Bukan sekali ini saja Zafran mendengar ungkapan cinta dari Lita seperti ini, tetapi Zafran hanya menganggapnya sebagai candaan karena diungkapkan dalam keadaan sadar. Tapi saat ini saat ini, ketika Lita dalam keadaan mabuk seperti ini, masihkan itu sebuah candaan? Memangnya siapa yang sanggup berbohong kalau sudah dalam kondisi mabuk?
“Sudahlah. Kita pulang ke rumah kamu,” ujar Zafran sambil terus membawa Lita keluar dari aula, melintasi beberapa orang yang masih bertugas di hotel ini. Resepsionis yang berjaga malam bahkan terlihat tersenyum melihat bagaimana Zafran membawa Lita.
“Seperti drama-drama di China, ya?” bisik salah seorang resepsionis pada rekan kerjanya yang dijawab dengan anggukan setuju disusul senyum keduanya.
Meskipun Zafran sudah mengenakan kembali maskernya, tetapi mereka tentu saja sudah terlanjur berasumsi bahwa Zafran adalah laki-laki gagah dari gestur tubuhnya.
“Kita pulang ke rumahku,kan, Bang? Ke rumah kita?” tanya Lita setengah ngelantur ketika Zafran meletakkannya di atas jok mobil dan mengikatnya dengan sabuk pengaman. Tak lupa Zafran melandaikan sandaran jok agar Lita tidak bergulir ke samping karena hilang keseimbangan dan limbung.
Zafran hanya tersenyum tanpa menjawab.
Selama dalam perjalanan, Zafran berkali-kali harus menghalau tangan Lita yang mencoba menggamit jarinya untuk digenggam.
“Kamu tenang dulu, Ta. Sebentar lagi kita sampai.”
Dan perjalanan menuju rumah Lita yang ada di komplek perumahan rasanya lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena jalanan yang ramai karena menjelang pagi jalan cukup lengang. Tetapi karena Zafran mencari cara dan jawaban jika nanti Lita kembali mengatakan apa yang ada di hatinya dengan jujur.
Rumah Lita memang lengang dan sepi karena dia tidak memiliki pembantu. Sebelum membawa Lita masuk ke dalam, Zafran terlebih dahulu membuka pintu yang sudah Zafran hapal betul angka kuncinya. Sebagaimana seharusnya seorang pengawal sekaligus kakak angkat, Zafran menyiapkan kamar dan juga menyalakan lampu-lampu kamar sebelum —sekali lagi— mengangkat tubuh Lita yang seolah seringan kapas.
Dengan hati-hati, Zafran meletakkan tubuh Lita ke atas ranjang setelah melepas sepatu gadis itu. Dengan sabar dia mengambil selimut dan menutupkan ke tubuh Lita yang malam ini mengenakan baju pesta yang sedikit kurang layak sebenarnya. Dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan Lita, Zafran beranjak dari sisi ranjang untuk istirahat di sofa ruang tengah.
Tetapi ketika Zafran nyaris berdiri tegak, tangannya digapai oleh Lita yang sudah terbangun meski Zafran tahu belum sepenuhnya dia sadar dari mabuknya.
“Abang mau kemana?” tanya Lita di kondisi sadar yang dipaksakan itu.
Zafran tersenyum kecil. “Abang harus mengunci pintu dan tidur di sofa. Kamu tidur saja.” Zafran menjawab lirih penuh kesabaran.
Lita menggeleng.
“Abang di sini saja, ya? Temani aku,” pinta Lita dengan sorot mata sayu, meminta dengan manja namun penuh kesungguhan.
Zafran kembali tersenyum kecil, seolah meminta Lita mengerti.
“Lita, kamu mabuk dan butuh istirahat. Sebaiknya kamu tidur agar besok bangun agi kamu sudah segar.”
“Tapi temani aku. Abang tidur di sini sama aku.”
“Lita, Abang laki-laki dewasa dan kamu perempuan dewasa. Tidak akan baik jika Abang tidur di kamar perempuan.” Sehitam apapun kenangan dan kehidupan Zafran, dia tetap menjaga Lita dengan sekuat tenaga.
Bukan Zafran tak menyukai Lita karena siapapun tahu bahwa Lita bukan perempuan biasa. Kesempurnaan fisik yang dimilikinya yang disertai dengan kecukupan materi dan karir yang memadai bahkan membuat iri semua mata perempuan. Tetapi ini bukan tentang keindahan fisik Lita. Melainkan tentang etika Zafran sebagai laki-laki sejati yang tak akan merusak sesuatu yang seharusnya dia jaga.
“Apanya yang tak baik? Aku hanya ingin tidur ditemani Abang. Ingin tidur di pelukan Abang seperti dulu ketika kita masih kecil dan Papa memarahi aku. Abang yang selalu menjadi penolong dan penghiburku.”
Meskipun dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, ternyata Lita masih ingat dengan kenangan mereka di masa kecil. Lita benar dengan ingatan kenangan mereka. Tidak sekali dua kali Lita mendapat perlakuan keras dari Ruiz karena Ruiz tak suka dengan sifat cengeng karena itu hanya akan melemahkan seseorang. Ruiz membangun pribadi Lita untuk menjadi kokoh dan tegas yang tidak mudah terbawa perasaan.
Jika sudah begitu, biasanya Lita berlari ke kamar Zafran dan menangis sepuasnya. Zafran tak bertanya mengapa dan karena apa karena dia sudah tahu tabiat Lita dan sifat keras Ruiz. Yang dilakukan Zafran ketika itu hanya memberi waktu pada Lita untuk bisa menangis sepuasnya, sampai lega. Tak hanya sekali dua kali Lita menangis sampai tertidur di kamar Ruiz. Dan itu berlangsung hingga mereka remaja. Kalau Lita sedang marah pada Ruiz, dia memilih berlari dan bersembunyi di kamar Zafran untuk mendapatkan ketenangan dari nasehat-nasehat Zafran.
Tanpa Lita dan Zafran sadari, Lita mulai jatuh cinta pada Zafran.
Dan kali ini, Zafran tak punya kekuatan untuk menolak permintaan Lita yang ingin tidur di pelukannya. Lelaki itu tak menjawab setuju, tetapi dia membetulkan letak tidur Lita kemudian mengambil tempat di sisi Lita. Namun dia tidak mengambil posisi tidur. Zafran hanya duduk berselonjor kaki dengan tubuh bersandar pada kepala ranjang.
Serta merta Lita tersenyum dan bergerak memeluk Zafran, mengambil posisi paling nyaman untuk tidur. Sesaat Zafran terhenyak merasakan pelukan erat Lita yang mulai terpejam dengan senyum tersungging damai.
Zafran seolah kaku, tak bisa bergerak apalagi pergi. Pelukan erat Lita bagai belenggu. Setulus dan sedatar apapun perasaan Zafran, dia tetaplah laki-laki normal. Siapa yang berhasil menghindar dari pelukan gadis molek? Zafran mungkin bukan diantaranya, tetapi akal sehat Zafran terus menolak godaan.
Lelaki itu memilih memejamkan matanya dengan tangan bersedekap erat. Berulang kali menghela napas berat, meredam getaran jantungnya yang berdebar hebat. Lalu godaan hebat itu mendadak reda ketika tiba-tiba saja sebentuk wajah dengan mata ketakutan seolah muncul lagi dalam ingatan Zafran.
Desiran halus terasa menyayat hati Zafran saat sadar bahwa mungkin saja dia kasmaran dengan gadis kecil itu. Kasmaran? Tidakkah itu hal yang mustahil bisa Zafran rasakan sebelum dia terbebas dari beban hutang budinya pada Ruiz? Jikapun hutang budinya lunas, akan perempuan itu mau mengenalnya?
Tidak! Zafran menggeleng kuat. ‘Aku tak boleh terbawa perasaan pada gadis yang entah siapa dan dimana kini berada. Apapun yang menyusup akan membuatku lemah nantinya.’
“Abang tidak tidur?”
Tiba-tiba sebuah suara menyadarkan Zafran dari lamunannya. Dia membuka matanya dan terkejut saat mendapati Lita sudah tidak lagi memeluk dirinya, melainkan duduk di sampingnya. Begitu dekat hingga hembusan napasnya terasa hangat menyentuh wajah Zafran. Perempuan itu menatap Zafran dengan tatapan sakit yang dalam.
“Kamu tidak tidur? Hari sudah menjelang pagi, sebaiknya kamu tidur. Abang di sini menjagamu. Tidurlah.” Zafran mengelak dengan halus.
Lita tersenyum masam, merasa ditolak terang-terangan.
“Apa memang Abang tidak peka dengan yang Lita rasakan?” tanya Lita lirih.
Deg! Jantung Zafran berdentam semakin kencang. Meski dia tahu kemana arah pembicaraan Lita, tetapi jelas dia tak mungkin langsung merespon hal mustahil itu.
“Apa maksudnya, Lita?” tanya Zafran dengan senyum kecil seolah tak ada apa-apa.
“Lita suka sama Abang. Lita cinta sama Abang.”
***