KEDEKATAN YANG MENGHANGATKAN

1165 Kata
Ronald hanya berdiri menatap taksi yang membawa Neta meninggalkan rumah besar Surya kali ini. Di kepalanya banyak berkecamuk pikiran-pikiran dan dugaan mengenai apa yang sebenarnya sudah terjadi sehingga Neta nekat pergi membawa tas pakaian. Tak mungkin Neta pergi tanpa masalah mengingat perempuan itu menghabiskan nyaris separuh hidupnya di rumah ini. Merasa tak ada yang bisa dilakukannya, Ronald hendak masuk kembali ke dalam karena seperti biasa dia harus menyiapkan mobil untuk mengantar Surya ke kantornya. Namun, Ronald terkejut melihat Surya berlari ke arahnya. Tidak biasanya Pak Surya keluar rumah dengan berlari gegabah seperti ini. Setahu Ronald, Pak Surya adalah pribadi yang tenang. “Ada apa, Pak Surya?” tanya Ronald. “Kemana dia?” tanya Surya dengan napas memburu. Ronald bingung. “Siapa, Pak? Neta?” Surya mengangguk dengan kesal. “Memangnya siapa lagi kalau bukan dia? Yang pergi dari rumah ini juga hanya dia, kan?” tanya Surya masih dengan nada kesal melihat Ronald yang mendadak bodoh hari ini. Ronald tersenyum masam. “Maaf, Pak. Neta sudah pergi dengan taksi.” “Apa dia bilang akan pergi kemana?” tanya Surya cepat. Ronald menggeleng. “Sialan!” umpat Surya lirih namun terdengar jelas oleh Ronald, membuat pengawal itu semakin tidak mengerti apa yang sudah terjadi. “Memangnya apa yang terjadi, Pak? Mengapa Neta pergi, Pak?” Ronald yang tegas dan gagah itu tiba-tiba menjadi seperti perempuan yang ingin mendapatkan bahan menggosip. Surya menatapnya sengit. “Sebaiknya kamu tidak membiarkan dirimu terlalu ingin tahu, Ronald!” Mau tak mau Ronald mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan mengangguk patuh meski dalam hatinya merasa geli dan ingin tertawa. Sepertinya ada aura merah jambu kali ini yang membuat Surya kalang kabut mengejar Neta. Tak ingin berlama-lama, Surya melangkah masuk ke dalam rumah. Kali ini menuju ke kamar Nayra untuk melihat perkembangan kesehatan anak kesayangannya itu. Sampai di depan pintu kamar, Surya berpapasan dengan bu Rahman yang baru saja keluar dari mengantar makanan untuk sarapan Nayra. “Dia sudah bangun, Bu Rahman?” tanya Surya dengan lirih. Bu Rahman menoleh ke dalam kamar dan mengangguk. “Sudah, Pak. Tetapi saya suruh sarapan belum mau. Katanya menunggu …” Bu Rahman tidak melanjutkan kalimatnya. “Menunggu? Menunggu siapa, Bu Rahman?” tanya Surya dengan harap-harap cemas. Surya cemas jika Nayra menunggu Neta padahal Neta baru saja pergi dengan marah tadi. “Mbak Nayra menunggu Mbak Neta, Pak.” Bu Rahman menjawab dengan ragu-ragu dan suara pelan. Nayra menghela napas. Resah. Tanpa banyak bicara lagi, Sura masuk ke kamar Nayra dengan pelan. Dia menyetel wajahnya agar tetap penuh senyum agar Nayra tidak curiga dengan apa yang sudah terjadi. Nayra yang sudah terbangun dengan wajah yang sedikit tenang tanpa rasa demam itu menatap kedatangan ayahnya. Surya mengambil tempat duduk di sisi ranjang Nayra dengan pelan. Diraihnya tangan gadis kesayangannya itu kemudian mengusapnya lembut. “Bagaimana keadaanmu sekarang, Nay? Sudah lebih hangat?” tanya Surya lembut. Nayra menatap mata Surya dengan penuh rasa bersalah. “Maafin Nayra, Yah,” ujar Nayra dengan mata berkaca-kaca. Senyum Sura terbit dengan penuh keharuan. Segagah dan sehebat apapun seorang Surya, di hadapan Nayra dia hanyalah ayah yang bahkan bisa menitikkan air mata meski kadang kala sikapnya keras dan angkuh. Surya menggeleng. “Tidak, Sayang. Kamu tak harus meminta maaf. Mungkin Ayah yang selama ini bersalah karena tak mengerti bagaimana keinginan kamu. Selama ini Ayah hanya berpikir bahwa apa yang Ayah lakukan demi kebaikan dan keselamatan kamu. Kamu tahu, kan, bagaimana kekhawatiran Ayah terhadapmu?” Nayra hanya bisa mengangguk. “Ayah begitu mencintaimu sampai-sampai Ayah selalu dihantui oleh rasa takut kehilangan kamu.” Tak sekali ini saja Surya mengungkapkan rasa khawatirnya yang berlebihan. Tujuan Surya hanya satu, agar Nayra tidak salah memahami sikapnya yang terlalu posesif terhadap Nayra. “Nayra mengerti, Yah.” Nayra mengangguk kecil. “Tetapi Ayah lupa bahwa kamu sudah tumbuh menjadi dewasa, Nay. Kamu bukan remaja yang bisa dikekang lagi. Kamu punya keinginan yang ternyata tak bisa Ayah pahami dengan baik sampai-sampai kamu harus melakukan aksi mogok makan seperti ini. Ayah minta maaf, Nay. Ayah belum bisa menjadi orang tua yang baik buat Nayra.” Mendengar kalimat Surya yang penuh kelembutan dan penjelasan itu, Nayra berusaha bangun dan duduk. Tanpa peduli seberapa lemah dirinya, Nayra memeluk Surya dengan erat. Tangisnya meledak. Apalagi ketika Surya membalas pelukannya dengan tak kalah erat. Nayra bisa merasakan bagaimana Surya menahan sesak agar tidak larut dalam tangis, menangisi aksi mogok makan Nayra yang berakibat nyaris fatal seperti ini. “Tidak. Ayah tidak salah. Nayra yang tidak memahami keinginan dan niat baik Ayah. Nayra minta maaf, Yah.” Keduanya berpelukan. Ronald yang mengintip dari depan pintu kamar ikut merasa lega melihat hubungan hangat ayah dan anak itu kembali terjalin baik. Semenjak Nayra memasuki usia sekolah menengah pertama, Surya berubah menjadi sangat protektif dan kaku sehingga hubungan mereka jarang terlihat manis. Tetapi kali ini semuanya akan terjalin hangat. Sayangnya Neta yang selama ini menjadi mediator antara Surya dan Nayra sudah tidak ada di sini lagi. “Andai saja kamu masih di sini saat ini, Ta, kamu pasti akan bahagia karenanya,” gumam Ronald dengan suara lirih. Usai bergumam seperti itu, Ronald memilih menjauh dari depan pintu kamar Nayra, tak ingin mengganggu kedekatan yang baru dimulai itu. Sementara itu, di dalam kamar Nayra, usai berpelukan, Nayra dan Surya mengurai pelukan mereka dengan janji dalam hati bahwa keduanya akan lebih mengutamakan duduk bersama untuk membicarakan apa keinginan mereka masing-masing. “Sekarang, karena kondisimu sudah mulai hangat, maka kamu harus sarapan. Ayah nggak mau lagi mendengar kamu mogok makan dan segala macamnya. Mulai sekarang Ayah yang akan menyuapimu,” ujar Surya kemudian mengambil semangkuk bubur yang tadi diantar oleh Bu Rahman. Nayra mengerutkan keningnya. ‘Mengapa Ayah yang menyuapi aku? Bukankah biasanya mbak Neta yang mengurusku?’ Nayra membatin dalam hati. Pada saat Sura menyodorkan sesendok bubur ke mulut Nayra, gadis itu tak segera membuka mulutnya untuk menerima suapan itu. “Kamu harus makan, Nay. Ayah sudah tahu aksi mogok makan kamu. Jadi mulai sekarang kita sepakat untuk saling bicara mengenai keinginan kamu dan juga Ayah. Bagaimana?” tawar Surya dengan nada membujuk yang aneh karena terdengar kaku. Nayra mengangguk. “Mengapa Ayah yang menyuapi Nayra? Dimana Mbak Neta?” tanya Nayra tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya mengenai keanehan pagi ini yang tiba0tiba tanpa Neta. Mendapat pertanyaan seperti itu, Surya kebingungan mencari jawaban. Bagaimana dia akan menjawab pertanyaan Nayra? Apakah dia akan mengatakan bahwa mereka baru saja bertengkar dan Surya sudah menyinggung perasaan Neta? Ah, tidak! Surya tak akan mengatakan apapun mengenai pertikaian mereka kali ini. Karena Nayra akan semakin penasaran. “Ehem! Mbak Neta … Mbak Neta sedang Ayah suruh untuk menjalankan tugas yang sedikit jauh, Nay.” Sura mengarang cerita bohong. Nayra menatap mata Surya, membuat lelaki itu memilih untuk mengalihkan tatapannya. Dia tak mau kebohongannya terbongkar oleh Nayra. “Tugas dari Ayah? Memangnya Ayah kehabisan pegawai laki-laki sampai-sampai Ayah meminta Mbak Neta mengemban tugas Ayah? Memangnya tugas apa yang Ayah berikan pada Mbak Neta? Ayah mau membahayakan keselamatan Mbak Neta? Ayah nggak bohong sama Nayra, kan?” cerca Nayra membuat Surya kehilangan kata-kata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN