“Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Sehubungan dengan sakitnya Nayra, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegahnya melakukan hal ini. Tetapi kali ini dia keras kepala, Pak. Saya minta maaf,” ujar Neta kemudian menunduk.
Jantung Surya bagai diremas mendengar hal ini. Apakah sakitnya Nayra ada kesengajaan dan neta mengetahuinya namun tidak melapor padanya?
“Ada apa ini sebenarnya, Neta? Apakah ada unsur kesengajaan dalam sakitnya Nayra?” tanya Surya dengan suara menggelegar penuh tekanan.
“Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Saya sudah berusaha mencegahnya, Pak. Bahkan saya sudah menakutinya akan melaporkan aksinya pada Anda. Tetapi saya tidak berhasil.”
Sampai di kalimat terakhir ini, Surya masih juga tak mengerti kemana arah pembicaraan Neta. Surya menatap Neta dengan kesal sebelum melontarkan pertanyaan tegas penuh tekanan.
“Katakan dengan sejelas-jelas ada apa sebenarnya, Neta!”
Neta menelan ludahnya dengan leher yang terasa tercekat. Urat lidahnya mendadak kaku.
“Ini aksi Nayra yang ingin kuliah di tempat umum, Pak. Dia melakukan ini karena ingin Anda menyetujui keinginannya.” Akhirnya Neta bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Surya berdiri dengan kesal dan tak habis pikir dengan jalan pikiran dua perempuan ini. Yang satu melakukan aksi protes yang tak masuk akal sementara yang lain bahkan menyetujuinya meskipun tadi Neta mengatakan bahwa dia sudah mencegah. Tetapi bukankah hasilnya sama?
“Sekarang mungkin kamu membiarkan dia melakukan aksi mogok makan, Neta. Aku curiga kamu akan membiarkan dia melakukan aksi bunuh diri jika dia menginginkan sesuatu yang tak dikabulkan padahal itu untuk keselamatannya. Untuk kebaikannya!” Surya menggertak tegas. Suara baritonnya menggema memenuhi ruangan elegan dan penuh aura intimidasi itu.
Neta menatap Sura dan menggeleng. “Tak mungkin saya membiarkan nayra melakukan bunuh diri, Pak.”
Surya tersenyum sinis.
“Apa yang tak mungkin? Sekarang saja kamu membiarkan Nayra melakukan aksi mogok makan. Tidak menutup kemungkinan di masa mendatang kamu akan melakukannya lagi, Neta.”
Lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah jendela dengan hati yang kesal, tak mau menatap Neta karena dia tak ingin meledakkan amarahnya pada perempuan yang sudah ditolongnya itu dan kini mengabdi padanya itu. Tetapi ini adalah tentang Nayra yang keselamatannya adalah nyawa Surya. Surya tak tahu apa yang akan dilakukannya jika terjadi sesuatu pada Nayra. Dan Surya tak mau kompromi atau memaklumi apapun yang mengancam keselamatan Nayra.
Dengan cepat Surya membalikkan tubuhnya, menatap Neta yang masih duduk di kursi dengan gelisah.
“Kamu tahu siapa Nayra, Neta?” tanya Surya dengan geraham yang mengatup ketat, menahan geram dan kesalnya.
Neta mengangguk.
“Kalau kamu tahu siapa Nayra dan bagaimana pentingnya Nayra bagiku, kamu tak akan melakukan hal ini dengan membiarkan Nayra melakukan hal konyol seperti ini!”
Surya terdiam sesaat, mengatur napas untuk menahan emosinya yang hendak meledak. Sungguh, dia tak bisa membiarkan hal ini terulang lagi di masa depan.
“Maafkan saya, Pak. Saya yang salah.” Hanya itu yang bisa Neta katakan.
“Kalau aku tidak mengetahui hal ini, apakah maafmu bisa mengembalikan keadaan, Neta? Apa yang akan kamu lakukan jika semua terlambat? Bagaimana kalau sampai hal paling buruk terjadi? Atau jangan-jangan kamu ingin sesuatu terjadi pada Nayra sehingga kamu bebas tanpa harus mengurus dia lagi? Kalau memang itu yang kamu inginkan, Neta, kamu bisa meninggalkan Neta. Kamu tak harus mengurusnya jika itu akan membahayakan Nayra!” Surya mengungkapkan rasa emosinya dengan panjang lebar. Rasa takut kehilangan Nayra membuatnya kesal bukan main.
Mendengar kalimat menohok Surya itu, jantung Neta berdetak lebih cepat secara spontan. Dia mendongak menatap Surya dengan tatapan terluka. Sepicik itu Surya menilai dirinya dan pengorbanannya selama ini. Maka, Neta seolah berontak dengan harga dirinya yang sepertinya sudah ditebas habis oleh kalimat Surya.
Neta tahu Surya terbawa emosi, tetapi kali sungguh sangat melukai hatinya.
“Anda menilai saya bosan mengurus Nayra, Pak? Bapak tahu, kan, bagaimana saya menyayangi Nayra seperti saya menyayangi anak saya sendiri?” tanya Neta dengan lantang, mengabaikan posisinya sebagai pegawai Surya.
“Tahu apa kamu tentang menyayangi anak? Kamu bahkan belum memiliki anak, Neta, harap kamu catat itu. Kalau kamu menyayangi Nayra, kamu tidak akan membiarkan Nayra melakukan hal bodoh seperti itu! Dan sekali-sekali kamu tidak akan pernah bisa menyamakan perasaanmu dengan ibu Nayra!” Surya menyangkal tegas pernyataan Neta.
“Ya! Saya memang belum pernah memiliki anak dan mungkin tak akan pernah memiliki anak karena saya lebih memilih balas budi atas pertolongan Anda, Pak Surya. Saya mengabaikan apapun bahkan masa depan saya, mengabaikan perasaan saya pada Anda hanya demi mengurus Nayra dengan baik. Tetapi ternyata Anda menilai saya sedangkal itu, Pak Surya. Baiklah. Terima kasih sudah menolong saya beberapa tahun lalu sehingga saya selamat dari kehidupan kotor dengan menjadi seorang perempuan malam. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk mengabdi dan mengasuh Nayra. Semoga Anda mendapatkan pengasuh yang lebih baik untuk Nayra.”
Usah berkata dengan nada bergetar menahan emosi seperti itu, Neta kemudian bergegas meninggalkan ruang kerja Surya tanpa memberi kesempatan pada Surya untuk menyangkal apapun yang dikatakannya. Sementara Surya seolah kehilangan kata-kata melihat Neta yang kali ini bersikap berani menentang dirinya.
Hingga pintu ruang kerjanya tertutup, Surya menyadari bahwa Neta sudah keluar dari ruangan ini dengan segala amarahnya yang tak bisa dicegah. Tangan Surya mengepal dengan geraman tertahan.
“Dasar perempuan! Semuanya membingungkan!” umpat Surya sambil memukul meja dengan kesal.
Lelaki itu berkacak pinggang dan melangkah kesal tanpa tujuan di dalam ruangan itu. Pikirannya larut dalam arus yang membingungkannya. Namun, tiba-tiba dia teringat kalimat Neta yang tadi terabaikan olehnya. Bahwa Neta mengabaikan perasaan yang dimilikinya untuk Surya.
“Perasaan? Perasaan apa ini maksudnya? Mungkinkah dia …” Surya tak berani meneruskan pikirannya yang absurd. Dan ketika dia nyaris menemukan kesimpulannya, Surya bangkit dan bergegas berlari keluar ruangan.
***
Keluar dari ruang kerja Surya dengan masih diselimuti oleh emosi, Neta segera memasuki kamarnya. Kekesalannya atas tuduhan tak berdasar yang dilakukan dan diucapkan Surya padanya kali ini membuatnya membuat keputusan absurd dan nekat. Jalan sulit dan diambilnya kali ini adalah meninggalkan rumah ini daripada menjadi orang yang tertuduh ingin menjerumuskan Nayra.
Dengan cekatan, dia mengemasi beberapa potong baju yang dimilikinya. Uang gajinya selama ini yang selalu ditumpuknya di rekening akan menjadi satu-satunya andalannya untuk hidup mandiri dan lepas dari lingkungan Surya yang serba cukup. Bukan hal mudah tentu saja, tetapi Neta akan menjalaninya.
Ada sedikit rasa gentar di hati Neta jika dia keluar dari rumah ini. Bagaimana dia akan hidup di luar jika selama ini dia tak memiliki pengalaman kerja selain mengasuh Nayra hingga menjadi gadis dewasa seperti saat ini. Bagaimana jika nanti dia bertemu dengan Herman, laki-laki jahat yang juga ayah tirinya yang dulu hendak menjualnya dan menjadikannya perempuan penghasil uang?
“Tidak! Itu tak akan pernah terjadi!” Neta menggeleng kuat. Tangannya mengusap air mata yang keluar tanpa bisa dibendung karena ingat bagaimana lemahnya dia dulu.
Tas bajunya sudah penuh kini. Dia menatap ke sekeliling ruang kamar yang sudah hampir lima belas tahun ini menjadi tempat istirahatnya. “Semua ini bukan milikku. Tak seharusnya aku berat meninggalkan semua ini,” gumam Neta kemudian melangkah keluar dengan penuh keyakinan.
Melewati kamar Nayra yang masih tertutup, Neta menghentikan langkahnya. Dia menatap pintu kamar itu dengan ragu. Sejujurnya dia ingin masuk, tetapi dia tahu jika nanti dia masuk maka dia akan semakin berat meninggalkan rumah ini. Terlebih meninggalkan Nayra.
Dengan meneguhkan hati, Neta melangkah keluar. Namun sebelumnya dia pergi ke dapur menemui Bu Rahman untuk memberinya pesan mengenai makanan Nayra.
“Memangnya Mbak Neta mau kemana? Ada apa sebenarnya ini, Mbak Neta? Mengapa Mbak Neta membawa tas begini?” tanya Bu Rahman yang sudah menganggap Neta sebagai adiknya itu.
Neta tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Saya tidak kemana-mana, Bu Rahman. Tetapi mungkin pengabdian saya di rumah ini hanya sampai hari ini. Jadi tolong jaga makan Nayra kalau saya tak ada, ya? Jangan biarkan dia mogok makan lagi biar tidak sakit. Jangan memasak makanan yang membuat alerginya kambuh.” Neta memberikan pesan mengenai makanan Nayra.
Bu Rahman lantas mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Baik, Mbak Neta. Mbak Neta juga jaga diri baik-baik, ya? Jangan lupa memberi kabar,” ujar Bu Rahman yang bahkan tak punya kuasa untuk mencegah kepergian Neta.
Neta mengangguk dan memeluk Bu Rahman sebelum kemudian melangkah mantap meninggalkan rumah ini. Sampai di halaman, dia berpapasan dengan Ronald yang terkejut melihat Neta.
“Ta? Mau kemana?” tanya Ronald heran karena tak biasanya Neta pergi apalagi membawa tas seperti ini.
Neta tak menjawab. Dia melangkah menuju gerbang, menunggu taksi yang dipesannya beberapa saat tadi melalui aplikasi online. Ronald mengejarnya untuk menanyakan lebih jauh apa yang terjadi. Tetapi sampai di gerbang, taksi yang dipesan Neta ternyata sudah menunggu.
“Ta! Kamu mau kemana?” tanya Ronald mendesak Neta.
“Tak bisa aku jelaskan sekarang, Ron. Mudah-mudahan kita punya waktu untuk bercerita. Jaga Nayra baik-baik, ya?”
“Tapi, Ta?” Ronald hendak bertanya lagi tetapi Neta terlanjur meminta sopir taksi menjalankan mobilnya.
Ronald tak habis pikir apa yang sudah terjadi.
***