SESEORANG YANG DATANG

1119 Kata
Neta duduk di lobby hotel dengan sedikit perasaan gelisah karena beberapa tamu yang datang mulai menatapnya dengan pandangan yang tak sedap dilihat. Namun, beberapa pegawai yang kebetulan melintas terlihat biasa saja karena mereka tahu bahwa Neta adalah salah satu tamu yang sudah menginap beberapa hari yang lalu. Berkali-kali Neta melihat jam tangannya. Penampilannya yang sederhana namun terlihat anggun dan bukan perempuan yang malas terlihat jelas. Neta memang selalu seperti itu, sederhana dan santun. Namun, di sisi lain Neta bisa saja bersikap keras dan kokoh ketika dia melindungi Nayra bersama dengan Ronald, apabila ada sesuatu yang sekiranya membahayakan Nayra. Baru saja Neta hendak menghubungi si calon majikan ketika di pintu masuk hotel muncul sepasang suami istri yang cukup muda dengan membawa seorang anak berumur sekitar empat tahun, laki-laki. Neta segera berdiri setelah yakin bahwa merekalah yang dia tunggu. Sepasang suami istri itu menghampiri Neta yang berdiri menyambutnya. “Mbak Neta, kan?” sapa si istri. “Benar, Ibu. Saya Neta.” Neta mengangguk santun kemudian menjabat tangan sepasang suami istri itu yang disambut dengan baik. “Dimana kita bisa berbincang, Mbak Neta?” tanya Nyonya Siska, si calon majikan. Yang kemudian mereka lakukan adalah membicarakan kesepakatan mereka dalam bekerja. Nyonya Siska yang seorang pegawai bank itu sudah berulang kali memiliki baby sitter untuk anaknya yang sangat aktif. Namun semua dari mereka selalu melakukan kesalahan. Jika tidak telaten mengurus Vino, anak Nyonya Siska, mereka malah ganjen dan jatuh cinta dengan Pak Heru, suami Nyonya Siska yang memang cukup menawan meski usianya sangat dewasa itu. “Saya tidak meminta yang berlebihan, Nona Neta. Saya hanya ingin seorang baby sitter yang care sama Vino dan tidak ganjen dengan suami saya. Asal keduanya bisa Anda jalankan dan tepati dengan benar, saya tidak keberatan dengan gaji yang melebihi standar baby sitter lain.” Nyonya Siska menegaskan. “Baik, saya setuju, Nyonya.” Neta mengangguk yakin. Soal mengurus anak, Neta sudah menjalani pekerjaan ini saat harus mengurus Nayra, meski usia Neta ketika itu masih dua puluh tahun. Mengurus Vino dengan pengalamannya selama ini mengurus Nayra sepertinya bukan hal yang sulit. “Saya akan mengurus Vino dengan baik, Nyonya.” Neta berjanji dengan tenang dan penuh keyakinan bahwa dia bisa. “Bagaimana dengan syarat yang kedua, Nona Neta? Apakah Anda bisa?” tanya Nyonya Siska tentang suaminya yang selalu digoda oleh baby sitternya terdahulu. Perempuan cantik itu menoleh, menatap suaminya yang serba salah. Awalnya Nyonya Siska mengira bahwa Neta akan ragu menjawab. Tetapi ternyata dia salah karena Neta memilih mengangguk dengan mantap. “Ya, saya bisa berjanji untuk tidak seperti baby sitter Vino yang terdahulu.” Nyonya Siska tersenyum puas. Dia menatap dan meneliti Neta yang terlihat tidak kikuk sama sekali. Kepercayaan diri Neta yang sangat menonjol menunjukkan bahwa Neta memang bukan perempuan dengan kualitas mental yang rendah. Apalagi kesantunan yang Neta tunjukkan terlihat alami tanpa dibuat-buat sehingga Nyonya Siska mantap untuk menerima Neta. “Baiklah kalau begitu. Kita sepakat untuk bekerja sama, Nona Neta.” Nyonya Siska mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan. “Terima kasih atas kepercayaan Anda, Nyonya.” Neta mengangguk dengan senyum santun. “Oke. Karena saya sedang akan menghadiri pesta ulang tahun teman saya di hotel ini, bisakah saya meminta Anda untuk mengasuh Vino, Nona Neta? Malam ini, meskipun Anda baru akan bekerja esok hari,” pinta Nyonya Siska. Neta tersenyum dan mengangguk setuju. “Tentu saja bisa, Nyonya. Mari, Saya akan berkenalan dengan Vino dan Anda bisa menikmati acara dengan baik,” pinta Neta pada Siska. Siska dengan senang hati memberikan Vino yang sedang tidur itu pada Neta. “Mari ikut kami ke tempat acara, Nona Neta.” “Baik, Nyonya.” Neta setuju dan kemudian berjalan mengikuti Nyonya Siska dan suaminya berjalan memasuki aula dimana pesta ulang tahun itu akan dilaksanakan. Vino yang berada dalam gendongan Neta terlihat nyaman dan entah mengapa Neta merasa langsung suka dengan Vino. *** Aula luas dengan dekorasi yang mewah itu mulai dipenuhi oleh para tamu undangan yang hadir dalam acara ulang tahun Lita kali ini. Ruiz dan Zafran yang sudah hadir selalu berada di sekitar Lita. Meja yang penuh dengan hidangan lezat dan mewah terlihat di sisi kiri dan kanan ruangan. Segala jenis minuman yang ringan sampai yang beralkohol dengan harga yang cukup fantastis terlihat menghiasi meja lain di ruangan itu. Dekorasi panggung yang sedikit lebih tinggi dari lantai terlihat sangat indah yang melambangkan kebahagiaan dan kemewahan yang elegan. Menunjukkan dengan jelas bahwa ini bukan acara sembarang acara. Ini jelas adalah acara ulang tahun yang mewah. Lita dan juga Ruiz sudah bersiap di dekat kue ulang tahun yang elegan dan indah itu ketika seorang MC memulai acaranya. Demikian juga dengan Zafran yang selalu berada di antara mereka selain bodyguard Ruiz dan Lita yang lain. Semua tamu yang hadir jelas bukan dari kalangan bawah melainkan semua rekan bisnis Ruiz dan juga rekan kerja Lita sebagai penerus usaha Ruiz. “Silahkan Anda ke sana, Nyonya. Saya akan di sini saja,” ujar Neta sambil mencari tempat yang sedikit menjauh agar tidur Vino tidak terganggu. Siska setuju kemudian segera menggamit lengan suaminya untuk mendekat pada si empunya acara. Sementara itu, Neta yang menjauh segera mencari kursi yang cukup nyaman untuk menggendong Vino tanpa terganggu. Dalam situasi seperti ini, Neta malah teringat dengan Nayra. Pada hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun lalu, Nayra hanya bisa menangis sendirian di kamar bersama Neta karena Surya tak mengadakan pesta apapun untuk menyambut masa dewasa Nayra. Tak bisa dipungkiri bahwa kesibukan Surya membuat lelaki itu sama sekali tak ingat ulang tahun Nayra. Waktu itu, beberapa kali Neta mencoba mengingatkan mengenai keinginan Nayra untuk merayakan ulang tahun dengan berwisata ke pantai, tempat yang selalu ingin Nayra kunjungi. Tetapi seperti yang sudah bisa Neta duga bahwa Surya tak akan setuju dengan usulan itu dengan alasan keselamatan Nayra. Dan alhasil, Nayra hanya merayakan ulang tahun itu berdua dengan Neta di kamarnya. Tentu dengan tangisan nayra yang terkadang susah untuk dibujuk sehingga Neta memilih membiarkan nayra menangis, meluapkan semua kekesalan hatinya dengan air mata hingga gadis itu tertidur dalam pelukan Neta. Tanpa sengaja, air mata merbak di kelopak mata Neta ketika ingat waktu itu. Tangan Neta mengusap rambut kepala Vino dan berdoa agar Vino tidak mengalami nasib seperti Nayra meskipun Neta tahu pasti bahwa Nayra dan Vino tidak memiliki kesamaan latar belakang keluarga. Sesaat Neta ingin menghubungi Nayra karena dia sudah merindukan gadisnya itu. Bukan hanya rindu tetapi dia mengkhawatirkan kesehatannya yang dalam keadaan sakit saat Neta nekat meninggalkan rumah Surya ketika itu. “Tidak! Aku tak boleh menghubunginya,” gumam Neta sambil menggeleng dan menyimpan ponsel ke dalam saku celana longgar yang dikenakannya itu. “Tak boleh menghubungi siapa, Nona Neta?” tanya seseorang mengejutkan Neta. Neta mendongak dan mendapati seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan senyumnya yang mengejutkan. Dia adalah …. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN