SEBAGAI PEREMPUAN

1246 Kata
Pesta ulang tahun Lita telah usai setengah jam lalu dengan kemeriahan yang elegan. Usai mendapat kejutan karena mendapatkan potongan kue ulang tahun dari Lita, Zafran menyelinap mencari keberadaan Neta saat Lita dan Ruiz sedang menyalami para tamu yang berpamitan. Ketika mencari ke tempat semula, Zafran tak menemukan keberadaan Neta. Bukan, bukan untuk mendekati Neta secara personal jika dia ingin berbincang lebih jauh dengan perempuan anggun namun sederhana itu. Zafran hanya ingin tahu sedikit lebih banyak mengenai siapa perempuan belia yang ketika itu Neta temukan. “Mencari siapa, Bang?” Lita tiba-tiba ada di dekat Zafran. “Eh? Tidak. Aku hanya mencari tempat yang sedikit longgar. Acara kamu kali ini sempurna, Lita. Kamu terlihat cantik dan menjadi pusat perhatian para eksekutif muda kota ini. Selamat ulang tahun, Bocah.” Zafran tentu saja pandai mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertanyaan Lita lebih lanjut. Lita tersenyum datar mendengar ucapan Zafran yang sangat tidak mesra itu. “Hei? Mengapa harus memanggil bocah? Aku sudah besar. Sudah dewasa. Sudah pantas bersanding dengan Abang,” seloroh Lita sambil merengut kesal karena selalu dianggap kecil oleh Zafran. “Bukankah setiap hari kamu sudah bersanding sama aku?” Zafran tersenyum lebar. Tetapi Lita tahu bahwa itu hanya kiasan untuk menghindar karena Zafran selalu tahu posisi. Inilah yang kadang membuat Lita kesal dan marah pada Zafran. Lelaki itu selalu menganggap dirinya tak sejajar dengan Lita. Zafran selalu meletakkan Lita berada pada posisi atas, posisi yang lebih utama dari dirinya sendiri. Padahal Lita tak pernah menganggap Zafran lebih rendah. Bahkan, Lita selalu menempatkan Zafran paling utama setelah Ruiz, ayahnya. “Sudah, ah! Males berdebat sama Abang!” Dengan raut muka kesal, Lita menjauh dan menuju ke meja yang berisi minuman beralkohol tentu saja. Zafran yang sudah tahu tabiat Lita hanya bisa tersenyum masam. Gadis kecil yang kini sudah berubah menjadi perempuan dewasa itu tetap saja manja dan selalu melarikan kesalnya ke minuman. Zafran tahu betul apa yang Lita maksud dengan kalimatnya. Tetapi bukan hal yang baik jika Zafran menganggapnya sebagai sebuah pernyataan serius. Bagaimanapun, Lita adalah anak majikannya, gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri yang harus dia jaga dengan baik. Meski dia juga tahu bahwa tidak demikian dengan anggapan Lita padanya. Telah berulang kali Lita mengatakan dengan lugas apa yang dia rasakan, meski kadang sambil berseloroh. Sebagai bentuk balasan atas kebaikan Ruiz dan keluarganya —meskipun tentu saja Ruiz meminta bayaran yang mahal yakni menyerahkan anak gadis Surya pada Ruiz sebagai penebus kebaikannya— Zafran akan selalu menjaga Lita. Jika biasanya Zafran selalu mencegah Lita minum alkohol terlalu banyak, tapi kali ini Zafran mencoba membiarkan Lita melakukan apa yang dia inginkan. Bukankah ini malam ulang tahunnya? Jika dengan minum kali ini Lita merasa bisa senang dalam merayakan hari lahirnya, maka Zafran tak akan memberinya peringatan seperti yang lalu-lalu. Zafran lantas mencari kursi untuk mengawasi Lita dalam jarak aman. Sesekali matanya masih mencari keberadaan Neta. Di sudut hatinya yang masih hangat, ada rasa ingin tahu lebih jauh mengenai gadis belia yang ditolongnya ketika itu. Meski sekuat tenaga Zafran mengusir rasa ingin tahunya nyatanya matanya tak bisa diajak berbohong. Sebagai seorang pengawal, Zafran hanya mengawasi Lita tanpa punya hak menghalangi atau mencegah. Selama masih dalam batas aman, Zafran hanya boleh mengawasi meskipun memang Ruiz sudah berulang kali berpesan padanya untuk menjaga Lita dengan lebih ketat. Para tamu undangan satu per satu pulang dalam keadaan yang tidak sepenuhnya waras. Ruiz bahkan sudah pulang lebih dulu bersama pengawalnya yang lain. Sementara itu, Zafran masih di sini, di tempatnya semula. Masih dengan misi yang sama, mengawasi Lita yang masih duduk bercengkrama dengan beberapa temannya ditemani beberapa botol minuman alkohol. Jam di tangan Zafran sudah menunjukkan pukul tiga pagi dan teman Lita hanya tinggal beberapa orang lagi. Zafran sudah hendak mendekati Lita dan memintanya untuk pulang segera ketika ponselnya berdering. Nama Ruiz yang muncul di telepon membuat Zafran tak mungkin menunda lagi. “Selamat malam, Pak.” “Ini sudah pagi, Zaf. Dimana Lita? Apakah kamu belum membawanya pulang?” tanya Ruiz di seberang dengan suara sangarnya. Mampus! Zafran terpaksa mencari alasan agar mereka sama-sama selamat dari amukan amarah Ruiz. “Sudah, Pak. Kami sudah ada di rumah Lita.” Zafran berbohong. Memang selain tinggal di rumah Ruiz, Lita juga sudah memiliki rumah pribadi yang minimalis dan elegan. Tak ada yang menghuni rumah itu. Lita hanya sesekali saja tinggal di sana, kadang juga pulang ke rumah Ruiz. “Mengapa masih terdengar suara musik?” “Ah, ini saya yang memutar musik di rumah Lita, Pak.” “Baiklah. Tapi awas kalau kamu mencoba membohongi aku, Zaf.” Ruiz mengancam dengan suara datar. “Baik, Pak.” Zafran segera menutup sambungan ponselnya agar Ruiz tidak semakin curiga. Dengan langkah lebar Zafran segera mendekati Lita yang masih berbincang meskipun obrolan mereka sudah tidak fokus lagi. Tawa mereka bahkan terdengar semakin ngelantur ketika Zafran mendekati Lita. “Lit, sudah jam tiga pagi. Kita pulang sekarang?” tanya Zafran dengan sopan. Beberapa teman Lita menatap Zafran dengan senyum takjub. Meskipun kesadaran mereka sudah tidak sepenuhnya, tetapi hanya dengan melihat postur Zafran yang tinggi besar saja sudah membuat mereka berpikiran ngawur. “Tanggung, Bang. Abang boleh di sini temani aku kalau mau. Sini,” ujar Lita kemudian menarik tangan Zafran agar duduk di sisinya. Untung saja Zafran memiliki keseimbangan yang cukup kuat untuk tidak jatuh karena kuatnya tarikan Lita. “Hei, minumnya kapan-kapan lagi. Bapak sudah mencarimu. Sebaiknya kita pulang cepat agar beliau tidak marah.” Zafran masih saja membujuk dengan sabar layaknya menangani anak kecil. “Lita, mengapa kamu tidak bilang kalau punya pengawal ganteng? Kapan-kapan bisa dong, kita ajak dugem?” tanya salah seorang teman Lita dengan senyum dan lirikan yang menggoda. Tetapi sekali lagi Zafran bukan pria yang mudah hanyut dengan rayuan gadis muda seperti teman-teman Lita. Secantik dan semapan apapun mereka bukan target hidup Zafran. Karena target Zafran adalah menemukan anak gadus Surya dan menukar dengan kebebasannya dari hutang budi terhadap Ruiz. “No! Bang Zafran bukan untuk dipinjamkan kalian. Karena Bang Zafran hanya untukku. Ya, kan, Bang?” tanya Lita dengan senyum memohon, mendongak menatap Zafran. Zafran hanya menghela napas panjang. “Maaf ya, Nona-Nona. Saya harus membawa Lita pulang karena Tuan Ruiz sudah menunggu,” pamit Zafran dengan sopa kemudian meraih Lita dan mengajaknya berdiri. “Ya, sayang sekali. Tapi terima kasih untuk pestanya, Lita. Lain waktu kita pesta lagi dengan abangmu ini sebagai tamu istimewanya. Bagaimana?” Ruri, salah seorang teman Lita malah nyeletuk konyol. Zafran hanya tersenyum tanpa jawaban, membuat Ruri semakin penasaran. “Kita pulang sekarang, ya?” ajak Zafran dengan sabar. “Bang, masih tanggung. Sebentar lagi bisa, kan?” tanya Lita dengan ngelantur. Zafran tak menanggapi permintaan Lita. Karena perempuan itu susah diajak berjalan, maka Zafran memilih jalan pintas dengan meraih gadis itu dan menggendongnya dengan kedua tangannya. Tentu bukan hal berat bagi Zafran mengingat postur tubuhnya yang tinggi sementara Lita demikian langsing. Sikap jantan Zafran jelas membuat teman-teman Lita iri dengan takjubnya. “Maaf, kami pulang duluan,” pamit Zafran sekali lagi. Dengan langkah lebar seolah mengangkat Lita bukan hal yang berat, Zafran keluar dari aula VIP yang digunakan untuk pesta itu. Dalam kesadaran yang tidak sepenuhnya, Lita mengalungkan kedua tangannya ke leher Zafran dan menyandarkan kepalanya di d**a lelaki itu. “Bolehkan selamanya aku di dalam pelukan Abang?” tanya Lita dengan jujurnya. Sekali lagi Zafran hanya tersenyum. “Tentu saja, karena kamu adalah adikku.” Lita menggeleng. “Tidak! Aku tak mau sebagai adik. Aku mau sebagai perempuan yang mencintai Abang.” Lita lagi-lagi berkata jujur. Deg! Jantung Zafran bagai dihantam palu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN