ZAFRAN MENUTUP HATI

1070 Kata
Mendengar ada seseorang yang bicara padanya, Neta mendongak dan terkejut melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Namun kemudian dia tersenyum ramah. Neta tentu saja ingat dengan seseorang yang menyapanya ini ketika melihat adanya tanda lahir di wajah orang itu. Neta heran, bagaimana mungkin mereka bertemu kembali di sini. Apakah sebuah kebetulan? “Bung Zafran? Anda di sini juga?” tanya Neta setengah tak percaya dengan penglihatannya. Senyumnya tersungging tipis sambil tangannya masih mengusap-usap kepala Vino. “Ya. Saya sedang ditugaskan oleh kantor untuk mengawal beliau yang sednag punya acara.” Zafran tentu saja berbohong karena dia memang harus menyembunyikan siapa dirinya dari siapapun. “Ah, ya? Berarti pekerjaan Anda seorang …” Neta tak meneruskan kalimatnya karena tidak mau menyinggung orang lain, apalagi ini soal pekerjaan. Zafran tersenyum lebar dan mencari tempat duduk di depan Neta. “Anda benar. Saya hanya seorang pengawal yang bekerja di bawah naungan biro tenaga kerja keamanan.” Zafran menjawab melebihi apa yang ingin Neta ketahui. Tentu saja Zavran tidak berbohong karena meskipun dia sudah dianggap oleh keluarga Ruiz tetapi mereka tetap tidak memiliki pertalian darah, sehingga Ruiz dengan patuh mendaftarkan semua pengawalnya pada biro keamanan yang akan melindungi profesi mereka. Tidak terkecuali Zafran. “Ah, ya. Saya pernah mendengar mengenai hal ini.” Neta menimpali dengan luwes. “Oh, ya. Anak ini? Anak Anda?” tanya Zafran menunjuk pada Vino yang masih pulas dalam pangkuan Neta. “Oh, ini anak majikan saya.” Neta menjawab jujur. Perempuan cantik dan luwes ini tak pernah menutupi apapun profesinya. Zafran membelalakkan matanya tak percaya dengan jawaban Neta. Mana mungkin perempuan seanggun Neta adalah seorang pekerja? Menjadi seorang nyonya pun Neta sepertinya pantas. Neta tersenyum melihat keterkejutan Zafran. “Saya baru saja resign dari pekerjaan lama saya sebagai pengasuh juga. Kebetulan anak asuh saya sudah remaja. Sudah mau masuk kuliah. Sudah mulai bisa mengurus diri sendiri,” ujar Neta dengan senyum yang tak mudah. Deg! Jantung Zafran seolah bertemu dengan sesuatu yang diinginkannya. Sungguh, rasa ingin tahu Zafran meronta-ronta, namun dia tak boleh terlalu mencolok ingin tahu lebih jauh. Bagaimanapun, Zafran harus memilih saat yang tepat. “Anak asuh Anda perempuan?” tanya Zafran dengan santai, padahal dia ingin mengorek lebih jauh dan sebanyak-banyaknya. Neta tersenyum. “Ya. Dia perempuan yang sekarang sudah menjadi gadis remaja dan cantik. Hanya saja nasibnya kurang beruntung.” Entah mengapa Neta malah bicara banyak. Mungkin untuk mengobati rasa rindunya pada Nayra. Zafran hanya memandang Neta, memperhatikan dengan seksama dan berharap bahwa Neta akan bicara lebih banyak. “Kurang beruntung? Bukannya seharusnya enak ya, jadi anak orang kaya yang bahkan punya pengasuh meski sudah besar?” Zafran berusaha ngobrol wajar. Neta kembali tersenyum. “Seharusnya iya. Tetapi ternyata tidak selalu demikian adanya. Anak asuh saya merasa kebebasannya terbelenggu.” Deg! Jantung Zafran benar-benar seperti jatuh ke lantai demi mendengar kata-kata Neta. Apakah gadis yang ketika itu ditolongnya adalah anak yang Neta bicarakan? Sehebat apa dan serawan apa posisinya hingga harus menghindar dari khalayak umum dan dilindungi dengan demikian kuatnya? Lalu ingatan Zafran kembali dilempar pada peristiwa kerusuhan di mall ketika itu. Jantung Zafran semakin berdegup kencang. Jadi, apakah gadis dengan sorot mata indah dan syahdu dalam ketakutan waktu itu adalah anak majikan Neta? Ah, apakah ini sebuah jalan bagi Zafran untuk bisa memecahkan misteri ingatannya yang terganggu oleh sorot mata gadis kecil itu? “Sepertinya Anda sangat menyayangi anak itu?” tanya Zafran lebih lanjut, mengabaikan rasa ingin tahunya yang semakin besar. Neta tersenyum. “Bagaimana saya tidak terikat jika saya sudah mengasuhnya dari dia usia lima tahun? Dan sekarang dia sudah sembilan belas tahun. Hampir separuh hidup saya habis untuk mengasuhnya.” “Wow! Waktu yang fantastis, Nona Neta.” “Ya. Dia gadis yang lembut dan sangat manis. Kurasa kalau dia masuk kuliah nanti pasti akan ada banyak yang mengejar dia,” ujar Neta dengan senyum penuh rasa bangga atas kecantikan Nayra. Zafran menatapnya dengan penuh takjub, seolah dia bisa membayangkan betapa bangganya Neta yang seorang pengasuh bisa mengurus anak asuhnya sampai dewasa. Tetapi tiba-tina wajah Zafran berubah dingin dan datar. Senyum yang sejak tadi tersungging kecil mendadak lenyap dari wajahnya. Tidak! Dia tak ingin tahu lebih jauh mengenai gadis yang diceritakan Neta padanya itu. Bukan takdirnya untuk dekat dengan perempuan. Dia tak akan memberi kesempatan pada hatinya untuk terbawa arus keterpesonaan pada sosok perempuan, meskipun dia penasaran dan terganggu oleh bayangan gadis yang ditolongnya itu. Tidak, Zafran harus menutup hati dan segala kemungkinan yang bisa mempengaruhi hatinya. Sisi gelapnya mencuat ke permukaan. Dia ingat bahwa dia harus melunasi hutang budinya pada Ruiz. Masih ada pekerjaan besar yang dibebankan Ruiz padanya untuk membalas budi Ruiz menuntaskan amanah Ruiz dan dia bisa bebas dari cengkeraman Ruiz yang selalu menandaskan bahwa jasanya selama ini akan lunas jika dia berhasil membawa anak gadis Surya ke hadapan Ruiz. Dan Zafran ingin segera menuntaskan amanah itu. Bagaimanapun kerasnya kehidupan Zafran, dia juga memiliki keinginan untuk menjalani kehidupan dengan tenang tanpa dikejar oleh tugas yang kadang sadis karena harus melakukan kekerasan pada rival Ruiz. Bahkan tak sekali dua kali Zafran harus menghajar beberapa pengkhianat Ruiz. Hingga Zafran berada pada titik mati rasa tanpa belas kasihan. Banyaknya darah yang pernah muncrat oleh dan di tangannya telah membekukan hatinya. Maka ketika Ruiz memberinya pekerjaan besar sebagai balas jasanya selama ini untuk mengambil dan menyerahkan anak gadis Surya, maka dengan penuh keyakinan Zafran menyanggupinya karena ini bukan pekerjaan yang sulit. Tetapi ternyata, sekian tahun semenjak Ruiz memberikan perintah itu, nyatanya hingga saat ini Zafran belum bisa menemukan siapa dan dimana keberadaan anak gadis Surya. Jangankan dimana keberadaan gadis itu, kabar apakah dia masih hidup atau tidak saja tak pernah Zafran ketahui. Sungguh perimeter yang dipasang Surya tak mudah ditembus begitu saja. Dan ini yang Zafran akui dari kehebatan Surya. Pagarnya terlalu sempurna. Lantas Zafran memilih diam hingga MC acara menyebut namanya untuk maju mendekat pada si empunya acara. Mau tak mau Zafran berdiri dan mendekat pada Lita dan Ruiz karena acara akan dimulai. Para tamu terlihat antusias mengikuti acara meniup lilin yang dilakukan Lita. Tak dipungkiri, Lita memang cantik luar biasa dalam usianya yang dewasa ini. Apalagi karirnya sebagai penerus Ruiz semakin matang di dunia usaha kota ini. Tak heran para eksekutif muda yang mendekat dan mencari perhatian. Diantara mereka pasti berharap bahwa mereka akan menjadi salah satu orang yang menerima potongan kue. Tetapi semua di luar dugaan ketika Lita memilih memberikan potongan kue itu kepada Ruiz dan satu diantara banyaknya lelaki di aula ini. Laki-laki itu … ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN