PERNAH BERTEMU

1236 Kata
Satu hal yang Surya lupa bahwa Nayra bukan anak kecil lagi yang dengan mudah dibohongi hanya dengan kata-kata tugas. Nayra sudah bisa mencerna dan mengerti bahwa tugas dan pekerjaan ayahnya bukan pekerjaan mudah dan tanpa resiko. Akan tetapi tugas yang berat dan selalu beresiko tinggi, bahkan untuk sebuah nyawa sekalipun. “Bohong? Mana mungkin Ayah bohong sama kamu, Nay? Tugas Ayah kali ini memang harus dilakukan oleh perempuan karena akan mencurigakan kalau dilakukan pekerja ayah yang lain.” Surya menemukan jawaban yang sepertinya masuk akal. Nayra menatap Surya dengan sorot curiga. “Baiklah, kali ini Nayra percaya. Nanti Nayra akan telepon Mbak Neta untuk menanyakan kebenarannya.” Nayra lantas mengambil mangkuk berisi bubur yang dipegang oleh Surya itu dengan wajah cemberut. “Eh, mana boleh menghubungi Mbak Neta?” Sura menyanggah cepat. Nayra menatapnya lagi. Kali ini semakin curiga. “Mengapa tak boleh?” “Ehem, begini ya, Nay. Mbak Neta sedang mengantar berkas rahasia dan harus melakukan penyamaran. Untuk menghilangkan kecurigaan semua pihak, maka Mbak Neta harus menutup akses komunikasinya dari kita semua.” Surya kelabakan mencari alasan. “Lalu bagaimana Ayah tahu Mbak Neta berhasil atau tidak? Bagaimana kalau nanti Mbak Neta membutuhkan pertolongan?” cerca Nayra dengan tegas. “Kamu tenang saja. Akan ada orang yang menginformasikannya pada Ayah. Sekarang kamu sarapan dulu. Oh, ya, untuk sementara semua kebutuhan kamu akan ditangani oleh Naomi,” ujar Surya menutup pembicaraan mengenai Neta. Karena jelas Nayra tak akan menerima alasan apapun jika itu menyangkut Neta. Sejauh ini memang Neta adalah satu-satunya orang yang dekat dan sangat memahami Nayra. Tentu karena hanya Neta yang mengurus Nayra semenjak peristiwa penembakan itu. Dan yang Nayra tahu adalah bahwa Neta selalu menjadi dewi pelindung dan penolongnya sehingga tidak heran jika Nayra tak suka bila dijauhkan dari Neta apapun alasannya. Nayra memang kemudian sarapan bubur yang disediakan Bu Rahman, tetapi pikirannya jelas penuh kecurigaan dan pertanyaan mengenai kepergian Neta. Selama makan, Surya memperhatikan Nayra sambil terus berpikir bagaimana caranya agar Nayra tidak curiga. Lalu ketika selesai, Surya segera mengambil mangkok bubur Nayra dan kemudian berdiri dengan senyum yang dibuat seramah mungkin. “Sekarang kamu istirahat yang baik agar cepat sehat. Ayah akan ke kantor karena ada yang harus Ayah urus. Oke?” Nayra terpaksa mengangguk. “Jangan lupa hubungi Mbak Neta, Yah.” Surya buru-buru mengangguk. “Pasti. Ayah pasti akan selalu memantau keadaan Mbak Neta.” Setelahnya, Surya buru-buru keluar untuk mencari Ronald. Dia harus memerintahkan agar Ronald memberitahukan pada semua asisten di rumah ini agar mereka memiliki jawaban yang sama jika Nayra menanyakan Neta. “Katakan pada Bu Rahman dan semua asisten mengenai kepergian Neta. Katakan pada mereka untuk memberikan jawaban yang sama bahwa kepergian Neta dalam rangka mengemban tugas dariku, Ronald.” Surya berkata tegas dengan wajah yang tegang. Padahal beberapa saat yang lalu dia berwajah manis di depan Nayra. “Baik, Pak.” Ronald hanya punya pilihan untuk mengangguk. “Hm.” Surya lantas meninggalkan Ronald untuk ke kantor. Seorang sopir yang sekaligus seorang bodyguard sudah menunggunya di teras depan rumah dengan pilar raksasanya itu. Yang kemudian Ronald lakukan adalah melakukan koordinasi dengan semua asisten dan pekerja di rumah ini. “Memangnya Mbak Neta kemana, Pak Ronald?” tanya Naomi dengan muka polosnya. “Hush! Jangan banyak bertanya. Yang penting iyakan saja apa yang dikatakan oleh Pak Ronald.” Bu Rahman yang sudah lama mengabdi di rumah itu terlihat mengingatkan Naomi. “Iya, Bu. Maaf.” Naomi mengangguk dengan sedikit cemberut. “Pokoknya kita tidak perlu banyak bertanya. Kita harus mengikuti apa yang Pak Surya katakan pada kita. Jangan sampai ada kesalahan dan ketidaksamaan saat menjawab jika Nona Nayra bertanya mengenai keberadaan Mbak Neta.” Semua asisten yang ada di hadapan Ronald mengangguk mengerti meskipun sebenarnya mereka juga bertanya-tanya, kemana Neta pergi. Padahal selama ini hanya Neta yang tinggal lama di rumah ini. Hanya Neta yang sudah dianggap sebagai kerabat di rumah ini. Posisinya bukan lagi seperti pegawai dan asisten lainnya, meskipun Neta tetap mendapatkan bayaran yang tidak murah karena sudah mengurus Nayra semenjak Nayra masih kecil. Tetapi tak satupun dari mereka yang berani bertanya karena diam lebih baik daripada terlalu ingin tahu. *** Sore ini, Zafran bertugas menunggu Ruiz yang sedang menghadiri sebuah lelang mega proyek pembangunan sebuah GOR milik pemerintah. Hotel besar dan berbintang ini memiliki kafe umum di lantai dasar yang menghadap ke taman belakang hotel. Sebuah kolam renang juga menjadi pemandangan sejuk sore ini. Zafran baru saja datang dan langsung menuju ke kafe setelah melakukan konfirmasi pada resepsionis bahwa dia sedang menunggu majikannya yang sedang mengikuti lelang mega proyek di salah satu aula di hotel itu. Kursi yang ada di sudut kafe yang kebetulan kosong menjadi tujuan Zafran kali ini. Tak banyak yang mengenali Zafran meski dia sering datang ke hotel ini untuk urusan dengan Ruiz. Apalagi dia selalu mengenakan masker dan juga jaket besar yang membuatnya terlihat sangat gagah dengan posturnya yang tinggi tegap itu. Seorang pelayan datang menanyakan pesanan. Seperti biasa, Zafran hanya minum air mineral. Tak lama berselang, pelayan datang mengantar pesanan Zafran. Ketika Zafran sedang memperhatikan anak-anak kecil yang sedang berenang di kolam sore ini, seseorang cukup menyita perhatiannya. Zafran melihat seorang perempuan dewasa dengan postur dan gerakan yang cukup terlatih, berjalan dari lift dan menuju ke kafe ini. Untungnya Zafran mengenakan kacamata hitam sehingga dia bisa memperhatikan perempuan itu dengan leluasa tanpa perempuan itu ketahui. Perempuan dengan rambut yang diikat rapi itu mendatangi bagian counter makanan. Sepertinya dia sedang memesan sesuatu karena setelahnya dia lantas duduk di salah satu kursi kafe itu. Seperti kebanyakan manusia yang lain, ketika duduk perempuan itu langsung memainkan ponselnya. Entah apa yang dilakukan perempuan itu. Sesaat, Zafran memperkirakan bahwa usia perempuan itu hanya beberapa tahun di atasnya kalau dilihat dari wajahnya yang tidak belia lagi. Ada kalanya perempuan itu menghentikan tangannya dari bergerak pada ponselnya kemudian menatap para anak yang sedang berenang di kolam dengan tatapan yang kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun di saat yang lain, perempuan itu membuka tutup pnselnya seolah sedang menunggu seseorang menghubunginya, meski kemudian terlihat raut wajahnya yang kecewa. Namun, pikiran Zafran harus tersita untuk berpikir ketika melihat perempuan itu tersenyum pada pelayan yang datang mengantar pesanannya. Zafran merasa seperti pernah melihat senyum itu. “Tapi dimana aku pernah melihatnya?” gumam Zafran sendirian tanpa melepas pandangannya dari perempuan yang kini sedang menikmati makanannya itu. Zafran memaksa otaknya untuk menggali semua kenangan yang pernah dilaluinya. Zafran memastikan bahwa dia bukan salah satu perempuan malam yang kadang ditemuinya di tempat hiburan malam saat dia harus mengantar barang atas suruhan Ruiz. Apalagi penampilan dan dandanan perempuan itu sangat sopan untuk ukuran perempuan malam. Belum lagi Zafran menemukan jawaban siapa perempuan itu, ponselnya berbunyi dan itu adalah Ruiz. Maka tak menunggu lama, Zafran mengangkatnya. “Halo, Pak?” “Dimana kamu, Zaf? Pertemuan sudah selesai.” “Maaf, Pak. Saya sudah di kafe bawah.” “Bagus. Tunggu aku di pintu depan dalam lima menit.” “Baik, Pak.” Dan Zafran hanya punya pilihan patuh. Lelaki tinggi itu berdiri dan hendak meninggalkan kafe dengan memilih jalan melewati perempuan itu. Zafran ingin menggali ingatannya dan memastikan bahwa dia pernah bertemu dengan perempuan itu. Meski dia tak yakin dimana dan kapan waktunya. Saat melewati kursi perempuan itu, Zafran menajamkan matanya untuk melihat perempuan itu. Dan ya, dia ingat sekarang. Dia tak mungkin salah kali ini. Mereka pernah bertemu meski hanya sekelebat mata. Ya, Zafran yakin bahwa kali ini dia tidak salah lihat. Jantung Zafran berdegup kencang, perempuan itu adalah … ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN