SYARAT KULIAH

1768 Kata
Ruang kerja Ruiz yang lebar dan elegan itu terasa lengang ketika Zafran sampai di depan pintu. Meski sejak kecil Zafran tinggal di rumah ini, namun lelaki itu tetap bersikap sopan pada Ruiz, meski Zafran tahu betapa kasar dan kejamnya Ruiz. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa karena Ruiz pula Zafran bisa tetap hidup dengan layak seperti sekarang ini. Tak sekali dua kali Ruiz memperlakukan Zafran dengan kasar dan kejam ketika dulu Zafran masih terlalu terbawa perasaan dan menangis diam-diam dan ketahuan oleh Ruiz. Lelaki penuh dendam itu berkali-kali menendang Zafran bahkan menghardik dengan cacian kasar dan mengatakan Zafran sebagai laki-laki yang lemah sehingga akan mudah ditindas jika tidak berubah jadi manusia tangguh yang mengabaikan rasa iba. Menyakitkan memang ketika Ruiz diperlakukan kasar seperti itu di hadapan para centeng dan anak buah Ruiz. Tetapi justru Ruiz sengaja melakukannya di hadapan para anak buahnya untuk membangkitkan sisi tegas Zafran. Untuk membangun Zafran dar manusia yang penuh perasaan dan melankolis, menjadi laki-laki teguh pendirian dan kokoh hatinya. Tujuan Ruiz jelas bahwa Zafran adalah senjata pamungkas yang ditempanya dengan baik, agar suatu saat menjadi ujung tombak paling tajam yang akan membunuh Surya tepat di jantung pertahanan lelaki itu. Kemudian Zafran pelan-pelan mematikan segala rasa yang ada di hatinya. Membuatnya sedemikian membatu untuk bisa menjadi apa yang Ruiz inginkan. Lelaki yang tangguh. Semua yang Ruiz katakan dan perintahkan akan dituruti Zafran dengan patuh tanpa banyak bertanya. Seperti saat ini, ketika Ruiz memintanya datang maka Zafran akan datang tanpa banyak bertanya mengapa dan untuk apa. Setelah melewati lorong-lorong panjang yang berdinding tinggi dan sunyi, Zafran tiba di depan pintu ruang kerja Ruiz yang tinggi dan kokoh. Dengan santun Zafran mengetuk pintu ruang kerja itu setelah menghela napas panjang untuk menguatkan hati dan telinganya untuk apapun yang nanti Ruiz akan katakan. “Masuklah, Zafran.” Ruiz meminta Zafran masuk setelah melihat Zafran. Zafran mengangguk dan melangkah masuk kemudian duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu. Memang selain sebagai rumah tempat tinggal, hunian Ruiz yang besar dan mewah ini juga difungsikan sebagai kantor meskipun dia memiliki kantor sendiri untuk usahanya. Dunia usaha gelap yang Ruiz jalani selama ini memang penuh dengan putaran uang dan penuh resiko. Namun keahlian dan kemahiran Ruiz melakukan lobi, membuatnya tak terjangkau oleh tangan hukum, meskipun apa yang dilakukannya melanggar hukum negara. “Ada sesuatu yang penting, Om?” tanya Zafran karena Ruiz biasanya memanggilnya secara pribadi seperti ini kalau keadaan sangat penting. Mendengar pertanyaan ini, Ruiz tersenyum. “Apakah harus menunggu aku punya kepentingan jika akan memanggilmu ke sini, Zaf?” tanya Ruiz dengan masam. Zafran sontak menjadi kikuk. “Maaf, Om.” “Bagaimana perkembangan Lita kali ini? Apakah kamu sudah melihat indikasi bahwa dia memiliki teman laki-laki? Di perusahaan mungkin? Atau rekan kerjanya barangkali?” tanya Ruiz mengenai Lita karena memang sejauh ini yang Ruiz tahu adalah bahwa Zafran adalah satu-satunya orang yang berteman dekat dengan Lita. Tak heran jika Ruiz bertanya seperti itu mengingat betapa dekatnya mereka berdua yang sudah melebihi kedekatan seorang teman, melainkan sebagai saudara. Selama ini, yang selalu Ruiz tekankan pada mereka berdua adalah bahwa mereka adalah saudara. Namun, Ruiz tak menyadari bahwa putri kesayangannya itu sekarang sudah dewasa. Padahal kedekatan mereka itu sudah membuat Lita merasa terbiasa dengan keberadaan Zafran dalam kesehariannya. Sehingga tanpa Lita sadari. Dan bahkan Zafran juga sama sekali tidak menyadari, Lita selalu menjadikan Zafran sebagai goals atas seleranya. “Lita? Sejauh yang saya tahu, saya belum mengenal ada yang dekat dengan Lita, Om. Dia juga tak pernah cerita mengenai sosok yang dia sukai atau mendekat padanya. Sepertinya dia terlalu asyik dengan dunia pekerjaannya saat ini. Apakah ada sesuatu dengan Lita, Om?” tanya Zafran serius. Ruiz tersenyum. “Kamu tahu bahwa Lita adalah putriku satu-satunya. Dia satu-satunya kerabat bertalian darah yang kumiliki. Usianya sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Tentu aku risau kalau sampai saat ini dia belum memiliki teman dekat atau calon suami.” Zafran mengangguk mengerti. “Zaman sudah jauh berubah, Om. Perempuan seusia Lita masih pantas untuk mengejar karir. Saya rasa, Om Ruiz tak perlu khawatir mengenai hal ini. Lita sudah dewasa. Cara dia berpikir juga sudah cukup matang dan logis. Saya yakin, untuk suami dia akan memilih yang terbaik diantara yang baik.” Zafran mencoba menenangkan Ruiz. “Ya, kamu benar, Zaf. Tidak selayaknya aku meragukan Lita. Oh, ya. Apa kamu dan anggotamu sudah mendapatkan kabar mengenai anak Surya itu?” tanya Ruiz. Sejenak Zafran terdiam, kemudian menggeleng. Entah mengapa ketika Ruiz membahas tentang gadis misterius yang menjadi fokus pencarian Ruiz ini, ingatan Zafran langsung tertuju pada gadis muda dan polos yang ditemuinya di mall beberapa waktu lalu. Sedikit banyaknya Zafran memang tahu mengapa Ruiz begitu ingin mendapatkan anak gadis Surya yang sampai saat ini tak Ruiz ketahui dimana berada. Kabar yang berhembus usai peristiwa penembakan di rumah Surya bertahun-tahun yang lalu, anak gadis Surya hilang tak tahu rimbanya. Bahkan ada yang mengabarkan bahwa putri Surya itu juga tewas tertembak. Namun, Ruiz tak begitu saja percaya dengan kabar yang beredar itu. Ruiz punya satu keyakinan bahwa gadis kecil yang mungkin saja sekarang sudah beranjak dewasa itu disembunyikan oleh Surya. Yang membuat Ruiz selalu merasa kalah dari Surya adalah dia tak bisa melacak dimana keberadaan anak itu, hingga saat ini. “Untuk putrinya ini, Surya benar-benar menutup rapat akses.” Ruiz seolah bicara pada dirinya sendiri. “Apa kamu punya cara bagaimana masuk ke dalam rumahnya dan mencari tahu, Zaf?” Ruiz menatap Zafran. Zafran terkejut mendengar pertanyaan Ruiz. “Masuk ke rumahnya? Sebagai apa, Om? Tentu akan sulit memasuki rumah Pak Surya, mengingat saya tak punya urusan langsung dengan beliau.” Zafram terhenyak kaget dengan ide Ruiz. ‘Masuk ke rumah Suryta? Bukannya itu hanya untuk mengantar nyawa?’ Zafran membatin sendirian. Ruiz menatap Zafran dengan tajam, membuat Zafran segera memperbaiki kalimatnya. Zafran paham siapa dan bagaimana Ruiz. Lelaki itu selalu menginginkan semuanya berjalan sempurna, termasuk dalam niatnya menghancurkan Surya. “Maaf, Om. Saya pasti akan berusaha mencari tahu secepatnya.” Zafran buru-buru memperbaiki diri. “Sebenarnya, beberapa hari lalu, saya melihat ada sebuah mobil yang memasuki rumah itu kemudian beberapa orang keluar dari mobil itu. Kalau saya cermati, sepertinya mereka adalah guru karena pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian dinas guru.” Ruiz mengerutkan keningnya. “Lalu mengapa kamu tidak mencari tahu siapa dan mengapa?” “Maaf, Om. Sebenarnya saya akan melakukannya. Tetapi, Lita menelepon saya dan meminta saya untuk mengantarnya menghadiri pertemuan dengan relasi di luar kota waktu itu.” “Anak itu benar-benar tak tahu situasi,” gerutu Ruiz menyesali hilangnya kesempatan untuk melihat lebih dekat seperti apa anak gadis Surya. Ruiz tak ingin salah sasaran. “Maka aku tugaskan kepadamu, Zaf. Bagaimana caranya agar kamu bisa mendapatkan informasi apapun mengenai anak Surya. Kita harus segera bertindak. Sudah terlalu lama rencana ini mengendap tanpa kelanjutan. Aku ingin semuanya cepat selesai. Aku tak bisa mati dengan tenang kalau Surya masih berkeliaran dan bahagia. Kehancurannya adalah kebahagiaanku, Zafran. Dan kamu harus menjadi tokoh sentral dalam rencana ini. Mengerti?” Ruiz menatap tajam ke arah Zafran. “Mengerti, Om. Saya akan segera mencari jalan untuk mendapatkan informasi mengenai anak Pak Surya.” Zafran mengangguk tegas tanda kesanggupan. Meskipun Zafran tahu bukan hal yang mudah menjadi seseorang yang Ruiz inginkan. Ruiz tersenyum senang melihat Zafran begitu patuh padanya. “Memang tak salah aku menyelamatkan kamu dulu, Zafran,” ujar Ruiz sambil tersenyum penuh kebanggaan. Sementara Zafran memilih diam. *** “Ayah dimana, Mbak Neta?” tanya Nayra ketika ujian hari ini selesai. “Ada di ruangannya. Mau ketemu?”tanya Neta yang hendak mengajak Nayra makan siang. Nayra mengangguk. “Nggak makan dulu?” tanya Neta. “Nanti saja.” Neta mengangguk kemudian menuju ke ruang makan untuk membereskan meja makan karena beberapa guru yang menunggu Neta ujian akhir kali ini baru saja makan. Memang Neta sengaja mengundang beberapa guru formal Nayra untuk makan siang di rumah karena ujian berlangsung lancar. Perlu diketahui, meskipun homeschooling, namun tidak ada perlakuan istimewa sama sekali terhadapnya. Ujian pun sama ketatnya dengan ujian di sekolah. Sebenarnya, beberapa waktu lalu Nayra sudah meminta pada pihak sekolah dan juga ayahnya agar sekali-sekali dia ikut ujian di sekolah. Sekolah jelas tidak keberatan dengan permintaan ini. Namun, jelas Surya punya alasan kuat terkait keamanan dan keselamatan Nayra sehingga pria paruh baya itu tidak mengizinkan Nayra ujian di sekolah. Tak heran jika Surya memang terlalu ketat menjaga Nayra, mengingat ada banyak orang yang tidak menyukai kejujurannya dalam bekerja dan berusaha. Perusahaan yang dibangunnya dengan penuh perhitungan, kejujuran, dan juga kedermawanan membuatnya tanpa sadar menyusun barisan musuh-musuh usaha dan juga politiknya. Sampai di depan ruang kerja Surya, Nayra mengetuk pintunya. Meskipun ayahnya, tetapi Neta ternyata berhasil mendidik Neta sehingga menjadi anak yang berkepribadian baik dan penuh kesantunan. Meski di saat-saat tertentu Nayra ingin seperti teman lainnya, tetapi sejauh ini masih bisa ditoleransi. Surya yang sedang duduk menghadapi meja yang penuh dengan pekerjaan, mendongak, menatap ke arah pintu yang diketuk tadi. Laki-laki yang masih tetap tampan di usianya yang cukup matang itu tersenyum melihat anak gadisnya mengintip dari pintu dengan senyumnya yang polos. Melihat senyuman ini, Surya segera memasang tameng karena dia tahu pasti ada sesuatu yang Nayra inginkan. “Ayah ada waktu buat Nayra?” Gadis cantik itu bertanya santun. Surya tersenyum dan mengangguk. “Akan selalu ada waktu untuk Nayra. Masuklah.” Dengan langkah sedikit mengendap, Nayra masuk ke ruang kerja ayahnya. Kali ini lebih mencurigakan karena Nayra bukannya duduk di sofa atau di kursi yang ada di depan meja kerja Surya, melainkan malah mendekati Surya dan merangkul bahu lelaki itu. Surya jelas paham bahwa ada sesuatu yang diinginkan oleh Nayra sehingga lelaki itu membalas rengkuhan putrinya dengan usapan lembut di lengannya. “Ada apa?” tanya Surya dengan lembut. “Hari ini Nayra sudah selesai ujian. Sebentar lagi Nayra memasuki dunia kuliah, kan, Yah?” Nayra memulai pembicaraan. Surya tersenyum dan mengangguk, mulai memahami kemana arah pembicaraan Nayra. “Lalu?” tanya Surya berpura-pura. “Kali ini boleh, kan, Nayra kuliahnya nggak di rumah? Nayra bosan, Yah. Nayra pengen suasana yang baru. Bukankah selama ini Nayra selalu ikut dengan perintah Ayah. Untuk kali ini Nayra mohon sama Ayah agar diperbolehkan kuliah di kampus seperti yang lainnya. Boleh, kan, Yah?” tanya Nayra dengan nada manis penuh bujukan. Kali ini Nayra benar-benar berharap Surya akan mengabulkan keinginannya. Dan dugaan Surya benar. Cepat atau lambat, Nayra pasti ingin keluar dari sarang emas yang selama ini dibangun Surya untuk Nayra. “Bagaimana? Boleh, kan, Yah?” Surya menatap Nayra dengan menghembuskan napas berat. “Dengan satu syarat.” Seketika mata Nayra berbinar. “Apa syaratnya, Yah?” “Tetap kuliah di kota ini, dan ke kampus tidak boleh sendirian. Harus membawa pengawal.” “APA?!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN