KECURIGAAN SURYA

1353 Kata
Seminggu ini, Nayra malas makan dan keluar kamar. Hal yang setiap hari dilakukannya hanya di kamar, membuka beberapa akun sosial media yang dimilikinya untuk mencari siapa lelaki yang menolongnya ketika itu. Bahkan dengan nekat, dia mengikuti akun kafe dimana dia bersembunti ketika itu. Dan hal paling konyolnya adalah ketika dia meminta rekaman CCTV pada hari dimana dia ditolong oleh lelaki itu untuk mengetahui siapa lelaki itu. Tentu saja ini sudah keterlaluan dan melanggar hak pribadi kafe sehingga pihak kafe tidak memberi apa yang dia inginkan. Neta juga belum menemui Surya lagi untuk membahas janjinya pada Nayra mengenai kuliah. Neta dan Nayra sepertinya sengaja tidak menemui Surya entah dengan alasan apapun. Bahkan, pagi ini ketika Sura sudah duduk dengan tenang bersiap untuk sarapan pagi, dia lagi-lagi tak melihat keberadaan kedua perempuan yang selalu menemaninya sarapan itu. Dan ini sudah untuk yang kesekian harinya mereka absen dari sarapan dan bahkan makan malam. Kemarin-kemarin Surya masih tidak begitu memperhatikan hal ini. Tapi ketika kali ini ruang makan kembali sunyi, Surya terpaksa mengerutkan keningnya berpikir. Bukankah ini sudah berlangsung seminggu semenjak kedatangan Neta hari itu? Apakah mereka berdua sengaja protes dengan penolakannya waktu itu? Tak sabar dengan pikirannya sendiri, Surya kemudian menoleh pada Ronald yang menunggu di dekat pintu ruang makan, menunggu untuk mengantar Surya ke kantornya. “Ronald? Dimana Neta dan Nayra?” tanya Surya dengan suara yang mulai dirambati oleh amarah terpendam. Tidakkah Nayra tahu bahwa semua yang dilakukannya adalah untuk menjaga keselamatannya? “Akan saya panggilkan, Tuan.” Ronald berdiri sigap dan hendak melangkah mencari Neta dan Nayra. Namun, belum lagi Ronald melangkah jauh, dari arah yang berlawanan, terlihat Neta yang bergegas ke arahnya. Wajahnya terlihat gusar sehingga Ronald memilih berhenti dan menunggu Neta mendekat. “Dimana Bapak, Ron? Aku mencari ke kamar dan ruang kerja beliau tetapi tidak ada,” tanya Neta dengan gugup. “Bapak sedang sarapan. Ini aku akan memanggil kalian untuk sarapan. Apa yang yang terjadi, Ta?” “Nayra demam tinggi, Ron,” jawab Neta kemudian bergegas menuju ke ruang makan untuk menemui Surya dan mengabarkan kondisi Nayra. Ronald juga berbalik arah mengikuti langkah kaki Neta yang tergesa. “Selamat pagi, Pak Surya,” sapa Neta dengan santun namun tak bisa menyembunyikan rasa paniknya. “Ada apa, Neta?” tanya Surya dengan nada khawatir namun wajahnya tetap dingin. Lelaki itu langsung menghentikan sarapannya dan menatap Neta dengan sorot mata tajam. “Maaf, Pak. Nayra …” Neta menghentikan kalimatnya karena gugup sekaligus panik. “Ada apa dengan Nayra, Neta?” tanya Surya dengan gertakan yang kental sementara Ronald ikutan khawatir. “Nayra … Nayra demam tinggi, Pak.” Akhirnya Neta bisa mengungkapkan apa yang terjadi. Tanpa menunggu lagi, Surya bergegas menuju ke kamar Nayra dengan langkah lebar. Detak sepatu yang dikenakan Surya berpadu dengan detak sandal yang dipakai Neta. Ronald juga tak ketinggalan, dia bergegas mengikuti langkah dua orang itu. Tiba di kamar Nayra, Surya langsung menerobos masuk dan menuju ke ranjang Nayra. Tangan kokohnya meraba dahi Nayra yang kali ini panasnya cukup tinggi. Mata Nayra yang terpejam dengan rintihan kedinginan membuat Surya panik. Dia menoleh ke arah Neta yang berdiri di sisi ranjang. “Nay? Ini Ayah, Nay. Kamu kenapa, Nay? Kamu sakit?” tanya Surya dengan panik. Nayra membuka matanya sebentar dan menjawab dengan suara lirih. “Dingin, Yah.” Surya langsung merapatkan selimut tebal Nayra, sementara Neta membantu Surya yang tangannya gemetar. Jantung Surya berdegup kencang. Sebuah ketakutan membanjiri dirinya. Semua ketakutan akan kehilangan membuat Surya kehilangan akal bagaimana seharusnya. Selama ini Nayra memang jarang sakit karena dia memerintahkan Neta untuk mengatur pola makan dan kualitas makanan untuk Nayra. “Panggil dokter Burhan segera, Neta!” perintah Surya dengan tegas penuh kepanikan. Sementara itu, Ronald yang hanya berani menunggu di dekat pintu hanya menatap mereka dengan kecemasan yang sama. “Baik. Baik, Pak.” Neta menjawab dengan gugup lalu bergegas mengambil ponsel untuk menghubungi dokter Burhan yang juga dokter pribadi keluarga ini. “Beliau akan datang secepatnya, Pak.” Mengabaikan informasi Neta, Surya kembali merapatkan selimut Nayra. Berusaha semaksimal mungkin memberikan kehangatan meski sejujurnya dia tahu bahwa rasa dingin Nayra bukan karena suhu ruangan, melainkan karena tubuh Nayra sedang tidak baik-baik saja. Detik dan menit yang berlalu rasanya terlalu lama bagi Surya saat menunggu kedatangan dokter Burhan. Berulang kali Surya melihat jam tangannya yang rasanya berjalan lambat. “Mengapa dokter Burhan belum datang juga, Neta?” Jelas terlihat bahwa Surya tidak sabar. Suaranya bergetar dengan mata merah menahan amarah yang nyaris meledak. Neta tak menjawab, namun dia kembali menghubungi dokter Burhan. Namun, semua mata kemudian tertuju ke arah pintu kamar ketika terdengar suara langkah orang datang. Kelegaan jelas terlihat di mata Neta dan juga Burhan melihat kedatangan dokter Burhan yang mendekat dengan langkah bergegas. “Apa yang terjadi, Sur?” tanya dokter Burhan memulai memeriksa suhu dan tekanan darah Nayra. Dokter Burhan memang selalu memanggil Surya tanpa embel-embel apapun karena mereka berdua adalah teman semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. “Aku tidak tahu karena beberapa hari ini aku sibuk, Burhan.” Surya kemudian menoleh menatap Neta yang berdiri dengan penuh kekhawatiran. Seketika wajah Neta berubah memucat oleh tatapan Surya yang seperti pedang terhunus dan siap menebas ketegarannya. Surya memang tidak mengatakan apapun, tetapi Neta tahu bahwa Surya pasti memiliki banyak pertanyaan yang menuntut jawaban. Tangan Neta berkeringat. Surya kemudian mengalihkan perhatiannya pada dokter Burhan yang menangani Nayra. Dokter keluarga yang juga teman dekat Surya itu kemudian memberikan suntikan untuk pada lengan Nayra. Setelah dokter Burhan selesai, Neta bergegas mendekat untuk menyelimuti Nayra kembali yang masih juga demam. Tak lupa, Neta selalu mengusap kening Nayra penuh kelembutan. Hati Neta selalu saja menghangat ketika melihat Nayra menderita seperti ini. Jika orang lain melihat dan menilai kehidupan Nayra selalu indah dengan bergelimang materi dan penjagaan yang ketat, apapun yang diinginkan akan terkabulkan oleh ayahnya. Tetapi Neta tahu apa yang sesungguhnya Nayra rasakan. Semua hal indah yang dilihat orang lain itu sebenarnya membuatnya seperti burung di sangkar emas. Indah namun Nayra tak mendapatkan kebebasannya sebagaimana remaja pada umumnya. Tak pernah ada yang tahu betapa inginnya Nayra bisa menjalani kehidupannya sebagaimana remaja yang lain. yang bisa jatuh cinta dan bahagia dengan kehidupannya yang kadang absurd. Tetapi jangankan jatuh cinta, lelaki yang seumur-umur selalu dilihatnya hanyalah ayahnya, para penjaga dan pekerja ayahnya, dan juga beberapa guru yang datang ke rumah untuk mengajar. Maka ketika sesekali keluar ke mall dengan mencuri-curi waktu dan mencari-cari alasan, Nayra mencoba melihat dunia luar dengan matanya. Tetapi hasilnya tak pernah sama. Dia tak pernah menemukan laki-laki yang pantas dan bisa membuatnya tersenyum sendiri. Hingga beberapa bulan lalu, Nayra merasakan sebuah kesejukan dan kenyamanan dari sepasang mata yang tajam namun lembut dan penuh perlindungan. Sepasang mata yang dimiliki oleh laki-laki yang bahkan dia sendiri tak pernah tahu seperti apa wujud utuhnya karena lelaki itu mengenakan masker. Tetapi Nayra tak akan pernah melupakan mata itu. Karena mata itu yang membuatnya merasakan jatuh cinta, untuk pertama kalinya. “Neta?” suara Surya terdengar memenuhi ruangan. Neta segera menoleh dengan terkejut dan menyadari bahwa tak ada orang lain di kamar Nayra ini selain dirinya, Nayra yang masih tertidur namun kini tak lagi menggigil, dan juga Surya. Dia tak tahu kapan dokter Burhan dan Ronald keluar dari kamar ini, tetapi yang pasti mereka sudah tak ada di sini. “Ya, Pak?” Neta bersuara sedikit gentar. “Ikut aku ke ruanganku,” ujar Surya dengan tegas kemudian berjalan dengan langkah lebar meninggalkan kamar Nayra. Tak menjawab, namun Neta mengangguk. Setelah menepuk-nepuk bahu Nayra yang masih tertidur, dia melangkah pelan meninggalkan kamar itu mengikuti langkah Surya sebagaimana diminta tadi. Detak sepati flat yang selalu dikenakannya itu seperti mengimbangi detak jantungnya yang bertalu. Neta tahu akan ada hal tak menyenangkan dengan sikap Surya tadi. Tetapi ini resikonya. Sampai di ruang kerja Surya, Neta duduk di kursi yang ada di depan meja Surya sementara laki-laki itu duduk dengan tatapan menghunjam ke manik mata Neta. “Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi pada Nayra sehingga dia mengalami demam tinggi seperti ini?” Pertanyaan Surya ini jelas membuat jantung Neta nyaris berhenti berdetak. Perempuan itu menatap Surya dengan mengabaikan rasa gentarnya sebelum kemudian menatap Pak Surya dan bersiap untuk mengakui apa yang terjadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN