menolong itu, kan?” tanya Neta dengan lirih dan lembut. Nayra terdiam. ‘Bagaimana mbak Neta tahu? Apakah wajahku terlihat begitu jelas?’ batin Nayra. “Apakah dia seorang laki-laki yang muda seperti oppa-oppa Korea itu?” tanya Neta dengan senyum bersahabat mengingat selama ini Nayra sering menceritakan oppa-oppa Korea yang sering dilihatnya. Tanpa terduga, Nayra menggeleng. Berarti benar bahwa nonanya itu sedang memikirkan laki-laki yang katanya menolongnya waktu itu. “Berarti dia seorang laki-laki tua? Sudah terlihat berkeluarga mungkin?” “Tentu saja tidak, Mbak Net. Sepertinya dia bukan laki-laki tua karena suaranya tidak tua, rambutnya juga tidak putih. Keningnya juga tidak berkerut,” lanjut Nayra yang menerawang, menajamkan ingatannya mengenai lelaki itu. “Keningnya? Memangnya kamu nggak melihat wajahnya?” tanya Neta heran. “Bagaimana bisa melihat dengan jelas kalau dia memakai masker, Mbak Net.” Nayra menjawab dengan putus asa. Sejujurnya Neta ingin tertawa mendengar pengakuan jujur dan polos Nayra kali ini. Akan tetapi jelas itu akan membuat nonanya ini tersinggung dan semakin ngambek. Tentu tidak akan ada gunanya Neta membujuknya untuk terbuka kalau dia sampai ngambek lagi. “Lalu mengapa harus dipikirkan kalau kamu saja tidak bisa melihat wajahnya? Aku kira dia yang cakep kayak oppa-oppa Korea itu,” ujar Neta dengan senyum tertahan. Nayra blingsatan mendapat pertanyaan seperti itu. “Tentu. Tentu saja dia cakep. Aku bisa melihat dari suaranya yang lembut dan tegas. Aku juga bisa melihat matanya yang tajam.” Nayra masih saja membela si lelaki misterius yang sudah menolongnya. “Bagaimana kalau ternyata dia tidak secakep yang kamu kira? Bagaimana kalau dia laki-laki yang hidungnya bengkok? Giginya berantakan? Dan cacat barangkali?” Neta menguji pikiran Nayra. “Aku … aku tetap harus mengucapkan terima kasih karena dia sudah menolong aku, kan? Aku bukan orang yang tidak tahu balas budi, Mbak Neta. Kalau tanpa pertolongan dia, mungkin aku sudah hilang diculik sama musuh-musuh politik ayah, kan?” Nayra mengungkapkan pembelaannya. Neta mengangguk. “Ya … kamu benar. Aku tahu kamu anak yang baik, yang tahu balas budi dan selalu berpikiran positif. Kapan-kapan kalau kita ke mall lagi, mana tahu bisa ketemu sama dia?” Neta mencoba menghibur Nayra. Seketika Nayra menoleh, menatap Neta dengan sorot mata penuh binar. “Benarkah Mbak Neta mau menemani aku ke mall lagi?” tanya Nayra nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Untukmu, aku akan selalu melakukan apapun yang membuatmu bahagia, Nay.” Seketika Nayra bangun dan memeluk Neta dengan erat. Hatinya terlalu berbunga-bunga dengan janji Neta. Ayahnya tidak salah memilih pengasuh. Nyatanya Neta selalu menjadi teman terbaik untuk Nayra, selalu melakukan pembelaan dalam batas wajar jika Surya sedikit keras terhadap Nayra. Dan entah mengapa, menurut Nayra, ayahnya selalu tak bisa tak bisa marah kalau Neta yang unjuk gigi melakukan pembelaan. “Terima kasih, Mbak Neta. Kamu selalu jadi teman terbaikku,” ujar Nayra. Neta hanya mengangguk, mengusap punggung Nayra dengan lembut dan penuh sayang. Setidaknya, hanya ini yang bisa lakukan sebagai bentuk pengabdiannya pada Surya. Laki-laki yang sudah menolongnya memberinya ruang untuk hidup dan menjadikan Neta sebagai pengasuhnya. Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan Neta dulu, sebelum Surya membawanya ke rumah ini sebagai pengasuh Nayra. Itu cerita kelam Neta yang hanya dia dan Surya yang tahu. Untuk itulah Neta bertekad untuk mengabdikan hidupnya pada lelaki yang sudah menolongnya, menyelamatkan harga dirinya, menjadi apapun untuk Surya. “Kapan kita akan ke mall lagi, Mbak? Ke kafe yang dulu kita ke sana. Kali saja aku bisa melihatnya lagi.” Nayra sepertinya tak sabar. Neta tersenyum. “Kita akan mencari waktu dan alasan yang tepat untuk kesana. Tentu kita tidak bisa sembarangan meminta keluar kalau alasannya tidak masuk akal, kan? Ayahmu tentu tidak mudah menurunkan izinnya.” Nayra terdiam kemudian mengangguk. “Kalau sekali berangkat kita tidak menemukannya, apakah Mbak Neta akan menemani aku untuk mencari kesana lagi?” tanya Nayra yang merasa ragu, akankah dia bisa menemukan lelaki itu dalam sekali pencarian? Neta tersenyum. “Kita akan tetap mencarinya, sampai kamu puas apakah menemukannya atau tidak sama sekali.” Neta menjawab bijak. “Sungguh?” tanya Neta dengan mata berbinar penuh harap dan ungkapan terima kasih. “Tentu saja.” Neta mengangguk. “Kapan kita akan memulai pencarian kita, Mbak Neta?” tanya Nayra dengan senyum lebar penuh harap. Sejenak Neta berpikir. “Bukankah sebentar lagi kamu ujian semester? Mungkin setelah semesteran, kita akan punya alasan yang cukup masuk akal. Bagaimana?” Spontan Nayra mengangguk setuju. “Oke, aku mau.” Gadis itu mengangguk berulang kali. “Eits? Tunggu dulu.” Neta menginterupsi kesenangan Nayra, membuat raut gadis itu terlihat kecewa karena berpikir bahwa Neta akan berubah pikiran. “Ada apa lagi? Apakah Mbak Neta akan berubah pikiran?” tanya Nayra resah. “Tidak! Kita tetap akan mencari dia dengan catatan nilai ujian semester kamu harus bagus. Bagaimana?” Mendengar tantangan ini Nayra tersenyum lebar kemudian mengangguk untuk menyanggupi. “Setuju!” “Oke. Sekarang kamu harus istirahat dengan baik. Aku bantu doa, agar kamu bisa bertemu dengan penolongmu untuk mengucapkan terima kasihmu padanya.” “Terima kasih, Mbak Neta.” Nayra berucap dengan haru. Neta mengangguk kemudian beranjak keluar dari kamar Nayra. Setelah, Neta keluar, Nayra kembali merebahkan tubuhnya untuk istirahat siang. Saat memejamkan matanya, yang hadir begitu tiba-tiba adalah bayangan seraut wajah yang tak terlihat sepenuhnya dengan sorot matanya yang lembut dan tegas. Wajah lelaki tak diketahui namanya itu kini hadir menyelinap di pelupuk mata Nayra, membuat jantung Nayra berdesir halus. Hingga tanpa dia sadari, bibirnya menyebut lelaki itu menjelang tidur siangnya. “Om?” *** “Om?” Sebuah suara terdengar menyapa lembut di telinga Zafran yang sedang duduk di teras belakang kediaman Ruiz itu. Lelaki itu tergagap dan menoleh ke kiri dan kanan, namun dia tak menemukan siapapun di tempat itu. “Suara sapaan itu lagi? Hanya halusinasiku sajakah?” gumam Zafran ketika mengusap wajahnya agar tersadar bahwa mungkin telinganya yang salah mendengar. “Astaga! Mengapa harus seperti ini? Siapa gadis muda itu? Mengapa sorot matanya demikian familiar?” gumam Zafran. Tapi kemudian dia menggeleng kuat ketika sadar bahwa apa yang dia pikirkan jelas akan sia-sia belaka. “Mengapa juga aku harus memikirkan dia?” “Zaf?” sebuah suara memanggil Zafran. Pria itu menoleh dan tersenyum mendapati Antoni, salah seorang pekerja keamanan Ruiz. “Ya?” “Tuan Ruiz memintamu ke ruangan beliau.” Antoni menyampaikan pesan Ruiz beberapa saat tadi. “Ke ruangannya?” Zafran mengulang informasi yang Antoni berikan. “Ya. Sekarang juga.” Zafran mengangguk canggung kemudian beranjak menuju ke ruang kerja Ruiz. Namun, sepanjang perjalanannya menyusuri rumah besar ini, pikiran Zafran belum juga paham, suara siapa gerangan yang memanggilnya tadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN