Ada debar yang tiba-tiba menguar di hati Zafran ketika dia yakin bahwa perempuan itu adalah perempuan yang memang sama. Perempuan yang menjemput gadis belia yang ketakutan dan terjebak dalam keributan mall waktu itu. Ingatan Zafran yang di atas rata-rata itu jelas meyakinkan bahwa dia tidak salah ingat dan tidak salah mengenali seseorang.
Kemudian dengan sengaja Zafran menjatuhkan ponselnya, mengabaikan resiko apapun yang akan terjadi jika memang ponselnya nanti akan mengalami kerusakan atau pecah. Tujuan Zafran hanya satu, mengenal perempuan itu untuk tujuan tertentu, mengetahui keberadaan gadis belia yang entah mengapa selalu menghantui malam-malam Zafran itu.
Duk!
Ponsel Zafran terjatuh. Zafran tetap meneruskan langkahnya ketika sebuah suara memanggilnya.
“Hei, Bung!” suara seorang perempuan membuat langkah Zafran terhenti. Senyum kecil Zafran tersungging tanda bahwa dia sudah berhasil mendekat selangkah.
“Ya? Apakah Anda memanggil saya?” tanya Zafran saat dia membalikkan badannya sambil menurunkan masker yang dipakainya. Dia juga melepas kaca mata yang sejak tadi dikenakannya. Perempuan itu memperhatikan Zafran sejenak, tak lupa menatap sebuah noda hitam yang mirip sebuah tanda lahir warna hitam di pipi sebelah kiri lelaki itu.Tidak begitu besar tetapi cukup mencolok karena terlihat di wajah.
“Ya. Ponsel Anda jatuh,” ujar perempuan itu mengulurkan ponsel Zafran.
Dengan bodohnya Zafran meraba saku jaket besarnya, berlagak seolah mencari ponselnya. Setelah menyadari bahwa ponselnya tidak ada, lelaki itu mendekat dan mengambil ponsel yang tadi sengaja dijatuhkannya itu. Masih dalam keadaan baik tanpa cacat sama sekali. Dalam hati Zafran bersyukur karena ponselnya baik-baik saja.
“Ah, terima kasih, Nona. Benar, ini ponsel saya.” Zafran menjawab dengan ekspresi gembira yang dibuat-buat.
Perempuan itu mengangguk. “Lain kali sebaiknya Anda berhati-hati kalau menyimpan ponsel.”
“Ya, terima kasih sudah menjadi orang baik yang mengingatkan saya. Maaf, kalau boleh berkenalan? Mungkin saja lain waktu kita bisa berjumpa, maka saya akan membalas kebaikan anda kali ini dengan mentraktir Anda makan. Karena kalau sekarang mungkin tidak akan berlaku karena Anda sudah makan,” ujar Zafran mulai basa-basi.
Perempuan itu tersenyum. “Boleh” jawabnya.
Zafran mengulurkan tangannya dan disambut oleh perempuan itu.
“Nama saya Zafran,” ujar Zafran mendahului.
“Neta. Nama saya Neta.”
****
“Kemana saja kamu, Zaf? Kau pikir aku seperti jongos yang harus menunggu seperti orang bodoh?” hardik Ruiz ketika Zafran muncul sedikit terlambat sementara Ruiz sudah menunggu dengan kesal.
“Maaf, Pak. Tadi ada sedikit kendala. Tiba-tiba saya sakit perut,” jawab Zafran berbohong. Tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya bahwa dia berkenalan dengan seorang perempuan dengan harapan bisa bertemu lagi dengan gadis belia dengan binar mata yang cemerlang indah meski dibalut ketakutan ketika itu.
“Sudahlah! Kita harus sampai di rumah lebih cepat karena aku ada janji dengan Lita.”
Zafran hanya mengangguk dan melajukan mobil menuju ke rumah mereka. Melewati jajaran gedung pusat perbelanjaan, Ruiz ingat bahwa dia belum mencari kado untuk gadis kesayangannya itu, Lita. Padahal besok malam dia akan mengadakan ulang tahun di sebuah salah satu aula hotel.
“Kita singgah dulu ke toko berlian, Zaf.” Ruiz memberi perintah yang sedikit aneh. Toko berlian? Tak biasanya Ruiz yang selalu hidup dalam dunia yang keras dan penuh resiko itu berurusan dengan berlian yang melambangkan femininitas dan keanggunan yang mewah.
“Baik, Pak.”
Tentu saja Zafran tak punya pilihan lain selain setuju dengan apapun yang diperintahkan oleh Ruiz. Keterlambatannya tadi saja sudah membuat Ruiz kesal, Zafran tak ingin menambah alasan yang membuat Ruiz semakin kesal kali ini. Maka yang Zafran lakukan adalah membelokkan mobil yang dikendarainya menuju ke basement gedung pusat perbelanjaan itu.
“Ikut dan bantu aku memilih berlian yang paling mewah, Zafran.” Ruiz mengajak Zafran saat lelaki muda itu membuka pintu mobil untuknya.
Zafran terkejut dan tak habis mengerti.
“Saya, Pak?” Zafran masih tak yakin.
“Memangnya di sini ada orang lain?” Ruiz lantas berjalan tanpa menghiraukan keheranan Zafran atas ajakannya kali ini.
Dengan langkah lebar Zafran mengikuti Ruiz yang tingginya tak lebih tinggi dari bahunya itu. Tetapi itu bukan alasan bagi Zafran untuk tidak patuh pada Ruiz karena sejauh ini hanya Ruiz yang selalu ada untuknya. Meski jelas bahwa hubungan antara Ruiz dan dirinya tidak sesderhana yang orang lain lihat. Sejujurnya, semenjak banyak perlakuan tak manusiawi Ruiz pada Zafran dulu, dia tak lagi memiliki banyak rasa pada manusia lain. Zafran nyaris mati rasa.
Menyusuri lorong mall yang di sepanjang deretan kiri dan kanannya penuh dengan penjual dan counter perhiasan berlian dari desainer masing-masing, Zafran masih belum mengerti untuk apa Ruiz mencari perhiasan. Mungkinkah ayah angkatnya itu akan melamar seseorang untuk dijadikan istri, mengingat bahwa selama ini selalu ada perempuan di sekitar Ruiz.
Langkah Zafran lantas mengikuti Ruiz yang memasuki salah satu counter. Seorang pelayan menyambut mereka dengan keramahan paripurna. Zafran masih tak melepas masker yang dipakainya karena dia tak mau banyak yang mengenali dirinya sebagai seorang bodyguard Ruiz.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” seorang pelayan counter bertanya dengan senyumnya yang menawan. Sekilas perempuan itu melirik ke arah Zafran yang berpostur tegap dan menawan. Tetapi sekali lagi, Zafran tak tergoda dengan kecantikan apapun.
“Saya mencari kalung yang paling mahal dan elegan.
“Baik. Untuk siapa, Bapak, mungkin kami bisa merekomendasikan yang cocok dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Bapak?”
“Saya mencari untuk anak saya. Besok malam dia ulang tahun yang ke dua puluh lima.”
Zafran terkejut. Lita ulang tahun? Mengapa gadis itu tidak memberitahunya? Bukankah biasanya Lita selalu memberitahu dirinya apapun yang akan Lita lakukan? Bahkan untuk hal yang paling remeh sekalipun.
Zafran lantas mendengar pelayan counter perhiasan itu memberikan banyak penjelasan sambil menyodorkan beberapa jenis kalung dengan berlian yang indah-indah dan pastinya bernilai ratusan juta. Bisa jadi milyaran diantaranya karena dibuat dengan desain khusus dan limited edition.
“Zaf, pilihkan yang cocok untuk Lita.” Ruiz tiba-tiba menoleh pada Zafran yang berdiri di sampingnya.
Zafran terkejut. “Saya?” tanya Zafran sambil menurunkan masker yang dipakainya.
Ketika masker itu menampakkan wajah Zafran yang rupawan, meskipun terdapat tanda lahir yang cukup mencolok di pipi kirinya, namun itu tak membuat pelayan counter perhiasan itu berhenti mengagumi wajah Zafran yang rupawan.
Sejujurnya tatapan pelayan itu cukup mengganggu, tetapi sekali Zafran tak pernah mengambil pusing atas apa yang orang lihat pada dirinya. Entah itu kekaguman ataupun rasa tak suka.
“Ya. Bukannya kamu yang selama ini selalu dekat dengan Lita? Mungkin kamu lebih tahu apa warna dan jenis kesukaan Lita.”
Zafran tersenyum kecil dan merasa bahwa sanjungan Ruiz ini sedikit berlebihan.
“Setahu saya Lita suka dengan warna bening, Pak.” Zafran menunjuk pada sebuah kalung dengan berlian berwarna bening dengan keterangan kategori colourness D. Si pelayan tersenyum dengan pilihan Zafran yang sepertinya sangat tepat.
Ruiz hanya manggut-manggut dengan penjelasan pelayan counter yang sesekali malah menatap Zafran penuh rasa kagum. Diam-diam Zafran merutuk dalam hati atas sikap pelayan itu.
***
Malam ini, Neta yang masih menenangkan diri sebelum mencari rumah dan pekerjaan u tuk melanjutkan hidupnya, keluar dari kamar hotel yang ditempatinya kali ini. Tak mungkin dia terus menerus tinggal di hotel meskipun saldo di rekeningnya cukup memadai. Dia harus mencari pekerjaan untuk dirinya dan masa depannya.
Tak mudah memang mengalihkan hati dan perhatiannya dari keluarga Surya, terlebih dari Nayra yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu. Tapi hal lain yang tak mudah Neta lepaskan adalah perasaanya pada Surya.
Ya, diakui atau tidak, Neta memiliki perasaan khusus pada Surya. Kebersamaan mereka yang sering bersama meskipun dalam kapasitasnya sebagai pengasuh Nayra dan Surya sebagai majikan yang sudah menolong hidupnya dulu. Tetapi Neta adalah manusia biasa yang memiliki rasa suka. Neta tahu bahwa perasaannya tak cukup pantas untuk dipelihara. Akan tetapi Neta hanyalah manusia biasa yang tak mampu mengendalikan perasaan sukanya harus teryambat pada siapa. Yang bisa Neta lakukan hanyalah memendam sendiri perasaannya itu, selama bertahun-tahun.
Tetapi semua sudah berakhir. Tuduhan Surya yang mengatakan bahwa Neta hendak mencelakai Nayra dengan membiarkan Nayra melakukan mogok makan kemarin cukup membuat Neta tersinggung dan memilih meninggalkan mereka, Surya dan Nayra dengan segala kenangan yang dimiliki Neta. Mau tak mau Neta harus kembali memulai hidupnya meski dia tahu ini bukan hal yang mudah.
Dan malam ini Nayra sudah mengadakan janji untuk bertemu dengan seseorang sehubungan dengan pekerjaan yang dilamarnya kemarin siang. Seseorang sedang membutuhkan seorang pengasuh untuk anaknya yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka berjanji akan bertemu di hotel ini karena kebetulan si ibu tersebut akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun yang diadakan di hotel ini. Neta berjanji akan menemui si ibu muda tersebut di lobi hotel ini.
Di saat yang sama, Zafran mengantar Ruiz ke hotel ini karena di sinilah Lita mengadakan pesta ulang tahun. Ketika Zafran berjalan melewati lobby, matanya tanpa sengaja menoleh dan melihat Neta sedang duduk di sofa lobby.
Jantung Neta terkesiap. Ada rasa senang bisa bertemu kembai dengan Neta karena dia akan punya kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Tetapi dia bingung karena tak mungkin dia meninggalkan Ruiz hanya untuk menemui Neta dan mengenalnya lebih jauh.
Maka sambil mengikuti langkah Ruiz, Zafran terus berpikir bagaimana caranya menemui Neta. Meski sepertinya tak mungkin, tetapi Zafran akan mencari jalan untuk menemui Neta. Ada yang harus dia tuntaskan dengan pikirannya. Zafran tak mau malamnya terganggu oleh sorot mata gadis belia yang berbinar indah namun sendu itu.
Mata itu milik …
***