Nayra terkejut sehingga dia menjauh dari memeluk Surya. Pengawal?
“Yah? Ayah tidak sedang mengurus seorang anak presiden, Yah. Nayra hanya gadis biasa, bukan siapa-siapa. Teman-teman nanti juga nggak akan tahu siapa Nayra, kan?” tanya Nayra dengan wajah menunjukkan rasa tak setuju yang kental.
Nayra tak habis pikir, apa yang ada di dalam pikiran ayahnya sehingga mengharuskannya membawa pengawal ke kampus. Apa kata teman-teman kuliahnya kalau sampai dia benar-benar dikawal.
“Justru itu Ayah harus antisipasi karena begitu mereka tahu siapa kamu, Ayah khawatir mereka akan membocorkan siapa dirimu. Tapi semua terserah kamu. Pilih ke kampus dengan pengawal, atau tanpa pengawal tetapi tetap kuliah di rumah.” Kali ini Surya benar-benar tak ingin berkompromi dengan Nayra.
“Yah, kenapa tak ada yang mudah dalam kehidupan Nayra? Semua harus dikendalikan oleh Ayah, bahkan untuk menentukan langkah hidup saja semua harus sesuai dengan keinginan dan aturan Ayah.” Nayra nyaris menangis.
“Nay, tolong mengerti Ayah. Kamu satu-satunya anak Ayah. Selain kamu, tak ada lagi orang yang Ayah miliki. Ini semua Ayah lakukan demi kamu, demi keselamatan kamu.” Surya menatap Nayra yang menjauh dari memeluknya dengan wajah yang kecewa.
Surya bukan tak memahami bagaimana perasaan Nayra. Namun, Surya juga tak punya pilihan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya agar Nayra tetap dalam keadaan aman adalah memberinya perlindungan maksimal, terlepas apakah Nayra suka atau tidak.
“Tapi tampang Ronald udah mencurigakan, Yah. Teman-teman nanti pasti akan tahu kalau dia pengawal. Kenapa nggak dibiarkan Nayra jadi diri sendiri, Yah? Nayra sudah besar, sudah dewasa, Nayra bisa jaga diri.” Nayra masih saja ngotot tak mau menggunakan pengawal untuk ke kampus. Namun jelas terdengar suaranya yang bergetar menahan tangis atas rasa tidak setujunya pada usulan Surya.
“Meskipun kamu sudah besar, sudah dewasa, kamu tetap anak kecil Ayah.” Bahkan Surya juga tak ingin mengalah. “Lagian nanti kita tidak menggunakan istilah pengawal. Kita bisa menggunakan istilah sopir kek, paman kek, atau apa yang sekiranya tidak mencurigakan, Nay. Bagaimana?” tawar Surya.
Nayra berdecak. “Bukannya sama saja? Mereka akan curiga dan justru akan mencari tahu siapa Nayra dan mengapa Nayra harus pakai teman kalau ke kampus, Yah.”
“Mana mungkin bisa disamakan. Kita akan mencari sopir yang kompeten, yang bisa diandalkan, yang memiliki loyalitas tinggi terhadap keluarga kita. Dan yang pasti akan membuat kamu nyaman tanpa kecurigaan orang lain.” Tentu saja bukan karakter Surya untuk mengalah.
“Mencari? Jadi Ayah tidak menyuruh Ronald, kan?” tanya Nayra sedikit berbinar karena dia yakin bahwa dia akan bisa mengakali jika ayahnya menggunakan sopir baru.
“Tentu saja kita akan mencari yang paling baik dan kompeten.” Surya bersemangat karena melihat Nayra yang melunak.
Nayra menghela napas panjang. “Akan Nayla pikirkan.”
Kemudian tanpa pamit dengan Surya, gadis itu keluar dengan wajah yang tidak sepenuhnya ceria karena keinginannya tidak terkabul sepenuhnya. Jika terkabul, tentu diikuti oleh berbagai syarat yang terasa menyebalkan bagi Nayra.
Surya hanya tersenyum.
***
“Hei, Nay? Sudah ketemu dengan Ayah?” tanya Neta dengan senyumnya yang selalu ramah dan segar. “Sini, makan dulu. Tadi bibik masak sup ayam kampung kesukaanmu,” bujuk Neta ketika melihat Nayra berjalan lesu.
Nayra mengangguk lalu mengikuti ajakan Neta untuk makan siang. Memang sekesal apapun Nayra, bahkan pada situasi paling buruk sekalipun, Neta selalu saja luluh dengan sikap dan perlakuan Neta padanya.
Dulu, seringkali Nayra melampiaskan semua kekesalan hatinya pada Neta. Namun, seiring berjalannya waktu ditambah dengan usia Nayra yang semakin bertambah, dia mulai bisa berkompromi dengan keadaan. Kesabaran Neta menghadapi Nayra membuat gadis itu mulai menganggap Neta bukan lagi sebagai pengasuh, melainkan sebagai ibu pengganti meskipun Neta tidak menikah dengan Surya.
“Aku ambilkan nasi?” tanya Neta tak mengenal lelah.
Nayra mengangguk dan Neta mengambil nasi untuknya. Sambil menyodorkan nasi dengan lauk kesukaan gadis itu, Neta mengamati wajah Nayra yang tak sedap dipandang. Neta bisa menduga bahwa ini pasti berhubungan dengan pertemuannya dengan Surya tadi.
“Ada apalagi? Ada yang tidak sepakat sama ayahmu?” tanya Neta dengan suara rendah.
Seperti dugaan Neta, Nayra mengangguk.
“Masalah apalagi?”
“Nggak boleh kuliah di kampus,” jawab Nayra menunduk. Suaranya sudah bergetar menahan tangisnya.
Tentu saja Neta tak tega melihat Nayra, gadis yang sejak masih kecil sudah ada di dalam pengasuhannya itu menjadi bersedih seperti ini.
“Eh, jangan menangis dulu kalau makan. Selesaikan dulu makannya, baru kita bicara. Ya?” Neta selalu sabar menghadapi Nayra karena sejak kecil hanya Neta yang mengurus Nayra.
Nayra mengangguk dan buru-buru menghabiskan makanannya. Setelahnya, Neta memberikan jus jeruk kesukaan Nayra.
“Nah, sekarang tenangkan diri dulu. Kita bicara, apa yang membuat kamu sama ayahmu tidak sepaham lagi.”
Nayra mengangguk dan menceritakan semua yang dibicarakannya bersama Surya, yang tidak menemui kesepakatan. Neta selalu menjadi pendengar yang baik untuk Nayra. Dibiarkannya Nayra bercerita semuanya, apa yang dia inginkan dan semua yang dia pikirkan.
“Mbak Neta tahu, kan, apa yang aku rasakan? Aku sudah besar, kan? Nggak seharusnya Ayah seperti itu.” Nayra bicara bersungut-sungut.
Neta menanggapi keluhan Nayra dengan senyum lembut dan penuh pengertian.
“Oke, sekarang aku sudah tahu bagaimana ceritanya. Jadi kamu maunya bagaimana?” tanya Neta dengan penuh kesabaran.
“Aku maunya kuliah di kampus seperti yang lain, Mbak Neta. Tapi nggak harus pakai pengawal, kan? Aku kan jadi malu. Dikiranya nanti anak manja.”
Neta kembali tersenyum. “Jadi kamu maunya yang bagaimana?”
“Aku maunya kuliah di kampus, nggak di rumah lagi. Tapi aku tak mau pakai pengawal. Aku malu, Mbak Net.” Nayra masih saja berkata bahwa dia malu dengan syarat ayahnya.
“Nay, maaf kalau aku ikut bicara. Situasi ayahmu tidak mudah jika berhubungan dengan keselamatanmu. Terlalu banyak dan besar trauma yang beliau rasakan. Ketakutan ayahmu begitu besar sehingga melakukan hal yang mungkin membuatmu tidak nyaman. Tapi percayalah bahwa apa yang beliau lakukan itu karena beliau sangat menyayangimu, sangat mengkhawatirkan keselamatanmu. Kamu ingat dengan peristiwa di mall dulu, kan?”
Nayra mengangguk, sedikit mengerti saat Neta mengatakan dengan lembut dan penuh kesabaran.
“Kalau saja kamu tidak bertemu dengan lelaki misterius yang sudah berbaik hati menolong kamu itu, kita tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian, kan? Bisa jadi kamu disandera oleh mereka, bisa jadi aku dan Ronald akan dibunuh oleh ayahmu karena tidak becus menjagamu.”
Nayra tertunduk mendengarkan, sekaligus ngeri membayangkan ayahnya membunuh Neta dan Ronald hanya karena lengah menjaga dirinya.
“Jadi menurutmu aku harus bagaimana, Mbak Net? Aku ingin seperti teman yang lain. Aku ingin kuliah di kampus,” rengek Nayra.
Neta kembali tersenyum. Sepertinya dia menemukan celah yang bagus kali ini.
“Aku rasa, kalian bisa saling menurunkan ego. Dengan begini, akan ada kesepakatan yang menyenangkan untuk kalian.”
“Menurunkan ego? Caranya?” tanya Nayra yang tertarik dengan kalimat Neta.
“Ketika ayahmu menurunkan egonya dengan mengizinkan kamu kuliah di kampus, kurasa kamu harus menurunkan egomu satu langkah dengan mengikuti syarat ayahmu.”
“Dengan ke kampus membawa pengawal? Apa kata teman-temanku nanti, Mbak Net?”
“Memangnya kalau ada apa-apa denganmu, apakah temanmu akan peduli? Tidak, kan?” tanya Neta.
Nayra terdiam menunduk.
“Mengapa tidak mencari cara dan kesepakatan agar kamu tetap bisa kuliah ke kampus dengan pengawalan yang tidak terlalu mencolok.”
Nayra menatap Neta.
“Memangnya bisa dengan cara seperti itu? Mbak Neta tahu, kan, pengawal-pengawal ayah berwajah garang semua?” Nayra merajuk lagi karena memang orang-orang yang dipekerjakan ayahnya sebagian besar berwajah sangar dan berbadan kekar.
Neta tersenyum mendengarnya.
“Mengapa risau dengan hal ini? Kalau kamu setuju, mungkin ayahmu akan mencari pengawal yang sedikit manusiawi dan tidak menakutkan,” bujuk Neta dengan senyum tertahan.
“Apakah nanti pengawalnya ikut ke kelas?” tanya Nayra.
“Itu bisa dibicarakan kalau kamu tidak setuju. Pokoknya kita akan cari cara paling nyaman agar kamu tetap bisa kuliah di kampus, dengan pengawalan yang tidak mencurigakan. Bagaimana?” tawar Neta.
Nayra menatap Neta dengan ragu sebelum akhirnya tersenyum.
“Peluk, Mbak Neta,” pinta Nayra sambil merentangkan tangannya meminta pelukan Neta. Dan Neta selalu mengabulkan permintaan Nayra, seperti mengabulkan permintaan putrinya sendiri.
“Meskipun aku tak punya ibu seperti orang lain, tapi aku bersyukur karena aku punya Mbak Neta yang tak kalah baik dari ibu kandungku. Terima kasih, Mbak Neta. Di dunia ini hanya Mbak Neta yang bisa memahami aku.” Nayra mengucap rasa terima kasihnya dengan penuh ketulusan.
Neta mengangguk. Namun, tiba-tiba Nayra merenggangkan pelukannya dan menatap Neta dengan sorot mata serius.
“Mengapa Mbak Neta tidak menikah saja sama Ayah? Agar aku memiliki keluarga yang lengkap? Ayah punya istri dan aku punya ibu. Bagaimana?” usul Nayra dengan spontan, membuat Neta terkejut bukan kepalang.
“Hush!”
***