Wajah Neta bersemu merah mendengar usulan paling konyol dan tak masuk akal yang diungkapkan oleh Nayra itu. Bagaimana mungkin gadis lugu ini mengusulkan hal tak masuk akal seperti itu? Bukankah dia tahu bahwa posisi Neta di rumah ini adalah seorang pengasuh Nayra, yang telah menganggap Nayra sebagai putrinya sendiri dan rela menghabiskan masa lajangnya dengan tidak menikah hanya untuk berterima kasih pada Surya yang telah menyelamatkan hidupnya dari lembah hina dulu?
“Mbak Neta mengapa wajahnya merah? Malu, ya?” Nayra mengejek Neta dengan senyumnya yang kocak.
“Mengapa harus malu? Kita tidak sedang membahas tentang aku atau ayahmu, kan, Nay? Tapi kita membahas tentang kuliah kamu akan seperti apa. Seperti keinginan kamu atau seperti keinginan ayahmu.” Neta selalu bisa mengelak dengan bijak.
Seketika Nayra terlihat murung. “Apakah Mbak Neta akan membantuku?” tanya Nayra dengan sorot matanya yang penuh permohonan.
“Tergantung besarnya manfaat atau sebaliknya untuk kamu.”
“Kok gitu, Mbak? Mbak Neta nggak sayang lagi sama aku?” Nayra merajuk sebagaimana kebiasaannya ketika keinginannya tidak dikabulkan.
“Jangan mudah menyimpulkan, Nay. Aku melakukan hal ini karena aku sayang sama kamu. Aku tak mau terjadi apa-apa sama kamu.”
“Tapi, Mbak Neta, aku sudah dewasa. Sudah hampir jadi mahasiswa. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Mbak Neta mau kan, membantuku membujuk Ayah? Plis,” Nayra kembali gigih dengan keinginannya. Bahkan tak segan dia memohon dengan wajah menyedihkan seperti yang kali ini dilakukannya.
Neta menghela napas berat. “Aku akan mengusahakannya, tapi mengenai keberhasilannya, aku tak bisa menjaminnya, Nay.” Neta akhirnya menyerah atas kegigihan Nayra.
Senyum gadis itu terkembang sempurna demi melihat kesanggupan Neta membantunya. Sungguh, selama ini dia sudah sangat patuh atas peraturan ayahnya. Sehingga Nayra merasa bahwa dia ingin menjadi dewasa dengan mengatur dirinya sendiri. Hidup sesuai dengan kaidah dan aturan yang diyakininya benar.
Yang kemudian Neta lakukan adalah menemui Surya untuk mengutarakan keinginan Nayra. Memang sedikit riskan ketika Neta berniat membela Nayra karena Neta tahu betul bagaimana besarnya trauma yang Surya alami ketika harus kehilangan istrnya, tertembak di depan matanya. Surya jelas takut jika itu berhubungan dengan Nayra dan keselamatannya. Lelaki itu tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya hanya karena profesinya sebagai pengusaha yang sedang berjaya. Bagaimanapun, rasa bersalah Surya atas kematian istrinya sangat besar.
Di depan ruang kerja Surya, Neta berhenti dengan rasa ragu. Tangannya saling meremas satu dengan yang lain. Neta memang sudah bertahun-tahun bekerja pada Surya, mengabdi lebih tepatnya. Tetapi untuk urusan dan hal krusial seperti ini Neta tetap saja merasa gentar. Tetapi dia sudah terlanjur berjanji pada Nayra untuk membantunya melunakkan hati Surya, meski kemungkinan untuk berhasil sangat kecil.
Dengan tangan yang masih basah, Neta mengetuk pintu ruangan itu dan menunggu reaksi Surya dari dalam. Selama beberapa saat tak terdengar ada sahutan. Namun, ketika Neta hendak mengetuk kembali pintu itu, terdengar suara Surya yang cukup menggetarkan. Sungguh, tak sehari dua hari Neta bertemu dan berhadapan dengan Surya. Tetapi ketika akan bertemu, perempuan dewasa ini selalu saja berdebar.
“Masuk!” Dan Neta tahu suara siapa itu. Maka dengan pelan, dia memutar handle pintu dan mengintip ke arah dalam.
“Masuk, Neta!” Suara Surya yang bernada perintah itu sebenarnya cukup menakutkan bagi Neta.
Perempuan dewasa itu mengangguk dengan senyum canggung kemudian melangkah memasuki ruangan. Meski ruangan ini terang benderang oleh cahaya yang berasal dari luar, tetapi tampilannya yang elegan sungguh menciptakan aura yang kharismatik, sebagaimana aura Surya.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Surya datar namun jelas butuh penjelasan.
Neta menghalau rasa gentar yang melingkupi dirinya kemudian menghela napas panjang, mencoba tenang. Dan semua itu tak lepas dari pengawasan mata Surya yang tajam. Neta mengangguk.
“Tentang apa, Neta?” tanya Surya dengan suara datar dan tetap dengan ketegasannya.
“Ini tentang Nayra dan kuliahnya, Pak.”
Hanya sampai di situ, Neta terpaksa menghentikan kalimatnya ketika dia melihat raut wajah Surya yang berubah suram. Surya kemudian berdiri dan melangkah pelan menuju ke jendela lebar yang ada di sisi ruangan itu. Dia menatap kosong ke arah kejauhan. Ruang kerja Surya memang ada di lantai tiga rumah besar ini sehingga pemandangan yang luas bisa terlihat jelas. Neta memilih diam, menanti kemurkaan Surya atas kelancangannya kali ini. Dan Neta tahu resiko ini yang akan dia hadapi.
Dengan harap-harap cemas, Neta menunggu kemurkaan itu.
“Kamu tahu sebesar apa trauma yang aku alami atas kehilangan istriku, Neta. Seharusnya kamu tidak mengusulkan apapun jika itu beresiko untuk keselamatan Nayra. Atau mungkin kamu sudah jemu mengasuhnya yang semakin hari semakin aneh permintaannya?”
Deg! Jantung Neta bagai dihantam palu mendengar pertanyaan Surya yang seolah mengatakan bahwa Neta jemu mengurus Nayra dan ingin berhenti.
“Maaf, Pak. Bukan seperti itu. Saya sama sekali tidak jemu mengasuhnya, bahkan hingga saya tua sekalipun.” Neta menyela cepat atas dugaan Sura pada dirinya itu.
Surya tersenyum masam. Dia juga tahu bahwa Neta tak bermaksud seperti itu. Namun, Surya juga tak bisa mengabulkan permintaan Nayra tanpa perhitungan yang matang dan cermat. Kesetiaan Neta pada keluarganya sungguh tak bisa diragukan, terbukti di usianya yang sudah sangat matang ini Neta memilih melajang hanya untuk tetap bisa mendampingi Nayra dan mengabdi pada keluarga Surya.
“Jangan terlalu memanjakan Nayra, Neta. Aku tak mau sikap lunakmu nanti akan menjadi bumerang dan akan berakibat buruk padanya.”
Neta mengangguk meskipun dia tahu bahwa Surya tak melihat anggukannya.
“Baik, Pak. Maaf atas kelancangan saya. Permisi.” Neta kemudian membalikkan badannya. Kalimat datar Surya sudah menjadi peringatan keras baginya kali ini. Dan Neta jelas tak ingin melewati garis keras yang ditorehkan oleh Surya.
Surya tak menyahut. Sejujurnya dia tak tega menolak permintaan Neta yang bahkan belum selesai diucapkan. Tetapi jelas Surya tak mau mengambil keputusan gegabah ketika menyangkut keselamatan Nayra. Bagaimanapun, Nayra adalah hidupnya. Jika sesuatu terjadi pada putri semata wayangnya itu, Surya tak yakin apakah dia akan sanggup menjalankan hidupnya atau tidak.
“Ada apa, Mbak Neta?” tanya Ronald ketika berpapasan dengan Neta yang murung di koridor ruangan itu.
Neta hanya tersenyum dan menggeleng. Dia tak akan mengatakan kegagalannya pada Ronald meskipun mereka dekat sebagai sesama pegawai Surya.
“Nayra di mana, Ron?” tanya Neta pelan dan putus asa.
“Sepertinya di kamar.”
Tanpa menunggu lama, Neta bergegas menuju ke kamar Nayra, sementara Ronald menatapnya dengan kening berkerut penuh tanya. Tidak biasanya Neta berwajah muram apapun kondisinya.
Sampai di depan pintu kamar Nayra, perempuan itu berhenti dan ragu. Matanya menatap ke atas, seolah menimbang dan memilih kalimat apa yang paling tepat untuk mengatakan reaksi penolakan Surya atas keinginan Nayra sekolah di universitas biasa sebagaimana temannya yang lain.
Neta sudah mengangkat tangan untuk mengetuk pintu kamar Nayra ketika pintu kamar terbuka. Muncul wajah Nayra yang menatap Neta penuh harap. Hati Neta luruh seketika, Sungguh, dia tak tega untuk mengatakan penolakan tak langsung yang diungkapkan Surya tadi. Karenanya, Neta segera memasang senyum untuk menutupi keresahannya.
“Bagaimana, Mbak?” Nayra bertanya penuh harap.
“Kamu tenang saja. Tadi ayahmu sedang banyak masalah, jadi aku belum bisa mengatakannya, Nay. Tapi kamu tenang saja. Kita akan berusaha agar kamu tetap bisa kuliah di universitas dengan aman.” Neta memberikan jawaban yang tidak jujur kali ini. Padahal dalam hatinya dia merasa sangat bersalah.
“Mbak Neta nggak bohong, kan?” tanya Nayra penuh selidik.
Neta kembali tersenyum untuk menyempurnakan kebohongannya. Dia menggeleng namun tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Nayra. Ini memang bukan hal yang baik, tapi jika Neta jujur mungkin akibatnya tidak akan baik. Maka berbohong adalah pilihan terakhir Neta menghadapi Nayra dan Surya yang lebih sering bertentangan dalam banyak hal. Dan Neta selalu jadi pihak yang harus netral diantara keduanya.
“Sekarang kamu yang tenang, ya. Kita akan mencari saat paling baik untuk mengatakan semua pada ayahmu.”
Nayra mengangguk lesu. Hatinya merasa bahwa keinginannya hanya akan berakhir menjadi keinginan tanpa perwujudan.
***